Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Jangan Katakan Itu


__ADS_3

“Aku tidak akan bicara, jika aku tidak didampingi oleh pengacara!” Kenan menatap tajam Sersan Rafit dengan tatapan matanya yang menusuk.


“Bagaimana? Apa dia mau membuka mulutnya?” tanya Kapten Cenk kepada bawahannya. Kapten Polisi itu tiba-tiba masuk ke ruang interogasi Kenan, sementara Mehmet di tempatkan di ruang interogasi yang berbeda.


Kedua pundak tegap milik pria berpakaian hijau itu terangkat ke atas. “Dia minta di dampingi pengacaranya.”


Langkah sepatu bersol tinggi itu menderap mendekati meja interogasi yang ada di depan Kenan. Kapten Polisi itu meletakkan kedua telapak tangannya di pinggiran meja dan mencondongkan dirinya di depan Kenan. “Jika kau tidak mau bicara, nikmati saja penjara ini lebih lama!”


“Aku … tidak… peduli!” Kenan balas menggertak sang Kapten dengan suaranya yang penuh penekanan. Ia masih duduk di atas kursinya dengan sikapnya dingin.


Sebuah anggukan terlihat dari kepala sang Kapten setelah ia sedikit menjauhi meja kayu berwarna gelap tersebut. “Oke… kita lihat saja, apakah istrimu—Nyonya Ivy Fallay berhasil menemukan seorang pengacara untuk membela suaminya!”


Kenan bangkit berdiri sambil menertawakan perkataan Kapten Cenk. Perkataan petinggi polisi itu cukup menggelikan di telinga Kenan. Dengan berjalan beberapa langkah sudah membuatnya berhadapan dengan pria berambut cepak itu.


“Jangan coba-coba menekan ku, Kapten! Ada begitu banyak pengacara di kota ini!”


"Oh ya? Begitu menurutmu?” Kapten Cenk memiringkan kepalanya menatap Kenan.


Ia menggaruk salah satu ujung alisnya sebelum melanjutkan perkataannya. “Kau pikir, siapa yang mau membela dirimu, hah? Kasus ini jelas memberatkan mu! Siapa yang ingin membela kasus yang jelas-jelas kalah di pengadilan! Lalu siapa yang patut disalahkan atas terbunuhnya dua belas mayat di gudang tua itu?"


Rentetan kalimat itu membuat mulut dan kelopak mata Kenan terbuka lebar. Kali ini Kapten Polisi itu yang balas menertawakan reaksi Kenan.


“Kembalikan dia ke dalam selnya!” perintah sang Kapten kepada petugas polisi yang ada di depan pintu.


Dua orang petugas polisi itu membawa Kenan kembali ke dalam selnya, langkah kaki putra Harun itu gontai memikirkan jalan di depannya yang tak berujung.


Di ruang interogasi yang berbeda, seperti halnya Kenan, Mehmet juga tidak mau membuka suaranya. Pria itu juga meminta didampingi seorang pengacara. Kedua pria itu telah sepakat untuk menjalani hukuman atau kebebasan bersama-sama.


......................


Tepat di hari ketiga setelah kejadian pembunuhan itu, dokter memperbolehkan Ivy untuk keluar dari rumah sakit. Di ruang kamarnya, Ivy tengah mengganti pakaian rumah sakit dengan pakaian bersih yang dibawa Cansu. Kedua wanita itu akan mengunjungi suami mereka bersama-sama.


“Apa semua sudah beres?” tanya Cansu ketika ia melihat Ivy sedang membayar tagihan rumah sakitnya.

__ADS_1


“Ya, semua sudah beres. Ayo kita pergi,” ajak Ivy yang menyamakan langkahnya di samping Cansu. Keduanya pun keluar dari rumah sakit dan pergi ke kantor polisi dengan menggunakan taksi.


Di perjalanan Ivy sempat bertanya tentang kehamilan Cansu, namun saudara tirinya itu hanya tersenyum tipis dan berkata, “Justru aku sedikit lega, karena pria biadab itu tidak menanamkan benihnya kepadaku. Kejadian itu sudah lebih dari satu bulan berlalu dan aku belum hamil.”


“Aku tidak bisa membayangkan apabila aku mengandung anaknya. Ya… meskipun Mehmet berjanji akan menerimanya, tapi bagaimana perasaanmu jika setiap kali kau melihat wajah anak itu yang mirip dengan wajah ayahnya,” lanjut Cansu yang membuat Ivy bergidik membayangkan jika itu terjadi padanya.


Obrolan kedua wanita itu pun terhenti seiring dengan taksi yang mereka tumpangi itu berhenti di depan Kantor Polisi Istanbul. Keduanya berjalan berdampingan masuk ke dalam kantor polisi terbesar di kota itu. Mobil sedan dengan warna putih biru mengisi pemandangan di depan mereka.


Setelah melewati berbagai macam pemeriksaan, keduanya pun menulis nama mereka pada sebuah buku daftar tamu kunjungan. Seorang petugas mempersilahkan mereka masuk ke dalam suatu ruangan yang tidak terlalu besar yang hanya diisi dengan beberapa meja dan beberapa kursi. Di tempat inilah para tahanan bertemu dan berbicara dengan keluarga mereka.


Hampir sepuluh menit berlalu, tetapi pria mereka tak kunjung menampakkan batang hidung mereka. Hati kedua wanita itu berharap cemas sambil memikirkan apa yang terjadi di dalam. Dengan menggosok kedua tangannya dan menggigit bibir bawahnya, Ivy melampiaskan kegelisahannya. Sedangkan Cansu sejak tadi melihat jam tangannya dan terus berjalan mondar-mandir di belakang Ivy.


“Itu mereka!” seru Ivy yang melihat pintu di depannya terbuka lebar dan dua orang pria dengan memakai seragam tahanannya berdiri di ambang pintu. Ia pun bangkit berdiri setelah melihat dengan jelas, bahwa pria yang di depannya itu adalah suaminya—Kenan.


Cansu langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pintu setelah ia mendengar seruan Ivy. “Mehmet….”


Dua pasang suami istri itu saling berpelukan dengan erat, seakan mereka tidak berjumpa sekian lama. Keduanya pun memilih untuk berbicara di sudut ruangan yang berbeda, menjauhkan meja yang menjadi penghalang mereka untuk melepas rindu. Ivy menceritakan kepada Kenan bahwa kandungannya selamat. Putra Harun itu hanya mengusap wajahnya dengan kasar.


Suara embusan napas yang keluar dari lubang hidung Kenan hingga terdengar ke telinga Ivy. Pria mana yang tidak senang begitu mendengar calon anaknya ternyata masih hidup. Namun, perkataan Mehmet terngiang-ngiang di dalam pikirannya, dapatkah dirinya melihat anak itu lahir, tumbuh dan memanggilnya ayah.


“A… aku senang… dia masih… hidup,” ucapnya dengan terbata-bata. Ia langsung mendekap tubuh istrinya, kemudian mencium pundak Ivy dengan kelopak matanya yang terpejam dengan sangat. Mungkin ini adalah harga yang harus ia bayar merasakan jeruji besi itu memisahkan dirinya dan keluarganya.


Masih dalam pelukan suaminya, Ivy berkata, “Beberapa hari yang lalu Kapten Polisi memintaku untuk mencari seorang pengacara yang akan membela perkaramu.”


“Apa kau sudah mendapatkannya?” tanya Kenan setelah ia melepaskan pelukannya.


“Ada dua pengacara kenalan alamarhum ayahku dan kerabat ibuku. Sebelum ke sini, aku telah membuat janji dengan mereka. Besok lusa kami akan bertemu.”


Kenan kembali menggenggam tangan istrinya kemudian berkata, “Sayang, bagaimana kalau aku dihukum untuk waktu yang lama atau… atau mungkin aku akan dihukum mati… seperti almarhum ayahku? Apa kau akan….”


Ivy menengakkan tubuhnya dan melepas genggaman tangan suaminya. Dengan kedua tangannya ia memegang  wajah Kenan dan menatap sangat dalam manik mata abu-abu gelap yang ada di depannya.


“Jangan katakan itu! Kau ingin aku melanjutkan hidupku tanpamu? Kau ingin aku mencari pria lain sebagai penggantimu dan menjadi ayah dari anak ini? Tidak, Sayang… meskipun kau memohon padaku aku tidak akan melakukannya.”

__ADS_1


“Aku janji…, aku akan berusaha membebaskanmu dari sini. Aku akan mencari pengacara yang terbaik di kota ini. Kita bertiga akan berkumpul kembali, Sayang. Kumohon jangan katakan hal itu lagi.”


Mendengar perkataan Ivy, membuat  Kenan kembali memeluk istrinya. Hati pria itu benar-benar hancur. Seharusnya dirinya sebagai kepala keluarga dan seorang laki-laki bisa melindungi istrinya, tetapi kini ia harus membiarkan wanita yang dicintainya itu berjuang sendirian di luar. Mengurus masalah pekerjaan dan masalah dirinya. Di balik tubuh ramping istrinya, cairan bening itu meleleh membasahi wajahnya yang tampan.


......................


Semilir angin musim semi berbisik, membawa sebuah mobil sport hitam memasuki sebuah halaman depan coffee shop di daerah Bosphorus—kawasan elite di Kota Istanbul. Mobil sport hitam dua pintu itu pun terbuka ke atas, seiring dengan padamnya lampu sorot kendaraan itu. Sepasang sepatu bertumit tinggi berwarna hitam dengan mantel blazernya di atas lutut berwarna coklat menjejakkan dirinya di atas paving blok.


Di tempat kemudi, turunlah seorang pria muda dengan pakaian formalnya dan sepatu pantofelnya. Pria itu mengendurkan dasinya sebelum masuk ke dalam. Dengan membuka salah satu telapak tangannya, ia meminta wanita itu berjalan bersamanya.


“Aku ke toilet dulu,” ucap sang wanita setelah mereka berdua berhasil menemukan tempat duduk di ruangan terbuka di lantai dua. “Pesankan saja pasta kesukaanku.”


“Siap, Nyonya.” Pria itu tersenyum menggoda di depan pasangannya.


Seiring dengan kepergian sang wanita, pria itu memesan dua porsi pasta dan dua cangkir Kopi Turki untuk makan siang mereka. Sembari menunggu pesanannya datang, pria itu mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan kafe. Ia meminta sebuah surat kabar terbitan hari ini kepada salah satu pelayan kafe.


“Ini, Tuan.” Pelayan kafe itu memberikan tiga jenis surat kabar yang berbeda terbitan hari ini.


Setelah mengucapkan terimakasih kepada sang pramusaji itu, mata elangnya kini sibuk membaca satu persatu kolom berita hari ini. Pagi ini karena terlalu asyik bermain dengan putranya, ia hampir terlambat ke kantor. Melewatkan berita satu hari ini, bagaikan hidup berada di dalam ruangan tanpa pintu dan jendela.


“Serius sekali bacanya, ada berita apa hari ini?” tanya wanita bermantel coklat itu setelah kembali dari toilet. Ia menarik kursinya dan menerima pesanan yang diberikan oleh pelayan kafe.


“Bacalah.” Pria muda itu memberikan sebuah surat kabar yang sudah tertekuk kepada wanita yang duduk di depannya. Kini ia mengambil surat kabar yang lain yang ada di dekatnya.


Sebuah berita yang ada di kolom bawah menarik perhatian wanita itu. Manik mata coklat itu bergerak dari kiri ke kanan untuk membaca kalimat demi kalimat yang ada di kertas tersebut.


Telah terjadi kasus pembunuhan berencana di sebuah gudang tua di pinggiran Kota Istanubul. Sebanyak dua belas orang meninggal dunia karena luka tusukan dan tembakan senjata api. Polisi menangkap dua orang tersangka berinisial KF dan MD di tempat kejadian dan membebaskan seorang wanita muda yang berinisial IE.


“KF… KF… aku seperti pernah mendengar inisial namanya," gumamnya pelan.


Wanita itu tidak menemukan jawabannya, karena tidak ada satu foto kejadian dan foto tersangka pada surat kabar itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2