
Suara dering ponsel membangunkan dua orang pria dari tidurnya. Kedua pria itu membuka mulutnya dengan lebar dan mengucek mata mereka. Wajah kumis dan berjanggut hitam itu tampak layu di pagi hari. Sepanjang malam mereka tidur di dalam mobil Jeep berwarna biru. Menjadi santapan para nyamuk, hanya untuk menunggu kabar dari bos mereka—Mehmet.
Sebelum mereka menyadari sesuatu, dering ponsel itu terus berteriak mengambil sepenuhnya kesadaran mereka. Penantian mereka ternyata tak sia-sia. Manik mata mereka membulat tatkala melihat sebuah nama yang akan menentukan hidup mereka hari ini. Pergi atau tetap berada di sana.
“Ya, Bos.” sapa si pemilik ponsel kepada Mehmet dengan suaranya yang parau.
“Dimana kalian?”
“Masih di tempat yang sama. Kami ada di dekat rumah pria itu. Semalaman kami berada di sini,” jawabnya.
“Segera kirim lokasi mu! Aku akan ke sana sekarang. Awasi saja pria itu dan jangan sampai dia menghilang!”
“Siap, Bos!”
Setelah mengirim lokasi rumah Ferit, kedua orang itu baru menyadari sesuatu. Ada yang berubah ketika mereka masih berada di alam mimpi. Pemandangan di depan mereka tidak seperti kemarin malam. Ada sesuatu yang berbeda. Mobil mewah berwarna hitam itu raib, entah kemana. Mereka saling berpandangan kemudian melompat keluar mendekati rumah berdinding kayu tersebut.
Deretan kayu dengan serat-seratnya yang terekspos itu menjerit ketika dua pasang sepatu bot menapaki tubuh mereka yang terlihat rapuh. Lampu gantung masih menyala seperti sebelumnya. Pintu dan jendela tertutup rapat terkunci dari luar. Sepasang kelambu coklat yang tak tertutup dengan sempurna menjadi celah untuk dua pasang mata itu melihat ke dalam.
“Gawat! Pria itu tidak ada!” pekik sang pengemudi mobil Jeep dengan kedua manik matanya yang terbelalak.
“Geser sedikit badanmu! Aku ingin melihatnya sendiri!” seru temannya. Seperti kata sang pengemudi mobil, dirinya juga tidak melihat siapapun di dalam. “Kita dobrak saja pintunya, mungkin saja pria itu bersembunyi di kamarnya!”
Dengan lengan mereka yang berotot dan pundaknya yang tegap, mereka bersama-sama mendobrak pintu kayu berwarna coklat kehitaman. Hanya sekali dobrak, daun pintu itu langsung roboh. Dua pasang kaki langsung melangkah memasuki rumah itu. Mereka menjelajahi setiap ruangan yang hanya terdiri dari satu kamar, satu dapur dan satu kamar mandi.
Kedua pria itu mendengus dan menggelengkan kepalanya ketika mereka melihat bagaimana isi rumah itu. Sampah plastik bekas bungkus mie instan dan botol bekas tercecer begitu saja di atas lantai. Beberapa ekor lalat beterbangan mengerumuni piring kertas bekas pakai yang tertumpuk di atas meja. Beberapa serat benang terlihat pada bagian tengah kain seprei. Namun, sosok yang mereka cari tak terlihat di sana.
“Habislah kita, Kawan!” teriak salah satu dari mereka menarik semua rambutnya ke belakang. Pupil matanya menatap nanar meja kayu yang ada di tengah ruangan. “Sebentar lagi bos akan datang.”
“Lalu kita harus bagaimana?” tanya sang pengemudi mobil yang berjalan mondar-mandir di tengah ruangan. Dirinya juga tak kalah panik dibanding temannya.
“Bantu aku berpikir!”
“Aku tahu!” seru sang pengemudi mobil dengan menunjukkan jari telunjuknya kepada kawannya. “Kita cari saja mobil hitam itu. Pasti di kota ini, hanya dia yang memiliki mobil mewah seperti itu,” ujar sang pengemudi mobil sambil mengangkat salah satu alisnya di depan temannya.
“Ya, kau benar juga! Sebelum bos Mehmet datang, kita harus segera menemukan pria itu. Ayo kita keluar!”
......................
Setelah mendapatkan lokasi anak buahnya berada, Mehmet langsung memanggil Kenan dan anak buahnya yang lain yang masih berada di Istanbul. Mereka bertemu di sasana tinju milik pria gundul tersebut. Ada sekitar delapan orang anak buah Mehmet yang berkumpul di sana, mereka yang masih hidup setelah malam penyerbuan yang berakhir dengan terbakarnya mobil mereka.
Beberapa orang pria itu berwajah sangar penuh dengan bekas luka dan rajahan tato. Tubuh mereka juga tak ubahnya seorang pegulat yang berotot dan terlihat keras. Mereka semua bukanlah anggota mafia atau anggota gangster manapun, tetapi mereka hanyalah orang-orang yang pernah merasakan kerasnya hidup di jalanan sama seperti Mehmet.
__ADS_1
Mehmet memberikan letak lokasi tempat tinggal Ferit kepada semua orang. Pria berkulit gelap itu membagi pasukannya menjadi dua bagian. Empat orang mengikuti Kenan dan empat orang lainnya ikut bersamanya. Mereka akan bertemu di lokasi tersebut.
“Hidup kita semua!” teriak Mehmet dihadapan semua orang yang ada di dalam ruangan. Telapak tangannya mengepal ke atas, menunjukkan gelang rantainya yang besar yang melilit lengannya.
“Hidup!” teriak semua orang ikut mengepalkan telapak tangannya juga. Teriakan itu mampu membakar semangat mereka.
“Ayo kota berangkat!” teriak Mehmet kemudian.
“Siap!” balas mereka dengan teriakan yang lebih keras dari suara suami Cansu itu.
Sepuluh orang itu berlari dan masuk ke dalam mobil. Suara knalpot itu meraung-raung di tengah hari yang mendung. Pintu gerbang tinggi itu pun terbuka, dua buah mobil dengan gagahnya keluar dari tempat itu bak seorang gladiator yang siap mempertaruhkan nyawa mereka di arena pertandingan.
Roda empat itu menggelinding di jalan raya. Menggilas batu kerikil yang ada di bawahnya. Suara mesin menderu dengan kencang seakan hanya dua mobil itulah penguasa jalanan hari ini. Di balik kaca mata hitamnya, Kenan menatap jalan raya yang tidak terlalu padat. Mobil yang dikendarainya itu meliuk melewati kendaran lain yang ada di depannya.
Di mobil yang berbeda, Mehmet menatap tajam jalan raya yang ada di depannya. Telapak tangannya menggenggam erat setir kemudinya. Suara klakson yang keluar dari mobilnya, membuat Kenan menepikan dan memperlambat laju kendaraannya. Ia menambah kecepatan mobilnya mendahului mobil Kenan, agar dirinya lebih dulu sampai di tempat Ferit. Jari-jari tangannya sudah gatal ingin memberi pelajaran pria biadab itu.
Hampir dua jam kedua mobil itu berada di jalan raya. Melewati berbagai bangunan pencakar langit dan menyusuri Jembatan Martir yang membawa mereka ke sebuah kota kecil tempat persembunyian Ferit. Mobil Jeep milik Mehmet lebih dulu tiba di lokasi.
“Dimana mereka?” gumam Mehmet setelah ia memarkirkan mobil Jeep nya di depan rumah berdinding kayu tersebut.
Ia tidak melihat dua orang anak buahnya dan mobil mereka. Mobil hitam milik Ferit juga tidak terlihat di sana. Dari balik kaca mobilnya, ia melihat pintu rumah itu sudah terbuka.
Pasti ada yang tidak beres!
Keempat orang itu pun turun dari mobil mereka, sementara Mehmet menghubungi anak buahnya yang telah memberikannya informasi. Umpatan itu langsung keluar dari mulutnya ketika anak buahnya mengatakan bahwa mereka kehilangan jejak Ferit. Rasa geramnya juga semakin bertambah setelah ia mendapati rumah itu telah kosong. Tidak ada jejak yang ditinggalkan pria biadab itu di sana.
“Dasar pengecut kau, Ferit Kozan!” teriak Mehmet yang langsung membalik meja kayu di depannya. Kedua telapak tangannya mengepal menahan amarahnya. Sorot matanya menatap tajam meja kayu yang telah berubah posisinya dengan keempat kakinya menghadap ke atas.
Dari luar rumah, terdengar suara mobil yang baru saja datang. Mehmet langsung menuruni beberapa anak tangga yang ada di depan rumah itu. Mobil sedan berwarna putih itu berhenti tepat di belakang mobil Jeep. Masih mengenakan kacamata hitamnya, Kenan dan orang-orang yang bersamanya turun dari mobil. Mereka melihat Mehmet dan beberapa orang lainnya berdiri di depan rumah.
“Ada apa? Kenapa kau tidak masuk dan menghajarnya?” Kenan melepas kacamata hitamnya dan berjalan mendekati sahabatnya, pria itu terlihat gagah dengan jaket kulitnya yang membungkus tubuh berototnya.
“Pengecut itu sudah pergi!” Mehmet memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Apa?” Kenan memicingkan kedua manik matanya dan langsung mendengus dengan keras. Rasanya sia-sia dirinya datang ke tempat ini. Embusan napasnya begitu terdengar berat.
“Aku rasa pengecut itu sudah tahu keberadaan anak buahku. Itu sebabnya, ketika anak buahku tidur, dia melarikan diri!”
“Lalu apa rencanamu? Mencarinya di kota ini atau kita kembali ke Istanbul?”
Pria gundul itu mengusap wajahnya dengan kasar kemudian melayangkan pandangannya kepada pohon-pohon tinggi yang ada di belakangnya. Lebih dari sebulan dirinya mencari keberadaan pria biadab itu di seluruh Kota Istanbul, tetapi belum juga menunjukkan titik terang.
__ADS_1
Di saat mereka sedang berpikir, ponsel Kenan berdering di dalam saku celananya. Putra Harun itu langsung mengernyitkan keningnya ketika ia melihat deretan nomor yang tidak dikenalnya.
“Halo.” Kenan menyapa penelepon misterius itu.
“Ini aku. Bayangan hitam yang kau cari selama ini, Montir sialan!”
Begitu putra Harun itu mendengar dua kata terakhir yang diucapkan oleh penelepon itu, dirinya langsung mengerti suara siapa yang ada di balik ponselnya. “Dasar pengecut! Jika kau laki-laki, ayo hadapi aku!”
“Menghadapimu?” Terdengar suara tawa Ferit dari ujung ponselnya. “Untuk apa aku menghadapimu, jika aku sudah mendapatkan kembali milikku!”
Pikiran Kenan langsung bereaksi dengan cepat setelah mendengar perkataan Ferit. “Ivy?”
Tawa Ferit terdengar semakin kencang di telinga Kenan, bagaikan deburan ombak yang memecah bongkahan batu besar di bibir pantai. “Tebakanmu benar… Ivy bersamaku saat ini.”
“Itu… tidak mungkin, kau jangan menipuku!” Manik mata abu-abu gelap itu menatap nanar kumpulan rumput-rumput liar yang bergoyang terkena tiupan angin. “Berikan ponselmu pada Ivy! Aku ingin mendengar suaranya!”
Ferit membuka lakban penutup mulut Ivy dan mendekatkan ponselnya di bibir tipis milik wanita itu. “Kenan…!”
“Ivy….” Putra Harun itu terkejut begitu mendengar suara istrinya.
Bagaimana bisa si keparat itu menculik Ivy?
“Jangan kemari! Ini… jebakan! Dia ingin membunuhmu!” teriak Ivy yang membuat Ferit langsung merebut ponselnya dan melayangkan telapak tangannya ke wajah oval wanita hamil itu. Suara tamparan itu terdengar jelas di ponsel Kenan.
“Dasar keparat, Kau! Aku akan membunuhmu jika kau berani menyentuh istriku!” teriak Kenan dengan kalap, membuat semua orang yang ada di sana memusatkan perhatiannya kepada pria yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam.
“Oh… aku takut,” ejek Ferit dengan tawanya. “Jika dalam satu jam kau tidak datang, maka aku akan membawa Ivy pergi jauh meninggalkan Istanbul! Kau yang merebutnya dariku, maka sekarang aku akan mengambil milikku kembali!”
“Halo…! Halo…!” seru Kenan di depan ponselnya, tetapi yang didengarnya hanyalah suara sambungan ponsel yang terputus.
Terdengar suara pesan masuk dari ponsel Kenan. Sebuah pesan yang dikirim oleh Ferit, pria biadab itu mengirim lokasinya saat ini dan sebuah kalimat ancaman yang berbunyi.
Jangan coba-coba membawa polisi kemari, atau kau tidak akan pernah melihat istrimu lagi!
“Aku tidak akan pernah mengampunimu, Ferit Kozan!” teriak Kenan dengan tatapan matanya yang menyala. Dengan kalap pria berambut hitam itu langsung berlari masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Mehmet dan orang-orangnya.
“Kenan, tunggu!” teriak Mehmet, tetapi putra Harun itu tak mampu mendengar suara apapun. Mobil putih itu sudah jauh meninggalkannya.
“Kalian hubungi Kemal, minta dia menjemput kalian di sini!” seru Mehmet. Kemal adalah anak buahnya yang memberikan informasi tentang Ferit.
“Aku dan yang lainnya akan mengejar Kenan!”
__ADS_1
...****************...