Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Reuni DL dan GMYH - Sidang Pertama (Part 1)


__ADS_3

Jadwal persidangan telah di tetapkan. Hari ini sidang pertama Kenan dan Mehmet akan berlangsung. Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi, cahaya kekuningan itu menyinari setiap sudut Gedung Pengadilan Negeri yang terletak di pusat kota. Tidak ada para wartawan dan pengunjung yang memadati gedung tersebut, bahkan terkesan sepi seolah-olah tidak ada kegiatan di dalamnya.


Sejak Hazal menjadi pengacara mereka, ia membungkam semua mulut awak media agar tidak menulis atau menayangkan berita tentang kejadian pembunuhan itu. Jikalau berita itu dimuat, para jurnalis hanya menulis nama inisial tersangka tanpa foto apapun. Pengacara wanita itu juga meminta sidang ini dilakukan secara tertutup. Semua ini dia lakukan untuk menjaga nama baik Kenan dan Mehmet.


Sebuah mobil tahanan milik Kejaksaan berhenti di depan gedung pemerintah tersebut. Pintu mobil berwarna hijau tentara itu terbuka di salah satu sisinya. Empat orang petugas polisi berlaras panjang tampak menurunkan dua orang tahanan pria dengan kedua tangan mereka terborgol di depan. Sementara empat orang petugas yang lain mengawal Kenan dan Mehmet di belakang. Dengan memakai seragam tahanan berwarna oranye, kedua pesakitan itu berjalan menapaki tangga Gedung Pengadilan.


Sementara itu di dalam koridor gedung, Hazal berjalan menuju ruang sidang dengan mengenakan jubah panjangnya. Di sisi yang berlawanan, pengacara cantik itu melihat sosok yang tidak asing baginya berdiri menatapnya. Sosok itu juga mengenakan jubah panjang namun dengan simbol warna yang berbeda. Sosok pria itu semakin jelas ketika langkah mereka semakin mendekat.


“Jaksa Kepala Onur….” Mulut Hazal terbuka lebar, mengetahui bahwa yang menjadi lawannya adalah mantan atasannya yang sangat ia hormati.


“Kenapa Anda mengambil kasus ini?” tanya Hazal setelah keduanya berada di depan pintu ruang sidang.


“Siapa yang paling mengenal kekuatan dan kelemahan mu selain pembimbing mu sendiri, Pengacara Hazal? Aku bukan lagi atasanmu, sekarang kita adalah lawan. Jadi jangan sungkan menghadapi ku,” ujar Jaksa Onur sambil menaikkan berkas yang dia jepit di antara tubuh dan lengannya, kemudian ia memilih berjalan lebih dulu memasuki ruang sidang.


Jantung Hazal seakan berhenti sepersekian detik setelah ia mendengar perkataan Jaksa Onur. Rasa percaya dirinya sedikit terkikis ketika mantan atasannya itu berjalan melewatinya dan kini tatapan mata mereka kembali bertemu di meja masing-masing. Ya, mereka saling berhadapan satu sama lain.


“Majelis Hakim memasuki ruang sidang, hadirin dimohon untuk bangkit berdiri.” Terdengar suara seorang pejabat protokol menggema di ruang sidang.


Hanya ada tiga pengunjung yang mengisi tempat duduk di ruangan itu, mereka adalah Ivy, Cansu, dan Yafet. Ketiganya bangkit berdiri saat petinggi pengadilan itu berjalan memasuki ruangan. Hazal melihat Yafet duduk di barisan yang berbeda dengan Cansu dan Ivy. Putra Emir itu juga ingin melihat jalannya persidangan, mungkin dia juga ingin melihat nasib mantan rivalnya.


“Sidang Pengadilan Negeri Kota Istanbul, yang memeriksa perkara pidana nomor 567890 atas nama Kenan Fallay dan Mehmet Dundar dinyatakan dibuka dan tertutup untuk umum." Terdengar suara sang Hakim yang membuka jalannya sidang kemudian mengetukkan palunya sebanyak tiga kali.


“Terdakwa Kenan Fallay dan terdakwa Mehmet Dundar dipersilakan masuk!” seru seorang petugas protokol.


Dua orang petugas polisi mengapit kedua lengan Kenan dan dua orang petugas yang lain mengapit lengan Mehmet. Saat memasuki ruangan, Ivy menyambut Kenan dengan senyuman manisnya. Diusapnya perutnya yang semakin terlihat saat suaminya membalas senyumannya. Hampir dua bulan, suaminya mendekam di penjara hingga persidangan ini di mulai.


Begitu juga dengan Cansu yang memberikan dukungan kepada suaminya, ia berharap sidang ini hanya berlangsung sekali saja, dan suaminya dinyatakan bebas. Namun senyum kedua pria itu langsung pudar, begitu pandangan mereka bertemu dengan tatapan mata sang Hakim.


Para petugas memasukkan kedua pria itu ke dalam dua kursi pesakitan yang saling berdampingan. Kursi pesakitan itu lebih mirip seperti sebuah kurungan kayu dengan pagar setinggi pinggang orang dewasa. Dengan keempat kakinya setinggi lima puluh sentimeter dari lantai, hampir mirip seperti rumah panggung. Petugas polisi mengunci kurungan kayu tersebut dari luar. Kedua terdakwa itu tampak menjulang tinggi di antara semua orang yang hadir.

__ADS_1


Dari tempat duduknya, Hazal menatap Kenan yang berdiri di depannya. Tatapan mata itu berbalas, sebuah guratan senyum tipis terukir dari bibir keduanya. Tanpa kata-kata yang indah, keduanya saling memberikan dukungan lewat bahasa tubuh mereka. Hazal menopang dagunya sambil terus memandangi Kenan.


Dua tahun yang lalu, di tempat ini aku mengirim ayahnya ke tiang gantung dan di tempat yang sama pula, aku harus berjuang menolong anaknya agar terhindar dari hukuman mati ini. Aku akan memperjuangkan kebebasanmu, Kenan.


Tanpa mereka sadari, Ivy dan Yafet hanya bisa menyaksikan kejadian itu dalam diam dan menahan setiap gemuruh hati mereka masingmasing.


“Terdakwa Kenan Fallay dan Mehmet Dundar, apakah saat ini terdakwa dalam keadaan sehat dan siap dalam mengikuti persidangan?” tanya sang Hakim di depan mikrofonnya.


“Ya saya siap, Yang Mulia,” jawab Kenan dan Mehmet bersamaan.


“Silahkan Jaksa Penuntut mengajukan tuntutannya,” kata sang Hakim yang mengarahkan pandangannya kepada Jaksa Onur.


Derap langkah sepatu sang Jaksa membuat semua orang yang ada di dalam ruang sidang langsung menahan napasnya untuk beberapa detik. Mereka semua memasang telinga mereka untuk mendengarkan serangan apa yang akan diluncurkan oleh pria paruh baya tersebut.


Setelah mengucapkan terimakasihnya kepada sang Hakim, kini Jaksa Onur mulai mencecar Kenan dan Mehmet dengan berbagai pertanyaan seputar kejadian pembunuhan di gudang tua dan penyerbuan rumah Ferit.


Jaksa Onur mendatangkan para saksinya yaitu tetangga Ferit yang menyaksikan serangan yang di lakukan Kenan dan Mehmet di rumah tersebut. Saat ini Hazal hanya mengamati dan mendengar tuduhan demi tuduhan yang dilontarkan oleh lawannya.


“Kami tidak menghubungi polisi karena pihak berwajib pasti tidak bisa menangkap penjahat itu! Jika korban di tangkap, korban pasti akan menggunakan kekuasaan dan kekayaannya untuk lolos dari jeratan hukum!” seru Kenan dengan tatapan dinginnya menatap sang Jaksa.


Jaksa Onur berjalan di depan meja sang Hakim kemudian kembali berdiri di depan Kenan. “Oh, jadi terdakwa Kenan Fallay meragukan integritas hukum negara kita yang bisa dibeli, Yang Mulia!”


“Keberatan, Yang Mulia!” seru Hazal yang langsung mengangkat salah satu tangannya untuk memotong perkataan sang Jaksa.


“Keberatan diterima.” Sang Hakim memberi kesempatan Hazal untuk bicara.


Hazal bangkit berdiri dari tempat duduknya kemudian berkata, “Pertama saya ingin mengkoreksi perkataan Jaksa


Penuntut yang mengatakan bahwa terdakwa mengira bahwa korban adalah seorang penjahat. Disini seolah-olah terdakwa hanya menebak bahwa korban adalah orang jahat, tetapi kenyataan yang sebenarnya semasa korban masih hidup dia sudah melakukan banyak kejahatan!”

__ADS_1


“Kedua, saya mewakili para terdakwa menjamin bahwa mereka tidak bermaksud meragukan integritas hukum negara kita. Sebelum kejadian pembunuhan itu terjadi, kedua terdakwa pernah melaporkan kasus penenggelaman yang dilakukan korban kepada Tuan Kenan di perairan Selat Bosphorus kepada pihak polisi. Namun, pihak kepolisian tidak merespon laporan mereka karena kurangnya bukti dan saksi mata. Ini bukti laporan mereka, Yang Mulia.” Hazal memberikan salinan surat laporan itu kepada sang Hakim.


“Jadi, ini bukan murni kesalahan terdakwa yang tidak melaporkan adanya kejahatan kepada pihak polisi,” lanjut Hazal yang berjalan kembali ke mejanya.


“Keberatan, Yang Mulia!” seru Jaksa Onur yang masih berdiri ketika Hazal menjelaskan pendapatnya.


“Keberatan diterima,” balas sang Hakim sambil membaca laporan yang diberikan oleh Hazal.


Kali ini Jaksa Onur berjalan ke arah Mehmet. “Pihak Pembela mengatakan bahwa polisi tidak merespon laporan mereka karena tidak adanya saksi dan bukti yang melihat kejadian tersebut. Jika saya menjadi Kapten Polisi, tentu saya juga tidak akan merespon laporan orang dengan sembarangan."


Perkataan Jaksa Onur itu membuat Kenan dan Mehmet geram, tetapi Hazal meminta mereka untuk tenang.


“Jika tidak ada bukti dan saksi mata, berarti para terdakwa ini telah memfitnah dan mencemarkan nama baik korban! Padahal penjahat yang sebenarnya adalah mereka berdua!” pekik Jaksa Onur sambil menuding jari tangannya ke wajah Kenan.


“Itu tidak benar, Jaksa! Ferit Kozan adalah manusia keparat!” teriak Kenan yang langsung disambut teguran palu dari sang Hakim. Mehmet mendengus kesal mendengar perkataan Jaksa Onur yang menyudutkan dirinya dan Kenan.


“Kenan, kumohon tenangkan dirimu atau hakim akan mengeluarkan mu dari ruang sidang,” bisik Hazal yang berdiri di depan kursi pesakitan Kenan.


Pengacara wanita itu menggenggam punggung tangan Kenan yang memegang pagar kayu yang memisahkan dirinya dan pria itu. Sentuhan itu membuat putra Harun itu sedikit menghela napasnya, namun  hatinya masih tidak terima dengan perkataan sang Jaksa.


"Keberatan, Yang Mulia!” seru Hazal sambil melepas genggaman tangannya dari tangan Kenan dengan perlahan.


“Jika Pembela mempunyai saksi dan bukti yang bisa menunjukkan kejahatan Ferit Kozan, maka keberatan Anda akan diterima!” sang Hakim mencondongkan tubuhnya menghadap Hazal.


Semua orang menunggu perkataan Hazal, termasuk Jaksa Onur yang menatapnya tanpa ekspresi. Sedangkan Kenan dan Mehmet hanya menundukkan kepalanya. Namun, kedua kepala itu terangkat ke atas saat mereka mendengar suara Hazal memanggil nama seseorang.


Pandangan mereka tertuju pada seorang pria bertopi yang baru saja masuk ke ruang sidang. Pria itu menundukkan kepalanya saat berjalan menghampiri kursi yang telah disediakan, membuat wajahnya terbenam di dalam penutup kepala berwarna merah.


“Siapa dia?” tanya Mehmet kepada Kenan.

__ADS_1


“Aku juga tidak tahu.”


...****************...


__ADS_2