
Sepasang kekasih Turki itu tetap berada di Menara Eiffel hingga lampu menara menyala di jam terakhirnya, yaitu pukul satu dini hari. Para penikmat suasana romantis satu persatu mulai meninggalkan pelataran menara.
“Sepertinya kau sudah mulai mengantuk.” Kenan melihat Ivy yang menguap beberapa kali, ketika mereka baru saja masuk ke dalam taksi.
“Hmm…, sepertinya.” Ivy langsung menyandarkan kepalanya di sandaran kursi penumpang dan menurunkan tubuhnya.
Kenan langsung mengalungkan lengannya pada pundak Ivy dan menarik tubuh wanita itu agar mendekat kepadanya. Kini kepala Ivy bersandar pada bahu Kenan yang tegap. Lambat laun kelopak mata wanita itu terpejam.
Memasuki dini hari, tampak kehidupan yang mempunyai nama lain City of Light itu semakin bersinar di tengah kelamnya malam. Seakan kehidupan di sana tidak pernah berakhir dan tidak mengenal malam. Taksi yang mereka tumpangi melewati deretan-deretan kafe dan kelab malam yang di penuhi oleh pengunjung dengan berbagai macam warna rambut.
Tubuh-tubuh yang terbungkus mantel tebal keluar masuk silih berganti dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Di sepanjang trotoar, mulai dari manusia berkaki panjang hingga berkaki pendek melangkahkan kaki mereka, seakan hendak mengukur berapa panjang trotoar yang mengelilingi kota tersebut.
Taksi berwarna biru itu berhenti di depan pintu lobi hotel bintang tiga tempat mereka menginap. Perhentian itu membuat Ivy langsung terbangun dari tidurnya dan melepaskan pelukan Kenan. Wanita itu mengeluarkan kartu by pass-nya untuk membayar perjalanan mereka.
“Ternyata kartu sakti mu itu sangat berguna,” ledek Kenan yang disertai dengan tawa.
“Tentu saja,” balas Ivy yang menutup salah satu kelopak matanya dihadapan pria itu.
Kenan langsung menggandeng kekasihnya untuk menaiki tangga menuju lantai dua, tempat kamar mereka berada. Begitu pintu kamar itu terbuka, alangkah terkejutnya Ivy. Lantai keramik itu di penuhi dengan ceceran pecahan kaca, teko listrik yang terbuat dari aluminium jatuh tergeletak di dekat kakinya dan ceceran bungkus kopi instan berserakan dimana-mana. Manik matanya melihat ranjang tempat tidurnya yang di penuhi dengan beberapa pakaian miliknya dan milik Kenan yang sudah tidak terlipat dengan rapi.
“Kau menghancurkan semua ini?” tanya Ivy dengan kerutan di dahinya. Dipandanginya wajah Kenan dan lantai kamarnya secara bergantian.
Putra Harun itu hanya menggaruk kepalanya dan mengeluarkan senyum tipisnya, menyadari bahwa Ivy pasti akan memarahinya karena telah membuat kekacauan di dalam kamar mereka.
“Waktu itu, karena….” Kenan tak dapat melanjutkan perkataannya
Putri Victor itu hanya menggelengkan kepalanya dan menghembuskan napasnya dengan berat. Wanita itu sudah mengira, pasti karena pesan yang ia tulis beberapa waktu yang lalu. Dari ekor matanya, ia melihat notes kecil itu sudah berada di lantai. Diambilnya notes berwarna putih dengan ujung kepalanya terdapat logo gambar bunga teratai. Ia menyobek kertas yang berisi tulisan tangannya dan membuang sobekan kertas itu ke tempat sampah.
Ivy menggunakan sampul notes yang berukuran tebal untuk mengumpulkan pecahan-pecahan kaca dan menggiringnya ke sudut kamar. Sementara Kenan hanya berdiri mematung melihat kekasihnya membereskan semua kekacauan yang telah ia buat.
Pria itu hanya bisa merusak semua yang ada di sekitarnya dengan kemarahan. Namun dengan kesabaran Ivy membersihkan sisa-sisa barang yang berserakan, melipat kembali pakaian-pakaian meraka dan memasukkannya ke dalam koper.
Wanita itu melakukannya dengan tenang, tanpa sekalipun ia memarahi Kenan. Dalam beberapa menit, kamar mereka sudah terlihat bersih dan rapi.
“Kau sudah terlihat lelah, tapi pulang-pulang aku malah memberikanmu pekerjaan untuk membereskan semua ini. Kenapa kau tidak memarahiku atau memintaku untuk membantumu?” tanya Kenan sambil mengalungkan kedua lengannya di pinggang Ivy. Wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan piyama tidurnya.
“Memarahi mu justru membuatku tambah lelah,” jawab Ivy. “Kau ingin mendapatkan hukuman mu?”
Kenan mengernyitkan dahinya, ia melihat wajah Ivy yang tersenyum dengan sejuta misteri. “Katakan apa hukumannya?”
Dengan sedikit berjinjit, Ivy memegang kedua pipi Kenan dan mencium bibir pria itu lebih dulu. Wajah berkumis itu tampak merah merona mendapatkan hukuman dari Ivy.
“Jika ini hukumannya, aku akan memecahkan semua barang-barang kita setiap hari,” ujar Kenan dengan senyum dan tawa kecilnya setelah ia merasakan bagaimana rasanya Ivy menghukum dirinya.
“Itu hanya pemanasan. Hukuman yang sesungguhnya adalah….”
Ivy mengambil salah satu bantal kemudian mendorong Kenan hingga keluar kamar. Ia memberikan bantal itu kepada kekasihnya dan mengunci pria itu dari dalam.
Di dalam kamar, Ivy tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya. Sementara Kenan tersenyum kecut sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
“Ivy…,” rengek Kenan di depan pintu, bagaikan seorang anak kecil yang merengek meminta permen loli kepada ibunya. “Buka pintunya….”
“Ivy…, apa kau setega ini padaku?”
Kenan menempelkan daun telinganya pada daun pintu. Ia tidak mendengar suara apapun yang ada di dalam kamar.
__ADS_1
“Apa dia sudah tidur? Apa kali ini dia serius menghukum ku untuk tidur di luar? Oh…,” gumam Kenan sambil memeluk bantal putihnya dan melihat lantai keramik polos yang seakan sedang menanti tubuhnya.
“Sayang…, apa kau ingin aku mendobrak pintunya?” tanya Kenan suaranya yang lembut.
“Sayang…, apa kau tega membuatku kedinginan di sini?” Kali ini suaranya terdengar memelas.
Rayuan Kenan sepertinya tidak berhasil, Ivy tak kunjung membuka pintu kamarnya. Pria itu memutar otaknya, mencari cara agar Ivy mengijinkannya untuk tidur di dalam.
Aku akan menjadi boneka salju, jika aku tidur di luar malam ini….
“Sayang…, jika kau tidak mau membuka pintunya, aku akan pergi dan mencari wanita Paris untuk aku kencani!” ancam Kenan dengan sedikit tawa kecilnya.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara seseorang membuka kunci kamar. Perlahan-lahan daun pintu berwarna coklat itu terbuka.
Yes! Dia membuka pintunya….
Namun itu tidak seperti perkiraannya. Sebuah guyuran air dingin langsung membasahi kepala Kenan dan piyama tidurnya. Ivy menghujani pria itu dengan sebotol air. Alhasil sambutan itu membuat rahang Kenan terlihat bergetar.
“Minta wanita Paris mu untuk mengganti piyama mu yang basah!” seru Ivy dengan wajahnya yang terlihat marah.
Tangannya langsung menarik pegangan pintu yang akan ditutupnya kembali, tetapi pria berambut hitam itu lebih cepat bergerak dari perkiraannya.
Kenan menahan daun pintu itu dengan salah satu kakinya dan melempar bantal yang ada di tangannya. Putra Harun itu langsung membalikkan tubuh Ivy untuk menghadap dirinya. Bibir coklat itu langsung membungkus bibir tipis polos tanpa pulasan lipstik, menahannya dan tidak membiarkannya terlepas.
Kelopak mata sang srikandi langsung melebar mendapat serangan mendadak yang dilancarkan oleh sang arjuna. Ia ingin melepaskan dirinya, tetapi sepertinya terlambat. Piyama yang basah itu telah menempel dengan piyama miliknya.
Pria itu mendorong tubuhnya perlahan-lahan tanpa melepaskan sentuhan bibirnya, kedua lengan berotot itu melingkar di bawah pinggangnya. Dengan menggunakan kakinya, Kenan menutup pintu kamar.
Kini putra Harun itu menggiring Ivy hingga berada di tepi pembaringan. Permainan lidah dan sesapan itu membuat mereka mengulang kembali apa yang telah mereka lakukan beberapa jam yang lalu di Menara Eiffel. Kedua kelopak mata mereka terpejam, seolah tak menyadari bahwa waktu dini hari akan berakhir.
Tubuh ramping itu laksana sehelai daun yang jatuh perlahan-lahan di atas tanah putih yang berselimutkan tubuh berotot. Suara desahan itu meluncur begitu saja dari mulut Ivy ketika organ tubuh tak bertulang itu menemukan ceruk di lehernya.
Saat geligi sang arjuna tengah menjepit ceruk jenjangnya, sang srikandi pun membuka kelopak matanya. Wanita itu diantara kesadaran dan kenikmatan yang ia rasakan. Bibir tipisnya itu kini bebas tanpa penghalang. Ketika sang arjuna hendak membuka ikatan piyamanya, ia mendorong tubuh pria itu agar menjauhinya.
“Kenan, jangan!” rintih Ivy sambil tangannya memegang ikatan piyamanya agar tidak terlepas.
Manik mata abu-abu gelap itu pun langsung terbuka begitu mendengar suara rintihan Ivy dan langsung menghentikan aksinya. Pria itu menahan tubuhnya dengan kedua telapak tangannya agar sedikit terangkat ke atas.
Napasnya yang terengah-engah mulai menyapu wajah berbentuk oval tersebut. Ia melihat raut wajah wanita itu dengan ekspresi memohon dan manik matanya yang memerah.
Kenan merebahkan dirinya di samping Ivy. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan mengacak-ngacak rambut hitamnya yang lebat.
Bukan karena Ivy menolaknya, tetapi karena ia menyadari betapa bodoh dirinya yang tidak bisa mengendalikan hasrat kejantanannya.
Manik matanya menangkap butiran cairan bening yang mengalir dari sudut mata kekasihnya, sementara wanita itu hanya menatap langit-langit kamar yang masih menyala.
“Maafkan aku…,” ucap Kenan dengan lirih sambil memegang telapak tangan Ivy.
“Aku… aku belum siap… melakukannya.” Suara Ivy terdengar terbata-bata.
Putri Victor itu mengusap air matanya sendiri, mengambil sebuah bantal yang ada di dekatnya dan meletakkan benda yang berisi bulu angsa itu di atas sofa panjang berwarna hijau lumut.
Kenan hanya tertegun melihat Ivy yang memilih untuk tidur di sofa.
Pria itu menyeret kedua kakinya menuju kamar mandi. Percikan air dingin membasahi seluruh tubuhnya. Melemaskan setiap otot-ototnya yang telah menegang sejak tadi. Ia memejamkan kedua kelopak matanya, sementara kepalan tangannya menempel di dinding kamar mandi. Dalam kesunyian dan gemericik air, ia mendengar suara hatinya berkata.
__ADS_1
Kau memang telah melamarnya, tapi bukan berarti dia menjadi milikmu….
Ya Tuhan…, kenapa aku selalu membuatnya menangis? Kenapa aku merendahkan dirinya sama seperti wanita murahan?
Butiran-butiran air yang berasal dari ujung rambutnya jatuh membasahi wajah hingga ke bulu tipis yang membingkai bibirnya, ketika ia keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Ivy yang masih berbaring memunggunginya, dengan cepat ia mengenakan kaos lengan pendek dan celana panjangnya.
Putra Harun itu mendudukkan dirinya di atas lantai, menyandarkan dirinya di samping sofa tempat Ivy merebahkan tubuhnya. Dengan sedikit keraguan, ia meletakkan telapak tangannya di belakang kepala kekasihnya dan mengusap punggung itu dengan perlahan-lahan.
“Maafkan aku….,” ucap Kenan dengan lirih.
“Tidurlah….” Terdengar suara Ivy yang terisak. “Penerbangan kita tinggal beberapa jam lagi.”
“Aku tidak akan tidur, sebelum kau memaafkanku.” Suara Kenan terdengar sedikit memaksa.
Ivy membalikkan badannya menghadap Kenan. Wajahnya terlihat sembab. “Aku sudah memaafkanmu.”
Kedua bibir itu saling terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman manis dan menawan.
“Tidurlah di kasur. Aku akan tidur di sofa,” pinta Kenan.
“Aku sudah malas untuk bergerak, kau saja yang tidur di kasur.” Ivy menutup mulutnya yang menguap.
Kenan menyelimuti tubuh ramping itu dengan kain berwarna putih. Sebenarnya ia tidak tega membiarkan seorang wanita tidur di sofa, sementara dirinya menikmati kenyamanan ranjangnya.
“Tidurlah. Bermimpilah indah.” Sebuah kecupan ia sematkan di kening Ivy.
“Kau juga. Aku tidak ingin membangunkanmu dengan guyuran air,” canda Ivy dengan tawa kecilnya.
“Jika kau berani melakukannya, aku akan menerkammu,” ujar Kenan sambil memperagakan dirinya bagaikan seekor beruang yang menunjukkan taring dan cakarnya. Namun sebenarnya hatinya tertawa, melihat Ivy telah memaafkannya.
“Eh…, bukankah kau tadi sudah minta maaf? Jika kau melakukannya lagi, aku tidak akan menikah denganmu!” ancam Ivy yang menyembunyikan tawanya.
“Hmm… kau sudah mulai belajar mengancam ya?” Kenan langsung menggelitik tubuh ramping itu membuat dirinya dan Ivy tertawa terpingkal-pingkal di atas sofa. Kelitikan dan tawa itu membuat rasa kantuk Ivy terbang melayang.
“Kenan….”
“Baiklah, aku janji padamu. Aku tidak akan menyentuhmu sebelum kita menikah.”
“Janji?” tanya Ivy dengan kerlingan di matanya.
“Kapan aku pernah mengingkari janjiku?” tandas Kenan.
“Kau hanya tinggal mengatakan sekali lagi. Tidak susah, bukan?” Ivy memasukkan kedua bibirnya ke dalam untuk menahan tawanya melihat ekspresi wajah Kenan yang terlihat serius.
“Janji kau tidak akan melakukan hal itu lagi?” Ivy menunjukkan jari kelingkingnya di depan wajah tampan itu. Bulu matanya yang panjang tampak berkedip-kedip membuat hati Kenan bergetar.
“Aku berjanji padamu,” ucap Kenan yang mengalungkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Ivy.
“Aku mencintaimu.” Ivy sedikit menegakkan tubuhnya dan mendaratkan sebuah kecupannya di kening pria itu.
“Aku juga selalu mencintaimu.”
...****************...
Jangan lupa setelah baca bab ini, kasih like dan komentar kalian. Terimakasih.
__ADS_1