Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Malam Yang Menegangkan - Siapa Yang Menghancurkan Siapa


__ADS_3

Hasan sedikit berlari memasuki gedung perkantoran Perusahaan Kozan. Langkahnya sedikit tergesa memasuki sebuah lift yang akan membawanya ke lantai delapan ruang kerja Ferit. Ia tahu bahwa tuannya itu masih berada di kantor, meskipun sang fajar baru saja memasuki peraduannya.


“Tuan Ferit,” sapa Hasan setelah ia masuk ke dalam.


Lingkaran matanya sedikit membesar, tatkala ia melihat keadaan ruangan itu kacau balau. Tumpukan berkas berserakan di lantai, potongan-potongan kain berhamburan di mana-mana. Dilihatnya tuan besarnya itu berdiri memunggunginya.


“Jika kau kemari ingin memberitahu kegagalan mu, lebih baik tenggelamkan dirimu di perairan Bosphorus sekarang juga!” tegas Ferit dengan tangan kirinya yang mengepal dan tangan kanannya yang memegang erat gelas minumannya yang telah kosong.


“Aku sedang memikirkan cara untuk menghadapi Mandellion!” tandas Ferit yang melanjutkan perkataannya.


Bisnisnya sedang menjadi prioritasnya saat ini. Ia sedang menghadapi kendala masalah bahan kain yang tak kunjung datang. Sementara Perusahaan Mandellion tidak memberikannya perpanjangan waktu.


Tanpa sepengetahuan tuannya, Hasan membuka penutup botol minuman Ferit dan memasukkan beberapa tetes cairan berwarna bening ke dalam botol kaca tersebut. Kemudian ia melangkah mendekati sang pemilik tubuh kekar yang berbajukan kemeja putih dan vest berwarna biru dongker.


“Ada yang lebih penting daripada masalah Mandellion, Tuan,” kata Hasan sambil mengisi gelas kosong Ferit dengan botol minuman beralkohol yang ada di tangannya. “Aku telah berhasil menangkap Nona Ivy.”


Wajah berkumis coklat itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah Hasan. Menaikkan salah satu alisnya, kemudian tertawa mencibir. “Kau? Berhasil menangkap Ivy?”


Ferit langsung meneguk minumannya dan meminta Hasan untuk mengisi gelasnya kembali. Suara tawanya menggelegar seperti suara guntur di tengah hujan. Dengan senang hati Hasan menuang kembali minuman memabukkan tersebut berulangkali. Ia malah berharap agar tuannya itu semakin banyak menghabiskan minuman yang telah ia buat.


“Anak buah ku berhasil menangkapnya di Istanbul Mall. Sekarang wanita itu ada di Hotel Dinasty,” jelas Hasan yang memberikan secarik kertas berisi nomor kamar hotel tersebut.


“Setelah aku menghajar mu, otakmu kembali ke posisi semula,” ucap Ferit setelah ia meneguk minumannya kemudian tertawa terbahak-bahak. “Kali ini aku tidak akan pernah melepaskannya! Siapkan surat-surat ku dan hubungi perwakilan kota, besok aku akan langsung menikahinya!”


Kabar yang disampaikan oleh Hasan itu bagaikan hembusan angin laut yang menyerang kekeringan di hatinya. Dengan bersiul, ia keluar meninggalkan ruang kerjanya. Ia sudah tidak sabar untuk menemui Ivy.


Hasan memandang punggung tuannya yang menghilang di balik dinding. Sebuah senyum penuh makna terlukis di kedua sudut bibirnya. Ia membuang botol minuman itu ke dalam toilet dan segera menyusul tuannya.


......................


Sementara itu di Apartemen Falea.


Setelah menghubungi Kenan bahwa dirinya sudah sampai di apartemen dengan selamat, Ivy langsung mempersiapkan dirinya untuk menjalani ritual perayaan Malam Henna. Ritual yang sering digunakan oleh wanita Turki yang akan melepas masa lajangnya. Mereka tidak memperbolehkan seorang pria pun berada di sana.


Ruang apartemen yang berada di lantai tujuh itu dipenuhi dengan para wanita yang tinggal satu gedung dengan Ivy. Mereka juga mengundang beberapa tetangga Nur yang tinggal di rumah yang lama. Sementara Kenan dan Deniz menginap di apartemen Mehmet.


Suasana Malam Henna di apartemen Ivy sangat sederhana, hanya ada lima orang wanita muda yang menari untuk mengisi acara tersebut. Kelima wanita itu menari sambil mengikuti alunan musik khas Turki yang mengalun dari sebuah CD player. Tanpa pemain musik dan tabuhan alat musik yang kerapkali dipakai oleh orang-orang berduit.


Seorang wanita melukiskan huruf KI di telapak tangan Ivy, yang merupakan inisial nama Kenan dan namanya. Mulai dari punggung tangan hingga ujung jarinya terlukis gambaran motif Henna yang berbentuk floral.


Wanita pelukis itu memasang tusuk rambut emas di rambut Ivy yang tergelung mewakili calon ibu mertuanya yang sudah tiada dan memberikan sebuah koin emas kepada Ivy, sebagai tanda untuk hadiah pernikahannya.


Para penari mengajak Ivy untuk menari bersama mereka di tengah ruangan. Putri Victor itu pun menari sambil menutupi seluruh wajahnya dengan kain tile tipis berwarna merah, senada dengan warna gaun yang dikenakannya. Ia masih bisa melihat dari balik kain yang berupa jaring-jaring kecil nan rapat.


Calon istri Kenan itu meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti gerakan para penari yang mengelilinginya. Gerakannya cukup luwes meskipun dirinya bukanlah seorang penari. Malam ini ia bagaikan seorang putri raja yang sedang mengadakan jamuan di istananya. Senyumnya mengembang terlukis di balik bibir tipisnya yang telah tertutup dengan lipstik berwarna merah.


......................


 Di rumah Sophia.


Rumah bertingkat dua di daerah barat Kota Istanbul itu sudah di penuhi dengan kerabat Sophia dan teman wanita Cansu. Sama seperti di Apartemen Falea, para tamu wanita itu menerima undangan Sophia untuk merayakan Malam Henna putrinya. Semuanya sudah lengkap, namun sang mempelai tidak tampak batang hidungnya.


Sophia mencoba menghubungi Cansu, namun hanya terdengar suara merdu dari petugas operator seluler. Berulangkali ia berusaha menghubungi putrinya, namun hasilnya tetap sama. Waktu terus berlalu, hampir dua jam para tamu itu menunggu tanpa kepastian. Sophia mengurut keningnya, kepalanya terasa pening malam ini.


Dimana anak itu? Dia sendiri yang ingin menikah dengan Mehmet! Di saat seperti ini, dia malah menghilang!


“Bagaimana Sophia? Apa kau bisa menghubungi Cansu?” tanya seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah salah satu kerabat Sophia.


Ibu tiri Ivy itu hanya menggelengkan kepalanya dan mengangakat kedua pundaknya ke atas. Hembusan napasnya terdengar begitu berat. Manik matanya menatap gaun merah yang seharusnya dikenakan Cansu dan beberapa kotak hadiah pemberian Mehmet.

__ADS_1


“Coba kau hubungi calon suaminya! Mungkin saja Cansu sedang bersama pria itu!” seru salah satu dari mereka.


Raut wajah Sophia tampak ragu-ragu untuk menghubungi Mehmet, apa yang akan ia katakan pada pria itu jika malam ini Cansu tidak ada di rumah.


Ia kemudian menggelengkan kepalanya dan berkata, “Sepertinya tidak mungkin, aku sudah memberitahu Cansu bahwa mereka tidak boleh


saling bertemu sebelum hari pernikahan.”


“Lantas di mana putrimu sekarang?” desak para wanita yang lain.


“Aku juga tidak tahu!” seru Sophia yang meninggikan suaranya. “Tadi sore dia pergi ke Istanbul Mall dan sampai sekarang belum pulang.”


Pandangan Sophia tertuju pada salah satu kotak hadiah pemberian Mehmet yang ia letakkan di sudut ruangan. Kotak berwarna merah dengan tali pengikatnya berwarna emas.


Apa anak itu sedang berada di tempat Ivy? Apa Hasan tidak berhasil menangkap Ivy? Jika Hasan berhasil menangkap Ivy, maka seharusnya malam ini dia tidak bersama Ivy. Kau ini sebenarnya kemana, Cansu?


“Mungkin putrinya kabur dengan mantan kekasihnya,” ucap salah satu tamu yang sempat di dengar oleh Sophia.


“Sophia… Sophia…, dulu anak tirimu kabur di hari pernikahannya. Sekarang anak kandungmu sendiri yang kabur,” cibir salah satu kerabatnya. “Bagaimana kau ini…, mendidik putri sendiri saja tidak becus!”


“Tutup mulutmu! Jangan pernah mengajariku cara mendidik putriku!” teriak Sophia yang mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah wanita yang mencibirnya.


Sophia melihat tatapan semua para tamu mengarah kepadanya. Tatapan mata itu menyudutkannya, namun ada juga yang prihatin dengan kondisinya saat ini. Namun wanita ini terlalu meninggikan dirinya, ia tidak ingin seorang pun mengasihaninya atau menyalahkannya.


“Kenapa kalian menatapku, hah?” tanyanya sambil berjalan mengelilingi para tamunya.


“Jika kalian ingin pergi dari sini, aku dengan senang hati membuka pintu itu untuk kalian! Pergi kalian dari rumahku!” serunya sambil menunjuk pintu rumahnya.


“Dengan senang hati, kami akan pergi dari sini!"


“Nyonya rumah macam apa kau ini? Mengusir para tamunya!”


Sindiran dan cibiran para tamu itu membuat telinga Sophia memerah. Di tengah kesendiriannya, ia terduduk di atas kursi makannya. Hidangan di atas meja makan belum tersentuh sama sekali.


Dengan berat hati, ia mencoba menghubungi Mehmet, tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya karena sebuah pesan masuk dari Hasan membuatnya tertawa sekaligus tersenyum bersamaan. Sebuah bukti transaksi pengiriman uang tertera pada layar ponselnya.


Aku telah memberikan Ivy kepada Ferit. Malam ini putri kesayangan Victor akan hancur di tangan pria itu. Ivy… Ivy… jangan pernah membuatku marah. Ini pelajaran untuk putri pembangkang sepertimu!


......................


Malam ini di Hotel Dinasty


Kedua sepatu pantofel pria turun dari mobil mewah keluaran Eropa berwarna hitam. Sejak di dalam mobil, ia merasakan tubuhnya terasa panas dan kepalanya sedikit berat. Ia bukanlah pria yang mudah dikalahkan oleh pengaruh alkohol. Namun entah kenapa malam ini, tubuhnya tak bisa menolak minuman memabukkan itu.


Ia membuka kancing kemeja putihnya yang paling atas. Langkah kakinya membawanya masuk ke dalam Hotel Dinasty.


Ferit merogoh saku celana denimnya dan mengambil secarik kertas yang di tulis oleh Hasan. Pandangannya mulai sedikit kabur saat melihat tiga digit angka yang tertulis di kertas tersebut.


“Tujuh… nol… angka berapa ini,” gumam Ferit yang berusaha membaca angka terakhir. Ia mengucek kelopak matanya dan menggelengkan kepalanya.


“Tuan Ferit!” seru Hasan yang langsung menghampiri tuan besarnya ketika dilihatnya pria berambut panjang itu sedang bersandar di dinding dekat pintu lift.


“Dimana kamar Ivy? Aku tidak bisa membaca angka terakhir yang kau tulis! Apa hotel ini tidak ada pendingin udaranya? Kenapa di sini terasa panas sekali?” tanya Ferit yang membuka kancing keduanya membuat dada bidangnya sedikit terekspos.


Hasan hanya tersenyum tipis di balik punggung tegap pria itu. Sepertinya obat itu telah bekerja.


“Aku akan membawa Tuan ke kamar Nona Ivy.” Hasan langsung mengajak Ferit untuk masuk ke dalam lift.


Di dalam lift, Ferit terus menggelengkan kepalanya dan tubuhnya semakin terasa panas. Ia melihat tubuh Hasan bertambah banyak. Dipijatnya pangkal hidungnya untuk membuat pandangannya kembali normal. Satu dua menit pandangannya kembali normal, namun pandangannya kembali kabur dan membayang.

__ADS_1


Hasan terpaksa menuntun Ferit hingga menuju pintu kamar hotel. Kedua anak buahnya berdiri di depan pintu untuk menjaga hasil tangkapan mereka.


“Apa wanita itu masih ada di dalam?” tanya Hasan kepada kedua anak buahnya.


“Ya, Bos,” jawab pria berjanggut.


Dengan tidak sabar, Ferit langsung membuka pintu kamar hotel. Ia melihat seorang wanita sedang berbaring di atas ranjang dengan kelopak matanya yang tertutup dan pakaiannya yang masih lengkap.


Dihampirinya wanita itu, pandangannya mulai kabur kembali. Wajah wanita itu mulai berubah-ubah, terkadang yang muncul adalah wajah Ivy, tetapi beberapa detik kemudian wajah Cansu yang ada di sana.


“Ivy,” katanya sambil membelai rambut wanita itu.


“Cansu?” Ferit pun terkejut, ketika wajah putri Sophia itu kembali masuk ke dalam pandangannya.


“Tidak, kau pasti Ivy.”


Wanita yang ia panggil dengan sebutan Ivy tidak bangun dari tidurnya, karena efek obat bius pemberian anak buah Hasan. Dipandanginya wajah cantik itu lekat-lekat. Seperti sebelumnya wajah wanita itu berubah-ubah. Wajah Ivy dan wajah Cansu muncul bergantian.


"Kau pasti Ivy."


Ferit kembali menggelengkan kepalanya. Tubuhnya semakin gerah karena rasa panas yang seolah akan membakarnya. Ia membuka vest yang menutupi kemejanya dan membuangnya begitu saja di lantai. Efek minuman yang diberikan Hasan mulai bekerja.


Hasratnya mulai timbul, ketika dilihatnya bibir merah itu terbuka. Ia mengusap bibir itu dengan jarinya. Kali ini imajinasinya mengalahkan pandangan nyatanya, yang dilihat Ferit saat ini adalah wajah Ivy yang tidak berubah.


Ketika Ferit akan menyentuh bibir wanita itu, dilihatnya sebuah botol minuman yang berdiri di atas meja. Mulut dan kerongkongannya terasa kering. Ia menelan salivanya dan langsung meneguk minuman itu sebanyak yang ia mampu. Minuman yang telah disediakan oleh anak buah Hasan. Entah apa minuman itu sudah tercampur dengan obat atau tidak.


“Kenapa rasanya semakin panas?” Ferit mengatur suhu ruangan menjadi serendah mungkin. Namun pendingin udara itu tidak mampu menurunkan suhu tubuhnya.


Dalam pandangan Ferit, wajah wanita yang sedang berada di tempat tidur itu tersenyum kepadanya dan mengulurkan tangannya. Kali ini ia meyakinkan dirinya, bahwa memang Ivy yang ada di hadapannya.


“Baru kali ini aku melihatmu tersenyum untukku, Ivy,” gumam Ferit.


Kenyataannya wanita yang berada di atas ranjang itu masih memejamkan matanya tanpa ekspresi.


Ia sudah tidak tahan lagi dengan rasa gerah yang ada dialaminya. Ia mengusap wajahnya yang basah karena keringat dan menyeka rambut coklatnya yang terkuncir rapi ke belakang.


Serta merta dibukanya sendiri setiap pengait yang ada pada pakaiannya. Membuangnya begitu saja lembaran kain pembungkus tubuhnya ke lantai.


Pikirannya yang dipengaruhi oleh efek obat mulai berhalusinasi. Dilihatnya wanita itu tersenyum mempesona dan memanggil namanya dengan lembut. Seolah menggodanya untuk semakin mendekatinya.


“Kau juga menginginkannya, Sayang?” tanya Ferit yang menekuk kedua kakinya di antara tubuh wanita itu.


Ia tidak menyadari bahwa pengaruh obat pemberian Hasan itu telah membuat pikirannya bertambah kacau.


Ketika tubuhnya mulai menghimpit tubuh ramping itu, dirobeknya seluruh pakaian yang melekat di tubuh wanita itu.


Melemparkannya ke sembarang arah. Kini tubuh ramping yang polos terpampang jelas dihadapannya, membuatnya semakin tidak terkendali. Ia bagaikan binatang buas yang hidup di dalam hutan rimba, mencengkeram setiap binatang kecil yang berhasil ia tangkap.


Menyerbu bibir merah itu yang tidak memberikan perlawanan, membuatnya bebas keluar masuk benteng sang dara. Lambat laun sentuhan perlahan itu kini berubah menjadi genderang perang yang menggebu. Menjepit setiap lekukan yang ada dan memberikan cap merah yang menandakan bahwa sang dara adalah milik kepunyaannya.


Sang dara yang terkulai lemah tak berdaya, tak bisa membuka kelopak mataya. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, ia mendesah ketika organ tubuh tak bertulang itu menjalarinya hingga ke bawah. Sentuhan tangan kasar itu mulai mencapai anggota tubuhnya yang paling menonjol. Menggenggam, melepas dan  terkadang memutarnya searah dengan jarum jam. Tiga gerakan itu yang terus Ferit lakukan berulang-ulang.


Hentakan Ferit bagaikan seorang joki yang sedang menarik tali kekang kuda pacuannya. Napasnya kian memburu tatkala ia berhasil menemukan rumah sang dara dan berhasil mengobrak-abriknya.


Semakin tegang dan semakin cepat, bagaikan suasana di arena pacuan kuda. Hingga akhirnya penyatuan kedua insan itu pun terjadi. Ferit akhirnya berhasil menyalurkan pengaruh obat yang ada di dalam dirinya.


“Ivy, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu,” ucap Ferit dengan lirih kemudian tubuhnya pun ambruk di samping tubuh Cansu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2