Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Penyerbuan Apartemen Falea


__ADS_3

Setelah membuat ruang makan apartemennya menjadi medan pertempuran, Kenan meninggalkan Ivy seorang diri di sana. Pria itu keluar dengan membawa mobilnya mengelilingi Kota Istanbul. Ia tidak punya tujuan saat ini. Keempat roda mobilnya hanya menggelinding mengikuti arah lalu lintas yang entah membawanya kemana.


Hatinya masih berkecamuk tak karuan. Dipukulnya setir kemudi itu berulang kali, benda mati berbentuk lingkaran itu hanya bisa pasrah menghadapi kemurkaan tuannya. Tanpa disadarinya, setetes air matanya tiba-tiba mengalir keluar.


Apa gunanya hubungan ini, Ivy? Jika kau tak mempercayaiku sedikitpun! Bukan wanita pintar dan cantik yang aku inginkan. Aku hanya menginginkan seorang wanita yang bisa mengerti dan memahami ku!


Kendaraan itu berhenti di daerah Eminonu, sebuah daerah dekat dermaga. Pria itu turun dari mobilnya. Tiupan angin musim dingin menerbangkan sebagian rambut hitamnya yang tebal. Tanpa balutan mantel ia langsung keluar dari tempat tinggalnya. Tubuhnya yang berotot itu mencoba bertahan melawan serangan angin musim dingin dan angin laut secara bersamaan.


Putra Harun itu hanya berdiri dengan kedua telapak tangannya yang melingkar memegang pagar pembatas antara daratan dan perairan yang ada di sana. Gelombang air laut yang pecah dan bendera Turki yang berkibar di ujung kapal mengisi manik matanya saat ini. Suara keramaian yang berasal dari kumpulan orang-orang dan bunyi klakson kapal seakan tidak masuk ke dalam indera pendengarannya.


Kejadian beberapa menit yang lalu itu masih membekas di dalam pikirannya. Suara teriakan Ivy dan lelehan air mata wanita itu membuat Kenan memejamkan kedua kelopak matanya.


Aku memintanya untuk mengerti diriku, tapi aku tidak pernah memberitahunya apa yang menjadi kegelisahan ku dan apa yang aku rasakan. Tapi salahnya sendiri, dia juga tidak bertanya padaku!


“Apa kau pikir aku ini cenayang yang bisa tahu isi hatimu?” Terdengar suara seorang wanita tua yang sedang berbicara dengan pasangannya.


Dua orang lanjut usia itu sedang berbicara di belakang Kenan. Pertanyaan wanita tua itu membuatnya tertampar. Seolah-olah mereka sedang membicarakan dirinya saat ini.


“Tentu saja aku dan Ivy bukan cenayang!” teriak Kenan yang berbicara di depan sebuah kapal besar yang akan menyandarkan dirinya di tepi dermaga.


Keinginannya untuk menenangkan dirinya terganggu dengan kehadiran sepasang suami istri yang sudah uzur.


Pria tua itu langsung menghampiri Kenan dan menepuk pundak tegap itu. “Hei, anak muda! Istriku itu sedang bicara denganku. Bukan denganmu!”


“Aku juga bukan bicara dengan Anda, tapi aku sedang bicara dengan kapal itu!” balas Kenan dengan nada suaranya yang tak kalah tinggi dengan sang pria tua.


“Dasar anak muda tidak tahu sopan santun! Aku bicara, kau juga ikut bicara!” pekik pria tua itu sambil mendengus di depan Kenan. Ingin rasanya ia memukul kening Kenan dengan tongkat besinya.


“Anda bicara, tapi aku tidak menjawab. Bukankah itu jauh lebih tidak sopan, Pak Tua?” Hati Kenan yang kacau, semakin bertambah kacau dengan kehadiran pria tua tersebut.


“Dasar anak muda zaman sekarang! Tidak tahu berterimakasih dan menghargai orang yang lebih tua!” omel pria tua itu yang kemudian menjauhi Kenan. Hanya terdengar suara batuk-batuk yang mengiringi langkah kakinya yang berjalan tertatih-tatih.


Wanita tua yang sejak tadi berdiri di belakang suaminya itu memajukan langkahnya dan menepuk pundak Kenan. Pria muda itu langsung mengalihkan pandangannya kepada seorang wanita berambut putih, dengan perawakannya yang sedang. Kulit wajahnya yang tipis dan tampak kerutan di mana-mana. Bercak noda hitam dengan bentuknya yang lebar, menghiasi kulit tangannya yang kering.


“Sejak tadi aku perhatikan, kau memandangi lautan itu. Jika kau sedang ada masalah dengan istrimu pulanglah ke rumah. Wanita tidak perlu pria berotot untuk menemaninya. Nanti setelah tua, kau juga akan menjadi seperti dia,” ucap wanita tua itu sambil menunjuk suaminya yang sudah bungkuk dan berjalan menggunakan tongkat besinya yang berkaki tiga.


Kenan tampak memperhatikan pria tua yang tadi menegurnya, kini pria tua itu telah berada sekitar tiga meter dari tempatnya berdiri. Manik matanya menangkap sosok tubuh renta dan terlihat lemah, tetapi suara pria tua itu bak guntur yang menggelegar ketika memarahinya.


“Semua wanita itu… sama sepertiku. Aku hanya butuh kejujuran dari suamiku. Dia selalu menyembunyikan sesuatu. Mulai dari uang pensiunnya hingga kebutuhan perutnya,” ucap wanita tua itu yang seakan berbicara dengan dirinya sendiri.


Mata tua itu sedang memandang deburan ombak yang menggulung kemudian pecah di bagian tengahnya.


“Dia menyalahkan ku, karena aku tidak menyiapkan makanan kesukaannya. Jika kau jadi aku, apa kau akan tahu jika dia tidak mengatakannya padamu! Mana aku tahu, kalau pagi ini dia ingin makan kue lapis? Memangnya dia pikir, aku ini peramal! Apa gunanya mulut yang menempel di wajahnya? Apa itu hanya hiasan?” Wanita tua itu malah mencurahkan isi hatinya kepada Kenan tentang tabiat suaminya.


Untuk kedua kalinya Kenan seolah tertampar begitu ia mendengar perkataan wanita tua itu.

__ADS_1


Wanita itu merasa lega, karena ada seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya.


Namun putra Harun itu malah tertegun menatap kelopak mata yang telah berkerut dan sepasang manik yang terlihat bening.


Dari sekian banyak orang yang ada di sini, entah kenapa aku malah bertemu dengan pasangan suami istri renta ini.


“Anak muda, pulanglah ke rumah. Siapa tahu istrimu sedang menangis sendirian di dalam kamar, dia membutuhkan pelukanmu dan menunggumu pulang.” Wanita tua itu pun melanjutkan langkahnya untuk menyusul suaminya.


Ekor mata Kenan mengiringi langkah kaki wanita tua yang telah berada jauh darinya. Seseorang yang tidak ia kenal sebelumnya, telah berbicara panjang lebar tentang kehidupan rumah tangganya.


Pria muda itu kembali menikmati pemandangan lautan yang ada di pelupuk matanya. Sama seperti birunya langit yang membentang tanpa batas, maka tidak ada seorang pun yang tahu batas lautan yang ada di depannya. Tidak ada seorang pun yang bisa menyelami isi dan hati pikiran manusia selain daripada manusia itu sendiri dan pencipta-Nya.


Hampir satu jam lamanya Kenan tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Ia masih belum memutuskan untuk pulang kembali ke apartemennya.


Ia masih mempertahankan egonya untuk tetap berada di tempat ini, dengan dalihnya ia berkata, "Ivy pasti juga ingin ketenangan."


......................


Sementara itu di Apartemen Falea, Ivy yang sejak tadi terduduk di lantai ruang makan perlahan-lahan menyeka lumeran bening yang membasahi wajah dan lehernya. Empat kaki kayu yang ada di depannya membantunya untuk bangkit berdiri.


Ia baru menyadari ternyata dirinya sendirian di apartemen. Penuh kekosongan dan kehampaan yang ia rasakan, baik di dalam hatinya maupun di sekitarnya.


Tangannya mengambil map biru dan selembar cek yang terjatuh di dekat tempat pencucian piring. Satu helaan napasnya terdengar ketika ia melihat genangan air itu hanya membasahi bagian belakang map.


Menit demi menit berjalan, setelah mengunci pintu apartemennya, kini tubuh ramping itu berdiri di bawah cahaya sinar lampu yang ada di ruang kerjanya.


Usahaku ternyata sia-sia. Apa lagi yang harus aku pertahankan? Karena kebodohan ku, aku telah kehilangan pria yang aku cintai. Tidak ada gunanya aku menangis, Kenan tidak akan kembali….


Telapak tangannya mengitari patung manekin yang terbungkus oleh gaun pengantin. Hingga jari-jarinya berada di bagian belakang gaun putih tersebut. Tangannya hendak melucuti baju pengantinnya, namun suara bel membuatnya berhenti.


“Kenan? Kau kembali?” gumamnya.


Manik mata hijau itu tampak membesar dan bersinar seketika. Putri Victor itu langsung keluar dari ruang kerjanya menuju pintu apartemen. Ia ingin membuka pintu yang semula dikuncinya dan menyambut kedatangan Kenan.


Namun langkahnya terhenti seketika, tatkala ekor matanya menangkap beberapa sosok manusia yang terekam pada monitor kamera pengintai. Tiga orang pria berdiri di depan pintu apartemennya. Salah satu dari pria itu menekan kembali bel tersebut.


“Hasan?” Wajah Ivy langsung berubah pucat seperti mayat, ketika ia mengenali salah satu dari mereka.


“Ba… bagaimana mungkin dia… dia bisa menemukan tempat ini?”


Kini bukan lagi bunyi bel yang terdengar, melainkan suara gedoran dan dobrakan pintu yang dipaksa oleh seseorang yang berada di luar.


Hasan memukul pintu kayu itu dengan kepalan tangannya. Ivy langsung berlari mendekati pintu tersebut. Semula wanita muda itu hanya menguncinya dengan anak kunci, kini ia menguncinya dengan tiga buah gerendel selop.


Sewaktu mereka menempati tempat ini, Kenan telah membuat tiga kunci gerendel yang ada di bagian atas, tengah dan bawah pintu.

__ADS_1


Kali ini Hasan menendang pintu itu dari luar. Gerendel besi bagian atas hampir terlepas. Namun pintu yang terbuat dari kayu jati itu masih tetap tegak berdiri.


Dengan tendangannya, Hasan berhasil melepaskan gerendel bagian atas. Benda besi itu jatuh di lantai.


Sementara itu di dalam apartemen, Ivy melihat sekelilingnya. Ia mencari tempat untuk melarikan diri atau bersembunyi. Manik matanya menatap dinding kaca yang ada di ruang makannya. Dinding kaca yang besar itu bisa ia gunakan untuk melarikan diri, akan tetapi ia tidak punya nyali untuk melakukan terjun bebas dari ketinggian lima lantai.


Bunyi gemerincing itu kembali terdengar, kali ini gerendel tengah telah terlepas dari pengaitnya. Pertahanan Ivy hanya tinggal menunggu gerendel bagian bawah dan pintu itu akan segera terbuka.


Dalam keadaan panik dan rasa takut yang menjalari tubuhnya, ia mencari tempat persembunyian di dalam kamarnya. Tanpa berpikir panjang, Ivy memasukkan dirinya di dalam lemari pakaian.


Tepat saat wanita muda itu bersembunyi, Hasan dan dua orang anak buahnya berhasil mendobrak pintu apartemen. Tiga pasang kaki bersalutkan sepatu kets itu memasuki ruangan.


“Ternyata benar, ini tempat persembunyian mereka,” gumam Hasan ketika ia mengambil sebuah pigura kecil yang ada di atas meja sudut ruang tamu. Pigura itu berisi foto Kenan, Ivy, Nur dan Deniz yang berkumpul bersama layaknya sebuah foto keluarga. Dua sudut bibir itu terangkat ke atas.


“Cepat temukan wanita itu!” Hasan memberikan perintah kepada anak buahnya kemudian ia menelungkupkan pigura kecil tersebut, membuat pajangan itu tertutup.


Tiga orang tamu tak diundang itu memasuki setiap ruangan. Mulai dari ruang penyimpanan bahan kain, ruang kerja, kamar Kenan hingga kamar Ivy. Suara langkah kaki yang menderap itu membuat Ivy menutup hidung dan mulutnya. Ruang gelap dan sempit itu membuat ketakutan dan kepanikan Ivy semakin bertambah.


Ya Tuhan, tolong aku. Jangan biarkan mereka menemukanku dan membawaku ke tempat Ferit.


Manik mata Hasan tertuju pada lemari pakaian yang terbuat dari kayu jati. Lemari itu terdiri dari empat pintu. Pria berhidung bengkok itu membuka pintu sebelah kiri, ia melihat tumpukan pakaian wanita ada di dalamnya. Kemudian ia melanjutkan membuka pintu tengah. Pintu itu terdiri dari dua daun pintu kembar. Tatapan matanya tertuju pada deretan pakaian wanita yang tergantung penuh di sana.


Pakaian hitam yang dikenakan Ivy, lampu kamar yang padam, ditambah lagi cuaca yang mendung dan gelap. Membuat Hasan tidak menyadari kehadiran Ivy. Wanita muda itu membungkus wajah dan tubuhnya dengan baju panjang milik Nur, membuat tubuh ramping yang tertekuk itu tidak terlihat.


Kesepuluh jarinya menutupi wajahnya yang oval, ketika Hasan membolak-balikkan barisan pakaian wanita yang tergantung pada sebuah gantungan besi berbentuk horizontal.


Jantung Ivy berdegup sangat kencang, jika saja organ dalam itu bisa melompat, maka dia akan keluar dari tubuhnya untuk mencari tempat yang tenang. Butiran air matanya kini berganti dengan tetesan-tetesan peluh yang membasahi kulit halus Ivy.


Napas Ivy seakan tercekat di dalam tenggorokannya, ketika ia mendengar bunyi klik yang berasal dari luar. Hasan mengunci pintu lemari pakaian itu.


Tidak ada seberkas cahaya yang masuk dan tidak ada rongga udara yang membuatnya bisa bernapas. Derap langkah kaki itu terdengar semakin menjauhi tempat persembunyian Ivy.


“Bos, apa kita rusak saja baju pengantinnya? Wanita itu tidak akan bisa menikah tanpa baju pengantin,” ucap salah satu dari mereka ketika dilihatnya Hasan telah masuk ke dalam ruang kerja.


“Bodoh! Tanpa baju pengantin pun, mereka tetap akan menikah! Cari wanita itu sampai ketemu!” Hasan mengitari ruang kerja. Membuka setiap laci dan lemari yang ada di sana. Membuang semua isinya ke lantai.


“Wanita itu tidak ada, Bos!” seru anak buah Hasan yang lain. Kini mereka bertiga berkumpul di ruang kerja. “Apartemen ini kosong!.”


Manik mata Hasan itu bergerak-gerak seiring dengan gerakan kepalanya yang meregangkan otot lehernya ke kiri dan ke kanan. Pria itu menekuk jari-jarinya hingga terdengar suara gemeletuk. Ia merasa sia-sia datang ke tempat ini, tidak berhasil menemukan Ivy.


Dalam kegeramannya pria berhidung bengkok itu memerintahkan anak buahnya, “Hancurkan tempat ini, buat seolah-olah ada pencuri yang datang!”


Mereka bertiga pun membalikkan sofa, kursi dan menjatuhkan semua barang-barang yang ada di atas meja.


Suara kegaduhan itu terdengar hingga ke telinga Ivy. Wanita itu semakin lama semakin kehabisan persediaan oksigennya. Napasnya mulai terengah-engah seiring dengan keringatnya yang semakin bercucuran. Tubuhnya sudah terasa lemas, kepalanya terasa pening, pandangannya semakin lama semakin kabur dan gelap.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2