
Ketika langit sudah mulai menunjukkan cahaya merah kekuningan, Hazal baru saja keluar dari gedung Perusahaan Puzulla. Sepatu pantofel dengan tumitnya yang tinggi menapaki satu per satu anak tangga yang akan membawanya menuju mobil sport hitam. Dia tidak datang ke penjara, karena siang ini ada rapat pemegang saham yang diadakan oleh salah satu pemilik saham perusahaannya. Di tangannya ia membawa beberapa berkas yang akan ia bawa pulang ke rumah.
“Apa kau akan menemuinya sekarang?” tanya Yafet ketika Hazal baru saja membuka pintu mobil yang ada di sampingnya.
Pria itu baru saja tiba sekitar sepuluh menit yang lalu, ia lebih senang menunggu istrinya di dalam mobil ketimbang dia harus menunggu di dalam kantor Puzulla.
Hazal hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya setelah ia mendudukkan dirinya di samping kemudi. “Aku tidak bisa menahan Erhan lebih lama lagi di Puzulla. Aku juga sudah memberitahu keputusanku kepada para pemegang saham dan mereka setuju.”
“Bagaimana jika dia tidak mau menerimanya?” Yafet bertanya sambil menyalakan mesin mobilnya, tetapi ia tetap membiarkan kendaraannya itu diam di tempat.
Kali ini Hazal yang terdiam, dari dalam mobil ia menatap batang pohon yang berada di depannya. Memikirkan betapa sulit ia mengubah pendirian seseorang yang akan ditemuinya. “Aku akan mencobanya.”
“Ingin aku temani?” goda Yafet sambil mengedipkan salah satu matanya. Ia pun mendekatkan dirinya sedekat mungkin dengan Hazal dan mengambil sabuk pengaman yang ada di samping kursi istrinya. Menarik tali berwarna abu-abu itu dan memasukkannya di tempatnya.
Dengan kedua tangannya, Hazal memegang wajah suaminya yang hampir bebas dari bulu-bulu tipis tersebut. “Jika kau ada di sana, maka semuanya akan kacau. Tinggallah di rumah dan temani Aslan.”
"Baiklah, Nyonya Aksal. Malam ini aku akan membebaskan hatiku dari rasa cemburu. Hanya malam ini, tidak ada malam berikutnya. Jika kau tidak bisa menyelesaikannya, maka aku yang akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri.” Yafet langsung meluncurkan mobilnya menjauhi gedung Perusahaan Puzulla.
......................
Sementara itu di Apartemen Falea, Kenan dan Ivy sudah beberapa jam yang lalu tiba di sana setelah mereka menjemput Nur dan bayi Filan di rumah Cansu. Sedangkan Deniz lebih memilih untuk menginap di rumah Cansu selama beberapa hari.
Saat semua orang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, terutama Nur yang sibuk memasak untuk makan malam dan Ivy yang sedang memeriksa pekerjaan para karyawannya di ruang kerja. Terdengarlah ponsel milik Kenan berbunyi di atas ranjang, membuat bayi Filan itu berusaha membalikkan tubuhnya dari posisi
telentang ke posisi tengkurap begitu ia mendengar bunyi-bunyian itu.
“Kau ingin menjawab ponsel ayah, Sayang?” Pria itu tertawa sambil mengusap kepala bulat sang bayi. Canda tawa dan sentuhan tangan Kenan itu malah membuat bayi Filan mengurungkan niatnya untuk membalikkan badan mungilnya.
__ADS_1
Salah satu tangannya meraih ponsel yang berada tidak jauh darinya. Dahinya mulai mengerut, ketika ia melihat deretan nomor tanpa nama yang muncul di layar ponselnya. Nomor itu tidak asing untuknya.
Inikan nomor Hazal?
Jelas saja Kenan mengingat deretan angka yang jumlahnya lebih dari sepuluh digit tersebut, karena siang malam pria itu selalu memandangi bandul kayu yang ia buat selama di penjara. Meskipun selama di penjara Mehmet selalu mengolok dan mengatainya pria melankolis atau pria sentimental, namun ia tak peduli. Ponsel itu terus berdering mengingatkan Kenan bahwa ada seseorang yang sedang menunggu suaranya.
“Halo…,” sapa Kenan pada ujung ponselnya.
“Kenan, ini aku.” Suara yang sudah lama tidak ia dengar.
“Hazal, ada apa?” tanya Kenan yang memilih untuk menutup pintu kamarnya saat ini. Ia melihat Ivy masih berada di dalam ruang kerjanya.
“Bisakah malam ini kita bertemu?”
“Malam ini? Apa kau sedang mengalami sesuatu?” Pria itu berjalan menjauhi pintu dan berdiri di dekat jendela kamarnya menatap indahnya langit yang sudah mulai tampak gelap.
“Tentang apa?”
“Aku tidak bisa membicarakannya di ponsel. Apa kau bisa menemuiku malam ini?”
“Bagaimana jika aku menolak untuk datang?” Kenan memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celananya.
“Aku akan tetap menunggumu sampai kau datang menemuiku.”
“Kirim saja lokasinya.”
Suara notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel tipis berwarna hitam tersebut. Kenan langsung membuka kotak masuknya dan ia melihat sebuah alamat restoran yang terletak di kawasan Bosphorus. Saat itu juga ia menjatuhkan dirinya di atas ranjang sambil berpikir apakah ia akan menemui Hazal atau tidak.
__ADS_1
Apa yang ingin Hazal katakan?
Menit demi menit berjalan, sambil menungu malam datang, Kenan menghabiskan waktunya untuk bermain dengan Filan. Bayi mungil yang masih berusia tiga bulan itu masih belum terbiasa dengan wajah ayahnya yang baru saja ia temui beberapa jam yang lalu. Namun, bayi mungil itu mulai menyukai bulu-bulu tipis yang tumbuh di sekitar wajah Kenan. Tangan kecilnya itu berusaha menggapai penghias wajah itu. Mungkin di dalam pikiran bayi Filan, kenapa sosok yang sedang menggedongnya ini berbeda dengan ibunya?
Hampir mendekati pukul tujuh malam, setelah semua orang telah selesai menyantap makan malam mereka. Kenan masih berkutat dalam pikirannya, ia hanya memandangi masakan yang dibuat Nur. Makanan itu belum tersentuh sama sekali.
“Apa sekarang masakanku sudah berbeda?” tanya Nur yang melihat Kenan belum memegang sendok garpunya.
“Aku akan membuat makanan kesukaanmu,” ucap Ivy yang hendak beranjak dari kursinya.
Kenan menahan tangan Ivy dan membuat istrinya itu duduk kembali ke kursinya. “Tidak usah. Aku… akan memakannya. Mungkin aku sudah lama tidak mencicipi masakanmu, Nur.”
Kenan mulai memasukkan suapan pertamanya, ia memang makan tetapi mulut dan lidahnya benar-benar tak bisa menikmati makan malamnya hari ini. Pikirannya tengah mengembara ke sana kemari. Memikirkan perkataan Hazal.
Karena didorong oleh rasa penasarannya yang kian lama kian besar, akhirnya Kenan mengutarakan keinginannya untuk pergi menemui Hazal kepada Ivy.
“Aku berusaha mengatakan sejujurnya padamu. Aku tidak tahu apa yang akan Hazal bicarakan—“
“Pergilah!” Ivy langsung meninggalkan ruang makannya dan memilih masuk ke dalam kamar. Di balik pintu kayu selalu menjadi tempat sandaran orang untuk mengutarakan isi hatinya.
Lebih baik kau berbohong padaku, Kenan. Katakan saja bahwa malam ini kau akan pergi menemui Mehmet atau temanmu yang lain. Asal jangan katakan bahwa kau akan menemui mantan istrimu. Tidak cukupkah pertengkaran kita tadi pagi di penjara? Tidak bisakah kau mengajakku untuk menemuinya atau memintanya untuk datang kemari?
Pintu kayu itu jugalah yang menjadi pemisah antara Kenan dan Ivy. Pria itu mengusap wajahnya berulang kali, hatinya sangat gusar. Ia benar-benar tidak mengerti isi hati wanita. Ia mengetuk pintu itu berulang kali dan berusaha membukanya, tetapi sepertinya pintu itu terkunci dari dalam. Disandarkannya keningnya itu pada daun pintu, kemudian ia mengatakan sesuatu.
“Ivy…, aku tahu kau pasti sedang menangis. Kumohon dengarkan aku. Jika aku berbohong, kau menganggapku salah. Tapi jika aku berkata jujur, kau juga marah. Lalu apa yang harus aku katakan? Aku benar-benar tidak tahu apa yang ingin Hazal bicarakan. Mungkin juga itu sesuatu yang penting.”
Tidak ada suara yang terdengar dari dalam kamar. Kenan menyandarkan kedua telapak tangannya yang terkepal itu di depan pintu. Ia sudah menunggu hampir tiga puluh menit, namun sepertinya Ivy tak kunjung membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
...****************...