Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Tertangkapnya Sophia - Cansu Mulai Membuka Suaranya


__ADS_3

Ada masa menabur dan ada masa menuai. Apa yang ditabur oleh seseorang suatu hari pasti akan dituainya. Sebuah roda tidak akan pernah berada di posisi yang sama, begitu juga dengan kehidupan yang selalu berputar dan bergerak.


Tidak ada yang patut untuk dibanggakan di muka bumi ini. Harta, tahta, dan jabatan semuanya adalah titipan dari Yang Maha Kuasa dan akan selalu berpindah dari tangan yang satu ke tangan yang lain.


Rasa penyesalan dan rasa bersalah seolah telah tertutup dari hati nurani Sophia. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa saham Perusahaan Kozan itu telah lepas begitu saja dari genggamannya.


Ditambah lagi kehidupan Cansu yang hancur akibat ketamakannya. Kini wanita paruh baya itu hanya bisa tertawa tanpa arti di setiap langkahnya menyusuri jalanan yang melandai.


Terkadang ia berhenti untuk mengacak-ngacak rambutnya dan mengeluarkan seluruh isi tasnya. Ia mulai menghitung lembaran uang kertas, kartu nama dan kartu bank yang ada di dompetnya dan menjatuhkannya begitu saja di jalan raya.


“Dimana saham ku?” Sophia berteriak sambil memandang gumpalan awan yang kelabu.


“Kembalikan saham ku!” teriak Sophia kepada semua orang yang melintas di hadapannya.


Wanita paruh baya itu terus mencegat orang-orang sambil berteriak sambil melotot kemudian tertawa dengan keras, begitu seterusnya. Tanpa disadarinya, orang-orang memunguti uang kertas yang tercecer di pinggir jalan.


“Lihat wajah wanita itu!” seru seorang pemuda kepada temannya yang melihat Sophia sedang mengambil kartu-kartunya yang jatuh di pinggir jalan kemudian melemparkannya ke udara.


“Itu pasti wanita yang dicari polisi!” Kedua pemuda itu mencocokkan wajah Sophia yang ada di televisi milik sebuah kios kecil dengan wanita yang ada di dekat mereka.


"Kau benar. Cepat hubungi polisi! Aku akan mengawasinya!” seru salah satu dari mereka, “sepertinya wanita itu tidak waras.”


Salah seorang dari kedua pemuda itu pun menghubungi polisi dan memberitahukan keberadaan wanita yang diberitakan di televisi. Sementara temannya yang lain mengajak Sophia bermain kartu. Mereka berdua pun duduk di atas tanah saling berhadapan.


Raungan mobil sirine membuat Sophia tersadar dari permainan kartunya yang sudah berlangsung beberapa menit. Ia pun mengangkat kepalanya kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri dengan tatapan wajahnya yang tampak kebingungan.


“Polisi?” Sophia bertanya kepada pemuda yang ada di depannya dengan kerutan di dahinya. Ia meletakkan begitu saja beberapa kartu banknya di pinggir jalan.


“Oh itu hanya mobil mainan. Ayo kita ke sana,” ajak pemuda itu.


“Tidak, aku takut,” elak Sophia yang berusaha bangkit berdiri. “Mereka jahat! Mereka akan menangkap ku!”


“Tunggu, Nyonya!” seru pemuda itu yang melihat Sophia lari menjauhinya. Ia pun berusaha mengejar wanita itu.


Namun, sebuah mobil SUV berhenti tepat di depan Sophia sebelum wanita berbelok ke tikungan. Membuatnya tidak bisa bergerak kemana-mana. Di belakang, mobil polisi telah menghadangnya.


“Jangan bergerak!” teriak salah satu dari petugas polisi yang ada di belakang Sophia, petugas itu mengarahkan pistolnya ke arah punggung wanita itu. Ibu tiri Ivy itu tampak kebingungan dan memundurkan langkahnya.


“Mau kemana kau, Sophia? Kau harus bertanggung jawab atas perbuatan mu yang berencana membunuh Ivy!” pekik Kenan yang baru saja turun dari mobilnya.


Para petugas polisi itu langsung memborgol kedua tangan wanita paruh baya itu kemudian berkata, “Sophia Eleanor! Kau di tahan karena kasus percobaan pembunuhan. Siapkan pengacara mu!”


Sophia terus meronta dan berteriak mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah, ketika petugas polisi membawanya masuk ke dalam mobil patroli. Setelah berterima kasih kepada petugas polisi dan pemuda yang membantu menangkap Sophia, Kenan segera pergi meninggalkan lokasi tersebut.


Setelah mendapat kabar tentang keberadaan Ivy dari pekerja kafe yang masih tinggal di tempat pernikahannya, Kenan langsung melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.


Dengan tergesa-gesa ia berjalan ke sana kemari mencari Ivy. Meskipun Sophia sudah ditangkap oleh polisi, tetapi dirinya belum tenang meninggalkan istrinya itu seorang diri di tempat umum.


Suara dering ponsel membuat Kenan mengalihkan pandangannya ke arah kanan. Putra Harun itu langsung mematikan ponselnya, ketika ia melihat seorang wanita yang masih mengenakan gaun pengantinnya terduduk di sebuah bangku panjang.


“Ivy!” Kenan memanggil wanita bergaun putih itu dari kejauhan.


“Kenan?” Wanita itu segera tersadar dari lamunannya dan berlari untuk memeluk suaminya.


“Syukurlah kau sudah kembali. Bagaimana dengan ibu tiri ku? Apa polisi sudah berhasil menangkapnya?” tanya Ivy setelah ia melepaskan pelukannya.


"Polisi telah menangkap Sophia. Lalu bagaimana dengan kondisi pelayan kafe itu? Apa dia selamat atau meninggal?” Kenan bertanya balik kepada istrinya.


“Pelayan kafe itu selamat.” Ivy mengajak Kenan untuk duduk di bangku panjang, tempatnya semula. “Ada yang ingin aku ceritakan.”


Di setiap langkahnya, Ivy menceritakan perihal Cansu yang bunuh diri dan berhasil diselamatkan oleh Mehmet. Kenan langsung menghentikan langkah istrinya, ketika mereka berada di depan kamar pelayan kafe.

__ADS_1


Pria itu memicingkan kedua matanya menatap Ivy. “Kenapa dia akan bunuh diri? Apa dia tidak ingin menikah dengan Mehmet?”


“Aku juga tidak tahu. Cansu berteriak kemudian mengusirku ketika aku dan Mehmet ingin melihat kondisinya. Kini dia membenciku. Aku juga tidak tahu apa salahku.” Manik mata hijau itu mulai berkaca-kaca saat menceritakan apa yang telah terjadi beberapa jam yang lalu.


“Dimana Mehmet sekarang? Aku akan bicara dengannya.”


“Entahlah, tadi dia mengatakan ingin menemui dokter yang menangani Cansu. Tapi sampai sekarang, dia tidak kembali,” jawab Ivy dengan menghela napasnya.


Kini Kenan dan Ivy sudah berada di depan pintu kamar Cansu. Dari sebuah bingkai kaca jendela yang kecil, mereka melihat Cansu sedang berbaring. Saudara tirinya itu sudah terbangun dengan raut wajahnya yang kembali tenang.


“Apa yang akan kita katakan kepada Cansu? Apa kita akan memberitahu dia, kalau ibunya di penjara?” tanya Ivy yang berbicara pada pintu yang membatasi dirinya dengan saudaranya. Ia hanya bisa memegang pegangan pintu tanpa berani membukanya.


Sebuah hembusan napas yang terdengar berat keluar dari hidung Kenan. Pria itu menempelkan tubuhnya di belakang tubuh Ivy.


Ia memegang kedua lengan ramping milik istrinya kemudian berkata, “Sudah seharusnya Cansu tahu, Sayang. Tapi kita akan memberitahunya setelah kondisinya membaik.”


Ivy hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis setelah ia mendengar perkataan suaminya. Ditepuknya punggung tangan Kenan dengan pelan.


Apapun yang terjadi nanti, lebih baik memulainya dengan sebuah kejujuran daripada kebohongan yang terlihat baik untuk sesaat, tetapi hal itu akan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan setiap saat.


Ketika mereka berdua sedang melihat kondisi Cansu dari balik kaca jendela, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran Mehmet. Sepasang suami istri itu saling berpandangan, ketika melihat beberapa orang bertubuh kekar dan bertato berjalan di belakang Mehmet.


“Baguslah kau sudah datang.” Mehmet mengarahkan perkataannya kepada Kenan, tetapi putra Harun itu masih belum juga mengerti kenapa temannya membawa anak buahnya ke rumah sakit.


Ivy memundurkan langkahnya untuk memberi ruang kepada Mehmet melihat kondisi Cansu dari balik kaca jendela. Sama seperti sebelumnya, putri Sophia itu terbaring dengan wajahnya yang menatap langit-langit.


“Boleh aku ikut menemuinya?” tanya Ivy ketika dilihatnya Mehmet sedikit mendorong pintu yang ada di depannya.


“Ivy!” seru Kenan dengan gelengan kepalanya dan memegang tangan Ivy. Pria itu mencegah istrinya untuk ikut masuk ke dalam.


Kenan tahu, akan ada waktunya Mehmet akan menceritakan masalahnya. “Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita jangan ikut campur.”


Namun, perasaan Ivy berkata lain. Ia yakin pasti masalah Cansu berkaitan dengan dirinya. Jika ini tidak ada hubungannya dengan dirinya, kenapa saudaranya mengusir dan membencinya.


“Kebiasaan mu itu tidak berubah. Suka menguping pembicaraan orang lain,” ujar Kenan yang tersenyum dan mengusap puncak kepala Ivy yang dihiasi oleh sebuah mahkota dengan untaian mutiara.


“Husst…” Ivy menutup mulutnya dengan jari telunjuknya."


"Aku hanya ingin tahu, kenapa dia membenciku," bisik Ivy yang membuat Kenan mengurungkan niatnya untuk kembali ke tempat duduk. Sepasang suami istri itu mulai memasang telinga mereka untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


......................


Cansu langsung membalikkan tubuhnya memunggungi Mehmet, ketika pria gundul itu baru saja masuk ke dalam kamarnya. Pria gundul itu mencoba untuk mengerti. Saat ini ia berusaha untuk membuat Cansu berbicara, mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya ingin mendengar wanita itu menyebutkan satu nama—pria yang telah menodainya.


“Cansu, aku tahu kau mendengar apa yang aku katakan,” ucap Mehmet dengan intonasi suara yang pelan. Putri Sophia itu tidak menjawab.


Hanya terdengar suara tarikan kursi kayu yang diletakkan Mehmet di samping ranjang kekasihnya. Satu helaan napas yang panjang dikeluarkan olehnya, ketika ia menduduki kursi tersebut.


“Dokter Akmal sudah menceritakan tentang hasil pemeriksaan mu.” Mehmet mengambil jeda sebentar untuk melihat reaksi Cansu. Tubuh ramping itu tidak bergerak, kemudian ia melanjutkan perkataannya kembali, “Aku sudah tahu, kejadian apa yang kau alami kemarin malam.”


“Kejadian setelah kau pulang dari Istanbul Mall,” lanjut Mehmet.


Umpan yang diberikan oleh Mehmet berhasil membuat Cansu bereaksi. Wanita muda itu menangis membelakangi kekasihnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Hatinya yang semula tenang kini kembali bergemuruh.


“Pergilah….” Cansu berkata dengan lirih dan isak tangisnya.


“Aku tidak akan pergi.” Mehmet bersikeras bahwa ia tidak akan keluar sebelum dirinya berhasil mengorek keterangan dari wanita itu. Membuat Cansu berbicara meskipun hanya satu kata, membuat hati pria itu sedikit gembira.


“Semuanya sudah menjadi bubur. Apalagi yang kau harapkan dariku?” Di balik punggungnya Cansu menggenggam telapak tangannya dengan erat. Membuat darahnya masuk ke dalam selang infusnya.


“Banyak yang aku harapkan darimu. Pernikahan kita, keluarga dan impian-impian kita,” ujar Mehmet dengan sikap yang santai seperti biasa.

__ADS_1


Suara tangis itu semakin menjadi memenuhi isi ruangan. Untuk beberapa menit Mehmet tidak membuka mulutnya. Ia membiarkan wanita itu terus mengeluarkan air matanya.


“Semua itu telah hancur!” teriak Cansu yang langsung membalikkan badannya menghadap Mehmet.


Kelopak dan bagian bawah mata itu terlihat menebal. Manik mata biru itu berubah menjadi merah. Sementara wajah cantik nan polos itu basah karena air mata.


“Tidak, Cansu. Asalkan kau masih bernapas, semuanya belum hancur. Semuanya bisa diperbaiki. Katakan padaku siapa yang melakukannya?” Mehmet memajukan tubuhnya, digenggamnya tangan kekasihnya itu.


Dengan keraguan manik mata biru itu membalas tatapan mata Mehmet. Bibir tebal berwarna merah itu mulai terbuka dan sedikit bergerak untuk menyebutkan satu nama.


“Ferit.”


Satu nama itu langsung membuat wajah Mehmet menegang menahan kegeramannya. Seketika itu juga, ia menarik telapak tangannya dari tangan Cansu dan langsung memukul pinggiran ranjang. Membuat wanita itu ketakutan dan menutup kedua telinganya.


“Itu bukan salahku… dia menginginkan Ivy!” jerit Cansu.


Jeritan itu membuat Ivy dan Kenan yang sejak tadi menguping mendadak terkejut dan tanpa sengaja membuat pintu itu terbuka karena dorongan tubuh mereka.


Melihat Ivy berada di depannya semakin membuat Cansu kembali histeris. Putri Sophia itu langsung mengeluarkan segala isi hatinya.


“Mereka salah menculikku karena mengira aku adalah Ivy! Pria biadab itu juga menyentuhku karena mengira aku adalah Ivy! Aku membencimu! Karena kau, hidupku menjadi hancur!” teriak Cansu di atas ranjang tempat tidurnya. Dilemparkannya bantal yang ada di belakang tubuhnya ke wajah Ivy.


Jantung Ivy seakan berhenti sepersekian detik setelah ia mendengar isi hati Cansu. Ia memundurkan langkahnya dan merasakan beban itu kini berpindah padanya. Jelas sudah pertanyan-pertanyan yang mengganjal di htainya mengenai perubahan sikap Cansu. Apa yang dikatakan saudara tirinya itu benar adanya, semua karena dirinya. Sejak dulu Ferit memang menginginkannya.


“Ivy!” teriak Kenan ketika dilihatnya istrinya itu pergi meninggalkan kamar Cansu.


“Aku akan mengejarnya,” pamit Kenan kepada Mehmet dan Cansu.


Perkataan Cansu terus menari-menari di atas kepalanya. Pengantin wanita itu berlari hingga keluar dari rumah sakit. Langit yang mulai gelap menemani setiap langkahnya. Butiran cairan bening terus menyeruak menembus pelupuk matanya. Semakin ia mengusap wajahnya, semakin deras air itu mengalir.


“Auw!” teriak Ivy ketika sebuah batu kecil membuatnya terjatuh. Ia merasakan rasa nyeri pada salah satu kakinya.


Ketika Ivy menaikkan gaunnya untuk melihat luka pada lututnya, sebuah telapak tangan terulur di depan wajahnya. Ia mengangkat wajahnya untuk melihat pemilik telapak tangan yang telah tersemat sebuah cincin di salah satu jarinya.


“Kenan….”


Bukan hanya menerima uluran tangan suaminya, tetapi Ivy langsung memeluk pria itu. Kini hujan air mata itu berpindah padanya. Jas hitam yang dikenakan Kenan pun basah karena tetesan air yang bukan berasal dari langit.


“Jangan salahkan dirimu,” bisik Kenan sambil mengusap punggung Ivy naik turun. Dibalik usapan tangannya, ada hati yang terasa panas dan telapak tangan lain yang terkepal.


Jika itu terjadi padamu, aku pasti akan membunuhnya!


“Aku tidak bisa, Kenan. Aku tidak bisa….” Ivy menggelengkan kepalanya dan sedikit menarik kain jas suaminya, “aku merasa sangat bersalah setiap kali aku bertemu dengan Cansu. Dia begitu membenciku.”


Kenan memegang kedua pipi istrinya dan mengangkat sedikit wajah Ivy agar wanita itu menatap dirinya. “Dengarkan aku, yang bersalah disini adalah si keparat itu! Pikirkan jika kau yang menjadi korbannya, pikirkan jika yang mereka culik itu adalah dirimu! Apa Cansu akan merasa bersalah? Tidak...,  tapi aku! Akulah orang pertama yang merasa bersalah karena tidak bisa melindungimu!”


“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Ivy. Ia menatap manik mata abu-abu gelap yang menyorot tajam ke arahnya tetapi yang ia rasakan adalah kelembutan.


Kenan langsung mendorong kepala belakang Ivy agar menempel pada dadanya. Ia meletakkan dagunya di samping kepala istrinya. Kedua tangannya ia lingkarkan di pinggang ramping istrinya. “Beri Cansu waktu untuk berpikir. Sebaiknya kau jangan menemuinya dulu."


“Baiklah,” jawab Ivy yang disertai dengan anggukan kepalanya.


“Ayo kita pulang,” ajak Kenan yang langsung menggandeng tangan istrinya.


Selama dalam perjalanan Kenan berusaha mengalihkan perhatian Ivy dengan menyanyikan lagu romantis untuk wanita yang baru saja dinikahinya itu. Mulai dari satu lagu hingga lima lagu. Namun, sebuah pesan singkat dari Mehmet membuatnya berhenti bernyanyi. Ia pun membaca pesan yang berbunyi,


Jika kau masih menganggapku sahabat, kita bertemu di sasana tinju nanti malam. Maaf aku mengganggu malam pengantinmu.


Kenan langsung mengubah haluan mobilnya. Semula dirinya dan Ivy akan pulang ke hotel, tempat mereka akan melakukan malam pengantin untuk pasangan yang baru menikah. Kini pria itu membelokkan mobilnya menuju apartemennya.


Kemudian putra Harun itu membalas pesan Mehmet. Sebuah pesan singkat yang berbunyi,

__ADS_1


Aku akan datang. Kirim anak buahmu untuk menjaga apartemenku.


__ADS_2