Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Pertarungan Antara Perusahaan Kozan Dengan Perusahaan Falea


__ADS_3

Presentasi bisnis itu pun dimulai. Satu persatu perwakilan perusahaan memberikan sebuah amplop tertutup kepada perwakilan Perusahaan Mandellion. Amplop itu berisi harga penawaran yang akan mereka berikan untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan fashion terbesar di Negara Perancis. Perusahaan Mandellion akan memilih harga yang sesuai untuk kerjasama diantara dua perusahaan.


“Sudah ada lima amplop di sini. Kami akan mengumumkan pemenangnya setelah acara presentasi ini selesai,” kata manajer wanita itu sambil mengangkat tinggi kelima amplop yang ada di tangannya. Hingga membuat semua orang mampu melihat kertas tertutup berwarna putih yang melebihi kepala mereka.


Urutan presentasi berdasarkan waktu peserta datang lebih dulu. Perusahaan Kozan mendapat jatah presentasi di urutan ketiga, sedangkan Perusahaan Falea berada di urutan kelima. Masing-masing peserta mempunyai waktu maksimal tiga puluh menit untuk menjelaskan rancangan desain yang telah mereka kirimkan kepada Mandellion beberapa waktu yang lalu.


Waktu terus berputar, satu jam telah berlalu. Perwakilan dari Negara Brazil dan Italia telah menyampaikan presentasi desain mereka. Namun, semua keputusan ada di tangan sang CEO yang duduk di kursinya dengan raut wajahnya yang datar. Tanpa ekspresi. Entah pria itu tertarik atau menolak presentasi mereka.


“Silahkan, Tuan Kozan,” panggil sang Manajer yang memanggil peserta dengan nomor urut tiga.


Ferit beranjak dari tempat duduknya kemudian merapikan ujung rompi abu-abunya yang terselip pada ikat pinggangnya yang berwarna hitam. Manik matanya menyorot tajam wajah Ivy dan Kenan secara bergantian saat ia membetulkan kerah kemejanya.


Ivy, kau akan lihat siapa yang pantas bersamamu…. Aku atau montir sialan itu! Seharusnya montir itu tahu diri untuk bersaing bisnis denganku!


Pria berikat rambut itu berjalan ke depan. Kemudian memberikan sebuah alat penyimpan data kepada seorang pria berkacamata yang duduk di dekat sang CEO. Pria berkacamata itu akan membantunya untuk menampilkan hasil presentasinya di layar proyektor.


Lampu ruangan mulai padam. Hanya ada seberkas cahaya yang terpancar dari sebuah layar putih berbentuk persegi dan setitik cahaya merah yang berasal dari lampu senter presentasi yang ada di tangan Ferit. Dalam keadaan yang hampir gelap itu, mereka masih mampu melihat orang-orang di sekitarnya.


“Pertama-tama saya Ferit Kozan, mengucapkan terimakasih kepada Perusahaan Mandellion yang telah memilih dan mengundang Perusahaan Kozan untuk mengikuti seleksi tahap kedua ini,” ucap Ferit sambil menundukkan kepalanya, memberi hormat kepada Presdir Mandellion yang duduk di depannya.


Pria berambut coklat itu berjalan perlahan-lahan mengelilingi meja rapat yang terdiri dari dua belas kursi. Ia terus memandang ke arah Ivy, melihat wajah cantik calon istrinya yang duduk bersama dengan pria lain.


 “Awal mula Perusahaan Kozan hanya menjalankan bisnis keuangannya, baru sekitar  dua tahun yang lalu kami melebarkan sayap untuk merambah bisnis pakaian pria dan wanita. Di Turki sendiri, produk pakaian Kozan sudah tersebar luas.”


“Jika Tuan berkenan, maka saya akan menampilkan hasil rancangan yang telah dibuat desainer perusahaan Kozan saat ini. Dengan demikian, semua yang hadir di sini bisa melihat kualitas bahan yang kami gunakan. Bagaimana, Tuan?” tanya Ferit kepada seorang pria yang berperawakan kurus.


“Lakukan,” jawab sang CEO menganggukkan kepalanya.


Satu kata yang terucap itu langsung membuat Ferit tersenyum penuh makna, tetapi tidak dengan Kenan. Putra Harun itu mendengus dan membuang wajahnya ke arah Ivy.


"Apa lagi yang akan dia lakukan?" bisik Kenan di telinga Ivy. Wanita muda itu hanya mengangkat kedua pundaknya.


Setelah mendapatkan persetujuan dari CEO Mandellion, Ferit berjalan mendekati meja Kenan. Kini pria itu berdiri tepat di belakang kursi Ivy, membuat suhu tubuh wanita itu menjadi naik turun tak karuan.

__ADS_1


Putri Victor itu menggenggam erat tas miliknya. Dinding ruangan itu seakan menghimpitnya begitu Ferit mencondongkan tubuhnya di samping kiri, untuk menatap wajahnya. Sementara di samping kanannya, Kenan nyaris melotot melihat tingkah laku pemimpin Perusahaan Kozan tersebut.


“Nona Eleanor, kurasa aku perlu bantuan mu untuk menjadi model ku saat ini.” Ferit membuka telapak tangan kanannya seakan ia sedang meminta Ivy untuk berdansa dengannya.


Seketika itu juga, Kenan langsung memegang lengan kanan Ivy, mencegahnya untuk bangkit berdiri dan menolak tawaran Ferit. Putra Harun itu langsung mengangkat wajahnya menatap tajam wajah Ferit, yang tidak pernah berhenti mengganggu kehidupan mereka.


Ferit mendadak tertawa melihat perbuatan Kenan, sontak membuat semua orang yang ada di dalam ruangan memusatkan perhatian mereka kepada kedua pria itu. Membuat orang-orang itu dengan mudah memperbincangkan mereka dan menjadi bertanya-tanya.


Hatimu terasa panas bukan? Begitu juga dengan ku, montir sialan!


“Bagaimana, Nona Eleanor? Aku hanya minta bantuan mu, tetapi sepertinya pria yang ada di sampingmu itu….”


“Aku bersedia!” seru Ivy yang langsung memotong perkataan Ferit, membuat pria itu tersenyum puas. Hatinya tertawa mendengar calon istrinya itu bersedia menjadi modelnya.


“Ivy!” seru Kenan dengan suaranya yang berbisik penuh penekanan. Ia tak menyangka wanita itu akan menyanggupi permintaan Ferit. “Wanita di dalam ruangan ini bukan hanya dirimu.”


“Ini demi Falea. Mereka akan menilai buruk pemimpin Falea, jika kau tidak mengijinkan ku,” bisik Ivy yang langsung membuka jari tangan Kenan dari lengannya.


Putra Harun itu langsung melempar berkas perusahaannya ke meja. Ia memejamkan kedua kelopak matanya hingga urat-urat syaraf di wajahnya mulai terlihat. Hembusan napasnya terasa panas keluar dari lubang hidungnya.


Dengan langkah kakinya yang gontai, Ivy berjalan menuju toilet untuk mengganti pakaiannya. Ia melihat pantulan dirinya di depan cermin besar yang menempel di salah satu dinding toilet. Cahaya kekuningan itu berpendar keluar dari belakang tubuh berbentuk persegi panjang dengan tinggi yang melebihi tingginya.


Sejak kapan Ferit mengetahui ukuran tubuhku? Baju ini terlihat pas di tubuhku... tidak kebesaran atau kekecilan.


Putri Victor itu mengambil model pakaian yang lain, semua ukurannya sama. Pakaian Musim Semi itu membungkus lekuk tubuhnya yang ramping tanpa meninggalkan celah sama sekali. Ia bisa melihat pakaian itu sangat cocok untuknya.


Apa waktu dia menyekap ku di rumahnya, telah terjadi sesuatu diantara kami?


Dengan cepat Ivy menggelengkan kepalanya menepis segala pikiran buruk yang menari-nari di dalam pikirannya. Kesepuluh jarinya menggenggam erat pakaian berwarna merah tersebut.


Sepertinya itu tidak mungkin. Aku tidak merasakan apa-apa, bahkan waktu itu aku telah menusuk lengannya ketika dia akan menyentuhku. Setelah itu sepertinya dia tidak melakukan apapun lagi kepadaku, selain memborgol tanganku setiap hari.


Putri Victor itu langsung menghembuskan napasnya dalam-dalam. Mengemasi pakaiannya kemudian keluar dari kamar kecil tersebut. Ia melangkah dengan terburu-buru untuk masuk kembali ke ruang rapat.

__ADS_1


Cahaya lampu di dalam ruangan langsung menyala, tepat saat Ivy membuka pintu kayu tersebut. Beberapa pasang mata tampak terpukau, termasuk Kenan dan Ferit yang melihat penampilan Ivy dengan balutan pakaian Musim Semi dari Perusahaan Kozan. Kedua pria itu hanya membuka mulutnya lebar-lebar dan kelopak mata mereka mendadak berhenti berkedip untuk beberapa detik melihat pakaian itu telah menambah kesempurnaan penampilan Ivy.


“Tak salah jika aku menamai pakaian Musim Semi ini dengan nama My Ivy.” Suara Ferit membuat kesadaran semua orang kembali.


“My Ivy!” cemooh Kenan. Pria itu mendengus tak karuan. Raut wajahnya berubah, bukan lagi mengagumi penampilan Ivy, tetapi dia ingin merobek pakaian itu dan membawa kekasihnya keluar dari ruangan ini.


“Ayo,” ucap Ferit yang akan menggandeng tangan Ivy.


Namun, putri Victor itu menolaknya dengan menepis tangan Ferit. “Aku bisa jalan sendiri!”


Ivy berjalan menghampiri sang CEO dan dua orang Manajer Mandellion. Kini wanita berambut coklat gelap itu sudah berada di depan. Semua orang yang berada di dalam ruangan melihat bahan yang digunakan oleh Perusahaan Kozan sangatlah berkualitas dan model pakaian yang dikenakan Ivy juga sesuai dengan hasil rancangan perusahaan tersebut. Tampak sebuah aura kekaguman yang terpancar dari wajah sang CEO.


Dari situlah Ivy mulai menyadari, bahwa keputusannya untuk menjadi model Perusahaan Kozan malah semakin menambah nilai perusahaan itu di mata Mandellion. Bukan malah membantu Fallea. Dari tempatnya berdiri, ia melihat Kenan yang hanya menundukkan kepalanya tanpa memandang dirinya. Hatinya terasa sakit, ia ingin segera melepas pakaiannya. Bukan ini yang dia mau.


Dari tempat duduknya, Kenan mengalihkan pandangannya untuk menatap meja kayu tanpa motif berwarna coklat dan gelas minumannya. Ia tidak ingin melihat Ivy memakai pakaian rancangan Perusahaan Kozan, sekalipun wanita itu terlihat semakin cantik.


Apa kau bangga mengenakan pakaian itu? Menunjukkan semuanya ini kepadaku?


“Berputar dan berjalanlah mengelilingi ruangan ini, anggaplah kau seorang model profesional yang berjalan di atas catwalk,” ucap Ferit yang di dengar oleh semua orang.


Mereka pun mendukung perkataan Ferit, kecuali Kenan yang tetap bergeming di tempat duduknya.


Jangan lakukan ini, Ivy. Kumohon jangan rendahkan dirimu! Kau bukan budak keparat itu!


Ferit berjalan mendekati Ivy yang masih tidak beranjak dari tempatnya. Pria itu memeluk punggung Ivy dan menjatuhkan tangannya di belakang pinggang wanita itu. Ia membisikkan sesuatu kepadanya. “Sudah terlambat untuk menyesali keputusanmu, Sayang. Kau sudah datang jauh-jauh ke tempat ini."


Dengan satu helaan napas, Ivy melepaskan tangan Ferit yang sudah berada pada lekuk pinggangnya. Putri Victor itu pun melangkahkan kakinya, berjalan mengelilingi ruangan itu dengan satu kali putaran.


Tepat saat dirinya berada di belakang kursi Kenan, ia melihat telapak tangan itu terkepal menahan amarahnya. Suara riuh tepuk tangan terdengar membahana di dalam ruangan itu setelah Ivy kembali ke posisinya semula. Cairan bening itu jatuh membasahi wajahnya, tatkala ia melihat Kenan yang semakin menyandarkan kepalanya di punggung kursi dengan kelopak matanya yang terpejam.


Tanpa perlu menunggu perintah dari Ferit, Ivy langsung berlari keluar menuju ke toilet untuk mengganti pakaiannya. Dalam pelariannya bulir-bulir kristal bening itu tumpah ruah membanjiri wajahnya. Napasnya terasa tercekat di tenggorokan saat dirinya memegang pegangan pintu toilet. Ia memegang pegangan pintu berbahan stainless steel itu sangat erat dan membenturkan keningnya di daun pintu. Wanita muda itu menyesali kebodohannya yang telah masuk ke dalam perangkap Ferit.


Perlahan-lahan Ivy melepas pakaian milik Perusahaan Kozan dan mengenakan pakaiannya kembali. Dari pantulan cermin, dilihatnya manik matanya yang telah memerah. Ia mengusap

__ADS_1


sudut matanya yang masih terasa basah dan membasuh wajahnya yang terlihat sembab dengan guyuran air wastafel.


Ini belum berakhir! Falea belum mendapatkan gilirannya. Aku akan kembali dan berjuang untuk Falea….


__ADS_2