
Waktu terus berputar dengan cepat, hari yang semula masih terang berubah menjadi gelap. Sama seperti sebuah kehidupan, yang selalu terus bergerak seiring berjalannya waktu.
Di rumahnya, Kenan yang sejak tadi sore menonton video pemberian Mehmet mulai bersiap-siap menuju sasana tinju. Ia mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas parasut berwarna hitam. Sepasang sarung tinju berwarna merah, sebuah baju kimono berbahan satin, sebuah celana bokser, dan sebuah handuk berada di dalam tas Kenan.
Dengan memakai kaos polos bodyfit nya dan sebuah topi berwarna hitam menutupi kepalanya, Kenan masuk ke dalam mobil. Mobil itu melaju ke arah barat, menuju tempat sasana tinju milik Mehmet.
Dari luar, tempat itu lebih mirip seperti gudang daripada sebuah tempat pertandingan. Kenan memarkirkan kendaraan roda empatnya di lapangan sebelah kanan tempat itu.
Putra Harun itu menenteng tas olahraganya. Sepasang sepatu kets berwarna hitam menemaninya melangkah. Seperti sebelumnya, dua orang anak buah Mehmet yang berjaga-jaga memeriksa badan Kenan dan tas yang ia bawa. Tidak diperbolehkan membawa senjata tajam, kamera, makanan dan minuman dari luar. Kenan menyerahkan ponselnya kepada salah satu penjaga.
"Kau yang bernama Kenan Fallay?" tanya seorang pria bertubuh kekar menghadang jalannya. Kenan mengiyakan pertanyaan pria itu.
"Ikut aku!" seru pria tersebut. Kedua pria itu berjalan memasuki sebuah ruangan yang berada di sayap kanan ring tinju.
Pria bertubuh kekar itu menyalakan lampu ruangan, membuat Kenan dapat mengamati satu persatu benda yang ada di dalamnya. Sebuah ring tinju mini, matras berwarna hitam, samsak tinju model berdiri, samsak berbentuk bola gantung dan sebuah tali.
"Ini adalah ruang pemanasan, pertandinganmu masih empat puluh lima menit lagi. Lakukan pemanasan denganku," kata pria yang tidak memperkenalkan dirinya kepada Kenan.
Pria itu melilitkan kain berwarna hitam di sekitar jari dan telapak tangan Kenan. Mengikatnya di sekitar pergelangan tangan. Kenan segera melakukan push up dan skiping untuk beberapa menit. Pukulan pendek ia layangkan di samsak bola gantung. Pria bertubuh kekar itu menjadi sparing partner Kenan di ring tinju mini.
"Waktu habis! Bersiaplah! Fokuskan dirimu, jika kau ingin menang!" seru pria bertubuh kekar itu memberikan pesannya kepada Kenan. Bukan tentang keahlian tapi semua tentang keberuntungan dan taktik yang digunakan.
*****
Ivy yang sudah tiba di rumah susun Kenan segera menapaki anak tangga dan berlari menuju ke pintu nomor 303. Berulangkali kali wanita berambut coklat gelap itu mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Ia mencoba menghubungi ponsel Kenan, tetapi hanya ada suara penjawab otomatis dari operator seluler.
__ADS_1
Sepertinya tidak ada orang di dalam. Kenan di mana kau? Aku tidak bisa pulang sebelum memberikan gambar Deniz kepadamu.
Ivy teringat teman Kenan yang bernama Mehmet dan Kafe Istanbul. Putri Victor itu segera menuruni anak tangga sebanyak tiga lantai, dan berlari ke ujung jalan untuk menunggu kedatangan angkutan umum yang akan lewat di malam ini.
Wanita muda itu segera menaiki bus malam yang melintas di depannya. Dengan sedikit tergesa-gesa ia duduk di kursi kosong baris paling belakang. Ia berharap bisa bertemu dengan pahlawan adiknya itu malam ini.
"Menara Galata!" teriak sopir bus di depan mikrofon kecilnya yang menempel di dekat kemudi. Pria bertopi pet itu mengulangi kembali perkataannya untuk membangunkan semua penumpang yang sedang melepas lelah di tempat duduknya.
Ivy dan beberapa penumpang segera menekan tombol berhenti yang ada di atas kepala mereka. Satu per satu mereka menuruni dua anak tangga setelah bus itu berhenti di depan menara.
Bangunan yang menjulang tinggi itu seakan membuatmu tampak kecil jika berdiri di depannya, akan terlihat sangat indah jika kau melihatnya dari seberang atas. Seakan ujung bangunan itu adalah sahabat sejati sang rembulan.
Langkah kaki Ivy membawa wanita itu menuju ke deretan kafe yang berbaris rapi di seberang Menara Galata. Ia mencari Kafe Istanbul di antara bangunan modern itu.
Tangannya mendorong pintu kaca kafe bertuliskan kata "Açık" (Bahasa Indonesia artinya Buka). Manik mata hijau itu menebarkan pandangannya ke setiap sudut kafe, kemudian ia menatap seorang pria berkulit gelap. Orang yang dicarinya itu berdiri di belakang deretan gelas anggur yang tergantung rapi dengan lubangnya yang menghadap ke bawah.
"Halo," sapa Ivy kepada Mehmet setelah ia berdiri di hadapan pria itu.
Mehmet mengangkat wajahnya kemudian tersenyum menyapa wanita cantik yang ada di depannya. Pria itu keluar dari meja bartendernya dan menghampiri putri Victor.
"Kita pernah bertemu di tempat tinggal Kenan. Apa kau ingat?" tanya Ivy yang mencoba beramah tamah dengan pria itu.
Mehmet menggaruk kepala plontosnya. Ia sengaja melakukan hal itu. "Ya, aku ingat dengan mata hijau mu yang indah. Sebentar, aku akan menyiapkan meja untukmu."
"Bukan-bukan! Aku ke sini bukan untuk makan atau nongkrong. Aku mencari Kenan. Adikku ingin memberikan sesuatu untuknya. Aku tidak bisa menghubungi ponselnya dan datang ke rumahnya, tapi pria itu tidak ada, karena itu aku kemari," jelas Ivy dengan gerakan tangannya.
__ADS_1
Mehmet mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mengangkat ujung telapak sepatunya secara bergantian.
Apa aku harus memberitahu wanita ini dimana Kenan berada?
"Kenan tidak ada di sini. Ikutlah denganku, kau bisa menemuinya setelah ia selesai melakukan pekerjaannya," ucap Mehmet sambil merogoh kunci mobilnya dan berjalan mendahului Ivy.
Mereka keluar dari kafe Istanbul dan berjalan menyusuri deretan lapak makanan dan minuman dengan hiburan musiknya. Langkah kaki mereka berhenti di depan mobil Jeep milik Mehmet.
"Masuklah! Aku akan mengantarmu menemui Kenan." Mehmet membuka kunci mobilnya, dan segera melajukan kendaraannya.
"Oh iya, siapa namamu?" tanya Mehmet sambil sesekali tersenyum kepada Ivy.
"Ivy Eleanor. Kau?"
"Mehmet Guner. Orang-orang lebih suka memanggilku dengan nama Mehmet," jelas pria itu dengan sedikit tawanya.
Mehmet suka beramah tamah dengan orang-orang baru, dia mampu menghadirkan kehangatan bagi lawan bicaranya dengan tawanya yang khas dan dengan setiap perkataannya. Berbanding terbalik dengan sikap Kenan. Itulah kesimpulan yang ada di pikiran Ivy saat ini.
Mobil Jeep itu berhenti di depan sebuah bangunan dengan dindingnya yang tinggi. Mereka berdua turun dari mobil berwarna hijau tentara itu. Sekelebat pikiran Ivy membayangkan apa yang ada di dalam bangunan itu, ketika dua orang pria bertubuh besar dengan pakaian tanpa lengan dan rajahan tatonya berdiri di hadapan Ivy.
Tempat apa ini? Apa yang sedang dilakukan Kenan di tempat ini?
* BERSAMBUNG *
Sudah mulai penasaran dengan ceritanya babang Kenan dan Neng Ivy? Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1