
"Ivy Eleanor, apa kau sudah siap? Giliranmu sebentar lagi. Dimana para modelmu?" tanya seorang petugas panitia yang masuk ke ruang ganti Ivy.
"Aku akan menghubungi mereka," jawab Ivy. Petugas panitia itu pun pergi meninggalkan Ivy seorang diri.
Ivy meletakkan kembali gaun rancangannya ke gantungan baju. Di bawah tiang besi itu, gaun rancangan Ivy terlihat seperti baru kembali. Dalam beberapa menit, ia menjahit kembali keempat gaunnya dengan tangannya sendiri.
Manik mata hijau itu menatap satu persatu gaun itu, bagaikan seekor induk ayam yang memperhatikan keempat anaknya. Mata hijau itu mulai berkaca-kaca, apapun yang terjadi nanti ia sudah berusaha sampai sejauh ini. Pikirannya mulai menerka-nerka siapa yang telah merusak gaunnya.
Kara? Dia sudah tidak ada sewaktu aku kembali. Belum tentu Kara pelakunya, atau ada orang lain yang masuk ke ruangan ini?
Di saat Ivy akan menghubungi kedua modelnya, dua orang wanita itu telah masuk ke dalam ruang ganti. Mereka ingin mendapatkan kepastian dari Ivy, apa mereka akan tampil malam ini atau tidak?
"Ivy...." Perkataan mereka berhenti ketika dilihatnya keempat gaun itu sudah berubah menjadi bentuk dengan model yang baru.
"A...apa ini gaun yang rusak tadi?" tanya wanita berambut pirang yang tadi mengatai Ivy. Ia mengambil salah satu gaun itu dan menempelkannya di tubuhnya.
"Ya. Ini gaun compang-camping yang kau sebut tadi," sahut Ivy tanpa ekspresi.
"Maafkan kami, Ivy. Kami tidak tahu, kalau kau..." Ivy langsung mengangkat telapak tangannya untuk memotong perkataan mereka. Sejujurnya ia muak melihat sikap mereka.
"Sudahlah, kita tidak punya banyak waktu. Jika kau ingin berjalan di atas panggung, cepat ganti pakaianmu!" seru Ivy sambil menatap tajam wajah mereka satu persatu.
"Ya...ya... kami mau." Kedua model itu tampak malu, karena Ivy masih mengijinkan mereka untuk mengenakan gaun rancangannya.
Salah seorang panitia menggiring kedua model Ivy untuk berjalan di belakang panggung. Ivy memasuki ruang pertunjukan dan mendaratkan tubuhnya di samping Khan, pria itu telah menyediakan kursi kosong untuknya.
"Kenapa lama sekali?" tanya Khan.
Udara di ruangan ini cukup dingin, tapi Khan tak ingin jauh-jauh dari kipas kertasnya. Benda bulat dengan lipatan-lipatan itu melambai sesuai dengan irama tangannya.
"Ada sedikit masalah," jawab Ivy yang tidak memperhatikan wajah atasannya. Hatinya was-was menunggu kedua modelnya itu keluar dan berjalan di atas panggung.
Suara pembawa acara pria terdengar di tengah-tengah ruangan, "Perusahaan Sarte telah mengeluarkan gaun musim panasnya, dengan tangan dingin desainer barunya. Ivy Eleanor!"
__ADS_1
Suara riuh tepuk tangan mengiringi perjalanan dua model Ivy yang tengah berpose di atas panggung. Gaun itu melambai dengan indah dan terlihat sangat cantik.
Sophia yang duduk di sayap kiri panggung terkejut melihat gaun itu terlihat sempurna tanpa cacat. Dari kejauhan ia melihat Ivy tersenyum simpul ke arah panggung.
Bukan hanya Sophia yang terkejut melihat gaun itu, Khan juga. Pria itu malah terbengong membuka mulutnya lebar-lebar.
"Itu bukan gaun rancanganmu? Gaun itu beda dengan yang pertama kau tunjukkan padaku," bisik Khan. Ia menutupi mulutnya dengan kipas kertas berwarna putih.
"Ini tadi yang aku katakan. Ada sedikit masalah." Ivy membalas bisikan Khan.
"Masalah apa? Kenapa aku tidak tahu?" Khan membuang mukanya. Ia menarik sedikit kerah jasnya.
"Ada seseorang yang telah merusak gaun rancanganku. Semula gaun itu sobek tak karuan." Ivy melihat kedua modelnya berjalan masuk ke belakang panggung. Berikutnya model dari perusahaan lain mulai keluar.
"Lalu?" Khan mengernyitkan dahinya.
"Aku memperbaiki kembali gaun itu, hingga modelnya berbeda dari yang pertama," jelas Ivy.
Tak sengaja manik matanya beradu dengan manik mata coklat yang duduk di seberangnya. Pemilik mata coklat itu duduk di samping pemimpin perusahaan Sarte. Di tengah cahaya lampu yang minim, Ivy dapat melihat garis bibir itu terangkat ke atas dan sepasang mata coklat itu tertuju kepadanya. Setelah melihat pria itu, pikiran Ivy mulai menerka-nerka siapa yang telah merusak gaun rancangannya.
"Sedikit mengenalnya." Ivy melipat kedua tangannya dan menempelkannya di depan dada. Pandangan matanya beralih ke panggung, dua model lainnya sudah berganti pakaian. Kini mereka mengenakan dua rancangan gaunnya yang lain.
Acara peragaan busana itu telah selesai, pembawa acara memanggil semua desainer yang telah menyumbangkan karya mereka di dalam acara tahunan ini.
Ivy bangkit berdiri dan berjalan ke atas panggung degan hati yang bahagia. Meskipun ini bukan lomba, tetapi dia sudah berhasil membawa nama Sarte di acara bergengsi ini. Gemuruh tepuk tangan dan ucapan selamat mengalir untuk kesepuluh orang desainer yang telah berpartisipasi dalam acara ini.
"Selamat untukmu, sayang," bisik Ferit ketika pria itu naik ke atas panggung dan memberikan ucapan selamatnya kepada Ivy.
Bulu kuduk Ivy mendadak berdiri ketika ia mendengar Ferit memanggilnya dengan sebutan sayang. Pria itu memegang salah satu pundak Ivy, menempelkan pipinya ke pipi Ivy kemudian berkata, "Kau sangat cantik malam ini."
Ivy menelan salivanya setelah mendengar perkataan Ferit. Pria itu kemudian turun dari panggung, tapi mata coklatnya terus mengawasi gerak-gerik Ivy.
Cahaya lampu sorot yang ada di atas panggung mulai padam, bergantian dengan kilauan lampu kristal yang menjuntai ke bawah membentuk sebuah susunan lilin yang menyala dengan indah. Ruangan itu kini menjadi terang benderang, ketika semua orang sudah mulai meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
"Selamat untukmu, Ivy. Malam ini ada yang langsung membeli gaun rancanganmu," ucap Khan dengan kedua matanya yang ia lebarkan dan mulutnya yang terbuka.
"Benarkah? Secepat itu?" Ivy tak percaya ada yang berminat membeli gaunnya.
Khan menunjukkan keempat jarinya di hadapan Ivy. Kedua alis pria itu naik turun bagaikan papan jungkat jungkit.
"Mereka membeli semua gaunku?" Hampir saja Ivy berteriak dan melompat karena kegirangan.
"Bukan hanya empat, tapi ada yang rela mengantri untuk memesan gaun rancanganmu," ujar Khan. Wajah bulat itu tersenyum lebar.
Dengan perasaan yang gembira, Ivy memeluk Khan dengan erat. Pria itu terbatuk-batuk mendapatkan pelukan Ivy yang tiba-tiba.
"Kau hampir membuatku terkena serangan jantung," kata Khan setelah Ivy memberikannya segelas air putih. Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan kipas kertasnya.
Dari kejauhan Kenan yang baru saja datang ke hotel, melihat Ivy dan Khan saling berpelukan di tengah koridor. Kenan menertawakan dirinya sendiri ketika ia melihat cara bicara, tingkah laku dan cara berjalan Khan yang pergi meninggalkan Ivy.
Kau mengira pria itu adalah kekasih Ivy? Kau benar-benar bodoh Kenan.
Menyadari kebodohannya, Kenan berniat untuk berjalan ke tempat Ivy, tetapi seorang wanita menabraknya dari arah samping. Wanita itu hampir jatuh di depannya, membuatnya dengan spontan menangkap tubuh seksi tersebut.
"Kara? Kenan?"
Manik mata hijau itu memerah, Ivy merasakan ada sesuatu yang mencekik lehernya ketika ia melihat Kara mengalungkan kedua lengannya di leher Kenan. Sedangkan tangan Kenan menyentuh paha Kara yang polos tanpa busana. Hidung mancung mereka berdua saling bersentuhan.
Ternyata dia bukan hanya baik kepadaku, tapi kepada semua wanita. Aku bukanlah wanita spesial di hatimu.
Suara itu membuat Kenan mengangkat wajahnya ke arah Ivy yang berdiri di depannya. Ia melihat Ivy tengah menatapnya dengan pandangan yang berbeda.
"Jangan rusak kebahagiaan mu malam ini dengan melihat montir itu dengan wanitanya," sindir Ferit. Tidak ada angin tidak ada hujan, pria berambut panjang itu sudah berdiri di samping Ivy.
Ivy segera pergi meninggalkan mereka semua. Ia berlari masuk ke dalam lift. Ferit menempelkan jari telunjuknya ke pelipisnya seolah-olah ia hendak mengatakan kepada Kenan, "Pakai otakmu, montir bodoh!"
"Ivy!" panggil Kenan yang segera melepaskan tangannya dari tubuh Kara. Ia segera menepis tangan Kara yang mengapit lengannya dengan manja dan berlari mengejar Ivy dan Ferit.
__ADS_1
* Bersambung *
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏