Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Hasan Berhasil Menangkap Salah Satu Putri Eleanor


__ADS_3

Di dalam Istanbul Mall puluhan pasang kaki terus melangkah menyusuri setiap pola lantai yang tergambar di bawah alas sepatu mereka.


Beberapa banner warna-warni tampak tergantung di atas langit-langit hingga setengah tinggi gedung. Banner itu berisi tentang pesta diskon yang diadakan oleh beberapa toko untuk menyambut datangnya musim semi.


Beberapa pasang mata tak berhenti bergerak mengamati setiap etalase yang terpampang di setiap toko. Inilah pemandangan yang membuat lapar para kaum hawa dan membuat kening kaum adam tampak berkerut. Dua wanita berbeda usia itu menaiki eskalator menuju lantai lima, tempat berkumpulnya para penikmat makanan.


Keduanya memasuki sebuah restoran Jepang. Dengan interiornya yang mirip dengan rumah penduduk Jepang pada zaman kuno. Sekat dinding yang terbuat dari kerangka kayu berbentuk geometri berwarna coklat tua kemudian selembar kertas tebal berwarna putih sebagai penutupnya. Beberapa siluet dari berbagai bentuk tubuh


manusia yang terlihat.


Lampu gantung dengan kerangka bolanya yang terekspos mengisi retina Ivy. Pendaran cahaya itu membantu Ivy mengedarkan pandangannya ke segala arah.


“Itu dia!” serunya kepada Nur. Ia mengarahkan jari telunjuknya pada seorang wanita berambut panjang. Cahaya lampu kuning membuat rambut panjang itu tampak bersinar.


Mereka segera menghampiri wanita yang duduk di pojok ruangan. Wanita itu sedang menundukkan wajahnya untuk membaca setiap deretan-deretan huruf yang tertera di dalam buku menu bersampul hitam.


“Cansu,” sapa Ivy dan Nur bersamaan. Keduanya menarik sebuah kursi yang ada di depan wanita itu. Kursi tanpa kaki. Hanya berupa sandaran kayu melengkung dan dudukannya yang terbuat dari bantalan busa yang empuk.


Wanita muda yang disapa Ivy itu kemudian mendongakkan kepalanya melihat dua orang wanita yang ada di depannya. “Ivy… Nur…”


Ivy mendudukkan dirinya dengan posisi kedua kakinya menekuk di atas bantalan berwarna merah marun, ia tampak mengamati penampilan Cansu yang sedikit berubah.


Beberapa detik kemudian putri Victor itu tampak menyadari sesuatu. “Kau mengubah warna rambutmu?”


Cansu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rata. Kelima jari tangannya menelisik masuk menyisir rambutnya yang kini berwarna coklat gelap, seperti milik Ivy.


“Bagaimana? Apa warna ini cocok untukku?”


Ivy dan Nur memperlihatkan dua ibu jari tangan mereka kepada Cansu.


“Oh, kau terlihat cantik, Sayang...,” puji Nur. Wanita gembul itu mendudukkan dirinya di samping Ivy.


“Wow!” seru Ivy dengan kelopak matanya yang mengerjap-ngerjap dan suara tawanya.


“Nur, aku bisa membayangkan ekspresi wajah Mehmet begitu pria itu melihat pengantinnya saat ini,” lanjut Ivy dengan gerakan tangannya yang membelai wajah Cansu dari jarak enam puluh sentimeter. Putri Victor itu kemudian tertawa cekikian.


Cansu melebarkan kelopak matanya. Manik mata biru itu langsung tersembul hendak keluar dari sarangnya. Seakan-akan ia ingin mengatakan kepada Ivy, ayolah aku sedang meminta pendapatmu dengan serius.

__ADS_1


“I’m seriously, dear. You looks so beautiful,” puji Ivy dengan suaranya yang bersemangat, kemudian ia mengambil ponselnya dan mengabadikan foto Cansu. “Jika Mehmet melihat penampilanmu sekarang, aku jamin dia akan langsung menikahimu malam ini.”


“Jangan!” seru Cansu yang langsung merebut ponsel Ivy. “Aku ingin memberinya kejutan.”


Tawa Ivy langsung meledak begitu mendengar perkataan Cansu.


“Aku bahkan tidak punya kejutan untuk Kenan.”


“Kalian ini tidak pernah berubah, sejak kecil selalu saling meledek. Tertawa kemudian menangis bersama-sama. Padahal sebentar lagi, kalian akan menjadi seorang istri,” ujar Nur yang melihat keisengan Ivy kepada saudara tirinya.


Putri Victor itu lebih bisa mengungkapkan ekspresi hatinya, yang terkadang naik turun tak menentu. Bagaikan sebuah gelombang air laut yang dihantam angin kesana kemari.


Berbeda dengan Cansu yang lebih tertutup dan serius dalam menyingkapi sesuatu. Hal ini karena usia Cansu lebih tua lima bulan daripada Ivy, ia bisa menjadi seorang kakak untuk saudara tirinya yang suka menangis.


Selepas mengisi perut mereka dengan makanan Jepang, Cansu memberikan tas kain berwarna merah kepada Ivy. “Ini perlengkapan untuk Malam Henna mu.”


Ivy membuka tas tersebut dan melihat gaun dan kain penutup wajah berwarna merah, tusuk rambut emas dengan hiasan manik-manik, enam buah botol Henna, enam pot glitter beraneka warna, tiga pot shimmer, tiga pot permata dan mutiara, lem, kuas dan pensil.


“Sepertinya ini sudah lengkap. Ayo kita keluar dari sini,” ajak Ivy yang langsung beranjak dari kursinya dan diikuti dengan kedua wanita yang lain.


“Cansu, apa kau sudah membeli baju tidur seksi untuk malam pertama mu?” bisik Ivy sambil mengalungkan lengannya pada lengan saudara tirinya.


“Kemarin aku sudah membelinya bersama Mehmet,” jawab Cansu yang berjalan mengiringi langkah Ivy memasuki area pakaian tidur.


“Apa selera Mehmet? Apa dia juga menyukai pakaian seperti ini?” tanya Ivy yang mengambil setelan baju tidur dengan bahan yang tipis dan senada dengan warna kulit.


Cansu dan Nur mengamati pakaian yang diambil oleh Ivy. Reaksi Nur hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan Cansu hanya tertawa begitu melihat dalaman two pieces yang terbungkus oleh sebuah kimono berbahan tipis dengan warnanya yang senada dengan warna kulit.


“Pasti Kenan yang menyuruhmu untuk membeli pakaian seperti ini?”  tanya Cansu yang masih dengan tawanya.


Putri Sophia itu menempelkan pakaian tidur tersebut ke tubuh Ivy. Dua alis berwarna coklat itu langsung naik turun. “Kurasa ini cocok untukmu. Kenan akan langsung menggendong mu menaiki ranjang."


“Lupakan saja! Aku tidak akan memakai ini!” seru Ivy yang mengembalikan pakaian tidur itu ke tempatnya semula.


Cansu menggelengkan kepalanya melihat sikap Ivy. “Apa kau akan memakai piyama mu yang bergambar beruang untuk malam pertamamu?”


Ivy mendengkus sambil berkacak pinggang di depan Cansu dan Nur. “Tentu saja tidak! Tapi bukan yang seperti ini….”

__ADS_1


Jari telunjuk Cansu mengetuk bibirnya yang berwarna merah sambil memperhatikan Ivy. Diambilnya pakaian tidur yang lain dan di berikan kepada saudarinya. Tidak transparan namun berwarna merah menyala dengan panjang di atas lutut dan dalaman two piece tanpa tali.


“Kurasa ini lebih menggoda," ujar Cansu dengan memainkan matanya ke arah Nur yang ada di sampingnya. Wanita paruh baya itu membalasnya dengan memberikan jempolnya kepada kedua putri asuhnya.


“Setidaknya aku masih merasa memakai baju. Baiklah, aku ambil yang ini.” Ivy langsung menyambar pakaian tidur itu dari tangan Cansu.


Ia tidak ingin mempertimbangkannya kembali karena waktu terus berjalan. Mereka harus merayakan Malam Henna di temoat mereka masing-masing.


Setelah semua keperluan telah selesai dibeli. Mereka turun bersama-sama menuju lantai dasar, melewati kembali deretan-deretan toko yang masih disesaki oleh pengunjung. Di depan toko roti, mereka pun berpisah. Ivy terpaksa menunggu Nur yang sedang berada di dalam toilet.


Putri Sophia itu pun keluar melalui pintu yang sama seperti yang ia gunakan saat dirinya memasuki mall tersebut. Langkah kakinya menyusuri lantai paving blok berwarna coklat keabu-abuan menuju mobil berwarna merah milik ibunya.


Tidak ada firasat buruk apapun yang ada di dalam benaknya, ketika cahaya lampu yang ada di salah satu tiang berkedip-kedip di bawah langit yang gelap. Beberapa ekor burung gagak tengah bertenger di atas kabel listrik yang membentang di atas atap mobilnya.


Saat Cansu akan membuka pintu mobilnya, tiba-tiba sebuah telapak tangan besar membekap mulut dan hidungnya. Manik mata biru itu langsung terbuka lebar, ia hendak mengambil udara yang tercekat di tenggorokannya.


“To… tolong! Tolong...!” teriak Cansu yang berusaha melepaskan dirinya dari tangan seseorang yang ada di belakangnya.


Namun tubuhnya kian lama kian lemah karena sesuatu yang ia hirup yang ada di telapak tangan besar tersebut.


Tubuh Cansu pun jatuh di dalam pelukan seorang pria berjanggut. Pria tersebut langsung memanggul tubuh ramping itu di atas pundak bagaikan sebuah cangkul yang akan ia bawa ke ladang.


Dimasukkannya wanita berambut coklat itu ke dalam mobil sedan hitam yang berada tidak jauh dari mobil merah yang dikemudikan oleh Cansu. Di dalam mobil itu telah menungu temannya yang lain yang duduk di kursi kemudi. Kedua anak buah Hasan itu tersenyum melihat putri Sophia yang tidak sadarkan diri tergeletak di kursi penumpang.


“Bos, kami sudah berhasil menangkap wanita itu,” ucap pria yang duduk di kursi kemudi. Pria itu sedang memberi kabar kepada Hasan melalui ponselnya.


“Kalian yakin itu wanita yang di cari oleh Tuan Ferit?”


Pria yang berada di kursi kemudi itu menoleh ke belakang. Ia berusaha mengingat foto yang pernah ditunjukkan Hasan kepadanya. Temannya yang bertugas membekap wanita itu juga mengiyakan.


“Kami yakin, Bos. Wanita itu berambut coklat gelap. Sewaktu dia datang, kami melihat dia memakai baju putih dan celana jeans, sama seperti yang dikenakan wanita ini."


“Aku akan mengurus Tuan Ferit, sementara kalian bawa wanita itu ke tempat yang aku kirim lokasinya.”


Satu menit kemudian, ponsel pria berjanggut itu berbunyi. Sebuah pesan singkat yang dikirim oleh Hasan. Setelah membaca pesan tersebut, pria berjanggut itu langsung mengemudikan mobil sedannya menuju tempat yang telah di siapkan oleh bosnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2