
Setelah kepergian Kenan dari Rumah Sakit Istanbul, Ivy datang ke rumah sakit pemerintah itu dengan tergesa-gesa. Langkah kakinya melesat masuk ke ruang administrasi. Hampir tiga jam ia berada di luar untuk menjual perhiasannya dan menarik uangnya di bank.
"Suster," panggil Ivy yang berdiri di depan loket pembayaran.
Seorang wanita berambut pendek memakai seragam putihnya menemui Ivy. Mereka saling berdiri berhadapan dan hanya dibatasi dengan sebuah kaca jendela.
"Aku ingin membayar tagihan untuk pasien yang bernama Deniz Eleanor," jelas Ivy sambil mengambil kantong plastik dari dalam tasnya. Ia meletakkan tumpukan uang kertas itu keatas meja loket. Menghitungnya ulang dan menyerahkannya kepada suster atau pegawai rumah sakit itu. Ivy tidak tahu jelas siapa wanita yang ada di depannya.
Sebuah konfirmasi pembayaran terucap dari bibir wanita itu. Ia menyerahkan selembar kertas bukti pembayaran kepada Ivy. Sekilas putri Victor itu melihat ke arah jendela luar, hari sudah mulai gelap.
"Suster, apa Deniz masih bisa tinggal di rumah sakit ini?" tanya Ivy sambil melipat kertas bukti pembayaran itu dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Pembayaran yang tadi hanya sampai dengan hari ini, Nona. Jika pasien masih ingin melanjutkan pengobatannya, Anda harus membayar uang jaminan lagi," jelas wanita itu.
Ivy menghela napasnya dalam-dalam dan menatap wajah wanita itu. Uang hasil penjualan perhiasannya dan seluruh tabungannya sudah ia serahkan semuanya kepada pihak rumah sakit. Hanya tersisa beberapa lembar uang kertas di dalam dompetnya, itupun hanya untuk makan beberapa hari.
"Berarti Deniz harus keluar dari sini?" tanya Ivy mengernyitkan dahinya, ia ingin menyamakan pemahamannya dengan wanita itu.
"Ya, Nona." Wanita itu menganggukkan kepalanya dengan ekspresi mukanya yang datar.
Manik mata hijau itu hendak meleleh. Ia mencoba untuk tidak menangis. Pandangannya ia arahkan ke atas menatap teralis besi yang mengapit jendela kaca yang ada di depannya.
"Apa bisa untuk malam ini saja, biarkan Deniz tinggal di sini?" Ivy mencoba memohon pada wanita itu. "Besok pagi aku akan membawa Deniz keluar."
Kali ini wanita itu menatap Ivy dengan penuh simpati. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak, karena sudah prosedur rumah sakit, tempatnya bekerja.
"Baiklah, hanya untuk malam ini."
"Terimakasih," ucap Ivy sambil tersenyum di tengah kesedihan di wajahnya.
Setelah menyelesaikan pembayarannya, Ivy berjalan menyusuri koridor. Bau aroma obat-obatan menyengat lubang hidungnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya menuju ke kamar Deniz.
"Kakak." Deniz menyibakkan selimut birunya ke samping ketika melihat Ivy telah kembali. "Kupikir kakak tidak akan datang lagi hari ini."
"Tentu saja aku akan datang. Mulai hari ini, aku akan selalu bersamamu," sahut Ivy yang mencoba menarik garis bibirnya ke atas.
"Coklat...!" seru Deniz dengan matanya yang bersinar dan mulutnya terbuka lebar, ketika Ivy mengeluarkan benda panjang itu dari dalam tasnya.
Deniz segera mengambilnya dari tangan Ivy, membuka pembungkus kertasnya dan memakannya dengan lahap. Kakak perempuannya hanya tersenyum melihat tingkah lakunya saat ini.
Mungkin saat ini kakak hanya bisa memberikan sebuah coklat untukmu, Deniz. Tapi kakak janji suatu hari nanti, kakak akan membahagiakanmu.
Jam dinding di kamar Deniz sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Ivy memasangkan selimut biru itu ke atas tubuh adiknya.
"Kakak, tidak pulang?" tanya Deniz ketika ia masih melihat Ivy berdiri di samping ranjangnya.
"Kakak ingin bersamamu disini, tidurlah. Kakak akan tidur di luar."
"Tidak seperti biasanya," cicit Deniz sambil memainkan kedua bibirnya. Ivy hanya membalasnya dengan tersenyum, meskipun dalam hati ia menyadari bahwa suatu saat nanti Deniz akan mengetahui hal yang sebenarnya.
Ivy keluar dari kamar Deniz setelah melihat adiknya itu telah tertidur pulas. Ia mengambil mantelnya dan berbaring di kursi panjang yang ada di depan kamar adiknya. Sesekali ia terbangun dan melihat anak laki-laki itu dari luar jendela.
Kehidupan macam apa yang akan aku berikan pada Deniz setelah ini?
Ivy memandang langit-langit di atasnya, yang hanya berbentuk persegi tanpa hiasan. Menyadari bahwa dunianya kini tidak seperti dulu lagi. Dirinya bukanlah putri seorang pengusaha garmen dan bukan pula seorang nona muda keluarga Eleanor yang di lirik oleh banyak pemuda. Kini dirinya hanyalah seorang anak yatim piatu, tanpa tempat tinggal dan tanpa masa depan.
__ADS_1
Semuanya hancur dalam sekejap di depan matanya.
Ivy berusaha memejamkan matanya di atas kursi kayu yang datar. Pikirannya masih terus berputar-putar memikirkan hari esok. Malam semakin larut, membawa Ivy ke dalam bunga tidurnya.
Di tempat yang berbeda, Kenan melangkahkan kakinya di sebuah toko buku. Pertemuan pertamanya dengan Deniz, membuatnya terus memikirkan anak lelaki itu.
Ia ingin mencari sesuatu untuk anak itu, sesuatu yang bisa membuat mereka dekat. Langkahnya terhenti pada sebuah puzzle besar bergambar tokoh kartun.
Tangan Kenan mengambil kotak puzzle itu dari rak kabinetnya. Pria itu membolak-balikkan kotak tersebut. Sekelebat pikirannya bekerja dengan keraguan.
Untuk apa aku ingin dekat dengan anak itu? Niatku hanya ingin mengembalikan baju pengantin kakaknya.
Kenan mengembalikan kembali kotak puzzle itu ke tempatnya semula. Setelah ia keluar dari toko buku, pandangannya tertuju pada seorang pria paruh baya yang menggandeng seorang anak kecil yang berada di seberangnya. Pria paruh baya itu membelikan sebuah mainan di jual di pinggir jalan. Sebuah mainan yang sangat sederhana dan murah. Raut wajah anak kecil itu sangat bahagia melihat mainan barunya.
Putra Harun itu mengusap wajahnya dengan kasar, menyadari keangkuhan yang masih melekat di dalam dirinya. "Kenan Fallay pemilik perusahaan Fallay sudah tidak ada lagi," gumamnya pelan di atas trotoar.
Ia membalikkan badannya dan kembali berjalan memasuki toko buku. Diambilnya puzzle besar itu. Terlintas dalam pikirannya, dirinya dan Deniz bermain bersama menyusun puzzle tersebut di sebuah kamar.
"Kenapa anak itu terus ada di dalam pikiran ku?" gumamnya sambil tersenyum. Ia mencoba menekankan pada dirinya sendiri, ini hanya rasa kemanusiaan. Bukan tentang perasaan yang lain.
Anak itu pasti akan sangat bahagia, jika aku datang menjenguknya dan memberikan sesuatu kepadanya.
"Besok aku akan mengunjunginya di rumah sakit," gumam Kenan setelah ia membeli mainan tersebut dan membawanya ke dalam mobilnya.
*****
Seorang perawat menyentuh lengan Ivy dengan lembut, "Nona...."
Ivy membuka kelopak matanya dengan perlahan. Manik matanya mencoba menyesuaikan dengan keadaan sekelilingnya. Tampak terdengar keramaian di balik kamar Deniz dan kamar yang lain. Para perawat keluar masuk untuk membawa perlengkapan mandi pasien kecil mereka.
"Apa ini sudah pagi?" tanya Ivy kepada perawat tersebut. Ia mendudukkan dirinya di atas kursi yang sejak semalam menjadi alas tidurnya.
Manik mata hijau itu melihat Deniz yang sedang menikmati sarapan paginya bersama dengan temannya. Ivy masih menimbang-nimbang keputusannya untuk membawa Deniz keluar dari rumah sakit.
Wanita muda itu membasuh wajahnya di toilet rumah sakit dan menyekanya dengan kertas tisu. Ia menatap wajahnya sendiri di kaca cermin yang ada di depannya. Perkataan Sophia terlintas di dalam pikirannya, ketika ibu tirinya itu menendangnya keluar dari rumah.
Baik Sophia, aku akan tunjukkan kepada mu bagaimana aku dan Deniz bertahan hidup tanpa dirimu!
"Deniz, maukah kau tinggal bersamaku?" tanya Ivy ketika mereka duduk bersama di atas ranjang.
"Tentu saja aku mau!" sorak Deniz kegirangan. Anak itu berpikir bahwa ia akan tinggal di rumahnya berkumpul bersama dengan keluarganya.
Sekali lagi, Ivy tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya kepada Deniz. Harapan anak kecil itu semakin tinggi, jauh dari kenyataan yang terjadi.
"Ayo, kemasi barang-barang mu! Kakak akan membantumu!" seru Ivy yang membuka koper kecil Deniz dan memasukkan barang-barang adiknya.
Setelah selesai membereskan semuanya, Deniz berpamitan kepada teman-temannya. "Jangan lupa kunjungi kami, Deniz."
"Tentu, aku akan mengunjungi kalian. Kita akan bermain bersama," ucap Deniz dengan semangat.
Ivy segera mengajak Deniz keluar dari kamarnya. Kedua kakak beradik itu bercanda dan berbincang sampai di depan lobi.
"Dimana ibu dan kak Cansu? Di mana mobil yang akan menjemput kita?" tanya Deniz yang merasa ini tidak seperti biasanya.
"Ibu dan Cansu sangat sibuk. Tidak ada mobil, Deniz. Aku tidak memberitahu orang rumah," jawab Ivy sambil menggandeng tangan adiknya keluar dari halaman rumah sakit.
__ADS_1
Aku tidak tahu kemana tujuan ku sekarang.
Deniz segera melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ivy. Anak lelaki itu membuka pintu taksi yang sedang terparkir di tepi jalan.
"Deniz!" seru Ivy yang terkejut. Ia segera meninggalkan kopernya dan berlari menuju taksi yang ada di depannya.
"Ke jalan XXX," kata Deniz kepada sopir taksi tersebut. Ia memberitahu alamat rumahnya.
"Tidak, Pak. Kami tidak jadi naik taksi," kata Ivy yang segera menarik tangan Deniz agar keluar.
"Lalu kita akan naik apa untuk pulang ke rumah, kak?" Deniz menatap wajah kakaknya itu dengan penuh tanda tanya.
Ivy tidak bisa menjawab pertanyaan Deniz. Lidah wanita itu terasa kelu dan mulutnya terasa berat.
"Apa kita akan jalan kaki?" tanya Deniz. Tapi Ivy tetap diam seribu bahasa.
"Baiklah." Satu kata itu yang keluar dari mulut anak itu, ia kemudian melesat pergi menjauhi Ivy ke arah jalan raya.
"Deniz...!" jerit Ivy yang langsung berlari memeluk adiknya, ketika sebuah mobil bergerak ke arah Deniz.
Hampir saja mobil itu menabrak Ivy, jika pengemudi itu tidak menginjak rem mobilnya. Setelah hilang rasa terkejutnya, Ivy mengajak Deniz untuk kembali ke halaman rumah sakit.
"Kau tak apa?" tanya Ivy sambil memegang wajah Deniz.
Deniz hanya menganggukkan kepalanya, anak lelaki itu juga terkejut dengan yang barusan ia alami. Ivy segera memeluk Deniz dengan erat. Di belakang kepala adiknya, wanita itu mengusap air matanya.
"Ivy...!" Terdengar suara seseorang memanggil namanya. Putri Victor itu segera membalikkan badannya.
"Nur?" tanya Ivy ketika ia melihat pelayan rumahnya sedang berjalan ke arahnya.
"Ternyata benar, kau ada di sini bersama Deniz," sahut Nur setelah ia sudah sampai di tempat Ivy dan Deniz berada.
"Kalian akan kemana? Apa kau sudah menemukan tempat tinggal?" tanya Nur sambil membawa koper kedua anak majikannya.
"Belum tahu." Ivy menggelengkan kepalanya. Membuat Deniz semakin bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi.
"Tinggallah bersamaku!" ajak Nur yang segera menggandeng tangan Deniz.
"Tapi, Nur...." Ivy memegang tangan Nur yang sedang membawa kopernya dan menatapnya dengan sendu. Ia tidak ingin merepotkan wanita gembul ini.
"Kalian tidak akan merepotkan ku," kata Nur yang langsung memasukkan koper mereka ke dalam taksi. "Masuklah!"
Setelah kepergian taksi yang membawa anak-anak Victor, Kenan datang ke rumah sakit dengan mobil pinjamannya.
Pria itu berjalan sambil menenteng tas kertas berisi baju pengantin Ivy dan sebuah kotak puzzle. Sebuah senyuman tipis terlukis dari wajah tampannya.
Kenan memasuki kamar Deniz, semua mata tertuju kepadanya karena ia berdiri di sudut kamar sambil mencari seseorang.
"Kau mencari siapa?" tanya seorang anak kecil kepada Kenan.
"Deniz. Dimana dia?" Kenan menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan tubuh kecil yang ada di depannya.
"Dia baru saja pulang. Kakaknya membawanya pulang. Apa ada lagi yang kau cari?" tanya anak itu sambil tersenyum.
Raut wajah Kenan mendadak berubah, ia menatap kedua benda yang ada di tangannya dengan tatapan lesu dan kecewa. Ia berharap bisa menemukan kedua kakak beradik itu tetapi kali ini kesempatan itu tidak berpihak kepadanya. Ia juga tidak mempunyai nomor ponsel Ivy.
__ADS_1
* Bersambung *
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏