Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Reuni DL dan GMYH - Temani Aku Malam Ini


__ADS_3

Masih teringat jelas dalam ingatan Hazal, kejadian beberapa tahun yang lalu setelah Kenan dinyatakan meninggal oleh dokter dan ia hidup dalam penyesalan yang berkepanjangan. Kemudian Mehmet tiba-tiba datang ke rumah keluarga Aksal dengan membawa seorang notaris dan kepingan CD yang berisi pesan terakhir Kenan.


Kelima jari tangan dengan cat kukunya berwarna merah itu menyentuh kepingan CD yang bertuliskan “For My Lovely Wife, Hazal” Kepingan CD itu masih tersimpan di dalam kamarnya, meskipun akhirnya Hazal mengetahui bahwa ternyata Kenan masih hidup.


Aku selalu menjadi orang paling terakhir yang mengetahui apapun tentangmu, Kenan. Tetapi kali ini tidak, kau yang akan menjadi orang terakhir yang mengetahui rencana ku.


Diletakkannya kepingan CD itu di atas tumpukan berkas yang akan ia bawa ke restoran. Ia sudah memantapkan hatinya untuk berbicara empat mata dengan mantan suaminya itu. Menyelesaikan semuanya sebelum ada salah satu dari mereka yang akan tersakiti.


Setelah mengantongi izin dari Yafet, Hazal mengeluarkan mobil merahnya dari garasi. Kendaraan roda empat itu meluncur dengan kecepatan sedang. Membelah lalu lintas Kota Istanbul yang padat merayap di tengahnya malam. Mobil merah itu pun terus melaju menuju daerah Bosphorus dan melewati Waterside Mansion Danner peninggalan orang tuanya.


Sekitar pukul tujuh lebih, Hazal menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran dengan pemandangannya yang menghadap Selat Bosphorus. Cahaya lampu temaram itu menyapu wajahnya ketika ia menginjakkan kakinya di depan pintu masuk. Ia pun memberitahu ruangan yang dipesannya beberapa jam yang lalu kepada salah satu pelayan yang ada di sana.


Pelayan itu mengantar Hazal masuk ke dalam sebuah gazebo dengan dindingnya yang terbuka dan atapnya yang terbuat dari beberapa tumpukan jerami yang telah mengering. Dari dalam gazebo berbentuk persegi itu, ia bisa merasakan angin semilir yang berembus dari perairan Selat Bosphorus dan kemilau cahaya bintang yang bertaburan di langit yang gelap.


“Apa Anda ingin memesan makanan dan minumannya sekarang, Nyonya?” tanya sang pelayan yang akan memberikan buku menunya kepada Hazal.


“Buatkan saja dua porsi Menemen, dua porsi makanan laut yang paling favorit di sini, sebotol Wiski tanpa es dan dua cangkir Kopi Turki. Tapi jangan kau keluarkan sekarang, tunggu sampai tamu ku datang.”


“Baik, Nyonya.”


Sambil menunggu, Hazal membuka beberapa aplikasi yang ada di dalam ponselnya. Dilihatnya beberapa pesan yang ada di kotak masuk. Tidak ada satupun pesan dari Kenan. Entah apakah pria itu akan datang atau tidak. Kedua ibu jarinya sedang mengetik beberapa huruf untuk membalas salah satu pesan yang dikirim oleh seseorang.


Embusan angin malam yang menerbangkan beberapa helai anak rambutnya membuat Hazal memilih untuk menikmati pemandangan malam sambil menunggu kedatangan Kenan. Saat ini ia tengah menyandarkan dirinya di pembatas gazebo yang berupa lembaran kayu setinggi lututnya. Dilipatnya kedua tangannya di depan dada sambil menikmati cahaya bintang. Tak terasa kelopak matanya terpejam dan percakapan yang pernah terjadi dengan Kenan pun kembali terngiang di dalam pikirannya.


“Kenapa kau peduli padaku? Waktu itu hanya kebetulan saja kau menolongku.”


“Karena aku mencintaimu. Aku peduli padamu, aku ingin menjadi satu-satunya orang yang berarti bagimu.”


Kejadian tertembaknya Kenan saat mereka melarikan diri dari serbuan Harun di Swiss membuat Hazal tersentak dan langsung membuka kembali kelopak matanya. Diusapnya sudut matanya yang telah menghasilkan satu tetes air mata. Ia mencoba menghembuskan napasnya dan mengangkat wajahnya untuk menahan cairan bening itu agar tidak membasahi wajahnya.


“Hazal….” Terdengar suara seorang pria yang memanggil namanya. Suara yang sangat ia kenal.

__ADS_1


Sosok feminin itu langsung membalikkan badannya. Kini pria yang ada di pikirannya itu benar-benar hadir di alam nyatanya. Pria yang selalu memelihara kumis dan cambang tipisnya. Pria yang telah banyak berkorban untuknya. Pria yang rela menjadi anak durhaka hanya untuk menolongnya. Pria pertama yang membawanya ke altar pernikahan. Pria yang ingin hidup bersamanya. Tetapi kenapa takdir tidak bisa menyatukan dirinya dengan pria ini?


“Kenan. Akhirnya kau datang.”


“Maaf membuatmu menunggu lama.” Kenan menaiki satu anak tangga yang akan membawanya masuk ke dalam gazebo.


“Tidak juga, aku sedang menikmati bintang yang ada di atas sana.”


Hazal mengajak Kenan untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Wanita itu memberi kode kepada pelayan untuk menyajikan makanannya. Kenan menatap satu per satu makanan dan minuman yang telah tersedia di atas meja berbentuk persegi itu.


“Kau masih mengingatnya?” tanya Kenan. Dibukanya penutup botol wiski dan dituangnya ke dalam gelas Hazal dan


gelasnya.


“Menemen, Wiski tanpa es dan secangkir Kopi Turki.” Hazal mengambil gelas pemberian Kenan.


“Dan tiga keping biskuit,” lanjut Kenan yang langsung disambut tawa kecil Hazal.


Mereka pun menyantap makanan mereka hingga habis tak bersisa. Mengisinya dengan obrolan-obrolan ringan dan tawa kecil di antara mereka. Obrolan itu mengalir begitu saja hingga piring mereka telah kosong tak bersisa.


“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan, Hazal? Apa kau hanya sekedar mengajakku makan malam bersama?” tanya Kenan setelah ia selesai meneguk minumannya.


Hazal membersihkan noda makanan yang menempel di bibir merahnya, kemudian ia mengambil berkas yang ada di samping kursinya dan memberikannya kepada Kenan. Pria itu menerimanya dengan rahangnya yang terkatup rapat dan kerutan di dahinya.


“Apa ini?” tanyanya kemudian.


“Bukalah maka kau akan mengetahuinya,” jawab Hazal sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya yang menempel di atas meja.


Kenan membuka satu per satu berkas yang kini berada di tangannya. Berkas pertama tentang Perusahaan Puzulla. Manik mata abu-abu gelap itu langsung membulat saat membaca kalimat-kalimat yang tertulis di sana. Bola mata itu bergantian menatap Hazal dan tulisan yang ia baca. Hazal mengembalikan semua saham Puzulla kepada Kenan.


“Tidak, Hazal. Aku tidak bisa menerimanya. Aku sudah memberikannya padamu, karena kau ahli waris yang sebenarnya. Ayahku yang telah mencurinya dari ayahmu!” seru Kenan yang langsung melempar berkas itu di depan Hazal.

__ADS_1


Hazal hanya tersenyum manis begitu melihat dan mendengar penolakan Kenan. Ia tahu bahwa ini pasti terjadi. “Saat ini Puzulla membutuhkan seseorang yang bisa memimpin perusahaan itu, aku sudah lama mengandalkan Erhan untuk memimpin Puzulla. Aku mendengar dari Erhan kalau perusahaanmu yang baru menjalin kerjasama dengan Puzulla. Tidak ada salahnya jika kau kembali lagi ke sana.”


“Lalu bagaimana dengan Erhan?”


“Tiga hari lagi Erhan akan ke Italia, dia dan keluarganya akan pidah ke negara itu.”


Kenan hanya bisa menghela napasnya dengan panjang dan mengusap wajahnya denagn gusar. Kini diambilnya berkas kedua, kali ini ia lebih terkejut daripada saat dirinya membaca berkas yang pertama.


“Tidak, Hazal…,” putra Harun itu terus menggelengkan kepalanya, “aku tidak bisa menerima semua ini.”


Berkas kedua itu berisi tentang pengembalian seluruh aset milik Kenan yang pernah ia wariskan kepada Hazal ketika ia mengira dirinya sudah meninggal dunia. Sepatu bertumit tinggi itu keluar dari balik meja dan menghampiri Kenan yang sedang duduk di kursinya.


“Kenan...,” Hazal berlutut di samping kursi mantan suaminya, diambilnya kedua telapak tangan kasar itu dan digenggamnya dengan erat.


“Kumohon terimalah. Selama ini aku menjaga peninggalanmu. Mobil, apartemen, saham Puzulla dan uang tabunganmu. Jika suatu hari nanti kita bertemu kembali, maka aku akan mengembalikannya padamu. Tapi untuk rumah ayahmu, maaf… aku telah menjualnya, karena aku tidak ingin mengingat kembali kenangan buruk itu," lanjut Hazal.


“Tapi kenapa kau mengembalikannya? Aku sudah mewariskannya padamu dan itu sudah tertulis dalam surat wasiatku.” Kenan benar-benar tak mengerti jalan pikiran Hazal.


“Karena kau masih hidup, Kenan. Aku akan menerimanya jika kau memang benar-benar sudah meninggal. Kumohon terimalah…. Aku tidak tahu bagaimana lagi meyakinkan dirimu.” Manik mata coklat itu tampak memerah ketika mengatakan hal ini.


Kenan langsung memegang kedua lengan Hazal yang terbuka dan membantu wanita itu bangkit berdiri. Ia pun langsung memeluk mantan istrinya itu dengan sangat erat. Mengalungkan kedua lengannya di lekukan pingang Hazal. Pelukan yang sudah berlalu begitu lama. Jari tangannya menyeka butiran air yang saat ini telah menggantung di sudut matanya.


“Aku tidak tahu… apa yang… harus aku katakan, Hazal.”


Diusapnya rambut coklat yang menyentuh wajahnya itu, perlahan-lahan dengan sentuhan yang lembut. Indera penciumannya masih mengenali parfum kesukaan Hazal. Ia menyandarkan kepala Hazal di pundaknya, seakan ia ingin agar waktu ini berhenti untuk beberapa saat. Dipejamkannya kedua kelopak matanya, mengingat kembali setiap kenangannya bersama dengan wanita yang ada di dalam rengkuhannya.


“Aku akan menerimanya, asal kau menemaniku malam ini?” Pertanyaan Kenan itu membuat Hazal menegakkan kepalanya dan menatap wajah persegi itu. Seakan ia tak percaya, Kenan meminta suatu hal yang tidak mungkin ia bisa lakukan.


Manik mata abu-abu gelap itu tersembunyi di balik kelopak matanya yang tertutup. Ia menempelkan keningnya di kening Hazal dan meletakkan tangannya di lekukan pinggang mantan istrinya itu.


“Temani aku malam ini, Hazal. Hanya dua jam saja… menggantikan dua tahun ku yang hilang tanpa dirimu. Aku tidak akan meminta lebih dari ini.”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2