
Pintu berpalang kayu itupun terbuka, dua pasang kaki itu melangkah beriringan di sebuah lorong dengan berbagai gambar logo sarung tinju. Mehmet membuka pintu ruangan kedap suara yang ada di depannya.
"Masuklah, Kenan ada di dalam!" ajak Mehmet. Ivy mengikuti pria itu dari belakang.
Bulu kuduk Ivy mendadak berdiri ketika melihat banyak laki-laki bertubuh kekar seperti yang ia lihat tadi di pintu depan. Mereka tampak berlalu lalang dan beberapa wanita cantik dengan pakaiannya yang kurang bahan.
Ivy menatap dirinya sendiri, seakan ia masuk ke dalam sebuah pesta dengan kostum yang salah. Mehmet mengajaknya untuk duduk di kursi barisan belakang.
"Acara sudah di mulai," kata Mehmet yang sudah berada di tempat duduknya.
"Acara apa? Tempat apa ini?" tanya Ivy yang masih tidak mengerti dimana saat ini dia berada.
"Lihatlah di sana!" seru Mehmet dengan ekspresi wajahnya yang serius menatap ke depan. Ivy menyamakan arah pandangannya ke titik yang di maksud Mehmet.
Mulut Ivy mendadak terbuka lebar melihat seorang pria muda dengan brutal memukul Kenan. Pria itu melontarkan pukulan uppercut nya ke kepala Kenan. Putra Harun itu mendadak limbung dan dengan cepat pria muda itu mengarahkan tendangannya ke atas punggung Kenan.
"Oh...." Manik mata Ivy melotot melihat kebrutalan yang terjadi di depannya.
"Kenapa tidak ada yang menghentikan pria itu?" tanya Ivy secara spontan. Untuk pertama kalinya Ivy melihat pertandingan tinju yang memperbolehkan kekerasan terjadi di sana.
"Ini pertandingan tinju ilegal. Mereka yang ada di dalam ring itu mempunyai satu tujuan. Menang untuk hidup dan kalah untuk mati!" seru Mehmet dengan tegas.
"Apa?" Ivy mendadak berdiri dari tempat duduknya. Ia membetulkan letak mantel rajutnya dan hendak keluar dari barisan kursinya.
"Apa yang kau lakukan?" cegah Mehmet yang menarik tangan Ivy agar wanita itu kembali ke kursinya.
__ADS_1
"Apa kau tidak lihat pria itu menghajar Kenan? Ini bukan tinju seperti yang pernah aku lihat di televisi!" seru Ivy yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Mehmet.
Ivy segera menggigit tangan Mehmet, membuat pegangan tangan pria itu terlepas. Wanita itu segera berlari meninggalkan Mehmet.
"Oh shit!" umpat Mehmet ketika melihat Ivy berjalan menghampiri ring tinju.
Pria gundul itu merasakan rasa nyeri di tangannya akibat gigitan Ivy. Ia mulai menyesal membawa wanita itu ke sini. "Kacau!"
Mehmet segera berlari ke sisi belakang kursinya, ia ingin mendahului Ivy agar tidak mendekati ring tinju. Pria itu segera memberikan kode ke anak buahnya agar mengehentikan langkah Ivy yang sudah berada di salah satu sudut ring.
Kedua anak buah Mehmet yang berpakaian preman segera menghentikan langkah Ivy dan menyeret wanita itu agar menjauhi ring.
"Jika kau ingin membantu Kenan, kumohon diamlah!" seru Mehmet.
"Sepuluh... sembilan... delapan... tujuh... enam... lima... empat... tiga... dua... satu!" teriak wasit dan penonton yang mulai menghitung mundur.
Kenan belum juga bangkit berdiri. Pria muda itu sepertinya masih memberi kesempatan kepada Kenan untuk tetap hidup, meskipun bisa di pastikan bahwa putra Harun itu akan mengalami banyak sekali cedera.
Lonceng berwarna emas itu pun berbunyi, menandakan ronde ini telah selesai. Wasit mengumumkan nama pemenangnya.
"Hamid Karzai! Juara kita malam ini!" teriak wasit.
Para penonton bangkit berdiri dan mengelu-elukan nama Hamid. Hampir seluruh penonton memberikan taruhannya kepada sang juara itu, ia telah menang telak dari Kenan. Ia mampu menjatuhkan Kenan hanya dalam empat ronde.
Mehmet hanya bisa menutupi wajahnya melihat kekalahan Kenan. Ia sudah memperkirakan hal itu. Sahabatnya itu tidak berpengalaman dalam permainan ini
__ADS_1
Ketika para penonton sedang disibukkan dengan uang taruhan mereka, Ivy segera berlari mendekati ring tinju. Ia menundukkan kepalanya untuk melewati tiga tali pembatas yang berwarna merah. Dilihatnya pria yang telah menolong pengobatan Deniz itu tengkurap dengan kedua kelopak matanya yang tertutup.
"Kenan!" teriak Ivy sambil mendekati pria itu. Ia yakin pria itu masih hidup.
Manik mata abu-abu gelap itu mulai terlihat, sebuah bayangan wajah Ivy jatuh di retina Kenan. Ia terkejut melihat kakak Deniz itu ada di depannya.
"Ivy...." ucap Kenan dengan lirih. Ia mencoba menghembuskan napasnya.
Putri Victor itu hanya menganggukkan kepalanya dan mengusap kedua pipinya yang basah. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah tangan Kenan yang masih tertutup oleh sarung tinju.
"Give Me Your Hand," ucap Ivy. Dengan cara yang sama ketika Kenan memberikan pertolongan kepadanya, ketika ia sudah mulai putus asa mencari uang untuk pengobatan Deniz.
Kenan mengangkat wajahnya menatap Ivy. Uluran tangan Ivy seakan memberikan kekuatan ekstra. Ia berusaha bangkit berdiri dan menggapai tangan Ivy yang terbuka untuknya.
Sebuah senyuman manis keluar dari sudut bibir tipis Ivy, ketika ia memegang sarung tinju itu dengan kedua tangannya. Ia berusaha menjadi penopang Kenan untuk bangkit berdiri.
Guratan senyum yang menawan terlukis dari wajah tampan Kenan, ketika pria itu sudah bangkit berdiri berkat bantuan Ivy. Putra Harun itu segera memeluk Ivy dengan erat. Tak ada satu kata yang terucap, hanya sebuah dekapan yang saling menguatkan.
Perasaan macam apa ini....
Mehmet membuka tangannya yang sejak tadi menutupi wajahnya, dilihatnya kedua insan manusia itu sedang berpelukan di atas ring. Ia hanya bisa menghela napas panjangnya kemudian tersenyum kepada mereka.
* BERSAMBUNG *
Jangan lupa setelah baca kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1