
“Yang Mulia… memasuki ruang sidang. Harap semua hadirin bangkit berdiri!” teriak salah satu petugas protokol yang menyambut kedatangan sang Hakim, membuat kegamangan di hati Hazal mendadak lenyap. Dengan perlahan ia bangkit berdiri bersama dengan semua orang yang ada di sana.
Pria berjubah panjang itu mengayunkan langkahnya kemudian menapaki satu per satu anak tangga singgasananya. Meja tinggi nan besar yang membuat semua orang mengatupkan rahangnya, begitu melihat benda kokoh yang terbuat dari kayu itu seolah ingin memakan mereka. Dengan suaranya yang parau, pria itu membuka kembali jalannya persidangan.
Beberapa orang petugas yang sejak tadi menjaga Kenan dan Mehmet langsung membuka pagar pembatas yang mengelilingi kursi pesakitan tersebut. Dalam keadaan kedua tangannya yang terborgol di depan, kedua terdakwa itu keluar dari kursi pesakitan dan duduk di samping Hazal.
Hasil keputusan sidang sudah berada di tangan sang Hakim. Kini waktunya sidang ini akan berakhir dengan luapan air mata kesedihan atau dengan luapan air mata kegembiraan. Semua mata menatap wajah sang penentu keadilan itu tanpa berkedip. Detik demi detik semakin membuat dada mereka terasa sesak, seakan oksigen di dalam ruangan ini makin lama makin menipis.
Pria paruh baya yang duduk di atas singgasananya itu pun bangkit berdiri, mengambil mikrofonnya. Sesekali mata tua itu menatap wajah Kenan dan Mehmet kemudian beralih ke lembaran kertasnya dan mulai menyampaikan keputusannya.
“Setelah mendengar pendapat dari semua pihak, mempelajari barang bukti yang ada dan mempertimbangkan alasan terdakwa. Maka sidang Pengadilan Negeri Kota Istanbul pada hari ini, memutuskan bahwa terdakwa Kenan Fallay dan terdakwa Mehmet Dundar dijatuhi hukuman… satu tahun penjara! Dipotong dengan masa tahanan yang
sudah mereka jalani selama ini!”
Sontak kedua lutut Kenan langsung lemas begitu mendengar keputusan sang Hakim. Tubuh berotot itu mendadak merosot ke bawah dengan kedua tangannya yang terborgol memegang tepi meja yang ada di depannya. Kedua kakinya terasa tidak sanggup menopang berat badannya.
“Kenan!” Hazal terkejut melihat putra Harun itu hampir jatuh di sampingnya ditambah dengan suara gaduh yang berasal dari kursi kayu yang menubruk dinding di belakangnya.
Di kursi belakang, Ivy juga berteriak memanggil nama suaminya, wanita hamil itu langsung bangkit berdiri untuk melihat apa yang terjadi, tetapi yang dilihatnya hanya dua orang yang sama-sama berjongkok di bawah meja.
“Kau tak apa?” Hazal berusaha membantu Kenan untuk bangkit berdiri dengan memegang kedua lengan berotot itu dan memapahnya.
“Aku… baik-baik saja,” jawab Kenan sambil menunjukkan kedua tangannya yang terborgol kepada Hazal. Sebuah cairan bening mengalir keluar dari sudut matanya.
Sementara di sisi yang lain, Mehmet terduduk di kursinya dengan kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya yang bulat. Seperti Kenan, pria berkulit gelap itu menangis sesenggukan dengan kedua pundaknya yang bergetar.
“Bagaimana dengan pihak Pembela? Apa ada yang ingin Anda sampaikan?” tanya Hakim yang mengarahkan pandangannya ke arah Pengacara wanita yang menguncir semua rambutnya ke belakang itu.
“Saya mewakili kedua klien saya, menyatakan keberatan atas hasil putusan ini, Yang Mulia!” seru Hazal yang mengira Kenan terjatuh karena pria itu masih juga mendapatkan hukumannya.
“Saya mengajukan ban…”
Tiba-tiba kedua tangan Kenan yang terborgol itu menggenggam salah satu telapak tangan Hazal yang ada di bawah meja, membuat Hazal sontak menghentikan perkataannya. Membuat semua orang yang ada di ruangan bertanya-tanya di dalam hati, gerangan apa yang terjadi.
Kedua anak manusia itu saling menatap tautan tangan mereka untuk beberapa detik lamanya. Hanya Mehmet seorang yang menyaksikan adegan tersebut, pria gundul itu memilih untuk diam dan memalingkan wajahnya ke depan. Seolah ia tak pernah melihat apapun saat ini.
__ADS_1
“Hazal....” Kenan berbisik dengan gelengan kepalanya. Seberkas warna merah masih terlihat jelas dari manik matanya.
“Tapi, Kenan…. Bukankah kau ingin bebas? Aku akan memperjuangkan kebebasan mu,” bisik Hazal dengan kerutan di dahinya. Tanpa ia sadari, kedua telapak tangan itu masih terus menggenggam dengan erat, seakan Kenan bukan hanya memohon dengan perkataan tetapi juga dengan perasaannya. Tak satu pun dari mereka yang ingin melepaskan genggaman tangannya lebih dulu.
“Satu tahun sudah cukup untukku.” Kenan memejamkan kedua kelopak matanya yang masih terlihat basah, “belum tentu juga, hasil banding bisa membuatku bebas. Tidak ada jaminan untuk itu’kan?
Bibir merah itu bergetar menahan gemuruh di dalam hatinya. Dalam hatinya, keinginan untuk berjuang itu masih ada. Baginya ini masih jauh dari kata adil. Namun, apa mau dikata jika pria yang ia bela tidak ingin melanjutkan persidangan. Sebuah anggukan kepala dengan rasa keterpaksaan sebagai jawaban atas perkataan Kenan.
“Aku juga setuju dengan pendapat Kenan,” celetuk Mehnet yang berdiri di belakang Hazal. “Lolos dari tiang gantung dan hukuman penjara sepuluh tahun, sudah membuatku bersyukur.”
Hazal hanya bisa menghela napasnya dalam-dalam sambil menundukkan kepalanya, “Baiklah, aku… mengerti.”
Kedua tautan tangan itu akhirnya terlepas begitu Hazal mengangakat salah satu tangannya di hadapan Hakim. Semua pasang mata memperhatikan dan menunggu perkataan apa yang akan pengacara cantik itu lontarkan.
“Saya pengacara—Hazal Aksal mewakili kedua kilennya saya, tidak akan mengajukan banding, Yang Mulia. Kedua klien saya menerima keputusan sidang hari ini.”
Di kursi belakang, Ivy dan Cansu tak henti-hentinya menghapus air mata mereka dan saling berpelukan. Sementara reaksi Yafet hanya melipat kedua tangannya di depan dada sambil memperlihatkan senyum tipisnya.
Sebuah persetujuan juga keluar dari mulut Jaksa Onur. Raut wajah itu masih tetap sama—tanpa ekspresi, meskipun tuntutannya tidak dipenuhi oleh Hakim. Andaikatapun Hakim mengabulkan tuntutannya, jaksa paruh baya itu juga akan tetap bersikap datar.
“Hazal…,” panggil Kenan saat ia melihat mantan istrinya itu akan melangkah keluar dari balik meja.
“Ya.” Pengacara wanita itu membalikkan badannya melihat betapa jarak pria itu sangat dekat dengannya, mungkin hanya sepanjang rentangan satu tangan orang dewasa.
“Apakah kau menolongku hanya sekedar untuk membayar hutang masa lalu kita?” Pertanyaan Kenan itu membuat Hazal memalingkan wajahnya. Wanita itu melihat orang-orang di sekelilingnya tengah menatapnya.
Kenan… sebenarnya jawaban apa yang kau inginkan? Seharusnya kau tidak bertanya seperti itu….
Putra Harun itu semakin mempersempit jarak antara dirinya dan Hazal. Ia juga meminta waktu sedikit lagi kepada petugas untuk mendengarkan jawaban mantan istrinya.
Namun, sebuah telapak tangan lain menggenggam tangan Hazal sebelum wanita itu memberikan jawabannya. Membuat Kenan langsung memundurkan langkahnya ketika melihat Yafet sudah berdiri di samping Hazal.
Dilihatnya kedua tangan mereka saling bertautan.
“Aku tidak punya jawaban atas pertanyaanmu….” Genangan air itu telah mengintip dari balik kelopak mata Hazal.
__ADS_1
“Aku ucapkan selamat untukmu dan Mehmet,” ucap Hazal dengan suaranya yang lirih, “terimakasih Ivy, karena kau sudah memberitahuku tentang keadaan Kenan. Aku pergi dulu.”
Manik mata abu-abu gelap terus menatap Hazal dan Yafet yang telah berjalan menjauhinya hingga keduanya itu perlahan-lahan menghilang dari pandangannya.
Hazal, kenapa kau selalu memberiku jawaban seperti itu? Dua tahun telah berlalu, tapi jawabanmu selalu tetap sama. Aku tahu… ada sebuah jawaban yang ada di dalam hatimu.
Sentuhan tangan Ivy membuyarkan kemelut yang ada di hati Kenan. Pria itu mengarahkan pandangannya menatap wajah oval yang telah berada di sampingnya. Manik mata hijau menatapnya dengan kelembutan, seharusnya saat ini dirinya berterimakasih kepada wanita itu.
“Maafkan aku, karena telah menyalahkanmu waktu itu,” ucap Kenan.
Bukan sebuah perkataan yang keluar dari mulut Ivy untuk membalas ucapan Kenan, melainkan pelukan yang ia berikan kepada suaminya. Meskipun selama persidangan ia bisa melihat bagaimana tatapan mata Kenan kepada Hazal itu sangat dalam, seakan ada sesuatu yang belum terselesaikan selama ini.
“Aku tahu…. Aku akan menunggumu pulang. Hanya satu tahun’kan? Itu tidak lama….” Buliran kristal bening pun jatuh membasahi wajah Ivy, “aku akan selalu mengunjungimu.”
“Bersabarlah dan jangan menagis lagi, itu tidak baik untuk anak kita. Jangan terlalu keras dengan pekerjaanmu dan jaga kesehatanmu,” balas Kenan di balik punggung Ivy. Sebuah kecupan mendarat di kening Ivy dan perut wanita itu. Calon ayah itu berpesan kepada calon anaknya agar menjaga ibunya, selama dirinya tidak ada.
Tautan tangan itu terlepas, ketika petugas polisi membawa Kenan dan Mehmet keluar dari ruangan. Kedua wanita itu berusaha mengejar mereka hingga mobil tahanan itu benar-benar membuat mereka berpisah.
Semua perjuangan kedua wanita itu pun telah berakhir, kini mereka tinggal menunggu kebebasan suami mereka. Keduanya pun melangkah keluar dari halaman Gedung Pengadilan untuk mencegat taksi. Dari seberang, tampak seseorang sedang mengamati-amat mereka. Sosok itu melambaikan tangannya kepada mereka, namun kedua wanita itu tak menyadari kehadirannya.
“Ivy....”
“Cansu…”
Panggilan itu membuat kedua putri Eleanor itu mengarahkan pandangannya ke seberang jalan. Mereka melihat seorang pria muda dengan tatanan rambutnya yang klimis dan pakaian formalnya berwarna biru menghampiri mereka.
“Sedang apa kalian ada di sini? Bagaimana kabar kalian?” tanya pria itu sambil menatap Ivy dan Cansu yang baru saja keluar dari halaman Gedung Pengadilan.
“Apa yang kalian lakukan di pengadilan? Apa kalian sedang ada masalah?” Pria itu masih terus bertanya.
“Tidak. Tunggu-tunggu..., sepertinya wajahmu tidak asing.” Ivy mengamat-amati wajah putih bersih tanpa satu helai bulu tipis yang tumbuh di sana. Hidung mancung dan bibirnya yang tipis mirip seperti milik wanita. Rambut hitamnya legam dan sisiran modelnya yang di tarik ke belakang khas tahun tujuh puluhan.
“Sepertinya aku juga pernah melihatnya di rumah kita yang lama. Siapa kau?” tanya Cansu.
...****************...
__ADS_1