Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Sebuah Kebohongan dan Sebuah Informasi


__ADS_3

Hujan deras mengguyur Kota Paris mulai dari pagi hingga sore hari. Bunyi gemericik air yang saling berjatuhan membentuk berbagai genangan di setiap sisi jalan. Sepasang sepatu pantofel berselimutkan bahan kulit berwarna hitam, menyibak memecah kumpulan air yang sejak tadi tidak merasakan ketenangannya.


Sosok pria berambut panjang itu telah menepi di bawah atap gedung bertingkat. Sebuah bangunan kaca dengan bentuk tubuhnya yang tinggi menyerupai limas trapesium seakan menaungi tubuh kekar itu dalam pelukannya. Pria pemilik sepatu pantofel itu mengusap mantel, rambut dan wajahnya yang basah terkena tetesan air hujan.


Bulir-bulir kecil menetes di atas jam tangan mewahnya, ketika ia melihat jarum itu bergerak menunjuk pada sebuah angka.


“Masih ada waktu sepuluh menit lagi,” gumamnya seraya masuk ke dalam gedung Perusahaan Mandellion. Perusahaan fashion ternama yang ada di Kota Paris.


Dengan rasa percaya dirinya, pria itu melangkahkan kakinya menuju ruang rapat yang ada di lantai lima. Tempat yang pernah digunakan untuk melakukan acara tender beberapa hari yang lalu.


“Selamat siang, Tuan Ferit Kozan,” ucap salah seorang perwakilan dari Perusahaan Mandellion ketika pria berambut panjang itu baru saja membuka pintu ruangan dan melangkah masuk ke dalam.


“Selamat siang, Nyonya Aurora.” Ferit membalas uluran tangan manajer wanita yang mengumumkan hasil kemenangannya.


Pria itu juga melihat Presdir Mandellion dan seorang pria lain yang belum pernah dijumpainya.


“Tuan Kozan, perkenalkan ini Tuan Felipe, beliau adalah Legal Officer di Mandellion,” kata Aurora yang memperkenalkan seorang pria yang ada di sebelah kanannya. “Dan di sebelah kiri saya, Tuan Curtiz, beliau adalah Presdir Mandellion.”


“Senang bertemu dengan Anda, Tuan Curtis dan Tuan Felipe,” sapa Ferit yang disertai dengan jabatan tangannya kepada dua pria Perancis.


"Pukul berapa jadwal penerbangan Anda , Tuan Kozan?” Tuan Curtiz bertanya sambil meletakkan dokumen yang ada di tangannya di atas meja. Pria itu kemudian duduk di kursinya yang berada di tengah.


“Pukul 17.25. Masih ada waktu tiga jam lagi dari sekarang.” Ferit mendaratkan tubuhnya di atas salah satu kursi hitam yang berbaris mengelilingi meja panjang. Kini dia berhadapan dengan tiga orang perwakilan Mandellion.


“Baiklah, kita langsung mulai saja acara penandatangan kontrak kerjasama Perusahaan Kozan dengan Mandellion,” ucap Curtiz yang membuka dokumen yang ada di depannya dan memberikan beberapa lembar kertas itu kepada Ferit.


“Silahkan Anda membacanya lebih dahulu, Tuan Kozan. Secara garis besarnya kerjasama kita akan berlangsung selama lima tahun dan akan diperbarui setiap lima tahunnya. Perusahaan Kozan akan menyediakan bahan baku, proses produksi hingga barang jadi bagi Mandellion," kata Curtiz tanpa membaca dokumen tersebut.


"Sementara pihak Mandellion akan memberikan sistem bagi hasilnya kepada Perusahaan Kozan. 40 persen untuk Mandellion dan 60 persen untuk Perusahaan Kozan. Perusahaan Kozan bersedia memberikan nama merk dagangnya kepada Perusahaan Mandellion.” Curtiz menjelaskan poin-poin kerjasama mereka. Tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


“Apa ini? Perusahaan Kozan akan membayar kerugian yang ditanggung Mandellion, apabila adanya keterlambatan pengiriman, cacat produksi dan ketidaksesuaian bahan?” Ferit mengernyitkan keningnya.


“Oke, untuk cacat produksi dan ketidaksesuaian bahan, aku bisa mengerti. Tapi untuk pengiriman itu bukan salah perusahaan ku jika ada keterlambatan!” bantah Ferit yang melempar dokumen itu di meja.


“Tidak ada alasan untuk ketiga hal itu, Tuan Kozan. Jangan salahkan pihak pengiriman jika terlambat, karena seharusnya perusahaan Anda sudah memperkirakan antara waktu produksi dan waktu pengiriman barang,” jawab Curtiz sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. Kesepuluh jarinya saling bertautan untuk menopang dagunya.


"Tuan Curtiz, ini bukan pertama kalinya perusahaan ku bekerjasama dengan perusahaan luar negeri! Tidak ada satu perusahaan rekanan ku yang membebankan masalah pengirimannya kepada Perusahaan Kozan!" Ferit menatap tajam wajah Curtiz. Ia merasa dibodohi oleh orang-orang Perancis ini.


"Terserah bagaimana kau menilainya, Tuan Kozan. Perusahaan Mandellion punya aturannya sendiri," jawab Curtiz dengan membuyarkan kesepuluh jarinya yang bertautan dan menaikkan salah satu alisnya saat menatap Ferit.


Pria Turki itu pun terdiam beberapa saat, memikirkan perkataan sang Presdir. Curtiz melanjutkan kembali penjelasannya tentang detail kontrak kerjasama mereka.


"Tentang sistem bagi hasil itu, kami memasukkan penawaran yang kau berikan, Tuan Kozan."


Ferit mendengus kesal kemudian menanggapi perkataan Curtiz, "Itu sebabnya Mandellion memilih perusahaan ku, karena aku lebih banyak memberikan presentase keuntungan untuk Mandellion."


Curtiz mengembangkan kedua sudut bibirnya.


“Bagaimana, Tuan Kozan? Jika Anda bersedia, silahkan Anda tandatangani dokumen perjanjian ini.” Aurora menunjukkan bagian yang harus ditandatangani oleh Ferit. “Tapi…, jika Anda mundur, maka kami akan memberikan tender ini kepada perusahaan kedua dibawah harga penawaran Anda.”


"Siapa penawar kedua di bawahku?" tanya Ferit dengan raut wajahnya yang penuh dengan keragu-raguan.


"Itu tidak etis untuk kami sebutkan, Tuan Kozan." Aurora meletakkan sebuah pena di atas dokumen perjanjian.


Untuk beberapa detik, Ferit terdiam. Ia menatap tulisan namanya yang tertera pada kertas putih yang ada di depannya.


Memberikan proyek ini kepada perusahaan kedua? Apa itu Perusahaan Falea? Ini tidak boleh terjadi! Aku tidak akan membiarkan perusahaan kecil itu mendapatkan satu proyek pun!


Ferit langsung mengambil pena yang telah disediakan oleh Aurora kemudian ia menandatangani dokumen dua rangkap tersebut, disaksikan oleh ketiga orang perwakilan Mandellion.

__ADS_1


Curtiz juga memberikan tandatangannya, disaksikan oleh kedua bawahannya. Terakhir Felipe dan Aurora membubuhkan paraf mereka di setiap halaman.


“Keputusan yang bijak, Tuan Kozan. Semoga kerjasama kita berjalan dengan lancar,” kata Curtiz setelah kedua stempel perusahaan itu menghiasi kertas perjanjian tersebut.


Kedua pemimpin perusahaan itu pun saling berjabat tangan. Hanya terlihat dua senyum tipis yang terlukis dari masing-masing bibir.


“Berikan aku salinan aslinya. Aku akan menunggu disini.” Ferit kembali ke tempat duduknya.


“Kau tak perlu menunggu lama, Tuan Kozan.” Perkataan Curtiz membuat Ferit menaikkan salah satu alisnya kepada pria tinggi dengan perawakannya yang kurus.


“Felipe, berikan salinannya kepada Tuan Kozan!” pinta sang Presdir.


Pria berambut klimis itu melakukan apa yang diperintahkan oleh atasannya. Setelah mendapatkan salinan aslinya, Ferit langsung berpamitan dan meninggalkan Perusahaan Mandellion. Dia langsung bergegas menuju bandara dengan menggunakan taksi.


......................


Istanbul, Turki.


Setelah kepulangan Mehmet dan Cansu, Ivy langsung disibukkan dengan membuat rancangan desain baju pengantinnya dan baju pengantin Cansu. Ia mulai menggores kertas gambarnya dengan pensil, menorehkan berbagai garis lurus dan lengkung hingga terbentuk dua tubuh ramping seorang wanita. Kemudian ia mulai menggambar bentuk gaun yang diinginkan oleh Cansu dan dirinya. Ivy tak menyadari kehadiran seseorang yang masuk ke dalam ruang kerjanya.


“Yang mana gaun pengantin milikmu?” tanya Kenan yang berdiri di belakang kursi Ivy. Pria itu melihat dua buah sketsa gaun pengantin wanita sepanjang mata kaki. Gambar sebelah kiri dengan model A-line, sedangkan gambar sebelah kanan dengan model duyung. Kedua gaun itu terbuka di bagian pundaknya.


“Punyaku yang model duyung sedangkan punya Cansu model A-line,” jawab Ivy sambil menunjukkan desain setengah jadi itu kepada Kenan. “Bagaimana menurutmu?”


Kenan menarik kursi kerjanya dan meletakkannya di samping kursi Ivy. Pria itu pun memeluk kedua lengan kekasihnya dan mengambil kertas sketsa yang di pegang oleh Ivy. Ia menatap wajah kekasihnya dan gambar sketsa itu bergantian.


“Ayo katakan….” Ivy menempelkan pelipisnya di lengan Kenan.


Kenan menjentikkan jarinya pada sketsa gambar dengan model duyung yang berada di sebelah kanan. “Aku suka yang ini.”


“Pakaian apapun yang kau pakai, kau terlihat sangat cantik bagiku,” puji Kenan yang akan mendaratkan ciuman bibirnya ke pipi Ivy, tetapi wanita itu langsung menepisnya dengan telapak tangannya, membuat wajah Kenan berpaling ke kanan.


“Aku mengatakan yang sebenarnya,” pungkas Kenan sambil memiringkan kepalanya.


Ivy beranjak dari kursi kerjanya dan merapikan meja kerjanya, sementara Kenan hanya duduk memperhatikan kekasihnya itu yang sibuk mondar-mandir ke sana kemari.


Pria itu kemudian membantu Ivy untuk membuang kertas bekas yang tidak terpakai. Ia menginjak pedal plastik yang ada di dekat kakinya, hingga membuat tutup keranjang itu terbuka sepenuhnya. Manik mata abu-abu itu terbelalak begitu mendapati isi keranjang sampah yang telah kosong.


Kemana sobekan kertas itu? Apa ada seseorang yang mengambilnya?


Kenan mengalihkan pandangannya melihat Ivy yang sedang mematikan laptop.


Apa Ivy yang mengambil surat yang aku sobek kemarin malam? Sepertinya bukan dia, jika Ivy berhasil menemukannya, dia tidak akan setenang ini berbicara denganku.


Putra Harun itu menatap nanar sambil berjalan mendekati Ivy.


Aku harap kau tidak pernah mengetahui surat dan kiriman email dari Perusahaan Puzulla, Sayang. Semoga Nur yang membuang sampah-sampah itu.


“Kau sudah selesai?” tanya Kenan kepada Ivy, setelah mereka berdiri saling berhadapan. Putri Victor itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis kepada pria itu.


“Apa kau benar-benar tidak ingin membuat pesta pernikahan? Meskipun itu sederhana, tapi aku masih mampu memberikan itu semua untukmu.”


Manik mata abu-abu gelap itu memandang lembut wajah kekasihnya. Seolah-olah dengan menyenangkan hati Ivy, maka ia bisa menutupi sesuatu yang ia sembunyikan dari wanita itu.


Dipegangnya kedua lengan Kenan. Telapak tangan Ivy merasakan benjolan-benjolan otot yang menghiasi lengan pria itu. Deretan gigi yang rata tersembul keluar dari bibir tipisnya.


“Bisa menikah denganmu adalah kebahagiaanku. Hidup bersama denganmu, saling mencintai dan tidak ada kebohongan di antara kita, itu sudah cukup bagiku.”


Ivy memasukkan kedua lengannya di sela-sela lengan Kenan dan didekapnya pria itu.

__ADS_1


Kenan langsung menelan salivanya setelah ia mendengar perkataan Ivy. Tidak ada kebohongan di antara kita. Kedua tangannya terasa kaku untuk membalas pelukan Ivy.


Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku…. Tanpa tawaran dari Puzulla, aku masih bisa menafkahi mu.


......................


Pukul sebelas malam, Ferit baru tiba di rumahnya di Istanbul. Ia membuka pakaiannya di depan lukisan Ivy yang tergantung di dinding kamarnya. Diusapnya wajah Ivy yang berupa gambaran sketsa tersebut.


“Sampai berapa lama aku harus menunggumu pulang, Sayang? Seharusnya sudah beberapa bulan yang lalu kau menemaniku setiap malam. Di dalam kamar ini.”


"Kenapa Kau tak pernah mencintaiku sedikit pun? Apa kelebihan montir sialan itu? Hingga kau lebih memilihnya, hah?”


Suara nada dering ponselnya mendadak berbunyi. Menghentikan obrolannya dengan lukisan Ivy.


Ferit segera mengenakan pakaiannya dan mengambil alat komunikasi yang tergeletak di atas meja. Pria berambut panjang itu memicingkan kelopak matanya setelah melihat nama istri almarahum Victor pada layar ponselnya.


Sophia? Mau apa dia menghubungiku malam-malan begini?


Dengan sekali gerakan pada jarinya, Ferit menerima panggilan telepon dari ibu tiri Ivy. Ia pun memulai percakapannya.


“Ada apa? Setahuku kita sudah tidak punya urusan lagi!” Nada suara Ferit terdengar tinggi.


“Aku tahu kau sedang mencari Ivy saat ini.”


Ferit tertawa terbahak-bahak. "Aku sudah bertemu dengannya di Paris. Kurasa kau sedikit terlambat memberikan berita ini kepadaku."


"Ini bukan masalah pertemuan mu dengan Ivy. Dia tidak tinggal di Paris. Putri Victor itu masih berada di Istanbul."


"Kau menghubungi ku hanya untuk mengatakan hal ini? Kau membuang-buang waktuku saja!" Ferit akan menutup ponselnya.


"Tunggu Ferit! Aku punya berita bagus untukmu. Dalam waktu dekat, Ivy bukan lagi calon istrimu."


“Apa maksudmu?" Ferit mengambil anak panah dengan ukuran sepanjang jari telunjuknya.


"Oh... sepertinya kau harus mengganti orang kepercayaan mu itu. Dia tidak memberitahumu kabar terbaru tentang Ivy?"


“Katakan! Apa yang kau ketahui?” Ferit melempar anak panah itu ke papan sasaran. Benda kecil dengan ujungnya yang runcing itu pun melesat dengan cepat dan tertancap tepat di tengah lingkaran.


“Tidak ada yang gratis di dunia ini, Ferit.”


“Apa maumu?” Ferit mengambil anak panah kedua dan ketiga. Bersiap untuk membidik sasarannya.


“Sepuluh persen saham perusahaan Kozan!”


"Kau gila? Satu persen pun aku tidak akan memberikannya kepadamu! Apa yang membuatmu yakin bahwa informasimu seharga dengan sepuluh persen perusahaan Kozan?”


Pria itu langsung melempar dua anak panahnya sekaligus ke papan sasaran. Salah satu anak panah jatuh ke bawah sedangkan anak panah yang lain, melenceng dari sasaran.


“Tentu saja informasiku sangat berharga, bahkan sepuluh persen itu masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan berita pernikahan Ivy!”


“Apa yang kau katakan barusan, hah? Ivy akan menikah?” Ferit tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Sophia. “Kau jangan bercanda!”


“Jika aku bercanda, aku tidak akan menghubungimu!”


Sambungan ponsel itu pun terputus.


“Sophia! Hei, Sophia!” teriak Ferit dengan geram.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya. Terimakasih.


__ADS_2