Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Reuni DL dan GMYH - Tersisa Tiga Bulan Lagi


__ADS_3

Setelah mendengar pendapat dari semua pihak, mempelajari barang bukti yang ada dan mempertimbangkan alasan terdakwa. Maka sidang Pengadilan Negeri Kota Istanbul pada hari ini, memutuskan bahwa terdakwa Kenan Fallay dan terdakwa Mehmet Dundar dijatuhi hukuman… satu tahun penjara! Dipotong dengan masa tahanan yang sudah mereka jalani selama ini!


Masih teringat jelas di dalam sanubari Kenan dan Mehmet tentang perkataan Hakim yang menjatuhi mereka hukuman satu tahun penjara. Hukuman itu sudah dipotong dengan masa tahanan yang telah mereka jalani sebelum persidangan. Jadi mereka hanya mendekam sekitar sembilan bulan lamanya di balik jeruji besi yang pengap dan lembab.


“Tinggal tiga bulan lagi kita akan keluar di sini,” ucap Mehmet setelah ia meletakkan gerobak dorongnya. Gerobak itu berisi batu bata yang akan digunakan untuk memperbaiki salah satu bangunan yang ada di sekitar penjara.


“Jika kau keluar nanti, kau pasti akan merindukan tempat ini,” balas Kenan yang membantu mengambil beberapa batu berwarna merah kecoklatan dari gerobak milik Mehmet dan meletakkannya di sudut dinding yang tidak jauh dari mereka.


“Aku?” Mehmet menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuknya. Sebuah tawa kecil keluar dari mulut pria itu. Kini kedua pria itu sudah mulai terbiasa hidup di balik dinding yang kokoh dan tinggi, jauh dari kehidupan dunia luar. “Oh tentu… aku akan merindukan kerja bakti ini setiap hari.”


Putra Harun itu menertawakan jawaban Mehmet. “Tutup saja kafe mu dan jadilah penjual batu.”


“Ngomong-ngomong soal batu, bagaimana kabar Hazal? Aku tak pernah melihatnya setelah kita pindah ke tempat ini. Apa dia juga tidak mengunjungimu?” Pria gundul itu menumpuk semua batunya di dekat dinding yang baru saja diplester.


Kedua sudut bibir coklat itu tertarik ke bawah. Sang pemilik seakan mengatakan bahwa ia juga tidak tahu kabar pengacara cantik itu. “Apa hubungannya batu dengan Hazal?”


“Kau sangat ingin bertemu dengannya’kan?” goda Mehmet yang langsung meninggalkan sahabatnya, untuk mendorong kembali gerobaknya yang telah kosong.


Kenan menyeka bulir keringat yang sudah memenuhi keningnya. Bajunya yang sudah mulai basah itu menempel di setiap permukaan kulit, membentuk cetakan persegi dimana-mana. Ia mengambil bagian bawah ujung kaosnya yang berwarna putih, kemudian ditariknya ke atas hingga memperlihatkan tubuhnya yang polos.


Seandainya di tanah lapang ini ada seorang wanita, maka wanita itu takkan berhenti menatap dada bidang yang dipenuhi dengan bulu-bulu halus nan seksi. Seakan bagian itu terlihat sangat nyaman untuk ditiduri dan dibelai.


Tetesan keringat jatuh dari ubun-ubun kepalanya, menyentuh dan mengalir dengan sempurna ke bawah. Singgah di bagian pinggangnya yang tertutup oleh celana trainingnya yang berwarna hitam. Tak seorang wanita pun yang akan menolak untuk membantu menyeka rambutnya dan punggung tegapnya yang basah, bagaikan sebuah hamparan rumput basah yang terkena tetesan embun.


“Hazal...” gumamnya setelah ia menurunkan kaos putih itu dari wajahnya.


Jika ini adalah sebuah hutang, maka aku tidak ingin kau membayarnya. Karena hutang akan selalu diingat dan pembayaran akan selalu dilupakan….


Sebuah embusan napas keluar dari lubang hidungnya seiring dengan pandangannya menatap beberapa orang narapidana yang berdiri tidak jauh darinya. Teman-teman barunya itu sedang berusaha menaikkan tumpukan batu bata dengan menggunakan seutas tali tampar.


Tidak seorang pun yang mengetahui perasaannya yang sebenarnya kepada Hazal maupun kepada Ivy. Bahkan dirinya pun juga tidak tahu bagaimana menjelaskan, jika kedua wanita itu bertanya padanya.


“Aku mencintai Ivy, tapi menginginkan Hazal atau aku sebenarnya masih mencintai Hazal, tapi menginginkan Ivy. Oh entahlah…,” gumamnya pelan sambil mengacak-acak rambutnya yang setengah kering.

__ADS_1


Dari kejauhan tampak seorang sipir penjara melayangkan pandangannya di sekitar tanah lapang yang dikelilingi dengan sejumlah ilalang. Tumpukan lemak yang menggelambir itu bergoyang naik turun ketika dia berlari mendekati Kenan.


“Hei, 140985! Ikut aku!” titah sipir tambun itu kepadanya. “Di mana temanmu 140984?”


“Itu dia.” Kenan menunjuk arah jam tiga dari tempatnya berdiri. Dilihatnya Mehmet sedang berjalan menuju ke tempatnya.


“Kau dan kau, ikut aku keluar!” tunjuk sang sipir kepada Kenan dan Mehmet, “ada yang menjenguk kalian!”


Kedua pria itu berjalan mengikuti langkah sipir yang lamban. Melewati setiap para narapidana yang sedang bekerja dan duduk beristirahat di bawah pohon yang rindang. Memasuki sebuah lorong kecil dengan lantai keramiknya yang terlihat kusam dan dinding bercat putih yang retak dimana-mana.


Pintu besi itu pun terbuka, kini mereka memasuki sebuah ruangan dengan dinding kaca yang tembus pandang bak sebuah akuarium tanpa seekor ikan. Di luar ruangan itu, terdapat ruangan lain yang tertutup oleh dinding bercat putih.


Deretan kursi yang mengisi setiap bilik memenuhi ruangan yang baru saja dimasuki oleh Kenan dan Mehmet. Keduanya pun memasuki bilik yang berbeda. Saat ini mereka bagaikan berada di sebuah wartel, ketika mereka duduk dan mengambil gagang pesawat telepon untuk berkomunikasi dengan pengunjung mereka. Hanya ada selembar kaca jendela yang tertutup dengan beberapa lubang kecil yang tepat berada di depan mulut mereka.


“Halo. Apa kau bisa mendengar suaraku?” tanya Mehmet kepada Cansu yang duduk di depannya.


Istrinya itu menunjukkan sebuah jempolnya kepada Mehmet. “Bagaimana kabarmu, Sayang? Kau kelihatan sedikit lebih berisi dari biasanya.”


"Aku sangat baik berada di sini. Seminggu dua kali aku harus mengangkat sepuluh sak semen dan mengumpulkan batu bata. Kau lihat, Sayang,” Mehmet menjepit gagang pesawat teleponnya pada salah satu daun telinganya, kemudian tangannya yang lain ia gunakan untuk menaikkan lengan bajunya. “Tanpa fitness, ototku bisa membesar seperti ini.”


Di pojok kiri, Kenan sedang berbicara dengan Ivy. Cara mereka berkomunikasi juga sama seperti yang Cansu dan Mehmet lakukan. Mereka saling menempelkan salah satu telapak tangan di dinding kaca, untuk mengobati kerinduan mereka yang tertunda.


“Perutmu sudah semakin membesar, Sayang. Apa jenis kelaminnya?” tanya Kenan yang sejak awal ia memang penasaran ingin mengetahui jenis kelamin anaknya.


“Aku tidak ingin melihatnya. Asal dia tumbuh sehat, sudah cukup buatku.”


“Tapi kenapa?” Kenan mengernyitkan keningnya.


“Aku hanya ingin membuatmu semakin penasaran dan semakin merindukannya,” ucap Ivy dengan manik matanya yang berbinar-binar, “apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?”


Sebuah helaan napas terdengar dari ujung telepon Kenan. “Aku tidak tahu dia laki-laki atau perempuan, bagaimana aku bisa mencarikan nama untuknya.”


Ivy menopang dagunya dengan salah satu telapak tangannya yang tertempel di meja. Sebuah tawa kecil ia perlihatkan kepada Kenan. “Begini saja... sampai kau bebas nanti, aku akan memanggilnya dengan nama Fallay junior.”

__ADS_1


“Fallay junior.” Kenan mengulangi perkataan Ivy, “kedengarannya lucu juga.” Pria itu tertawa terbahak-bahak.


Tawa itu mendadak sirna seiring terdengarnya rintihan Ivy yang memegangi perutnya. Dari tempat duduknya, Kenan bisa melihat bahwa istrinya itu sedang menahan rasa sakit.


“Ivy! Kau… kau tak apa?” Kenan langsung menjatuhkan gagang teleponnya dan berdiri di depan kaca untuk melihat keadaan istrinya. “Ivy!"


“Auww..., Kenan….” Rintih Ivy. Tanpa sengaja tangan wanita hamil itu menjatuhkan sebuah kursi plastik yang ada di sampingnya. Membuat kursi-kursi lainnya juga ikut berjatuhan.


“Perutku… sakit… Tolong….”


Begitu mendengar suara gaduh dan rintihan saudara tirinya, Cansu langsung meletakkan gagang pesawat teleponnya di atas meja dan segera menghampiri Ivy. Dilihatnya wanita hamil itu sedang membungkukkan badannya dengan tangannya yang memegang tepi meja.


“Cansu! Katakan apa yang terjadi dengan Ivy?” Kenan berteriak di dalam ruangannya, namun istri Mehmet itu tidak bisa mendengar suaranya.


Putri Sophia itu langsung memegangi tangan Ivy, namun ia mendadak terkejut ketika melihat noda darah menghiasi bagian belakang baju hamil yang dikenakan Ivy.


“A…apa ini waktunya kau... melahirkan?” tanya Cansu yang tak kalah gugupnya.


Sementara dua orang pria yang ada di ruangan lain, hanya bisa menonton adegan yang membuat mereka bertanya-tanya dengan penuh kekhawatiran.


“Sepertinya. Tolong… bawa… aku,” kata Ivy terbata-bata sambil mengatur napasnya, “ke rumah… sakit....”


“Kenan,” panggil Cansu. Dengan bahasa tubuhnya ia meminta pria itu mengambil gagang pesawat teleponnya kembali.


“Apa yang terjadi dengan Ivy?” tanya Kenan dengan panik.


“Dia memintaku untuk membawanya ke rumah sakit. Sepertinya anakmu akan lahir.” Tanpa menunggu balasan perkataan Kenan, putri Sophia itu langsung meletakan gagang pesawat teleponnya dan memapah Ivy untuk keluar dari ruangan.


Sepuluh jari itu menarik setiap helai rambut hitamnya ke belakang. Napasnya memburu tak karuan begitu ia melihat Cansu dan Ivy yang telah menghilang dari pandangannya. Wajah berbentuk persegi itu berubah menjadi pucat memikirkan perkataan Cansu.


“Ada apa? Apa yang dikatakan Cansu?” desak Mehmet yang melihat putra Harun itu berjalan mondar-mandir tak karuan mengelilingi ruangan.


“Sepertinya malaikat kecil itu akan datang,” ucap Kenan yang tidak bisa menghentikan langkahnya saat ini. Ia benar-benar gusar dan panik, ingin rasanya dirinya berada di samping Ivy untuk melihat kelahiran keturunan Fallay selanjutnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2