
Setelah kepergian Sophia, Deniz kembali ke rumah keluarga Eleanor. Ia berusaha membuka pintu berwarna coklat, mengetuknya dengan keras dan menekan gagang pintu emasnya.
"Buka! Buka pintunya!" teriak Deniz dengan air matanya yang mengalir. Berulangkali ia meneriaki pintu yang sudah tertutup itu.
"Ayah! Buka pintunya!" teriak Deniz lebih keras.
Sebuah tendangan ia arahkan ke benda kayu berbentuk persegi panjang. Tapi pintu itu lebih kokoh dari dirinya. Tubuh kecilnya itu menempel di depan pintu dan merosot ke bawah setelah usahanya untuk membuka pintu tidak berhasil. Perkataan Ivy dan perkataan Sophia bersahut-sahutan di dalam pikirannya. Ia menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya.
"Deniz!" teriak Ivy dan Nur setelah mereka keluar dari taksi. Kedua wanita itu segera menghampiri bocah laki-laki itu yang terduduk di lantai. Ivy segera memeluk adiknya.
"Kau pembohong, Ivy! Kau pembohong!" teriak Deniz yang mendorong tubuh kakaknya agar menjauhinya.
Ivy dan Nur tersentak mendengar teriakkan Deniz. Tidak biasanya anak itu memanggil namanya langsung tanpa panggilan kakak. Kedua wanita itu saling memandang, tidak mengerti apa yang telah terjadi.
"Deniz, katakan apa yang telah terjadi? Kenapa kau mendorong dan meneriaki kakakmu?" Nur mendekati Deniz yang sedang berdiri sambil menangis. Wanita gembul itu menurunkan nada suaranya.
Deniz bangkit berdiri dan mendorong Ivy hingga terjatuh di lantai. "Ayah sudah meninggal, kan? Ayah tidak keluar negeri seperti yang kau katakan! Kenapa kau membohongiku? Aku membencimu, Ivy!"
__ADS_1
Ivy segera memegang tangan Deniz, ketika adiknya itu ingin pergi meninggalkannya. "Deniz, kumohon jangan pergi. Dengarkan aku...."
"Seharusnya aku tinggal dengan ibu!" seru Deniz yang menghentakkan tangan Ivy dan berlari menjauhi rumah. Nur dan Ivy berusaha menghalang-halangi kepergian Deniz.
"Dia bukan ibumu, Deniz!" Wanita itu bukan ibu kandungmu!" seru Ivy yang menarik tangan Deniz untuk mendekat kepadanya. Mulutnya terbuka lebar setelah ia mengatakan hal yang sebenarnya, terkejut karena ucapannya yang meluncur begitu saja.
"A...apa maksudmu, Sophia bukan ibu kandung ku? Kau juga bukan kakakku?" Wajah Deniz terlihat pucat begitu mendengar kebenaran yang telah terjadi. Ia menggelengkan kepalanya seakan tidak ingin mendengarkan sesuatu lagi.
Ivy segera memeluk bocah itu dengan erat. Ia tidak bermaksud membohongi atau mengatakan hal yang pahit kepada Deniz. Ia benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya ketika adiknya lebih memilih Sophia dibandingkan dirinya.
Putri Victor itu memegang kedua lengan Deniz dan menatap manik mata anak itu dengan lembut. "Deniz, kumohon kali ini dengarkan penjelasan ku."
Ivy menyentuh wajah adik kecilnya sambil berkata, "Deniz, kau dan aku adalah saudara kandung. Ayah Victor dan ibu Leila adalah orang tua kandung kita. Ibu meninggal ketika melahirkan mu, waktu itu aku masih berumur dua belas tahun."
Deniz memperhatikan setiap perkataan Ivy. Ia melihat manik mata kakaknya itu berkaca-kaca ketika berbicara dengannya.
"Setelah ibu Leila meninggal dunia, ayah Victor menikah dengan ibu Sophia. Dia adalah ibu kandung Cansu. Jika kau begitu menyayangi Sophia, aku mengerti... karena kau tidak mengenal ibumu sendiri." Ivy melanjutkan perkataannya. Ia mengusap hidungnya yang telah berair.
__ADS_1
"Tapi jika kau meninggalkanku dan lebih memilih tinggal bersama wanita itu, kakak tidak rela, Deniz." Ivy menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Wanita itu telah mengusir kita dari rumah ini, dia bahkan tidak peduli dengan hidupmu lagi!" seru Ivy sambil menahan tangisnya. Ia tidak ingin adiknya melihat air matanya.
Deniz segera memeluk Ivy dengan erat. Mengusap rambut panjang kakaknya. "Aku tidak akan meninggalkanmu, kak."
Sebuah untaian kata yang menyejukkan di hati Ivy. Ia segera mencium pipi adik laki-lakinya itu.
"Give me your hand," ucap Deniz yang meminta Ivy untuk mengulurkan tangannya. Ivy menuruti perkataan Deniz, ia mengulurkan dan membuka telapak tangannya ke atas.
Deniz mendaratkan telapak tangannya ke telapak tangan Ivy yang terbuka. "Jangan lepaskan tanganmu dariku," ucap Deniz.
"Kita akan selalu bersama-sama, Deniz." Ivy membalas perkataan adiknya dengan senyumannya.
Ivy dan Nur mengajak Deniz pulang. Tetapi Deniz meminta Ivy untuk pergi ke pusara ayah dan ibunya.
* Bersambung *
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏