Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Satu Hari Sebelum Pernikahan


__ADS_3

 Satu hari sebelum pernikahan.


“Mereka akan bertemu di salah satu restoran yang ada di Istanbul Mall.” Terdengar suara seorang wanita dari seberang.


“Pukul berapa?” tanya Hasan yang berbicara dengan menggunakan headset bluetooth yang terpasang di telinganya. Kedua tangannya sedang sibuk membelokkan setir kemudinya ke arah kanan.


“Sekitar pukul lima sore. Jangan lupa dengan apa yang kau janjikan.”


“Aku akan menepati janjiku, setelah putri Eleanor itu berhasil aku dapatkan!” seru Hasan yang langsung mematikan panggilan ponselnya. “Seharusnya aku tidak bekerjasama dengan wanita itu, tapi apa boleh buat… hanya dia yang bisa membantuku.”


Pria berhidung bengkok itu melepas piranti komunikasinya dan tersenyum tipis. Dilihatnya jam tangannya yang berbentuk persegi, masih ada waktu sekitar tiga jam lagi, sebelum ia mendapatkan buruannya. Kendaraan roda empat yang dikendarainya itu menepi di depan sebuah toko yang menjual aneka macam kacang dan kurma.


Sorot matanya menukik tajam ke depan, menatap jalan raya melandai yang akan ia lewati beberapa meter kemudian. Kedua ibu jarinya mengetuk setir kemudi memainkan beberapa irama bak seorang pemain perkusi yang sedang memukul alat musik berselaputkan kulit binatang. Setelah selesai dengan pertimbangannya, Hasan mengambil sebuah botol berwarna coklat dari dalam laci mobilnya.


Ini akan menyelesaikan masalah Tuan Ferit dan Nona Ivy. Besok pernikahan itu akan batal dengan sendirinya….


......................


Hari ini Istanbul Cafe menutup dirinya dari pengunjung luar. Untuk pertama kalinya ada pasangan pengantin yang akan menikah di tempatnya. Aroma kebahagiaan itu sudah mulai terhembus, ketika bangunan itu menyaksikan kesibukan para manusia yang menghias tubuhnya yang memanjang menjadi sedemikian indah.


Rangkaian bunga tulip beraneka warna lebih banyak menghiasi ruangan dibandingkan dengan bunga lain. Ada beberapa rangkaian bunga mawar dan bunga lily yang hanya digunakan sebagai aksen menambah kecantikan ruangan tersebut.


Lampu-lampu kecil melilit indah di sebuah batang pohon dan ranting buatan yang ada di sudut ruangan dan pintu masuk. Tak lupa mereka juga memberikan taburan kelopak bunga tulip dan dua bingkai foto yang menampilkan dua calon


pengantin di atas piano besar yang menjadi ikonik kafe.


Bunyi dentingan alat makan membuat kesibukan di dapur sedikit berbeda dibandingkan dengan ruangan yang lain. Cansu mengambil sebuah sendok sayur yang ada di dekatnya. Ia mengaduk makanan yang ada di dalam sebuah kuali yang diletakkan di atas tungku perapian. Permukaan kuah kental berwarna kuning kunyit itu mengeluarkan riak dan kepulan asap yang menyapu wajah cantiknya.


Bibir merah itu meniup lembut sedikit cairan yang menggenang di dalam sendok makannya. Cairan kuning kental dengan aroma rempah-rempahnya mulai memasuki rongga mulut Cansu. Rasa gurih dan berminyak itulah yang ia rasakan setelah mencicipi masakan yang dibuat oleh juru masak kafe.


“Bagaimana, Nona?” tanya sang koki kepada calon istri tuannya. Mulai besok, wanita yang ada di sampingnya ini akan menjadi Nyonya pemilik kafe. Jadi pria itu mulai membiasakan dirinya untuk menghormati Cansu.


“Ini sangat lezat, cukup jangan tambahkan apa-apa lagi.” Cansu mengambil selembar tisu untuk mengusap bibirnya. “Bagaimana dengan kue pernikahannya?”


“Semua sudah beres, Nona. Sebelum subuh kami akan membuatnya,” jawab juru masak tersebut dengan melingkarkan jari telunjuk dan ibu jarinya.

__ADS_1


Sementara itu Ivy dan Nur bertugas menghias dua kamar pengantin yang ada di salah satu hotel bintang lima yang akan mereka gunakan untuk malam pertama.


Dua kamar itu saling berhadapan. Kedua wanita itu menghias ranjang ukuran king size dengan kelopak bunga mawar merah dan lilin aromaterapi yang masih padam. Taburan kelopak bunga mawar itu mulai terlihat dari lantai kamar hingga bathup yang ada di dalam kamar mandi.


Sebuah kotak yang terbuat dari karton tebal dengan tinggi sekitar lima puluh sentimeter berwarna merah, berdiri tegak di atas meja coklat. Kotak berbentuk kubus itu apabila dibuka bagian penutupnya, maka akan keluar susunan-susunan foto kedua mempelai. Ivy menyiapkan dua kotak yang ia letakkan di kamarnya dan di kamar Cansu.


Seorang pelayan hotel memberikan dua buah keranjang anyaman yang berisi beberapa botol wine kepada Ivy. Diletakkannya satu keranjang di dalam kamarnya dan keranjang lain di dalam kamar Cansu. Setelah semuanya terasa sudah lengkap, ia mengambil ponselnya untuk mengambil foto kedua kamar pengantin yang telah selesai dekorasi.


Putri Victor itu mengirim beberapa foto itu kepada Cansu melalui ponselnya. Ia juga menuliskan beberapa kalimat yang berisi tentang selamat menikmati malam pengantin mu. Beberapa menit kemudian, Cansu membalasnya dengan emoticon berbentuk hati sebanyak lima buah dan beberapa kalimat yang berbunyi.


Wow! Ini sangat romantis, Ivy. Aku sangat suka. Aku tidak sabar ingin berbaring di sana dan merasakan pelukan Mehmet. Hahahahaha…. Jangan lupa, nanti pukul lima kita bertemu di Istanbul Mall. Aku akan membawa perlengkapan Malam Henna untukmu. Seandainya saja kita bisa merayakan Malam Henna bersama pasti lebih seru dan  menyenangkan.


Senyum Ivy merekah bak kelopak bunga yang ada di depannya, saat manik matanya membaca pesan yang dikirim oleh saudara tirinya. Beberapa jarinya mulai sibuk membalas pesan Cansu.


Aku malah ingin menginap di sini malam ini. Hahahaha…. Aku tidak ingin membuat keributan dengan ibumu, lebih baik aku melakukan Malam Henna di apartemen ku sendiri. Malam ini Kenan akan menginap di apartemen Mehmet. Oke, sampai ketemu di Istanbul Mall.


Setelah mengirim pesan kepada Cansu, kali ini Ivy menghubungi calon suaminya yang sedang menonton pertandingan sepak bola bersama dengan Mehmet dan Deniz.


Bunyi dering ponsel yang tersembunyi di


Di dalam kamar hotel, Ivy menghubungi Kenan kembali. Nada sambung itu terus berbunyi di telinganya. Hingga pertandingan itu memasuki waktu istirahat, barulah panggilan ponsel itu tersambung.


"Halo, Sayang.” Kenan sedang berjalan menuruni tangga tribune kemudian mengayunkan langkahnya memasuki koridor yang terlihat lebih sepi.


Ivy mendengar suara keramaian dari ujung ponselnya. “Kau masih di stadion?”


“Ya. Sekarang jam istrirahat, jadi aku bisa menerima telepon mu. Apa kau sedang merindukanku? Aku ganti dengan panggilan video ya.”


“Tunggu!” Ivy mencegah Kenan untuk mengubah panggilan ponselnya.


“Sayang, aku hanya ingin melihat senyummu. Apa kita juga tidak boleh saling bertemu melalui panggilan video? Ayolah….”


“Aku juga tidak tahu. Tapi kau sedang ada di stadion! Aku menghubungimu karena nanti jam lima sore aku ada janji dengan Cansu di Istanbul Mall. Dia akan memberikan perlengkapan untuk Malam Henna ku.” Ivy mengepit ponselnya di antara telinga dan pundak kanannya sedangkan kedua tangannya mengikat pita yang terlepas di keranjang wine.


“Kau sendirian?” tanya Kenan sambil melihat jam tangannya. “Sekarang masih pukul empat. Aku akan menjemputmu di hotel.”

__ADS_1


“Tidak… tidak kau jangan ikut! Kita tidak boleh bertemu!” seru Ivy tiba-tiba.


Kenan mengernyitkan keningnya sambil menatap layar ponselnya. “Tapi aku tidak tenang jika kau pergi sendirian! Ingat, diluar para keparat-keparat itu sedang mencarimu!”


“Nur akan menemaniku. Sebenarnya aku… aku juga ingin membeli baju tidur dewasa,” ucap Ivy dengan wajahnya yang merah merona karena malu.


Meskipun usianya termasuk golongan wanita dewasa, tetapi ia belum pernah membahas masalah intim seperti ini dengan seorang pria.


Sebuah tawa kecil keluar dari mulut Kenan. Pikiran liarnya mulai bekerja layaknya pria normal pada umunya yang membayangkan wanita bertubuh ramping itu memakai pakaian tidur yang membuat naluri kelelakiannya memuncak.


“Baiklah. Belilah yang transparan dan serba terbuka,”  bisik Kenan di ujung ponselnya.


“Suruh saja aku memakai kantong plastik! Semuanya terbuka dan tembus pandang,” celoteh Ivy yang membuat Kenan tertawa makin keras hingga membuat beberapa penonton yang berlalu lalang memperhatikannya.


Kenan langsung menghentikan tawanya ketika ia melihat pertandingan sepak bola akan segera dimulai kembali. “Belilah yang kau suka, aku juga pasti akan menyukainya. Kabari aku jika kau sudah sampai apartemen.”


“Oke. Bye-bye.”


“Love you, honey.”


“Love you too, my honey.”


Setelah menutup ponselnya, Ivy dan Nur langsung berangkat menuju Istanbul Mall. Sebuah pusat perbelanjaan yang ada di daerah barat Kota Istanbul. Setelah mereka memarkirkan mobil jenis SUV di halaman depan, keduanya berjalan menyusuri setiap paving blok yang berwarna coklat keabu-abuan. Mereka masuk melalui pintu kaca yang memutar di tengah porosnya.


Beberapa meter dari pintu masuk, dua orang pria yang ada di dalam mobil sedan berwarna hitam terus mengamati gerak-gerik wanita muda yang baru saja masuk melalui pintu kaca. Wanita berambut coklat yang memakai celana jeans belel dan sebuah kemeja berwarna putih. Mereka yang ada di dalam mobil itu hanya melihat wajah samping Ivy dan punggungnya.


“Bos, wanita itu baru saja datang. Apa kita langsung menangkapnya?” tanya salah satu pria yang ada di dalam mobil. Pria berjanggut hitam itu sedang berbicara di ponselnya dengan seseorang.


“Tangkap wanita itu, setelah dia keluar!”


Kemudian pria berjanggut itu menutup ponselnya dan pandangan matanya menatap lurus ke depan.


“Apa kata bos?” tanya temannya yang duduk di sampingnya.


“Bos menyuruh kita menunggu. Kita akan menangkap wanita itu setelah dia keluar dari mall.”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2