Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Final Battle Part 4


__ADS_3

Tar…!


Tubuh jarum suntik yang terbuat dari kaca itu langsung pecah setelah menerima satu tembakan dari Kenan. Tangan dokter itu menjadi kebas, terkejut melihat dan merasakan alat medis itu semburat mengenai tangannya. Begitu juga dengan Ferit manik matanya semakin menyala dan menatap tajam wajah Kenan, karena rencana untuk melenyapkan nyawa kecil itu gagal.


Di meja pembaringannya, Ivy hanya bisa memejamkan kedua matanya dan menghela napasnya dalam-dalam.


Ayahmu berhasil menyelamatkan nyawamu, Sayang….


“Kau ingin membunuhku’kan? Cepat bunuh aku! Lepaskan Ivy!” teriak Kenan yang masih menggenggam pistolnya yang berasap.


“Tentu saja aku ingin membunuhmu, Bodoh! Aku akan mengabulkan permintaanmu!” teriak Ferit, “buang senjata api mu!”


Kenan melempar senjata apinya ke sembarang arah, melepas cincin pernikahannya dan menyimpannya di saku celana. Ia mengganti cincin emas itu dengan sebuah senjata yang terbuat dari logam yang dipasang melingkar pada keempat buku jari terdepan dari tangannya. Ujung logam itu berbentuk runcing. Sehingga siapapun lawannya, pasti akan terluka dalam sekali pukulan.


Di sisi lain, Ferit juga melemparkan senjata apinya. Dari salah satu alas sepatu hitamnya keluar sebilah pisau tajam dan sebuah pisau lain terpasang melingkar pada keempat jarinya.  Dua senjata tajam itu yang akan ia gunakan untuk menghabisi Kenan.


Dua pasang manik mata itu saling menatap tajam bak seekor harimau yang akan bertarung dengan seekor serigala. Keduanya melepas seluruh pakaian atas mereka, memperlihatkan seberapa besar massa otot yang mereka miliki. Sebuah tato berbentuk burung elang tergambar di dada kanan Ferit. Dari kejauhan, Ivy mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat apa yang akan terjadi.


Anakku, meskipun kau belum berbentuk, tapi berdoalah untuk keselamatan ayahmu. Ibu tidak bisa hidup tanpa ayahmu….


Semua orang pun terdiam dan tidak ada yang berani mengangkat senjata api mereka ketika melihat Ferit mulai maju dan mengarahkan pukulannya ke wajah Kenan. Sabetan pisau tajam itu mengenai lengan kanan Kenan. Cairan merah itu langsung mengucur keluar mewarnai tubuhnya.


"Kenan!” jerit Ivy yang membuatnya harus menekan perutnya.


Ferit mengarahkan tendangannya ke dada Kenan, namun putra Harun itu berhasil menangkisnya dan membalas tendangan itu dengan pukulannya. Cincin logam dengan ujungnya yang runcing itu mengenai rahang Ferit. Sekali pukulan mampu mencabik kulit berbulu itu dan membuat Ferit memundurkan langkahnya. Ia mengusap rahangnya yang telah sobek, kini cairan merah itu berpindah ke punggung tangannya.


Manik mata coklat itu melotot ke arah Kenan. Diayunkannya pisau yang ada di tangannya, membuat putra Harun itu harus menundukkan kepalanya. Dengan cepat Ferit mengganti serangannya. Mata pisau itu berhasil menggores kening Kenan. Dengan sekali hantaman kepala, membuat suami Ivy sempoyongan dan terjatuh di lantai semen.


“Berhenti!” teriak Ivy yang mengangkat sedikit kepalanya. Perutnya terasa tertekan saat melihat keadaan Kenan. Ia menggoncang kedua borgolnya yang terikat pada tiang besi agar benda berbentuk lingkaran itu terlepas, tetapi sampai sejauh ini usahanya belum berhasil.


Teriakan Ivy, tak dihiraukan oleh Ferit. Pria berambut coklat itu langsung berlari dan hendak membelah dada Kenan, namun dengan cepat Kenan menangkap sepatu Ferit dan menahan mata pisau itu agar tidak menyentuh kulitnya.

__ADS_1


“Aku akan membunuhmu, Montir sialan!” geram Ferit yang menekan sepatunya yang berisi pisau itu ke dada Kenan. Membuat otot tangan dan urat pada wajah Kenan menonjol keluar. Sedikit tekanan lagi, pisau itu akan menembus jantung putra Harun.


Mendadak terdengar suara raungan mobil yang berasal dari luar. Mobil Jeep itu masuk dengan leluasa ke dalam gudang. Dengan bantuan alat pelacak yang menempel di mobil putih milik anak buahnya, Mehmet berhasil menemukan Kenan. Lima orang keluar dari mobil Jeep itu termasuk Mehmet.


Disaat lawannya lengah, Kenan menarik sepatu itu hingga terlepas dari kaki pemiliknya dan melemparnya ke sembarang arah. Lemparan itu jatuh mengenai kepala salah satu anak buah Ferit yang menjaga Ivy. Wanita hamil itu langsung berteriak, begitu pria dengan kepalanya yang bersimbah darah itu roboh mengenai perut atasnya.


“Hei, Kenan! Kenapa kau tidak menyisakan bagian ku untuk menghajar si keparat ini!” teriak Mehmet yang langsung mengenakan sarung tangan besinya. Ia menggerakkan sepuluh jarinya yang terbungkus dengan kerangka besi, seakan ia sudah tidak sabar memberi pelajaran pada Ferit.


Setelah melepas sepatunya yang masih tersisa, Ferit langsung mengambil sebuah besi panjang yang ada di dekatnya. Besi dengan diameter segenggam telapak tangannya dan ujungnya yang runcing itu ia gunakan untuk menghadapi lawan-lawannya. Ia juga memerintahkan anak buahnya yang masih tersisa untuk menghadapi anak buah Mehmet. Pertarungan beberapa anak buah itu terjadi di belakang Kenan.


“Mau apa kau, Kepala gundul? Aku tidak punya urusan denganmu!” balas Ferit yang memainkan tongkat besinya di depan dua lawannya.


Mehmet tertawa di balik wajah bulatnya. “Kenan, apa kau telah membuatnya amnesia? Kemarilah, aku akan membuatmu mengingat perbuatan biadabmu kepada Cansu!”


"Kau ingin menjadi pahlawan kesiangan, hah?” ejek Ferit sambil mengusap batang hidungnya yang basah karena keringat. “Ayo… lawan aku!”


Kedua pria itu saling menendang dan saling memukul. Sabetan pisau tangan Ferit menggores sarung tangan besi Mehmet. Melihat hal itu, Kenan langsung berlari ke tempat Ivy.


“Jangan bergerak!” seru salah satu anak buah Ferit sambil menodongkan senjata apinya ke kepala Kenan. Rupanya hanya pria ini yang berhasil selamat setelah melawan anak buah Mehmet, dari pertarungan itu anak buah Mehmet kalah telak.


"Kenan," gumam Ivy yang melihat hal tersebut.  Batinnya mulai bertaruh apakah pria itu akan menembakkan senjata apinya kepada suaminya atau tidak.


Tangan Kenan pun terangkat ke atas. Dengan menodongkan pistolnya, pria itu mendorong putra Harun agar menjauhi Ivy. Mehmet mengarahkan pandangannya kepada Kenan, setelah anak buah Ferit itu meneriakinya.


Melihat keadaan itu, Ferit langsung menancapkan tongkat besinya yang runcing ke paha pria gundul itu. Kaki yang hanya terbungkus celana jeans itu langsung memerah. Sekali cengkeraman, Ferit melempar tubuh Mehmet ke tumpukan besi tua, membuat kumpulan besi berkarat itu jatuh menimpa tubuhnya.


Ferit langsung mengambil sebuah pistol yang ada di dekatnya dan menembak dokter yang akan melarikan diri. Begitu juga anak buah Ferit yang akan menarik pelatuknya ke kepala Kenan.


Sambil mengarahkan pistolnya ke arah Kenan, Ferit mendatangi tempat Ivy. Pria itu langsung merobek celana panjang Ivy yang terbuat dari kain, mempelihatkan kaki jenjang dan paha ramping yang mulus. Bibir dan tubuh


Ivy bergetar ketika ia merasakan sisi pisau dan bibir Ferit menyentuh kulit kakinya. Bukan perasaan nikmat yang ia rasakan melainkan kengerian yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


“Apa yang akan kau lakukan? Lepaskan aku!” jerit Ivy ketika sisi pisau itu menyentuh perutnya.


Tidak seorang pun yang mampu menahan murka Kenan, ketika Ferit mulai menciumi perut Ivy dan menyobek pakaian atas istrinya. Kini hanya dua lembar pakaian dalam yang membungkus tubuh polosnya. Pria itu ingin melampiaskan hasratnya di depan Kenan, kali ini dirinya tidak akan salah sasaran lagi.


"Lepaskan aku! Kau benar-benar binatang!" jerit Ivy dengan histeris.


Wanita itu berusaha menggerakkan tubuhnya untuk menghindari bibir Ferit, namun pisau tangan itu malah menggores kulit pahanya berulangkali. Lelehan darah mengalir hingga ke tepi meja dan setetes demi setes jatuh membasahi lantai semen. Tak peduli dengan rasa perih akibat goresan pisau tersebut, asalkan Ferit tidak berhasil menyentuhnya.


“Keparat, Kau! Aku akan membunuhmu, Ferit Kozan!” teriak Kenan yang langsung merebut pistol itu dari tangan anak buah Ferit. Ia langsung menembak mati pria tersebut. Ketika ia ingin menembak Ferit, hanya terdengar suar klik dari pelatuk tersebut. Dibuangnya senjata tak berguna itu ke belakang.


Manik mata abu-abu gelap itu langsung mengkilat melihat Ferit yang akan menggoreskan pisaunya ke perut Ivy. Kenan langsung menarik tubuh kekar itu agar menjauh dari tubuh istrinya dan melemparnya ke arah mesin besar yang ada di dekat meja pembaringan.


Sebuah tembakan yang berasal dari pistol Mehmet dan tusukan besi pada mesin tua itu membuat tubuh Ferit bersimbah darah. Tubuh kekar itu menempel di badan mesin. Cairan merah itu mengucur membasahi peralatan besar itu. Manik mata coklat itu terbuka saat pria itu menemui ajalnya.


“Jangan bergerak! Letakkan senjata kalian!” teriak beberapa petugas polisi yang baru saja datang. Beberapa jam setelah anak buah Ferit menurunkan Nur dan Deniz di halaman rumah sakit, mereka melaporkan kejadian itu


kepada polisi.


Petugas polisi itu mengarahkan senjata apinya kepada Mehmet dan Kenan. Polisi segera mengamankan pistol yang ada di tangan Mehmet dan melihat kondisi Ferit. Peluru itu menembus dada kanan Ferit dan tusukan besi itu menembus perutnya. Mereka langsung memborgol tangan Kenan dan Mehmet.


“Tidak, mereka tidak bersalah! Jangan tangkap mereka!” teriak Ivy setelah kedua borgolnya berhasil dilepas oleh pihak berwajib.


“Kenan!” jerit Ivy yang melihat suaminya di gelandang. Manik mata pria itu menatap sendu istrinya.


“Lepaskan suamiku! Dia tidak bersalah!” jerit Ivy yang berusaha mengejar Kenan hanya dengan memakai pakaian dalam, namun tangannya di tahan oleh seorang polisi wanita. Putri Victor itu terus meronta ingin mengejar suaminya yang akan masuk ke dalam mobil polisi.


“Auuw… perutku…! Kenan, perutku sakit!” jerit Ivy yang membuat putra Harun itu mengarahkan pandangannya kepada Ivy yang masih berada di dalam gudang.


"Ivy!" seru Kenan ketika ia membalikkan badannya melihat istrinya tersungkur sambil memegang perutnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2