
Ivy mengalungkan salah satu tangannya di belakang pinggang Kenan. Membantu pria itu berjalan keluar dari sasana tinju. Beruntung suasana di luar sudah mulai sepi, kini mereka telah melewati pintu berpalang kayu.
"Apa dadamu sakit?" tanya Ivy yang melihat Kenan terus menerus memegangi tubuh bagian depannya. Hanya hembusan napas berat yang terdengar dan suara batuk-batuk dari mulut pria itu.
Kakak Deniz itu memapah Kenan hingga mereka berhenti di depan toko yang sudah tutup. Ia mendudukkan Kenan di atas lantai halaman toko. Lantai keramik itu hanya cukup menampung pantat mereka. Ivy menyeka peluh yang mengalir di dahinya, mengibaskan tangannya untuk memberikan hembusan angin pada wajahnya yang memerah.
Dalam balutan kaos hitam polos ukuran body fit, Kenan menyandarkan kepalanya di pintu railing door berwarna kuning.
"Berikan kunci mobilmu! Aku akan membawamu ke rumah sakit!" seru Ivy yang berdiri dengan telapak tangannya yang terbuka di depan wajah Kenan. Ia melihat begitu banyak luka di wajah pria itu. Ada sebuah lingkaran besar yang berwarna merah keunguan di sudut matanya.
"Aku tak ingin ke rumah sakit! Biarkan aku di sini sebentar, jika kau ingin pulang, pulanglah!" seru Kenan tanpa menatap wajah Ivy. Suara batuk itu kembali terdengar lebih keras.
Ivy melayangkan pandangannya ke sekitarnya, sepanjang jalan itu terlihat gelap. Bunyi jangkrik mengisi keheningan malam yang semakin larut. Hanya terlihat lampu mobil yang silih berganti melewati jalanan itu.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang ke rumahku. Kurasa Deniz pasti senang bertemu denganmu."
Putri Victor itu berharap Kenan tidak menolak bantuannya, sepertinya pria itu juga keras kepala seperti dirinya. Ia tidak punya pilihan lain kecuali membawa Kenan ke rumahnya, tidak mungkin meninggalkan pria ini sendirian dalam keadaan terluka.
"Tolong bantu aku berdiri!" seru Kenan yang di sambut oleh suara tawa Ivy. "Hei! Kenapa kau tertawa?"
Kedua bibir tipis itu terbuka dan memperlihatkan deretan gigi yang rata. "Aku baru kali ini mendengarmu berkata minta tolong."
"Apa aku terlihat sedingin itu?" tanya Kenan dengan muka masamnya.
"Lihatlah wajahmu, kau seperti boneka chucky jika cemberut seperti." Ivy kembali tertawa lebih keras.
Manik mata abu-abu gelap itu tampak melotot ke arahnya dan memperlihatkan wajah garangnya yang dibuat-buat.
Andaikan saja aku tidak cedera, aku akan menutup mulutmu dengan bibirku...
Suara tawa itu mendadak berhenti, Ivy menyadari ia terlalu lepas mengekspresikan dirinya. Ia pikir dirinya telah mengenal Kenan, tetapi ternyata ia salah. Pria itu sangat tertutup dan kaku menurutnya.
Ivy segera memapah tubuh kekar itu menuju ke parkiran mobil yang ada di sayap kanan gedung sasana tinju. Sesampainya di tempat parkir, Kenan memberikan kunci mobilnya kepada Ivy. Putri Victor itu segera melajukan kendaraannya menuju tempat tinggal Nur.
*****
Sepasang mata bulat besar berwarna oranye dengan pupil hitamnya menatap Kenan dari atas pohon. Binatang itu sepertinya mengetahui ada orang asing yang datang di kawasannya. Ia mengepakkan sayapnya yang sangat lebar dan mengeluarkan suaranya yang terdengar menakutkan. Beberapa ekor tikus dengan cepat kembali ke sarang mereka setelah mendengar suara yang keluar dari sebuah paruh berwarna hitam.
Pria yang ada di halaman rumah Nur itu segera memalingkan wajahnya ke atas, menatap gerangan apa yang ada di atas pohon. Mata besar itu menatap Kenan dengan tatapan matanya yang tajam, ia kembali mengepakkan sayapnya. Seakan memberi peringatan kepada Kenan, bahwa ini adalah wilayahku.
"Oh, rupanya kau tidak menyukai kehadiranku? Ah ya... aku tahu. Kau pasti cemburu melihat gadis cantikmu itu membawa pulang seorang pria?" ucap Kenan yang berbicara pada seekor burung hantu.
Ivy keluar sambil membawa kotak obat dan meletakkannya di atas kursi rotan.
"Kau berbicara dengan siapa?" tanya Ivy yang sayup-sayup tadi mendengar suara Kenan. Ia menghampiri Kenan yang berdiri di depan pohon yang tinggi.
Apa Ivy mendengar perkataanku tadi? Oh shit!
"Tidak. Aku tidak bicara dengan siapapun. Mungkin yang kau dengar itu suara tetangga. Ya, bisa juga suara televisi." Kenan berusaha menyembunyikan kegugupannya dari hadapan Ivy.
"Duduklah, aku akan mengobati lukamu."
__ADS_1
Jari telunjuk Ivy mulai mengoleskan salep di luka lebam yang ada di sudut mata Kenan dan di lukanya yang lain.
"Kurasa kau tak imbang dengan lawanmu tadi," ujar Ivy setelah ia selesai mengoleskan salep ke sebagian wajah dan tubuh Kenan.
"Tentu saja, dia sudah beberapa kali juara dan aku hanya amatiran." Kenan mengenakan kembali kaos hitamnya.
"Bukan itu maksudku. Kau terlalu tua untuk mengikuti pertandingan itu," celoteh Ivy terus terang dengan ekspresi wajahnya yang polos.
Ia masih duduk dengan tumpuan kedua lututnya menghadap Kenan. Tangannya ia topangkan di atas lutut pria itu.
"Tua?" Kenan mengernyitkan dahinya. Ia merasa usianya saja belum setengah abad.
Ivy menganggukkan kepalanya dan berkata, "Lawanmu itu mungkin masih seumuran denganku. Pria muda yang masih perkasa dan kuat."
Kenan menelan salivanya setelah mendengar perkataan Ivy yang membuat hati dan telinganya panas.
Apa dia pikir aku ini seorang kakek tua yang tidak punya kekuatan dan keperkasaan?
"Memangnya berapa umurmu?" Kenan menunjukkan wajah dinginnya. Ia kesal mendengar celotehan Ivy, meskipun ucapannya memang ada benarnya. Lawannya memang terlihat jauh lebih muda.
"Dua puluh dua tahun. Kau?" Manik mata hijau itu membulat sempurna.
"Tiga puluh dua tahun. Masih pantas menjadi anak ayahmu, bukan paman atau kakekmu," jawab Kenan dengan ketus.
Sebuah tawa renyah keluar dari bibir tipis itu. Wanita itu sanggup membuat hati Kenan kembang kempis tak karuan. Sesaat putri Victor itu terlihat jatuh ke titik terendahnya, sesaat itu pula ia berubah menjadi seekor burung camar yang terbang tinggi ke angkasa.
Tawa Ivy terhenti ketika Nur masuk ke halaman depan sambil membawa sepiring makanan dan segelas minuman.
Setelah selesai menghabiskan makan malamnya, Ivy memberikan gambar tangan Deniz kepada Kenan.
"Sebenarnya malam ini aku mencarimu hanya untuk memenuhi permintaan Deniz. Ia ingin aku memberikan gambar ini kepadamu."
Kenan berdecak kagum melihat sketsa gambar wajahnya. Gambar itu terlihat nyata dan hidup.
"Ini sebagai ungkapan rasa terimakasihnya, karena kau telah menolongnya," jelas Ivy yang memindahkan posisinya ke kursi rotan di samping Kenan.
"Kurasa aku yang seharusnya berterima kasih kepada bocah itu," ucap Kenan dengan senyumannya yang penuh arti. Jika bukan karena Deniz, ia tidak akan mengenal wanita yang duduk di sampingnya.
Manik mata abu-abu gelap itu memandang selembar pakaian putih yang di jemur di halaman depan, membuatnya teringat akan sesuatu.
"Aku akan ke mobil untuk mengambil sesuatu." Kenan segera bangkit berdiri dan berjalan perlahan-lahan menuju mobilnya yang ada di depan rumah.
Ivy hanya berdiri melihat dari kejauhan apa yang akan terjadi. Ia sedikit lega, ketika dilihatnya pria itu berjalan kembali ke arahnya dengan membawa dua buah tas yang terbuat dari kertas berwarna-warni.
"Ini untuk Deniz. Waktu itu aku ingin memberikan hadiah ini di rumah sakit, tapi kau sudah membawa anak itu pergi."
"Dan ini baju pengantin mu yang tertinggal di rumahku."
Ivy menerima dua tas pemberian Kenan. Ia segera masuk ke kamarnya. Dilihatnya adiknya itu sudah tertidur lelap, tetapi sebuah kotak mainan yang tidak pernah ada sebelumnya menarik perhatian Ivy.
Diambilnya kotak mainan yang ada di atas nakas. Kotak itu bergambar sebuah mobil dengan remote control nya. Sebuah nama merk terkenal tercetak di kotak tersebut.
__ADS_1
Ini pasti mainan mahal. Darimana Deniz mendapatkan mainan ini?
Ivy meletakkan barang pemberian Kenan di atas nakas, kemudian di bawanya baju pengantin dan kotak mainan itu keluar. Ia mencari Nur di dalam rumah, tetapi wanita itu tidak ada.
"Nur, siapa yang memberikan kotak mainan kepada Deniz? Apa ada seseorang yang datang kemari?" tanya Ivy setelah ia menghampiri Nur yang ada di halaman depan bersama Kenan.
Wanita gembul itu hanya menundukkan kepalanya. Sebenarnya hal ini yang ingin ia katakan kepada Ivy.
"Jawab aku, Nur! Siapa yang memberikan kotak mainan ini?" tanya Ivy sambil memegang lengan gemuk yang ada di depannya. Ia ingin jawaban secepatnya.
"Pria... orang yang memberimu bunga lili putih kemarin," ucap Nur pelan tapi masih terdengar jelas di telinga Ivy.
Ivy segera melepaskan tangannya dari lengan Nur, mendadak ia memundurkan langkahnya menjauhi kedua orang yang berdiri di depannya. Ia memalingkan wajahnya ke arah jalan raya menahan cairan bening itu agar tidak tumpah.
"Ferit sendiri yang datang kemari?" Bibir tipis itu bergetar ketika ia menyebut nama pria yang akan menikahinya. "Apa dia bertemu dengan Deniz?"
Nur menganggukkan kepalanya. Ia mencoba mendekati putri majikannya, tetapi wanita itu hanya menangkap hembusan angin. Ivy telah masuk ke dalam rumah sambil menahan amarahnya.
Kakak Deniz itu mengambil sebuah periuk dan korek api yang ada di dapur. Kemudian dibawanya kedua benda itu ke halaman depan. Ia memasukkan baju pengantinnya ke dalam wadah yang terbuat dari tanah liat itu dan membakarnya.
Seberkas cahaya merah kebiruan itu menyinari manik matanya. Hawa panas itu menyelimuti tubuh mereka bertiga. Dengan cepat api itu menghanguskan gaun putih tersebut.
Kenan yang sejak tadi berdiri di dekat Nur hanya bisa menatap nanar kobaran api itu. Wajahnya terlihat menyesal.
Seharusnya aku tidak mengembalikan baju pengantinnya. Ia begitu marah. Seharusnya aku membuang baju itu ke tempat sampah.
"Jangan kau bakar ini!" seru Nur yang mencegah Ivy untuk melemparkan kotak mainan Deniz ke dalam periuk yang menyala.
"Aku tidak ingin pria itu mendekati Deniz! Cukup dia berurusan denganku!" seru Ivy yang berusaha melepaskan dirinya dari pegangan tangan Nur.
"Mainan itu milik Deniz, kau tidak bisa membuangnya. Katakan pada anak itu yang sebenarnya," ucap Nur yang menarik Ivy agar menjauh dari kobaran api.
"Lepaskan tanganku!" teriak Ivy yang berusaha menggoncang tangan Nur.
Kenan segera menghampiri kedua wanita itu. Melalui matanya ia memberikan isyarat agar Nur melepaskan tangannya dari tangan Ivy. Ia segera memeluk putri Victor dan menyandarkan kepala berambut cokelat gelap itu ke dadanya.
Ivy hanya bisa mencengkeram kaos Kenan untuk melampiaskan amarahnya saat ini.
"Tenangkan dirimu," bisik Kenan dengan lembut, ketika ia merasakan tubuh Ivy bergetar karena menahan air matanya. Tangan kekar itu mengusap punggung Ivy naik turun.
Setelah beberapa waktu lamanya, emosi Ivy mulai reda. Kenan segera melepaskan pelukannya dan mengusap wajah Ivy dengan lembut.
"Apa yang dikatakan Nur itu benar. Jangan hukum Deniz dengan membuang mainannya. Anak itu tidak tahu apa-apa," ucap Kenan sambil memegang kedua lengan Ivy.
Bibir tipis itu tampak tertutup rapat. Manik mata hijau yang memerah itu menatap wajah Kenan. Pikirannya mencoba memahami perkataan kedua orang yang usianya jauh lebih tua darinya.
Kini giliran hati Kenan yang mulai gelisah ketika ia mengambil kotak mainan itu dari tangan Ivy. Ia menatap kotak itu dengan seksama.
Hadiahku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mainan mahal ini. Pria itu mampu memberikan apa yang Ivy dan Deniz perlukan saat ini.
* BERSAMBUNG *
__ADS_1
Jangan lupa setelah baca kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏