
Pertanyaan Mehmet itu akhirnya terjawab ketika pria itu membuka topi merahnya. Tampak sebuah wajah yang tidak asing bagi Ivy dan Mehmet. Saksi yang didatangkan Hazal adalah pengemudi kapal motor yang menemukan dan menolong Kenan saat putra Harun itu ditenggelamkan di perairan. Istri Yafet itu berhasil menemukan pria itu setelah pencariannya selama beberapa hari menyusuri setiap sudut dermaga.
“Pria ini adalah saksi saya, Yang Mulia,” ucap Hazal sembari ia memberikan laporan medis Kenan sewaktu pria itu di rawat di rumah sakit dekat dermaga kepada sang Hakim.
Setelah dipersilahkan oleh Hakim, Jaksa Onur langsung membabat habis saksi yang diajukan Hazal dengan pppertanyaan-pertanyaan yang memojokkan dan menjebak.
“Apa kau yakin pria yang ada di foto ini adalah pria yang menganiaya terdakwa?” desak Jaksa Onur yang menunjukkan foto Ferit kepada saksi.
Pria itu terdiam untuk beberapa saat ketika ia mengamati selembar foto yang ditunjukkan kepadanya. Kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Mehmet dan Kenan yang duduk di belakangnya. Tampak ada sedikit keraguan di mata pria itu. Saksi itu memilih diam ketimbang menjawab pertanyaan sang Jaksa.
“Saksi tidak bisa menjawab pertanyaan, Yang Mulia. Kesaksiannya juga pasti diragukan!” Jaksa Onur mengambil kembali foto Ferit.
Hazal menggelengkan kepalanya menatap saksi yang ia bawa, dirinya yakin ia membawa orang yang tepat. Sebelum sidang, pria itu mengatakan bahwa dirinya melihat kejadian itu dan bersedia menjadi saksi di persidangan. “Kenapa mendadak semuanya berubah? Pasti ada yang tidak beres!”
“Keberatan, Yang Mulia!” seru Hazal yang langsung mengangkat salah satu tangannya.
“Apa yang Anda sanggah, Pembela Hazal? Bukankah sudah jelas saksi yang Anda bawa tidak mengenali Ferit Kozan. Itu berarti tuduhan yang mengatakan bahwa korban adalah seorang penjahat dan telah menganiaya terdakwa itu tidak benar!” serang Jaksa Onur.
Entah sudah berapa kali Jaksa Kepala itu berusaha mematahkan pembelaan Hazal dan berusaha membelokkan penilaian Hakim.
“Boleh saya lihat foto siapa yang Anda tunjukkan kepada saksi?” Hazal berdiri di depan jaksa senior itu. Instingnya mengatakan pasti ada kesalahan dengan foto itu.
Setelah melihat foto yang diberikan Jaksa Onur, sebuah senyum terukir dari bibir merahnya. Ia memperlihatkan foto itu kepada Kenan dan Mehmet. Keduanya mengakui bahwa pria di foto itu adalah Ferit Kozan.
“Foto ini memang benar foto Ferit Kozan.” Hazal mengangkat tinggi foto yang ada di tangannya, membuat semua orang dapat melihat wajah tersebut, termasuk juga sang Hakim.
__ADS_1
“Tetapi ini adalah foto terbaru almarhum. Dimana rambut pria tersebut sudah pendek dan sewaktu penganiayaan itu terjadi, rambut Ferit Kozan masih panjang dan berkuncir. Apa pria ini yang kau lihat?” tanya Hazal ketika menunjukkan foto yang lain kepada saksi. Pengacara wanita itu mengambil foto lama Ferit Kozan di situs Perusahaan Kozan.
"Ini baru benar! Dia dan orang-orangnya memukuli dan menenggelamkan pria itu!” Saksi yang dibawa Hazal itu menunjuk Kenan. “Setelah beberapa menit kemudian, baru datanglah pria gundul ini untuk menolongku mengangkat tubuh pria itu.”
Hazal memberikan dua lembar foto Ferit kepada Hakim. Pemimpin sidang itu mengamati dua foto yang ada di tangannya dan menyetujui perkataan Hazal. Persetujuan itu langsung membuat Jaksa Onur kembali ke tempat duduknya.
Kali ini Hazal meminta Cansu memberikan kesaksiannya tentang pemerkosaan yang dilakukan oleh Ferit. Putri Sophia itu berusaha mengingat apa yang terjadi, di saat ia di culik, tetapi yang bisa ia katakan hanya setelah malam itu berlalu. Di saat ia melihat Ferit sudah berada di dalam kamar hotel bersamanya.
Namun, kesaksian Cansu langsung dipatahkan oleh sang Jaksa. Pria paruh baya itu mengatakan bahwa Cansu tidak melihat sendiri bahwa Ferit yang melakukan hal itu.
“Bisa saja pria lain atau kekasihnya sendiri yang melakukannya, kemudian keesokan harinya korban masuk ke dalam kamar hotel. Siapa yang percaya hal ini, tidak ada saksi yang melihat pemerkosaan itu dilakukan. Bisa saja Nyonya Dundar dan Tuan Ferit melakukan hal itu atas dasar suka sama suka!”
“Dasar Jaksa, Keparat! Bagaimana jika itu terjadi pada putrimu, hah?” Mehmet mulai terpancing emosinya.
mereka yang mempercayainya.
“Aku berbicara berdasarkan bukti bukan berdasarkan perasaan, Terdakwa Mehmet! Jika kejadian pemerkosaan itu benar-benar terjadi berikan pengadilan ini sebuah bukti!” pekik Jaksa Onur dengan suaranya yang lantang, namun ekspresi wajahnya tetap datar.
“Bukti itu ada di tanganku, Jaksa Onur!” seru Hazal yang memberikan rekaman CCTV Hotel Dinasty.
Rekaman video di hotel itu memperlihatkan kedatangan Cansu yang digendong oleh seorang pria memasuki sebuah kamar dan kedatangan Ferit serta Hasan beberapa menit kemudian. Namun, Hakim menolak rekaman video itu dijadikan bukti pemerkosaan, karena hanya terlihat bahwa beberapa orang pria memasuki sebuah kamar hotel.
“Pihak Pembela, bisakah Anda memberikan bukti visum kekerasan pada selaput dara saksi, ceceran ****** milik Tuan Ferit saat kejadian pemerkosaan itu terjadi atau rekaman CCTV yang ada di dalam kamar hotel?”
Pertanyaan sang Hakim langsung membuat Jaksa Onur menaikkan sudut bibirnya ke atas, tetapi reaksi berlawanan justru yang ditampilkan oleh Hazal. Pengacara wanita itu menundukkan kepalanya dengan lesu, sementara Mehmet tampak mengepalkan kedua telapak tangannya. Pria gundul tersebut memikirkan betapa sulitnya memberikan keadilan bagi istrinya.
__ADS_1
“Tidak ada, Yang Mulia.” Hazal menggelengkan kepalanya.
“Sa…saya tidak tahu kalau visum itu sangat… sangat penting. Pagi itu, setelah saya… keluar dari Hotel Dinasty, saya langsung pulang ke rumah untuk… mandi,” jelas Cansu dengan nada suaranya yang terbata-bata.
“Berarti tuduhan pemerkosaan itu tidak mendasar, Yang Mulia! Bisa saja ini hanyalah karangan mereka saja, yang membuat citra buruk untuk seorang Ferit Kozan!” Jaksa Onur langsung bangkit berdiri dan menuding Mehmet.
“Ini benar!” jerit Cansu sambil menutup kedua telinganya.
“Aku akan merobek mulutmu, Jaksa!” teriak Mehmet dengan manik matanya yang melotot.
Pria berkulit gelap itu melompati pagar kayu yang mengurungnya dan berlari hendak memukul kepala Jaksa tersebut, tetapi beberapa petugas lebih dulu menahan tangan dan tubuhnya.
“Keluarkan terdakwa Mehmet dari ruang sidang!” titah sang Hakim kepada beberapa orang petugas. Seiring petugas membawa Mehmet keluar, umpatan demi umpatan meluncur dari mulutnya meneriaki Jaksa Onur.
“Kau, Jaksa yang tidak punya hati nurani!” teriak Cansu sambil bangkit berdiri dengan deraian air matanya, kemudian kembali ke tempat duduknya di belakang.
Tidak ada perkataan balasan, tidak ada senyuman bahkan tidak ada raut wajah yang mengesankan kepuasan yang ditampilkan oleh Jaksa Onur. Jaksa pria paruh baya itu hanya menampilkan wajahnya tanpa ekspresi—seperti setiap harinya.
Hazal terduduk di atas kursinya dalam diam—pengacara itu menyayangkan tindakan yang diambil oleh Mehmet. Namun, dirinya juga tidak menyetujui perkataan Jaksa Onur. Ia menatap wajah sang Jaksa, sambil memikirkan strategi apa yang akan ia gunakan untuk memenangkan kasus ini.
Kau benar-benar berhasil membalikkan semua keadaan ini, Tuan Onur. Kau yang mengajariku untuk bertahan, tapi kau juga yang mengajariku untuk menyerang. Kali ini aku akan mengerahkan semua kemampuanku.
Kini kedudukan dirinya dan Jaksa Onur adalah seri—satu sama. Hanya tersisa satu kartu AS yang dimiliki Hazal, yaitu kesaksian Ivy. Dari tempatnya, Kenan tak henti-hentinya menatap mantan istrinya yang sedang beradu pandang dengan Jaksa Onur, dua orang di depannya itu seperti sedang berperang dalam telepati mereka.
...****************...
__ADS_1