Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Setelah kepergian Victor Eleanor


__ADS_3

Kepergian Victor Eleanor meninggalkan suatu kepedihan di hati Ivy. Setelah pemakaman selesai, wanita itu hanya duduk termenung di atas ranjang. Sebuah pigura kayu berwarna coklat tua berada dalam pelukannya. Sesekali ia menatap wajah pria paruh baya yang ada di dalam pigura itu. Senyuman hangat yang selalu diberikan pria itu kepadanya dan kepada adiknya. Deniz Eleanor.


Hari ini sudah hari ketiga setelah kematian Victor. Suasana duka masih menyelimuti rumah dua lantai tersebut. Sophia, sang nyonya rumah kini kembali menjanda untuk yang kedua kalinya. Wanita berusia lima puluh tahun itu tak mengira, secepat ini suaminya meninggal. Beban hidupnya kian bertambah, ia harus menjaga dua anak tirinya dan anak kandungnya sendiri. Ditambah lagi hutang perusahaan Eleanor yang belum lunas.


Sophia duduk termenung di ruang keluarganya. Ia sedang menopang dagunya di atas pangkuannya.


Apa yang harus aku lakukan? Victor tidak meninggalkan sesuatu yang bisa membuatku bertahan hidup.


Suara bel rumah berbunyi memudarkan lamunannya. Nyonya rumah itu berdiri dan berjalan untuk membuka pintu.


Tiga orang laki-laki berdiri dihadapan Sophia. Satu orang memakai pakaian formal dengan perawakannya yang kecil. Sementara dua orang lainnya dengan perawakan tinggi besar.


"Apa ini rumah kediaman keluarga Eleanor?" tanya pria berperawakan kecil tersebut. Pria itu sedang mengapit sebuah amplop besar berwarna coklat.


"Ya. Saya Sophia Eleanor. Anda?" Sophia ragu-ragu untuk menjawab. Dia hanya mengernyitkan keningnya. Di benaknya timbul berbagai pertanyaan melihat ketiga orang asing tiba-tiba datang ke rumahnya.


Wanita berambut merah itu membaca sebuah nama perusahaan penagihan yang tertulis di baju seragam kedua orang pria berperawakan besar.


Jangan-jangan mereka akan....


Wajah Sophia mendadak pucat dan menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Nyonya Sophia, kami turut berdukacita atas meninggalnya Tuan Eleanor." Pria berperawakan kecil itu mengulurkan tangannya kepada wanita itu.


Sophia membalas uluran tangan pria itu. "Ya. Terimakasih. Apa ada hal yang ingin Anda bicarakan?"


Pria itu memberikan amplop coklat kepada Sophia. Ibu tiri Ivy itu mengambil kertas yang ada di dalam amplop tersebut. Manik matanya masih dapat melihat jelas deretan-deretan huruf yang berbunyi perintah untuk mengosongkan rumahnya.

__ADS_1


"Apa ini? Kalian tidak bisa memaksa kami untuk keluar dari rumah ini!" seru Sophia dengan lantang.


"Maaf Nyonya Sophia. Ini sudah konsekuensi yang harus di tanggung oleh keluarga Eleanor. Almarhum Tuan Victor sudah menjaminkan rumah ini untuk mengambil pinjaman uang pada pihak bank. Kini batas pembayaran sudah berakhir, Tuan Victor masih belum melunasi hutang dan bunganya." Pria itu berusaha memberikan jeda, agar perkataannya bisa di cerna oleh Sophia.


"Dengan sangat terpaksa, pihak bank akan mengambil alih kepemilikan rumah ini. Kami akan mengeluarkan semua barang-barang," lanjut pria tersebut.


Tubuh Sophia mendadak lemas. Ia menyandarkan dirinya di dinding sebelah pintu. Apa yang ia takutkan ternyata terjadi. Ketiga pria itu berjalan memasuki rumah melewati Sophia. Mereka mulai menyisir tiap ruangan yang ada di lantai bawah.


"Ibu, siapa mereka?" terdengar suara Ivy dan Cansu bersamaan, ketika mereka menuruni anak tangga. Kedua putri Eleanor itu melihat ketiga orang pria sedang mengangkat lemari besar yang di gunakan untuk partisi ruang tamu dan ruang tengah.


Sophia masuk ke dalam dengan pikiran yang kusut. Ia memberikan surat dari pihak bank itu kepada Cansu. Kedua wanita muda itu tercengang begitu melihat tulisan tersebut.


Ivy dan Cansu segera berlari mendekati orang-orang itu yang hendak mengangkat jam berdiri dengan ukiran kayu jati berwarna putih. Jam setinggi 180 sentimeter itu adalah peninggalan ibu kandung Ivy.


"Jangan bawa jam itu!" cegah Ivy sambil menarik tangan salah satu dari mereka.


Satu per satu perabot dalam rumah itu sudah berpindah ke atas truk.


"Semua ini salahmu, Ivy!" seru Sophia sambil menatap tajam wajah anak tirinya. Ivy hanya berdiri dengan penuh tanda tanya besar.


"Ibu!" seru Cansu. "Kenapa Ibu menyalahkan Ivy?"


"Jika saja kau tidak lari di hari pernikahanmu, tentu Ferit tidak akan membatalkan bantuannya! Pria itu akan membantu perusahaan ayahmu! Dan kita tidak akan kehilangan rumah ini!" teriak Sophia hingga membuat Nur yang berada di dapur keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Mendengar perkataan Sophia, membuat jantung Ivy seakan hendak melompat dari tempatnya. Selama ini ia tidak mengerti alasan ayahnya memaksanya untuk menikah dengan Ferit. Ia pikir ini hanyalah soal perjodohan biasa. Seandainya saja dirinya mengetahui alasan sebenarnya, mungkin ia akan berpikir dua kali untuk lari meninggalkan Ferit di altar pernikahan.


"Tak ada gunanya, kau menangis! Semua sudah terjadi! Ayahmu, perusahaan dan rumah ini sudah tidak ada lagi!" seru Sophia yang melihat Ivy berjongkok sambil mengusap air matanya di depan dinding.

__ADS_1


Nur segera menghampiri Ivy dan mengangkat tubuh wanita muda itu. Juru masak itu memapah putri majikannya ke kamar.


Sophia terduduk dengan raut wajah tegangnya. Ia belum bisa menerima perubahan yang baru saja terjadi di dalam hidupnya.


"Nona, pihak bank memberi waktu tiga hari untuk segera meninggalkan rumah ini. Kami harap kerjasama kalian," ucap pria berpakaian formal itu kepada Cansu.


Cansu hanya menganggukkan kepalanya pelan, ia melihat seluruh perabot yang belum terangkut itu telah tertutup dengan kain putih. Air matanya mengalir ketika melihat kepergian orang-orang itu.


"Darimana kami bisa mendapatkan rumah baru dalam waktu tiga hari?" gumam Cansu sambil menutup pintu rumahnya.


Sementara itu di dalam kamar, Nur memberikan segelas air putih kepada Ivy untuk menghilangkan rasa terkejutnya.


"Jangan dengarkan wanita itu, ia selalu menyalahkan siapa saja," ucap Nur. Wanita gembul itu mendudukkan dirinya di depan Ivy yang terduduk di atas ranjangnya.


Pelayan rumah itu sudah merawat Ivy dan Deniz sejak mereka masih kecil. Kedua anak kandung Victor itu sangat menyayangi Nur, karena ketika ibu kandung mereka meninggal hanya wanita ini yang selalu berada di dekat mereka. Hingga suatu hari, tepatnya sepuluh tahun yang lalu, ayah mereka menikah dengan seorang janda beranak satu.


Sophia, wanita dengan sejuta misteri. Begitulah pandangan Nur kepada nyonya barunya. Ketika tuannya masih berjaya, istri baru Victor itu bersikap sangat baik kepada dua anak tirinya. Tetapi mata tidak bisa menipu, begitu juga Nur yang tidak pernah mempercayai setiap perkataan Sophia.


"Yang dikatakan wanita itu benar, Nur. Aku yang menyebabkan semua ini terjadi," ucap Ivy dengan lirih.


"Itu tidak benar, sayang. Kau jangan menyalahkan dirimu. Masih ada Deniz yang membutuhkanmu." Nur memegang tangan putri majikannya itu.


"Aku belum memberitahu Deniz kalau ayah sudah meninggal." Perkataan Ivy membuat hati Nur kian trenyuh, membayangkan anak laki-laki itu kehilangan kedua orang tuanya. Sedangkan anak itu sendiri tengah berjuang melawan penyakitnya.


"Jika masalah rumah ini sudah selesai, kau bisa memberi tahu Deniz," tutur Nur yang dibalas senyuman getir yang keluar dari bibir Ivy.


* Bersambung *

__ADS_1


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima, dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2