
Sejauh mana kau berlari. Di dalam ruangan tergelap sekalipun kau menyembunyikan dirimu. Kau tidak akan pernah menemukan ketenangan dan kebahagiaan. Timbunan tanah akan mengeluarkan tubuhmu, langit akan menunjukkan jati dirimu dan embusan angin akan menyebarkan segala kebusukan mu. Seorang pecundang akan terus berlari dan menyembunyikan dirinya, tetapi seorang pahlawan akan tampil dengan keperkasaannya.
Setelah tidak berhasil kabur ke Paris, kini Ferit tinggal di sebuah kota kecil yang letaknya tidak jauh dari Kota Istanbul. Berbekal dari uang tabungannya yang bisa ia selamatkan, Ferit menyewa sebuah rumah kecil di kota tersebut. Pria berambut coklat itu memangkas rambut panjang dan jenggotnya. Penampilannya saat ini seperti pria pada umumnya berambut pendek, berkumis dan bercambang tipis.
Tali temali itu saling bersatu untuk mengikat sepasang sepatu kets yang membungkus kedua kakinya. Tubuh kekar itu bersembunyi di balik kemeja jeans berwarna biru. Dikenakannya sebuah kaca mata hitamnya untuk menyamarkan penampilannya. Pantulan cermin itu menampilkan sosok yang berbeda dari sebelumnya.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam membuat penampilan Ferit di kota itu terlihat mencolok. Tetapi bagi Ferit menjual mobil kesayangannya sama saja dengan mematahkan kedua kakinya saat ini. Kepulan asap kecil menyentuh wajahnya ketika penutup botol itu terlepas dari tubuh kacanya. Cairan berwarna coklat keemasan itu meluber keluar membasahi tangannya. Jakun di lehernya tampak naik turun seiring bibir botol itu menyentuh bibirnya.
“Berapa semuanya?” tanyanya kepada seorang pelayan yang bekerja di kedai tersebut.
Pelayan wanita itu menyebutkan menyebutkan sebuah nominal angka kepada Ferit.
“Berikan aku beberapa bungkus mie instan untuk kembaliannya.” Ferit memberikan selembar uang Lira kepada pelayan tersebut.
“Baik, Tuan.” Pelayan itu mengambil botol bekas minuman Ferit dan beberapa menit kemudian, ia pun kembali menghampiri meja tersebut dengan membawa sebuah tas plastik yang berisi lima bungkus mie instan.
Tas plastik yang berisi lima bungkus mie instan itu mendarat dengan sempurna di kursi belakang mobilnya. Kini manik mata coklat itu mengalihkan pandangannya kepada sebuah kios yang berada di seberang. Sebuah kios yang menjual tabloid dan Koran.
Ferit mengambil surat kabar hari ini. Ia membuka halamannya satu per satu. Manik mata coklat itu bergerak menjelajahi tulisan demi tulisan, mulai dari halaman utama hingga halaman belakang. Sekitar dua minggu ini, ia tidak melihat foto dirinya tersebar di surat kabar maupun berita online.
Apa mungkin polisi sudah menutup kasusnya? Baguslah jika itu terjadi, aku bisa menyusun rencana ku yang baru untuk mendapatkan Ivy kembali. Aku tak peduli dia sudah menikah atau tidak!
Dua sosok pria berjaket kulit yang berdiri tak jauh dari tempat Ferit mulai memusatkan perhatiannya kepada pria itu. Mereka mengarahkan pandangannya secara bergantian pada selembar foto dan sosok pria berambut pendek yang sedang berdiri di depan sebuah kios.
“Bagaimana menurutmu?”
“Rambut dan penampilannya berbeda. Pria yang di foto itu terlihat garang, sedangkan yang di sana itu seperti pria baik-baik.”
“Bisa saja kau ini. Tidak ada pria baik-baik di dunia ini! Hahaha.... Sebaiknya aku menghubungi Bos Mehmet."
“Pakai ponselku saja. Pulsa gratisku masih banyak.
Ketika Ferit baru saja mengembalikan surat kabar itu kepada sang penjual, salah satu anak buah Mehmet menghubungi Mehmet di Istanbul. Sementara rekannya yang lain terus memperhatikan Ferit.
“Bos, aku baru saja melihat orang yang kita cari selama ini.”
“Dimana kau melihatnya?”
“Kami melihatnya di sebuah kota kecil dekat Istanbul.” Pria itu melihat sudah berada di seberang, sedangkan pria yang menjadi target mereka sudah masuk ke dalam mobil hitamnya.
“Ikuti orang itu dan cari tahu dimana tempat tinggalnya. Pastikan bahwa dia adalah orang yang kita cari selama ini!
“Baik, Bos.”
Mobil mewah berwarna hitam itu telah melaju menjauhi kios tersebut. Kedua anak buah Mehmet segera melompat ke dalam mobilnya. Mereka mengikuti mobil mewah itu dari jarak yang agak jauh. Ada dua mobil yang ada di depan mereka. Pandangan keduanya terus memburu mobil mewah tersebut.
Kini mobil hitam itu berbelok ke sebuah jalan yang agak kecil. Mereka pun mengikutinya. Di jalanan yang sempit itu, hanya ada dua mobil yang ada di sana. Dari kaca spionnya, Ferit melihat sebuah mobil Jeep berwarna biru ada di belakangnya.
“Jangan dekat-dekat, pria itu bisa curiga!” seru rekannya yang duduk di samping kemudi. Pengemudi mobil Jeep itu
menurunkan kecepatannya saat kendaraannya berada di ujung jalan, sementara mobil hitam itu sudah berbelok ke kiri meninggalkan mereka.
“Hei, dimana mobil hitam itu?”
Mereka kini berada di jalan raya yang besar, yang bisa dilalui oleh dua jalur kendaraan. Beberapa kendaraan roda empat berlalu lalang di sana. Mereka tidak melihat mobil mewah itu di sana.
__ADS_1
“Hilang sudah! Kau menyuruhku untuk jangan dekat-dekat! Lihat! Pria itu menghilang sekarang!” pekik sang pengemudi mobil yang melampiaskan kekesalannya dengan menekan persneling mobilnya dengan kasar.
“Hei! Kau jangan menyalahkanku! Kau juga punya mata untuk melihat!”
Pengemudi mobil Jeep itu mendengus setelah mendengar ocehan temannya yang tidak bermutu. Ia mencoba peruntungannya untuk mengikuti jalur jalan itu. Lurus ke depan, siapa tahu di ujung jalan dirinya bertemu dengan mobil mewah itu.
Seberkas cahaya kemerahan mulai menyeruak menghiasi cakrawala. Sang senja telah hadir di depan pelupuk mata semua orang. Beberapa pegemudi mobil mulai merenggangkan kedua kakinya ketika kendaraan mereka berhenti di perempatan jalan. Ada gunanya juga lampu lalu lintas itu mengeluarkan cahaya merahnya.
“Hei! Itu dia mobilnya!” seru sang pengemudi itu ketika dilihatnya mobil mewah itu berhenti di arah jarum jam satu. Ia merenggangkan otot jari tangannya sembari menunggu lampu lalu lintas berganti hijau.
“Ayo kejar dia!” seru rekannya. “Cepat! Jangan sampai dia menghilang lagi!”
“Mulutmu itu seperti wanita saja! Diamlah! Aku sedang mengejarnya!”
Mobil Jeep itu bergerak seiring dengan kendaraan di depannya juga bergerak. Mereka mengambil jalur yang sama dengan yang diambil oleh mobil hitam tersebut. Mengikutinya kemana pun mobil itu melaju. Ferit melihat mobil Jeep biru itu kembali berada di belakang mobilnya, namun pria itu hanya menaikkan kedua sudut bibirnya ke atas. Tangannya mengubah kaca spionnya agar memudahkannya untuk mengawasi mobil biru tersebut.
Hingga sampailah mereka berada di sebuah daerah yang jauh dari pemukiman penduduk. Sebuah daerah yang jauh dari pusat kota. Tidak banyak rumah yang dibangun di atas tanah itu. Di sepanjang jalan itu hanya ada lima rumah dengan jarak yang saling berjauhan. Pohon-pohon tinggi dan rumput-rumput ilalang menjadi pemisah antar rumah.
Mobil mewah itu berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan deretan tangga kayu yang ada di depannya. Tanpa tetangga di kiri kanannya. Sementara pengemudi mobil Jeep itu menghentikan kendaraannya tidak jauh dari mobil Ferit. Mereka melihat pengemudi mobil mewah itu keluar dari kendarannya dan menapaki satu persatu anak tangga yang membawanya masuk ke dalam rumah. Cahaya kuning mulai menyala dari sebuah lampu gantung yang ada di beranda rumah.
“Ternyata kau pintar juga, diam-diam mengambil foto orang itu.” Sang pengemudi mobil Jeep itu terkekeh melihat ulah temannya.
“Aku akan mengirimkan foto pria itu dan foto mobilnya kepada Bos Mehmet.” Beberapa detik kemudian terdengar suara notifikasi pesan terkirim dari ponselnya.
“Apa yang kita lakukan sekarang?”
“Kita tunggu saja di sini sambil menunggu perintah Bos.”
Di dalam rumah kecil dengan dinding dan lantainya yang terbuat dari kayu, sepasang manik mata coklat itu menatap awas mobil Jeep yang ada di luar. “Ternyata mobil Jeep itu memang mencurigakan. Datanglah kemari maka aku akan menyambut kalian semua!”
memperbesar tampilan foto yang ada di ponselnya, karena foto itu diambil dari jarak yang jauh. Diusapnya wajah berkulit gelap itu dengan kasar. Ia meletakkan telapak tangannya di mulutnya, sambil berpikir.
Apa ini mobil si pengacau itu? Aku tidak terlalu mengingatnya. Pria ini berambut pendek dan warna rambutnya juga lebih gelap dari sebelumnya.
Ia mengusap dagunya yang licin tanpa dipenuhi bulu-bulu di sekitarnya. Manik matanya mencari keberadaan Cansu yang kini membantunya bekerja di kafe. Wanita itu ada di meja kasir dan sedang melayani pengunjung yang akan membayar tagihan makanan dan minuman mereka. Sekilas pandangan mereka saling bertemu, dan istrinya melemparkan sebuah senyuman ke arahnya.
Setelah pengunjung kafe itu selesai membayar dan melihat suasana kafe yang agak sepi, Mehmet melambaikan tangannya ke arah Cansu. Wanita muda yang mengenakan baju atasan berwarna hitam dan celana jeans putih itu menghampiri meja kayu tempat suaminya duduk.
“Ada apa?” Cansu mendudukkan dirinya di samping kursi Mehmet. Ia melihat suaminya sedang mengayunkan ponselnnya dengan jari tangannya.
“Anak buahku mengirimkan beberapa foto yang mereka curigai orang itu adalah si pengacau itu.” Mehmet menunggu reaksi Cansu, apakah istrinya itu marah, menangis atau diam saja.
“Aku serahkan semuanya padamu. Aku sudah menganggap pria biadab itu sudah mati sejak dulu,” ucap Cansu seraya ia menelungkupkan kelima jarinya di sela-sela jari suaminya.
Pria gundul itu menarik tubuh istrinya menempel padanya. Sebuah kecupan mesra mendarat di puncak kepala wanita itu. Dari bibir coklatnya, ia berbisik, “Aku janji, aku akan memberikan keadilan bagimu.
Cansu mengamati foto yang diberikan Mehmet kepadanya dan memperbesar layar ponsel tersebut.
“Bagaimana? Apa pria yang di foto itu adalah si biadab itu?” tanya Mehmet.
“Entahlah, aku juga sedikit ragu. Kalau mobilnya aku tidak pernah melihat mobilnya, tapi kalau pria itu….” Cansu memejamkan matanya, mengingat kejadian pagi hari di hotel setelah dirinya sadar.
“Kau tak apa?” Mehmet melihat istrinya memejamkan matanya dengan sangat kuat dan memegang kepalanya.
“Hanya… hanya waktu itu aku melihatnya… sedekat itu.” Cansu membuka kelopak matanya. “Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya mencoba mengingat wajahnya.
__ADS_1
Selama ini dirinya hanya melihat sekilas wajah Ferit. Dalam satu tahun setengah ini, ia hanya bertemu pria itu di kantor almarhum ayah tirinya dan di pernikahan Ivy yang batal. Perkataan Cansu itu membuat Mehmet mengatupkan bibirnya dan mengarahkan pandangannya pada pantulan cahaya lampu yang jatuh pada deretan gelas minuman yang tergantung di atas lemari.
“Sepertinya aku tahu, siapa yang bisa mengenali pria di foto ini!” seru Cansu dengan manik mata birunya yang bersinar bak air laut yang terkena kemilau cahaya matahari.
“Siapa?” Mehmet langsung menoleh menatap istrinya.
“Ivy. Ya… dia pasti mengenali pria yang ada di foto ini.”
“Aku akan menghubungi Kenan untuk memberitahu dia bahwa kita akan ke apartemennya.” Mehmet mengambil ponselnya dan segera menghubungi sahabatnya itu.
Sang rembulan mulai menaikkan wujudnya ke langit yang gelap. Namun, tubuh bulatnya tertutup sebagian oleh gumpalan awan yang tak memberinya kesempatan untuk menunjukkan jati dirinya. Baginya tak masalah karena dirinya hanyalah penguasa malam yang tak mempunyai kekuatan untuk bercahaya.
Beberapa orang pengunjung masih terlihat antri untuk membayar tagihan makanan dan minuman mereka. Jari tangan Cansu sibuk menghitung lembaran uang kertas dan menekan tombol-tombol mungil pada mesin hitungnya. Mesin printer di depannya langsung memuntahkan selembar kertas kecil, begitu wanita itu menekan satu tombol merah yang tertanam pada keyboard mesin tersebut.
Sebuah tulisan ‘tutup’ terpampang jelas pada daun pintu kaca. Suara dentingan peralatan makan dan peralatan memasak saling berbenturan. Beberapa pekerja kafe masih disibukkan dengan membersihkan meja kafe dan piring-piring kotor di dapur. Mehmet sedang menghitung jumlah persediaan bahan makanan yang ada di lemari pendinginnya. Sejak dirinya menikah dengan Cansu, istrinya itu cukup banyak membantunya di kafe. Ia menyerahkan semua pembukuan kafe kepada wanita itu.
Hampir mendekati pukul dua belas malam, lampu kafe itu di padamkan. Seluruh penghuninya telah berpulang ke rumah mereka masing-masing kecuali pemilik kafe itu yang masih mengukur panjangnya jalan raya Kota Istanbul di tengah malam. Beruntung gedung Apartemen Falea berada di seberang tempat tinggalnya.
Kenan langsung berjalan ke arah pintu apartemennya begitu ia mendengar suara bel berbunyi. Jika Mehmet tidak memberitahu sebelumnya, mungkin pria gundul itu akan menungu berdiri beberapa jam di depan pintu. Pegangan pintu itu diputar dan daun pintu itu terbuka menampilkan dua sosok manusia dengan wajahnya yang terlihat lelah berdiri di depannya.
“Masuklah.” Kenan mengarahkan kepalanya ke arah dalam ruangan. Sepasang suami istri itu pun melangkahkan kakinya dan mendaratkan tubuh mereka di atas sebuah sofa yang empuk berwarna hitam pekat.
“Duduklah, aku akan memanggil Ivy.”
Terdengar suara langkah kaki yang mendekati mereka, membuat Cansu dan Mehmet mengarahkan pandangannyan kepada sosok wanita berambut coklat dengan wajahnya yang sedikit pucat.
“Halo Cansu…. Halo Mehmet… Bagaimana kabar kalian?” tanya Ivy yang menyambut kedatangan saudara-saudaranya itu dengan senyumannya yang ramah. Seperti biasanya, wanita itu selalu ceria. Kenan mengajaknya untuk duduk di sampingnya.
“Ya, kabar kami baik. Wajahmu sedikit pucat, apa kau sakit?” Cansu tampak tidak enak hati, karena mengganggu waktu istirahat mereka.
Sebuah tawa kecil itu keluar dari bibir tipis wanita itu seiring dengan gelengan kepalanya. Manik mata hijau itu melirik suaminya. “Semua ini karena ulahnya.”
“Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia memukulimu?” Mehmet mencondongkan tubuhnya. Di depannya ada sebuah meja kaca berbentuk persegi panjang yang memisahkan tempat duduknya dengan tempat duduk Kenan. Cansu juga tampak memperhatikan Kenan dan Ivy.
“Apa aku setega itu kepada ibu dari anakku?” Kenan mengusap rambut belakang Ivy dengan lembut.
“Kau hamil?” tanya Cansu dan Mehmet bersamaan.
Ivy menganggukkan kepalanya dengan senyumnya yang lebar. “Dan kalian akan menjadi Paman dan Bibinya.”
Cansu langsung bangkit berdiri dan memeluk Ivy untuk mengucapkan selamat kepadanya. Dari tempat duduknya Mehmet hanya menujukkan kepalan tangannya dan tertawa kepada Kenan.
“Oh iya, ngomong-ngomong ada apa kalian malam-malam kemari?” tanya Ivy setelah Cansu kembali ke tempat duduknya.
Mehmet menceritakan tentang temuan anak buahnya hari ini. Ia juga meminta Ivy untuk melihat foto seorang pria dan sebuah mobil yang ada di ponselnya, yang ia curigai pria itu adalah Ferit.
“Kau pasti mengenali wajahnya meskipun dia sudah mengubah penampilannnya,” ujar Mehmet.
Ivy memalingkan wajahnya menatap Kenan seakan ia sedang bertanya pada suaminya. Putra Harun itu hanya menganggukkan kepalanya dan memberikan ponsel Mehmet kepada istrinya.
Sama seperti dua orang sebelumnya, Ivy juga memperbesar tampilan layar ponsel itu. Manik mata hijau itu menatap dengan seksama wajah pria berambut pendek dengan bulu cambang dan kumisnya yang tipis. Kemudian ujung jarinya menggeser layar ponsel tersebut, tampak foto belakang sebuah mobil mewah berwarna hitam. Ia memperbesar pelat nomor yang terpasang di belakang mobil itu dan….
“Ini mobil Ferit!” pekik Ivy yang membuat ketiga orang itu terkejut dan memusatkan perhatian mereka kepadanya. “Tak salah lagi, pria ini adalah… Ferit Kozan!”
...****************...
__ADS_1