Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Pria Idiot


__ADS_3

Ivy dan Kenan tiba di Rumah Sakit Istanbul ketika waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dengan perasaan yang cemas, Ivy berjalan menuju ke ruang UGD.


"Bagaimana keadaan Deniz," bisik Ivy kepada Nur ketika ia membuka tirai ruangan itu.


"Tadi kondisi sempat memburuk. Dokter minta untuk segera dilakukan kemoterapi secepatnya," ucap Nur dengan pelan. Ia masih memandangi wajah Deniz yang masih tertidur. "Dia sempat bangun dan mencarimu."


"Sebaiknya kau pulang ke rumah. Aku akan menjaga Deniz malam ini. Kau jangan khawatir, aku sudah mendapatkan uang untuk biaya pengobatan Deniz," ucap Ivy sambil memegang salah satu tangan Nur. Raut wajah wanita gembul itu terlihat lelah.


Nur menarik tangan Ivy agar menjauh dari ranjang Deniz. "Apa kau mendapatkan uang itu dari Ferit?"


Ivy menggelengkan kepalanya dan mengangkat kedua bahunya. Seolah mengatakan, uang itu bukan dari Ferit.


"Aku tidak jadi menemuinya. Ini bantuan dari Kenan." Ivy mengarahkan pandangannya kepada Kenan. Pria itu tersenyum setelah mendapat tatapan mata dari Nur.


Manik mata Nur yang semula memerah karena menahan kantuk, mendadak menjadi bersinar terang.


"Kau membawa pulang Ivy ku saja sudah membuatku senang, dan sekarang kau membantunya. Terimakasih, nak." Nur memegang tangan kanan Kenan, ia tidak tahu bagaimana caranya berterimakasih kepada pria itu.


"Semuanya ini untuk Deniz. Anak kecil itu mengingatkanku tentang masa kecilku dulu. Semoga dia cepat sembuh," balas Kenan.


Setelah Kenan selesai mengantar Nur untuk pulang ke rumahnya, wanita gembul itu memberikan sebuah kantong plastik kepada pria itu.


"Ini untukmu dan Ivy malam ini. Gadis itu belum makan seharian, aku tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikanmu."


"Kau tak perlu berterima kasih padaku, karena aku bukanlah malaikat. Aku hanya ingin melihat mereka tersenyum," balas Kenan sambil menerima bungkusan pemberian Nur.


"Baiklah. Selamat malam." Nur masuk ke dalam rumahnya.


"Selamat malam," sahut Kenan yang langsung berjalan menuju mobilnya.


Dalam cahaya temaram lampu jalan raya, Kenan sedang memikirkan bagaimana caranya mengembalikan uang Mehmet. Sementara penghasilannya sebagai montir kapal juga tidak menentu. Tapi ia nekat membantu Ivy untuk membiayai pengobatan adiknya.


Raut wajah dan senyuman kedua kakak beradik itu membayangi pikirannya.


Benarkah ini semua karena Deniz?


Di rumah sakit, Ivy tertidur di samping ranjang Deniz. Ia sangat lelah hari ini hingga wanita itu tidak mendengar bunyi langkah kaki Kenan yang memasuki ruangan. Tangan Kenan tampak ragu untuk menyingkirkan rambut Ivy yang menutupi wajah wanita itu.


Melihat Ivy yang sudah tertidur pulas, membuat Kenan tidak tega membangunkannya. Tetapi dering nada ponsel Kenan, membuat Ivy menggerakkan tangannya dan sedikit mengangkat kepalanya.


"Ada apa?" tanya Kenan yang keluar ruangan sambil menjawab ponselnya.


"Ada kapal yang harus di perbaiki. Kau bisa kemari?" terdengar suara kepala dermaga dari balik ponsel Kenan.

__ADS_1


"Besok pagi aku akan ke dermaga," jawab Kenan yang langsung menutup ponselnya. Seperti biasa tanpa memberi kesempatan kepada lawan bicaranya untuk membalas perkataannya.


Ketika ia membalikkan badannya untuk kembali ke ruangan Deniz, manik matanya menangkap sosok Ivy sudah berdiri di depan tirai hijau yang terbuka. Dari luar, Kenan bisa melihat Deniz yang tertidur pulas di atas ranjangnya.


"Kau sudah bangun?" Raut wajahnya sedikit menyesal karena suara ponselnya membangunkan Ivy.


"Baru saja. Kembalilah ke rumahmu, kudengar besok kau harus bekerja," ucap Ivy dengan lirih. Ia berusaha menahan kantuknya.


"Kau selalu saja menguping pembicaraan orang lain. Kau lupa dengan janjimu?" Kelopak mata Ivy mendadak terbuka lebar setelah mendengar pertanyaan Kenan.


Bola mata hijau itu berputar, memilah-milah janji mana yang telah ia ucapkan kepada pria itu.


"Bukankah kau berjanji, tidak akan menyuruhku pergi?" Kenan melipat kedua tangannya di depan dadanya. Pria itu hanya tersenyum tipis melihat mulut Ivy yang terbuka lebar.


Ivy berjalan mendekati Kenan. "Kurasa setiap perkataanku tidak pernah masuk ke telingamu."


Kenan mengerutkan keningnya, sambil menunjuk dada dan telinganya sendiri. Seolah mengatakan apakah aku pria yang lambat berpikir?


Kedua alis Ivy terangkat ke atas dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, jika kau tidak mau pulang. Jangan salahkan aku jika besok kau tidak bisa bekerja!"


Wanita itu segera membalikkan badannya, mendadak terdengar suara perut Ivy yang keroncongan.


Kenan tertawa mendengar suara gemuruh perut Ivy. Dengan sigap ia masuk ke dalam kamar Deniz dan mengambil bungkusan yang ia bawa dari rumah Nur.


"Apa menurutmu aku pria idiot? Yang tidak mengetahui bahwa saat ini kau sedang kelaparan," kata Kenan sambil memberikan satu kotak makanan kepada Ivy.


"Setelah aku mendapatkan pekerjaan, aku akan mengembalikan uangmu," ujar Ivy setelah ia menghabiskan makanannya.


"Sebaiknya uangmu kau gunakan untuk biaya hidupmu dan Deniz. Aku bukan renternir yang akan menagih hutang padamu atau Ferit Kozan yang akan meminta imbalan karena telah membantumu," balas Kenan yang menutup kotak makannya.


"Kenapa kau selalu menyebut nama pria itu?" Ivy mendengus kesal. Kenan selalu saja membuat mood nya berubah setiap saat. Terkadang pria itu membuatnya terharu, membuatnya senang tapi juga membuatnya marah dalam sekejap.


"Ngomong-ngomong kau belum menceritakan kepadaku kenapa kau lari di hari pernikahan mu?" Kenan mendekatkan kursinya di samping kursi Ivy.


"Jadi sekarang kau ingin mengenal diriku?" Manik mata Ivy bersinar dan bibir tipis itu sedikit melebar untuk memulai tawanya.


Kenan hanya berdeham sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ia melipat kedua tangannya seakan ia sudah bersiap mendengarkan cerita Ivy.


Ivy meneguk botol minumannya hingga setengah botol sebelum memulai ceritanya.


"Semua berawal dua minggu yang lalu, ketika aku baru saja pulang dari Paris setelah menyelesaikan kuliahku. Keesokan harinya, ayah membawaku ke kantor Ferit. Aku tidak mengenal pria itu sebelumnya. Tiba-tiba dia dan ayahku memutuskan tanggal pernikahan ku dengannya."


"Semula aku tidak tahu alasan kenapa ayah memaksaku untuk menikah dengan Ferit. Kupikir ini hanyalah masalah perjodohan biasa. Aku berusaha menolak permintaan ayah, karena aku ingin menentukan masa depanku sendiri dan aku tidak mencintai Ferit. Sampai akhirnya aku punya keberanian untuk meninggalkannya di altar pernikahan."

__ADS_1


Ivy melihat wajah Kenan yang tampaknya tertarik mendengar perkataannya.


Kupikir dia akan tertidur, setelah mendengar cerita dongengku.


"Lalu?" Kenan menegakkan sandaran tubuhnya dan menunjukkan wajahnya yang antusias menunggu cerita Ivy selanjutnya.


"Setelah ayah meninggal, ibu tiri ku menyalahkanku karena sebenarnya di balik perjodohan ku itu ada perjanjian antara ayah dan Ferit. Pria itu akan membantu keuangan perusahaan ayah, asal dia dan aku menikah. Tapi karena pernikahan itu tidak terjadi, Ferit membatalkan perjanjiannya yang membuat perusahaan ayah bangkrut dan rumah kami di sita."


Kenan memandang meja bundar yang ada di depannya, mungkin takdir telah mempertemukannya dengan seorang gadis yang mempunyai nasib yang hampir sama dengannya. Akankah takdir membuat mereka berjodoh?


*****


Keesokan harinya Dokter Husein menyiapkan ruangan untuk pengobatan kemoterapi Deniz. Bocah itu menatap cemas wajah Ivy yang sedang menggenggam tangannya.


"Ini bukan yang pertama kali. Kau pasti kuat, Deniz." Kakak perempuannya itu memberikan semangat untuknya.


"Apa kau akan bersamaku?" tanya Deniz lirih. Kali ini ia takut akan menyusul ayah dan ibunya.


"Aku akan menunggumu di luar. Ketika kau membuka matamu, kau akan melihatku lagi," ucap Ivy sambil mencium punggung tangan kecil itu.


Pintu putih itu tertutup setelah Ivy dan Nur keluar. Kedua wanita itu menunggu dengan perasaan campur aduk.


"Kau duduklah, Deniz bukan anak yang lemah. Anak itu pasti bisa bertahan," hibur Nur yang menepuk tempat duduk yang ada di sampingnya.


Jarum panjang pada jam terus berputar ke kanan. Menit demi menit telah berlalu begitu saja. Pintu putih itu akhirnya terbuka. Dokter Husein menampakkan batang hidungnya.


"Kemoterapinya telah berhasil. Semoga kali ini sel kankernya tidak semakin menyebar." Perkataan Dokter itu sedikit membuat Ivy bernapas lega, meskipun ia tahu bahwa kanker Deniz belum bisa sembuh seratus persen. Ketakutan bahwa adiknya itu akan pergi masih menghantuinya.


Ivy segera masuk ke dalam untuk melihat kondisi Deniz. Anak lelaki itu membuka kelopak matanya dengan perlahan dan tersenyum kepada Ivy.


"Kau menepati janjimu."


"Tentu saja, aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Ivy sambil mengusap kening adiknya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya di dermaga, Kenan segera menuju ke rumah sakit. Ia ingin melihat kondisi Deniz. Ia belum mendengar kabar dari Ivy.


Hari sudah siang, ketika putra Harun itu memasuki rumah sakit. Langkah kakinya berhenti ketika ia melihat Ivy yang berdiri di tengah lorong ruang UGD.


Kedua orang itu sama-sama berjalan saling mendekat. Manik mata Ivy tampak berkaca-kaca begitu ia melihat Kenan telah datang. Tanpa bicara sepatah katapun, Ivy memberikan sebuah pelukan hangatnya kepada Kenan.


"Terimakasih, Kenan," isak Ivy di pundak Kenan. "Terimakasih kau sudah menolong Deniz."


Dengan ragu-ragu Kenan mengalungkan kedua tangannya di pinggang Ivy. Ia memeluk Ivy dengan erat. Ia tidak tahu harus berkata apa. Pria itu hanya merengkuh tubuh Ivy kedalam pelukannya.

__ADS_1


* BERSAMBUNG *


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2