Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Kita Akan Bertemu Di Ring Tinju


__ADS_3

Setelah Ferit puas menertawakan Kenan, pria berkuncir itu segera memerintahkan Hasan untuk mencari tahu tentang pertandingan tinju ilegal tersebut. Hasan menceritakan bahwa dua tahun yang lalu, dirinya pernah mengikuti pertandingan tersebut. Pria berambut cepak itu memberikan nomor ponsel seseorang kepada Ferit.


Calon suami Ivy itu tampak sangat bahagia malam ini. Sebelum ia pulang ke rumah, pria itu membelikan Ivy beberapa pakaian mahal dan sepatu bermerk di sebuah butik ternama di kota Istanbul. Ia keluar dari mobilnya dengan membawa beberapa paper bag. Sepasang sepatu pantofel berwarna coklat itu berjalan menapaki beberapa anak tangga, dengan riang gembira ia bersiul masuk ke dalam kamarnya.


Senyum Ferit mengembang di balik cambangnya ketika ia melihat Ivy masih duduk di kursi dengan keadaan borgol yang masih melekat di kedua tangannya. Ia mencium puncak kepala Ivy bagaikan seorang suami yang melihat istrinya sedang menunggu kepulangannya.


"Bagaimana hari mu, sayang?" tanyanya kepada Ivy.


Wanita berhidung mancung itu hanya menatap tas warna-warni yang diletakkan Ferit diatas ranjangnya. Pria itu mengeluarkan satu per satu barang yang dibelinya dan menunjukkannya di depan Ivy.


"Kau suka modelnya?" Ferit menunjukkan sebuah baju atasan berwarna merah kepada Ivy, kemudian ia menempelkan pakaian itu ke tubuh wanita itu. "Kelihatannya ini terlalu besar untukmu. Besok aku akan membelikannya yang lain."


Ferit melempar baju atasan itu ke ranjangnya dan mengambil gaun pendek berwarna hitam. "Waktu di butik itu, aku membayangkan dirimu memakai gaun ini."


Pria bercambang itu kembali menempelkan gaun itu ke tubuh Ivy dalam posisi terduduk. "Tepat seperti perkiraanku, kau sangat cantik memakai gaun ini."


Setelah puas memperlihatkan gaun yang ia beli, Ferit rela berjongkok di depan Ivy, hanya untuk membantu wanita itu mencoba sepatu barunya. Sepasang sepatu berbahan kulit dengan warna nude yang senada dengan warna kulit Ivy.


"Apa kau suka dengan pemberianku ini?" tanya Ferit yang mengembalikan sepatu itu ke dalam kotak sepatunya.


Ivy tidak memberikan respon rasa suka, bahagia ataupun ketidaksukaannya atas barang-barang pemberian Ferit. Bibir tipis itu tertutup tanpa mengeluarkan suaranya, hanya manik mata hijau itu yang terus bergerak mengamati setiap tingkah laku Ferit.


Manik mata coklat itu mendekati wajah Ivy. Hembusan napas pria itu mulai membelai wajahnya. Ivy dapat melihat jelas bulu-bulu coklat itu memenuhi wajah calon suaminya. "Apa wanita yang di kamarku ini telah menjadi wanita bisu, hah?" teriak Ferit sambil melempar tas belanjaanya. "Kenapa kau tidak menghargai pemberianku?"


"Aku tidak perlu barang-barang itu!" seru Ivy yang akhirnya mengeluarkan suaranya. Ia memalingkan wajahnya ke arah lemari. "Yang aku perlukan saat ini adalah Deniz!"


Senyum Ferit mulai melebar kembali, ia berjalan mengitari kursi Ivy kemudian berhenti tepat di depan wanita itu. "Deniz Eleanor, ya... aku ingat adik iparku itu sedang berada di rumah sakit. Saat ini dia sedang membutuhkan pendonor untuk sum-sum tulang belakangnya."


"Kumohon... lepaskan aku... aku ingin bertemu dengan Deniz," ucap Ivy dengan lirih. Manik mata hijau itu menatap wajah Ferit dengan penuh harap. Ia hanya bisa berdoa agar pria itu punya sedikit belas kasihan.


"Kau tenang saja. Deniz sudah mendapatkan pendonornya,"jawab Ferit sambil membelai wajah Ivy.


Manik mata hijau itu membulat setelah mendengar perkataan Ferit. "Benarkah? Siapa pendonor itu? Apa Deniz sudah berhasil dioperasi? Apa Deniz sudah sembuh?"


Ferit menempelkan jari telunjuknya ke bibir tipis Ivy. "Hsst... Hanya aku yang bisa membantu Deniz kali ini. Baik montir kesayanganmu atau siapapun tidak akan bisa menolong adik tersayangmu."


"Apa maksudmu?" Ivy tersentak mendengar perkataan pria itu. Hatinya terasa sesak dengan perkataan Ferit yang mengatakan bahwa hanya dirinya yang bisa menolong Deniz.


Apa yang terjadi dengan Kenan? Apa Ferit telah mencelakainya?


"Pendonor itu tidak sukarela memberikan sum-sum tulang belakangnya untuk Deniz. Dia menjualnya. Kini montir sialan itu sedang mengemis mencari sedekahnya," ucap Ferit sambil tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Hanya aku yang bisa membayar pendonor itu," bisiknya di telinga Ivy. "Tapi aku tidak akan memberikannya kepada montir itu dengan percuma, kau akan melihat bagaimana aku menghancurkan montir kesayanganmu itu."


Ivy menggelengkan kepalanya dan menatap gamang raut wajah Ferit yang tertawa menakutkan. "Kumohon jangan sakiti dia. Dia tidak ada hubungannya dengan masalah kita."


Tangan Ferit langsung menjambak rambut Ivy, "Kau memohon di hadapanku untuk pria itu? Buang air matamu! Hatiku akan puas jika montir sialan itu memohon kepadaku dengan mulutnya sendiri!"


Hari sudah mulai gelap, sang surya sudah mulai menenggelamkan dirinya ketika Mehmet berjalan memasuki lobi Rumah Sakit Istanbul. Pria gundul itu ingin menjenguk Deniz. Beberapa lorong dan anak tangga ia lewati, hingga akhirnya ia berhenti di bangsal khusus pasien anak. Manik mata hitamnya menatap seorang bocah laki-laki kurus yang terbaring lemah di atas ranjangnya.


"Hai jagoan?" Suara Mehmet membuat Deniz memalingkan wajahnya menatap pria berkulit gelap dengan kemejanya yang berwarna putih.


"Hai...." Deniz menjawab sapaan Mehmet dengan bisikan suaranya yang nyaris tidak terdengar. "Apa kau tahu dimana Ivy?"


Mehmet mendekati ranjang kecil berukuran single dengan selimutnya yang berwarna putih. Pria dewasa itu hanya terdiam di samping tubuh kecil tersebut.


"Jika kau tidak tahu dimana Ivy, pergilah! Aku tidak ingin bicara denganmju!" seru Deniz yang membalikkan tubuhnya memunggungi Mehmet. Bantal berwarna putih itu mulai basah terkena cairan bening yang keluar dari pelupuk mata kecilnya.


Kak, kau ada dimana? Kenapa kau meninggalkanku sendirian di sini? Bukankah kita sudah berjanji, bahwa kita akan selalu bersama?


"Mehmet?" Suara Kenan membuat Deniz kembali memejamkan kelopak matanya. Ia tidak ingin melihat wajah pria itu dan wajah Nur. Sudah beberapa hari ini, bocah itu mendiamkan semua orang.


"Ya. Aku ke sini ingin melihat keadaan Deniz dan bicara denganmu."


Kenan memiringkan kepalanya ke arah pintu dan berjalan kembali menuju lorong rumah sakit, sementara Mehmet mengikutinya dari belakang.


"Aku hanya ingin memberikan ini." Mehmet memberikan sebuah amplop yang berisi uang tabungannya dan tabungan Cansu. "Ini pemberianku dan Cansu. Tidak begitu banyak, tapi mungkin bisa sedikit membantumu dan Deniz."


Kenan ragu-ragu menerimanya amplop coklat yang ada di tangan Mehmet.


"Buang egomu! Di saat seperti ini, apa gunanya seorang sahabat, hah!" Ingin rasanya pria gundul itu membenturkan kepala Kenan, agar pria itu sadar. Akhirnya Mehmet menarik paksa tangan kanan sahabatnya itu agar menerima bantuannya.


"Oh ya, ada jadwal pertandingan untukmu. Dua hari lagi. Ada seseorang yang menantangmu," ucap Mehmet setelah Kenan memasukkan amplop itu ke dalam saku celana trainingnya.


"Siapa yang menantangku?" tanya Kenan.


Mehmet mengatakan tunggu dengan gestur tangannya, ia segera mengambil ponselnya ketika benda kecil itu berdering.


"Halo," sapa Mehmet kepada seseorang yang ada di seberang ponselnya.


"Kau pemilik sasana tinju itu?" Suara parau itu terdengar dari lubang ponsel Mehmet.


"Ya. Siapa kau?" tanya Mehmet.

__ADS_1


"Aku Ferit Kozan. Aku yang menantang juara bertahanmu, seorang montir kapal!"


Pandangan Mehmet beralih ke tempat Kenan yang berdiri tidak jauh darinya. "Kau yang menghubungi orang ku tadi siang?"


"Ya. Kali ini aku yang akan menentukan jumlah taruhannya!"


"Berapa yang kau mau?" tanya Mehmet. Kenan yang merasa sahabatnya itu sedang membicarakannya segera menghampiri pria gundul itu.


"500.000 USD dan wanitanya. Jika montir itu kalah, dia hanya perlu membayarnya dengan nyawanya!"


"Wanitanya? Maksudmu Ivy?" Mehmet menggaruk kepalanya yang plontos. Mendengar nama Ivy di sebut, Kenan segera mengambil ponsel itu dari dari tangan Mehmet.


"Dimana kau sembunyikan Ivy?" teriak Kenan dengan raut wajahnya yang menegang.


"Kau di sana rupanya. Kau tidak punya pilihan lain, selain menerima tantanganku! Bukankah kau sedang mencari sedekah untuk membantu operasi Deniz?"


"Keparat kau! Berikan ponselmu pada Ivy!" seru Kenan. Telapak tangannya sudah muali mengepal.


Ferit mengubah panggilannya menjadi panggilan video. Ia berdiri di belakang Ivy dan Kenan bisa melihat dua orang itu ada di layar ponsel.


"Kenan!"


"Ivy!" Matanya terbelalak melihat kondisi Ivy yang terborgol di atas kursi. "Brengsek kau Ferit Kozan! Bebaskan Ivy!"


"Beraninya seorang kelas bawah memerintahku! Kau akan melihat bagaimana aku memperlakukan calon istriku," ucap Ferit yang memeluk Ivy dari belakang dan mendaratkan ciumannya di pipi wanita itu.


Wajah Kenan mendadak merah padam melihat adegan itu. Manik mata abu-abu gelapnya mulai mengkilat menahan amarahnya. "Aku akan menghabisimu, Ferit Kozan!"


Ferit tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman Kenan. "Sampai bertemu di ring tinju, montir sialan! Kita lihat nyawa siapa yang akan melayang! Aku akan membawa Ivy dan uang taruhannya!"


Panggilan itu terputus. Kenan terus memanggil nama Ivy di layar ponsel yang sudah menghitam. "Berapa uang taruhan yang sudah keparat itu siapkan!"


Mehmet hanya terdiam untuk beberapa saat. "Dia hanya mengincar nyawamu!"


Kenan segera mencengkeram leher kemeja sahabatnya itu. Ia mengatupkan rahangnya, manik matanya melotot menekan wajah Mehmet seakan putra Harun itu akan menghabisi sahabatnya.


"Uang taruhannya 500.000 USD dan Ivy," jawab Mehmet. Kenan segera melepaskan tangannya dari kemeja pria itu.


"Akkhhh....! Aku akan mengirimmu ke neraka, Ferit Kozan!" teriak Kenan sambil meninju kotak pemadam kebakaran yang berwarna merah tersebut. Kotak itu melengkung ke dalam terkena pukulan keras dari tangan putra Harun.


* BERSAMBUNG*

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima, dan vote kalian ya. Terimakasih.


__ADS_2