
Genap satu bulan Kenan memimpin perusahaan peninggalan Hazal. Pura Harun itu memilih menggunakan nama Falea daripada Puzulla. Kini Falea bukan lagi perusahaan kecil yang ada di dalam sebuah apartemen, tetapi perusahaan yang didirikan Kenan dan Ivy itu telah menempati gedung bertingkat dan menjadi perusahaan besar. Bahkan lebih besar daripada Perusahaan Kozan yang bangkrut karena ditinggal mati oleh pemiliknya.
Di ruang kerjanya yang masih sama seperti beberapa tahun yang lalu, Kenan berdiri menatap langit biru yang tampak dari kaca jendelanya yang besar. Sekumpulan burung camar terbang di atas kepalanya ke arah barat laut. Di bawah kakinya pemandangan lalu lintas Kota Istanbul yang terlihat.
Setelah bertahun-tahun aku pergi meninggalkan tempat ini, ku pikir aku tidak akan pernah kembali lagi. Namun, ternyata aku salah. Takdir membawaku kembali ke ruangan ini dengan kehidupan yang berbeda. Aku tidak akan memilih jalanmu, ayah. Aku telah menentukan kehidupanku sendiri dan keluargaku.
Batinnya itu sedang berkata kepada foto almarhum ayahnya—Harun Fallay. Dipandanginya foto itu sangat lama kemudian ia membuka penutup pigura yang ada di bagian belakang. Dikeluarkannya foto ayahnya dari tempat berbingkai itu dan menggantinya dengan foto ayah dan ibunya yang berdiri berdampingan di suatu tempat.
“Sepertinya ini kelihatan lebih bagus,” gumamnya.
Kenan meletakkan foto orang tuanya di dalam lemari kaca yang berada di salah satu sudut ruangannya. Di dalam lemari itu juga terdapat replika burung phoenix—lambang Perusahaan Fallay yang masih tersimpan rapi dan replika kain tenun khas Turki—lambang Perusahaan Puzulla.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, membuat Kenan menutup kembali pintu lemari kacanya. Masuklah seorang wanita berpakaian formal—sekretaris Kenan. Wanita muda itu memberikan sebuah dokumen dan sebuah anak kunci kepada atasannya.
“Semua sudah siap, Tuan.”
“Terima kasih. Aku akan pulang lebih awal, lanjutkan saja pekerjaanmu. Sebelum kau pulang, kirim semua hasil laporan dari bagian pemasaran ke emailku!” titah Kenan kepada sekretarisnya.
“Baik, Tuan Kenan.” Sebelum meninggalkan ruangan atasannya, sekretaris muda itu meletakkan dokumen berikut anak kuncinya di atas meja.
Manik mata abu-abu itu membulat menatap dua benda yang ada di bawah kelopak matanya. Dua benda yang akan ditunjukkannya kepada Ivy. Impian mereka yang pernah mereka bicarakan sebelum mereka menikah.
Aku harap kau senang dengan kejutanku, Sayang.
Jari tangannya sedang sibuk mencari nama Ivy di dalam ponselnya. Nada sambung yang tak kunjung dijawab itu membuat Kenan memijat leher belakangnya dan menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi, seakan ia sudah tidak sabar mendengar suara istrinya.
“Oh... akhirnya aku bisa mendengar suaramu.” Kenan menghembuskan napasnya setelah pria itu berjuang berkali-kali untuk menghubungi Ivy.
“Aku baru saja membersihkan popok Filan. Ada apa?” Ivy menjepit ponselnya di antara pundak dan daun telinganya, sedangkan tangannya ia gunakan untuk mengangkat Filan kemudian menggendong bayi berusia empat bulan itu.
“Satu jam lagi aku akan menjemputmu. Bersiap-siaplah. Aku akan mengajakmu dan Filan ke suatu tempat,” ucap Kenan yang sedang memainkan batang penanya di sela-sela buku jarinya.
__ADS_1
“Satu jam lagi? Kita akan kemana?” Dari lubang suara itu, Kenan bisa mendengar teriakan Filan.
Pria itu tersenyum sambil memandang bingkai foto keluarga kecilnya yang ada di atas meja kerjanya. “Kau akan tahu nanti. Aku akan menjemputmu satu jam lagi. Sampai jumpa di apartemen. Love you, honey.”
“I love you too.” Sepertinya Filan menangis ketika bayi mungil itu sudah tidak mendengar suara ayahnya.
Setelah satu jam berlalu, Kenan keluar dari kantornya dengan membawa dokumen dan anak kunci pemberian sekretarisnya. Mobil mewahnya kini melaju dengan kecepatan sedang membelah lalu lintas Kota Istanbul yang sangat padat, ia harus sabar menunggu kemacetan yang sedang terjadi di depannya.
Menjelang malam, mobil mewah itu akhirnya berhasil meloloskan diri dari kemacetan. Melesat maju melewati berbagai barisan pohon rindang dan bangunan. Kenan mengendurkan ikatan dasinya ketika ia telah sampai di apartemennya. Ternyata Ivy sudah menunggunya di dalam lobi.
“Kau sangat cantik malam ini, Sayang,” puji Kenan yang langsung mencium pipi istrinya, begitu wanita itu masuk ke dalam mobil.
“Kau tak ingin mandi dulu?” tanya Ivy.
Wanita itu mengangkat dan menggerakkan tangan mungil Filan seakan bayi mungil itu ingin menyapa ayahnya.
“Nanti saja.” Kenan langsung melajukan kendaraannya menuju bagian barat Kota Istanbul.
Mobil mewah itu menaiki jalan yang mendaki kemudian menuruni jalanan yang landai. Memasuki kawasan pemukiman yang mewah, dengan deretan rumah-rumah besar dan berpagar tinggi. Hingga kendaraan roda empat itu berhenti di depan sebuah rumah mewah dengan Gaya Meditarania.
Ivy tak dapat melanjutkan perkataannya ketika ia dan Filan turun dari mobil. Dilihatnya rumah yang ada di depannya. Rumah yang masih sama seperti sebelumnya. Rumah bertingkat dua dengan dindingnya yang bercat putih dan hijau.
“Berikan Filan padaku.”
Kenan mengambil bayi mungil itu dari gendongan ibunya. Pria itu pun meminta Ivy untuk membuka kain penutup yang ada di bawah kotak surat.
Sepatu bertumit rendah itu mendekati kotak surat yang berdiri di samping pagar besi yang tinggi. Tangan ramping itu melepas kain penutup berwarna emas yang ada di sana. Butiran air mata itu kini mengalir membasahi wajahnya yang telah tersapu dengan riasan.
“Rumah Keluarga Fallay,” ucap Ivy yang membaca tulisan yang menempel pada sebuah plakat besi.
Ia pun menutup mulutnya seakan ia masih belum mempercayai semua ini. Seakan ini hanyalah mimpinya saja.
__ADS_1
Ivy membalikkan badannya dan menatap suaminya yang saat ini sedang berdiri tidak jauh darinya. Air mata itu semakin mengalir ketika dipanggilnya nama pria itu, “Kenan….”
“Apa kau tak suka?” tanya Kenan yang mengusap wajah Ivy dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain ia gunakan untuk menggendong Filan.
“Kau membeli kembali... rumah ayahku. Rumah masa kecilku…,” ucap Ivy terbata-bata.
Kenan langsung menghampiri istrinya dan memeluk pundak wanita itu.
“Rumah ini untukmu dan Filan. Kau pantas mendapatkannya, karena kau dengan ikhlas memberikan rumah yang dibeli Sophia dari hasil mencuri uang warisan mu kepada Cansu. Aku tidak akan membiarkanmu dan Filan kekurangan. Aku akan berusaha untuk membahagiakan kalian,” ujar Kenan yang mencium kening Ivy dan pipi Filan.
Ivy pun membalas dengan memberikan ciuman bibirnya di bibir Kenan.
“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku bahwa kau akan membeli rumah ini?” Ivy meletakkan kepalanya di pundak Kenan, saat pria itu melingkarkan salah satu tangannya di pinggang Ivy.
“Bukan surprised namanya, jika aku memberitahumu. Aku akan menjual apartemenku dan apartemen Falea. Mulai besok kita, Deniz dan Nur akan tinggal disini.”
"Terimakasih, Sayang. Kau benar-benar suami dan ayah yang luar biasa."
Suara tawa itu terdengar dari mulut keduanya, ketika bayi Filan menepuk bibir kedua orangtuanya yang saling bertautan.
Kenan menurunkan tangannya dari pinggang Ivy dan mengambil sesuatu dari saku celananya. Ia memberikan sebuah anak kunci kepada istrinya kemudian berkata, “Bukalah.”
Ivy membuka pagar besi yang tingginya jauh lebih tinggi dari tubuhnya. Cahaya lampu temaram nan lembut memantul di wajahnya. Langkahnya menapaki satu persatu paving blok yang ada di sana. Bertemu dengan air mancur dengan tumpukan batu di sekelilingnya yang di susun secara acak.
Masih seperti dulu, biasanya mobil ayah ada di sini. Ayah… seandainya ayah masih hidup dan melihat semua ini. Pria yang telah ayah kurung dulu di gudang, berhasil menyelamatkan kembali rumah peninggalan keluarga kita.
Mereka pun masuk ke dalam rumah itu. Kenan telah mengisi semua ruangan dengan perabot yang baru. Pria itu membiarkan Ivy dengan leluasa berjalan memasuki setiap ruangan yang ada di dalam rumah itu, sedangkan dirinya asyik membawa Filan memasuki kamar milik bayi mungil itu.
Bayi kecil itu berteriak ketika dilihatnya banyak boneka yang berbentuk mobil-mobilan dan yang menyerupai binatang-binatang lucu. Boks bayi yang ada di sudut ruangan. Papan seluncur mini dan kolam bola mini yang ada di tengah ruangan. Kedua kaki Filan menendang-nendang ketika Kenan menunjukkan bola warna-warni yang ada di kolam berbentuk lingkaran itu.
“Kau menyukainya, Sayang?” Filan berteriak dan tertawa dengan keras. “Ayo kita bermain, jagoan kecil.”
__ADS_1
Ayah dan anak itu memasukkan dirinya di dalam kolam bola. Keduanya saling tertawa terpingkal-pingkal hingga air liur Filan membasahi wajah Kenan ketika pria itu merebahkan dirinya di antara kumpulan bola dan mengangkat tubuh mungil anaknya.
...****************...