Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Diam Bukanlah Cara Yang Terbaik Untuk Menyelesaikan Masalah


__ADS_3

“Ayo kita pergi dari sini!” seru Kenan kepada Ivy, setelah pria itu memberi pelajaran kepada Ferit.


Deg!


Seakan ada sebuah benda yang menghantam ulu hati Ivy saat ini, ketika pria yang dicintainya hanya berjalan melewatinya seperti angin lalu. Tanpa menggandeng tangannya atau menariknya dengan paksa. Perasaan itu bagaikan ruang hampa yang tiba-tiba muncul begitu saja di dalam hati Ivy.


Ia menyeret tas kopernya seraya mengikuti Kenan dari belakang. Langkah kakinya gontai menyusuri setiap pola lantai granit yang ada di ruang koridor. Derap langkah kakinya dan gelindingan roda tas koper seakan saling bersaing untuk menghibur hati Ivy.


Dia pasti marah kepadaku….


Bola mata hijau itu menangkap sosok Kenan yang sedang berdiri di depan pintu lift.


“Ivy!” Wanita itu mendengar suara seorang pria yang memanggilnya dari belakang.


Bulu kuduknya mendadak dengan cepat langsung berdiri. Meskipun pria itu bukan hantu, tapi pria itu sudah menghantui pikirannya.


Itu suara Ferit. Aku harus cepat pergi dari sini.


Ivy mempercepat langkah kakinya untuk bisa mencapai tempat Kenan. Beberapa detik kemudian, ekor matanya melihat kekasihnya telah masuk ke dalam lift. Hampir saja dia berteriak untuk memanggil nama Kenan, agar pria itu tidak pergi meninggalkannya.


Satu helaan napas panjang terdengar hingga mencapai telinganya, begitu ia melihat pintu berbahan aluminium itu masih terbuka lebar. Ternyata seseorang yang berada di dalam masih menekan tombol buka, menunggu dirinya.


Ivy mulai berlari dengan tas kopernya yang tampak terlihat pontang-panting tak karuan di belakangnya. Di belakangnya suara hentakan sepatu pantofel terdengar mengejar langkahnya. Suara gaduh itu semakin terdengar jelas di telinga Kenan, kala langkah kaki Ivy mendekat ke arahnya. Namun pria itu hanya diam membisu.


“Hampir saja,” gumam Ivy sambil menempelkan telapak tangannya di depan dada setelah ia berhasil mencapai dinding lift yang ada di depan.


Sekilas ia melihat pandangan mata kekasihnya itu sedang menatap deretan-deretan papan angka yang ada di dekat pintu. Membuat Ivy menjadi tidak enak hati, ia pun memberanikan masuk ke dalam lift yang sama dengan Kenan. Pintu lift tertutup bertepatan dengan langkah kaki Ferit yang baru saja menginjakkan kakinya di depan pintu tersebut.


“Sial!” umpat Ferit yang mencoba menekan tombol berulangkali, tetapi lift itu tetap turun ke bawah. Meninggalkannya seorang diri di lantai lima.


Sepasang kekasih itu berdiri berdampingan. Melalui ekor matanya, Ivy melihat Kenan yang menatap lurus pintu lift yang telah tertutup. Ia memejamkan kelopak matanya, untuk menunggu hardikan Kenan. Namun pria itu tidak membuka suaranya sampai lift berhenti di lantai dasar. Hanya punggung tegap itu yang ia lihat berjalan mendahuluinya.


Jika kau ingin marah, marahi aku sepuas mu… aku akan menerimanya. Tapi, ku mohon jangan diamkan aku. Aku tahu… aku bersalah. Aku yang menyebabkan Falea mengalami kekalahan.

__ADS_1


Hujan gerimis menyambut Kenan dan Ivy ketika mereka baru saja keluar dari Gedung Perusahaan Mandellion. Kenan mengayunkan jempolnya untuk mencegat taksi yang ada di ujung jalan. Seperti sebelumnya, pria itu tidak membuka mulutnya dan langsung mengambil tas koper hitam yang ada di tangan Ivy dan memasukkannya ke dalam bagasi.


“Kenan….” Ivy mencoba memanggil nama pria itu, ketika mereka berdua telah duduk bersama di dalam taksi.


Tak ada jawaban. Pria itu hanya  menyandarkan kepalanya di sandaran kursi penumpang sambil memejamkan kedua kelopak matanya selama perjalanan.


Sedikit demi sedikit cairan bening itu keluar membasahi wajah Ivy. Ia memalingkan wajahnya ke jendela yang ada di samping kirinya, melihat kendaraan yang sedang berlalu lalang memenuhi jalanan Kota Paris. Sebenarnya bukan itu tujuannya, ia hanya tidak ingin Kenan melihatnya menangis. Diusapnya benda cair yang telah turun mengenai dagunya.


Taksi berwarna biru itu berhenti di depan hotel bintang tiga yang ada di pinggiran Kota Paris. Hotel sederhana dengan bangunannya setinggi tiga lantai. Tubuh coklat yang di penuhi dengan ukiran-ukiran sederhana khas Yunani. Saat Ivy sedang membayar perjalanan mereka dengan kartu by pass-nya, Kenan keluar mengambil koper mereka dan masuk menuju lobi hotel.


Ivy hanya mengikuti langkah kaki panjang itu masuk menyusuri koridor hotel untuk mencapai kamar mereka.


Sebuah kamar sederhana yang hanya berisi satu buah ranjang tempat tidur dengan ukuran double bed, sebuah sofa besar dengan meja kecil yang berada di depan ranjang,  sebuah lemari pakaian dan sebuah televisi layar datar yang tergantung.


Kenan langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Entah dia sudah tertidur atau hanya sekedar memejamkan matanya.


Manik mata hijau itu memandang seonggok tubuh berotot yang sedang telentang di depannya tanpa ada pergerakan. Ia melepas sepatu pantofel yang membungkus kedua kaki Kenan, membuka kancing kemeja yang ada di bagian atas dan menyelimuti badan tegap yang terlihat rapuh saat ini.


Untuk beberapa saat Ivy terdiam memandangi wajah tampan dengan deretan bulu tipis yang membingkai wajah tegas kekasihnya.


Wanita muda itu pun memundurkan langkahnya, menjauhi tempat pembaringan yang terbungkus dengan kain berwarna putih polos. Ia menuliskan beberapa kalimat pada sebuah notes kecil yang ada di atas meja. Butiran-butiran bening itu satu per satu menetes membasahi kertas kecil tersebut.


Berulang-ulang Ivy membaca pesan yang dia tulis untuk Kenan. Setelah wanita itu yakin dengan keputusannya, ia meletakkan notes kecil tersebut di samping tubuh Kenan.


Diciumnya kening yang tampak mengkilap terkena cahaya temaram yang berasal dari lampu duduk. Untuk beberapa saat ia menatap wajah tampan kekasihnya yang masih terlelap. Ia mengambil tasnya dan perlahan-lahan membuka pintu kamar.


Aku tidak akan mengganggumu…. Aku mencintaimu.


Deretan dinding berlapis kayu itu menemani langkah Ivy ketika wanita itu memutuskan untuk pergi meninggalkan Kenan di dalam kamar hotel. Guyuran air hujan seakan menyatu dengan hatinya yang sedang menangis.


Wanita itu bagaikan seekor anak ayam yang kehilangan induknya. Kedua lengannya ia letakkan di depan dada sambil berjalan melawan arus kendaraan. Tidak satu pun taksi atau kendaraan umum lain yang melintas di dekatnya sore hari ini.


Apa ini jalan yang terbaik untuk kita berdua? Aku telah menghancurkan impianmu, Kenan. Dunia yang ingin kau bangun sejak dulu.

__ADS_1


Ivy mencari tempat untuk berteduh. Dilihatnya sekitar lima meter dari tempatnya berdiri adasebuah bangunan dengan halamannya yang tertutup dengan atap kanopi. Banyak orang berkumpul di sana, mungkin mereka juga mencari tempat berteduh sama seperti dirinya.


Langkah kakinya menerjang siraman air hujan yang semakin deras. Membasahi mantelnya yang berwarna merah dan sepatu bot yang membungkus sepasang kakinya. Tubuh setinggi 170 sentimeter itu akhirnya mencapai bangunan tersebut. Seraya menunggu hujan reda, ia masuk ke dalam sebuah kafe dengan interiornya yang modern.


“Café Allonge,” Ivy menyebutkan minuman pesanannya kepada barista dengan bahasa Prancis, karena tidak semua warga Paris bisa berbahasa Inggris kecuali mereka yang bekerja di gedung perkantoran atau pemerintah.


“Ou es-tu assise, mademoiselle?” tanya barista itu yang menanyakan dimana Ivy akan duduk.


"Je me suis assis a la table du bar,” jawab Ivy yang menunjuk sebuah meja bar panjang yang ada di sampingnya.


Barista itu membalas perkataan Ivy dengan senyumannya, dengan cekatan ia meracik kopi pesanan wanita itu.


“Tous les cinq Euros,” kata barista tersebut yang memberitahu Ivy harga minumannya.


Minuman pesanannya adalah minuman termurah yang di jual di kafe tersebut. Pria Paris berambut blonde itu memberikan secangkir kopi espresso yang dilarutkan dengan air panas kepada Ivy. Kepulan asap dan aroma kopi hitam telah menggelitik indera penciumannya.


Ivy menerima pemberian sang barista, kemudian ia memberikan uang kertas lima Euro kepada pria tersebut.


Di letakkannya cangkir kopi itu di atas meja bar panjang yang terbuat dari kayunya yang berserat. Ia meniup kopi hitam miliknya kemudian mengusap tubuh cangkir berbahan keramik. Sebuah kehangatan ia rasakan melalui sentuhan telapak tangannya.


Diseruputnya cairan hitam nan pahit itu perlahan-lahan. Sesekali ia menopang dagunya dan melihat papan menu yang tergantung di atas dinding.


Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Apa aku akan kembali ke Istanbul seorang diri? Atau….


Putri Victor itu langsung menelan salivanya, ketika ia melihat sosok Ferit keluar dari mobil sewaan. Pria berambut panjang itu masuk ke dalam kafe yang sama dengannya.


Ya Tuhan, kenapa pria itu selalu ada di mana-mana?


Secepat kilat Ivy memunggungi Ferit yang sudah berdiri di depan meja barista. Wanita itu menutup kepalanya dengan kain syal yang semula ia lilitkan dilehernya. Ia mendengar pria itu sedang memesan makanan dan minumannya kemudian pergi meninggalkan Ivy dengan detakan jantungnya yang tak karuan.


Dari pantulan kaca pada papan menu, Ivy dapat melihat Ferit yang duduk di tengah ruangan. Pria itu masih sibuk dengan tablet yang ada di tangannya.


Mungkin ini satu-satunya cara untuk menolong Kenan. Jika dia tidak ingin menukarku dengan apapun, maka aku akan menyerahkan diriku untuk kebahagiaannya….

__ADS_1


...****************...


Terimakasih sudah membaca novel Give Me Your Hand sampai di bab ini. Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya....


__ADS_2