
Malam demi malam Kenan lewati dengan latihan tinju. Sesuai janjinya, Mehmet mengirimkan seorang pelatih untuknya, pria berkulit gelap itu khawatir jika dirinya akan berakhir di peti mati. Cairan tubuhnya saat ini membuat pangkal rambut hingga ujung kakinya basah. Tubuh polos itu terlihat mengkilap karena peluh.
Samsak tinju itu terus menerus menerima pukulan Kenan tanpa henti. Jika seandainya saja karung pasir itu adalah seorang manusia, mungkin dia akan memprotes dan meneriaki Kenan.
"Bertahan, fokus, serang!" teriak pelatih tinju itu di samping Kenan. Seorang pria yang usianya lebih tua dari Kenan. Sewaktu usianya masih muda, pria ini adalah seorang petinju profesional. Kali ini ia memilih untuk menjadi seorang pelatih.
Kenan menghantamkan sarung tinjunya ke samsak berwarna hitam. Pukulan itu sangat keras sesuai arahan pelatihnya. Sampailah di suatu titik bahwa tubuhnya sangat lelah saat ini.
"Istirahatlah. Besok kau akan bertanding melawan orang baru," ucap Serkan yang mengguyurkan sebotol air ke kepala Kenan.
Air itu bagaikan sebuah oase di padang gurun yang mendinginkan kepala Kenan. Ia mengibaskan rambut hitamnya, membuat butiran-butiran air itu beterbangan dan jatuh ke lantai. Kenan mengambil botol minuman yang lain, dan mengguyur wajahnya sendiri. Membuat lantai ruang latihan itu layaknya sebuah kamar mandi.
"Apa kau tidak punya video pertandingannya?" tanya Kenan sambil mengusap rambut dan wajahnya dengan selembar handuk.
"Dia baru sepertimu. Ini adalah pertandingan pertamanya," jawab Serkan yang memilih mendudukkan dirinya di sebuah kursi panjang yang ada di depan Kenan.
Begitu juga dengan Ivy, wanita itu hampir setiap hari di sibukkan dengan acara pergelaran busananya yang pertama. Khan telah menyetujui rancangannya, kini ia mulai memotong kain pemberian Kara sesuai dengan pola yang telah ia buat. Alat pemotong itu mulai membelah lembaran kain yang membentang menjadi potongan-potongan sesuai keinginan Ivy.
Jari tangannya mulai menggerakkan kepala mesin jahit. Salah satu telapak kakinya menginjak sebuah pedal berwarna hitam yang ada di bawah mesin. Raungan dinamo segera terdengar memenuhi ruang kerja Ivy. Jarum jahit yang telah berisi benang itu segera meluncur untuk menyatukan kedua sisi kain.
Ivy menyibakkan kain yang telah membentuk sebuah potongan badan. Kini ia mengambil kain lain untuk menyambung bagian demi bagian hingga menjadi sebuah pakaian yang sesuai dengan rancangannya.
Ia memasang kancing berbentuk bulat di salah satu pakaian rancangannya. Sejauh ini Ivy baru menyelesaikan dua dari empat desain yang telah ia buat.
"Waktunya pulang nona cantik," kata Khan yang masih mendengar mesin jahit Ivy masih berbunyi. Suara mesin itu seperti suara di arena pacuan kuda.
"Aku belum selesai," sahut Ivy tanpa menoleh ke arah pria gemulai yang sudah berdiri di depannya. Ia masih berkutat pada mesin jahitnya.
"Masih ada waktu beberapa hari. Hari sudah malam, sangat sulit mencari bus. Aku tidak rela desainer cantikku ini di culik orang."
Perkataan Khan membuat Ivy mengingat kembali memorinya ketika tiba-tiba Ferit datang menjemputnya di kantor.
__ADS_1
Bagaimana jika Ferit sudah ada di bawah saat ini?
"Aku akan ke daerah Fener. Kau mau ikut pulang bersamaku?" tanya Khan sambil mengamati baju rancangan Ivy yang sudah jadi. Ia menempelkan baju itu di tubuhnya sendiri dan memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri di depan Ivy, membuat putri Victor itu tidak mampu menahan tawanya.
"Bagaimana?" tanya Khan setelah ia meletakkan kembali baju itu di gantungan baju.
"Cocok," jawab Ivy sambil menunjukkan kedua ibu jarinya.
"Bukan baju itu yang aku maksud. Kau ini!" seru Khan dengan nadanya yang sedikit naik.
"Maksudku tawaranku cantik...." Suara Khan kembali terdengar menggelitik di telinga Ivy.
Ide yang bagus menurut Ivy. Ia tidak perlu menunggu bus sendirian di tepi jalan, lagipula belum tentu Kenan bisa menolongnya lagi malam ini.
"Tunggu aku. Aku akan membereskan semua ini," jawab Ivy yang segera mematikan mesin jahit listriknya dan merapikan mejanya.
Khan membantu Ivy mengemasi barang-barangnya. Ia bukan hanya atasan yang baik tapi juga seorang teman yang bisa diandalkan. Meskipun terkadang ia dianggap sebelah mata oleh orang-orang, tapi apa yang mereka anggap kekurangan, bagi Khan itu adalah kelebihannya.
Tidak semua pria bisa menjadi seorang desainer handal seperti Khan, demikian juga tidak semua wanita mempunyai tangan bak penyihir yang bisa menyihir kain lusuh menjadi sebuah gaun yang indah.
Seperti dugaan Ivy, pemimpin perusahaan Kozan itu telah menunggunya di depan lobi. Pria itu berdiri di samping mobilnya menunggu kepulangan Ivy. Para karyawan wanita memandangi pria dengan kuncir rambut itu mulai dari atas hingga ke bawah. Secara fisik Ferit memang golongan pria tampan dengan tubuhnya yang berotot ditambah lagi mobil mewahnya yang selalu membawanya kemanapun.
Malam ini keberuntungan berada di pihak Ivy. Khan mengajaknya ke tempat parkir belakang, karena mobilnya berada di sana. Ia melihat Ferit ketika dirinya sudah berada di dalam mobil atasannya. Kaca mobil pria gemulai itu tampak gelap jika dilihat dari luar, membuat Ferit tidak menyadari bahwa Ivy telah keluar dari gedung perusahaan Sarte.
Beberapa menit telah berlalu, Ferit mulai terlihat cemas. Datanglah seorang wanita cantik mendekati Ferit.
"Halo tampan, kau sedang menunggu siapa malam-malam begini?" ucap wanita itu dengan pakaian kerjanya yang seksi.
Ferit hanya melirik sekilas ke arah wanita itu. Tetapi kemudian ia kembali menatap ke arah jalan raya yang ada di depannya.
"Jika kau diam begini, kau terlihat semakin tampan," rayu wanita itu dengan nadanya yang centil. Tangannya ia letakkan di salah satu pundak Ferit, tetapi pria itu masih bergeming.
__ADS_1
Wanita itu mencoba menyentuh pipi Ferit dengan lembut untuk membuatnya bereaksi kepadanya. Pria itu mulai menatapnya dengan tajam kemudian memudar.
Ferit melingkarkan salah satu tangannya ke lekukan pinggang wanita itu dan menariknya mendekat kepadanya. Ia menempelkan batang hidungnya di leher wanita tersebut, membuatnya dapat menghirup aroma jasmine yang ada di sana. Wanita itu tampak tersenyum kegirangan melihat rayuannya berhasil.
"Apa kau karyawan Sarte?" bisik Ferit di telinga wanita itu.
"Ya." Tangan wanita itu mulai berani mengusap dada Ferit yang masih terbungkus kemeja.
"Apa kau tahu Ivy sudah pulang atau belum?" bisik Ferit yang langsung membuat wanita itu menghentikan permainan jarinya di dada laki-laki itu.
"Kurasa Ivy sudah pulang sejak tadi. Apa kau kekasih Ivy?"
Ferit menggelengkan kepalanya kemudian berkata, "Aku calon suaminya."
Wanita itu terkejut setelah mendengar perkataan Ferit, tetapi kemudian ia tertawa kecil. Manik matanya menatap kerah kemeja hitam yang terbuka, "Kau calon suaminya tetapi berani memeluk wanita lain di depan umum."
"Bukankah kau menginginkannya?" Ferit menaikkan salah satu alisnya sedikit menggoda wanita itu.
"Apa kau juga menginginkan lebih dari sekedar ini?" Wanita itu mulai memasukkan jari tangannya di balik kemeja Ferit. Diusapnya bulu-bulu halus yang tersembunyi di sana.
Ferit semakin mempererat pelukannya pada pinggang ramping yang ada di depannya. Membuat perut berototnya menempel pada perut rata wanita itu. Ia sangat menikmati sensasi yang di berikan oleh teman Ivy. Jari-jari panjang itu turun ke bawah mengusap bagian belakang yang menonjol, menekannya hingga mencubitnya dengan lembut. Ia memberikan ciumannya di telinga wanita itu.
"Jika kau menginginkan lebih dari ini, hubungi aku...," bisik wanita itu di telinga Ferit. Ia memasukkan sebuah kartu nama ke dalam saku jas pria itu kemudian pergi meninggalkannya.
Ferit menatap pinggul wanita itu kemudian di bacanya kartu nama pemberian wanita itu.
"Aku punya permainan yang menarik untukmu dan montir sialan itu, Ivy," gumamnya.
Ia memanggil nama wanita yang telah dalam sekejap membangkitkan hasratnya. Pemilik kaki jenjang itu berhenti, kemudian ia mengulum senyumnya dan berbalik mendekati Ferit.
"Naiklah ke mobilku," ajak Ferit yang langsung di sambut dengan tatapan mata bersinar oleh wanita itu.
__ADS_1
* BERSAMBUNG *
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏