Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Malam Yang Menegangkan


__ADS_3

Dalam keadaan bertelanjang dada tanpa pakaian, Kenan menggandeng tangan Ivy untuk lari mencari tempat parkir mobilnya.  Mereka berlari mengendap-endap melewati mobil yang satu ke mobil yang lain, hingga mereka masuk ke dalam tanah lapang yang ada di samping bangunan, tempat pertandingan itu berlangsung.


Saat akan berjalan mendekati mobil miliknya, Kenan dan Ivy melihat dua orang petugas polisi yang sedang berdiri di samping mobil SUV tersebut. Ivy menahan tangan Kenan agar pria itu tidak maju ke depan, ia memberi isyarat pada pria itu agar menunduk. Wanita itu mengambil sebuah batu kecil seukuran telapak tangannya dan melemparkannya ke arah jam sepuluh tempat dia berada saat ini.


Lemparan Ivy mendarat di atas tong sampah dan membuat suara desing yang menarik perhatian kedua petugas tersebut. Kedua polisi berpakaian preman itu berjalan mendekati tong sampah yang berbunyi untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Setelah Kenan melihat kedua polisi itu pergi menjauhi mobilnya, ia langsung menarik tangan Ivy untuk masuk ke dalam mobil.


"Hei berhenti!" teriak salah seorang petugas polisi yang melihat Kenan dan Ivy.


"Itu petinjunya!" teriak temannya yang lain saat melihat Kenan tidak berpakaian.


Kedua polisi itu melayangkan tembakannya ke udara, membuat beberapa pasukan polisi memusatkan pandangannya ke arah Kenan dan Ivy yang sudah berdiri di samping mobil.


"Tangkap mereka!" teriak sang Kapten kepada pasukannya.


"Ivy, masuk ke mobil!" teriak Kenan. Dengan cepat, kedua orang itu segera melangkahkan kakinya dan mendaratkan tubuh mereka di atas kursi masing-masing.


Kenan segera mengeluarkan kendaraan roda empatnya dari tanah lapang. Pasukan polisi membentuk pagar betis untuk menghalangi mobil SUV itu keluar, tetapi Kenan malah menambah kecepatan mobilnya dan berniat menabrak barisan polisi tersebut. Tanpa aba-aba, belasan petugas polisi yang tidak ingin mati konyol segera membubarkan dirinya. Mobil itu menerjang bagian belakang mobil polisi yang menghalangi jalannya.


Beberapa mobil polisi mengejar mobil Kenan yang bergerak ke arah utara. Dari kaca spionnya, Kenan melihat dua mobil polisi sedang mengikutinya. Suara sirine itu makin lama makin mendekat ke arahnya. Putra Harun itu semakin menambah kecepatan mobilnya dan memasukkan kendaraan besinya ke dalam sebuah tempat parkir salah satu apartemen di pusat kota.


Mobil SUV itu mengelilngi tanjakan berputar di dalam area parkir yang sepi dan minim cahaya. Ia menghentikan mobilnya di sebuah petak garis yang telah disediakan. Kenan mematikan mesin dan lampu mobilnya, seakan-akan dirinya adalah penghuni apartemen tersebut.


"Ivy, tundukkan kepalamu. Kita akan bersembunyi di sini," ucap Kenan yang menarik tangan Ivy ke bawah. Kedua orang itu bersembunyi di bawah kursi mobil untuk menghindari kejaran mobil polisi.


Baik suasana di dalam mobil maupun suasana di luar, keduanya tampak gelap. Hanya terdengar deruan napas dari kedua anak manusia yang saling berimpitan dan menekuk dirinya. Seberkas cahaya berwarna merah dan suara sirine mobil meraung di dalam tempat parkir tersebut. Cahaya merah itu melewati mereka tanpa berhenti, kemudian berbelok menuju ke atas.


"Apa kita sudah aman?" bisik Ivy di samping telinga Kenan.


"Kurasa aman," jawab Kenan. Akan tetapi beberapa detik kemudian cahaya merah itu tampak berpendar menyapu wajah mereka.


"Sembunyi!" seru Kenan yang secara spontan mendaratkan kepalanya di atas kepala Ivy, membuat kedua hidung


mancung dan kedua bibir mereka saling bersentuhan. Mereka saling berbagi udara di dalam ruangan yang gelap dan sempit.


Jantung Ivy berdegup kencang ketika manik mata abu-abu gelap itu tampak bersinar, menatapnya dengan jarak yang sangat dekat. Kenan tak bisa menutupi perasaannya, saat bibir tipis itu menyentuh bibir coklatnya. Manik mata hijau itu terlihat sangat indah dan lembut ketika menatap dirinya. Akan tetapi , ia tidak punya keberanian untuk menyentuh bibir mungil tersebut.


Setelah mobill polisi itu berbelok menuruni tanjakan, Kenan segera menjauhkan dirinya dari wajah Ivy. Pria itu tampak kikuk saat ia kembali ke tempat duduknya. Sama halnya dengan Ivy, wanita itu memalingkan wajahnya ke arah jendela. Seakan beberapa detik yang lalu, tidak ada sesuatu yang terjadi.

__ADS_1


"Kurasa mereka telah pergi," ucap Kenan sambil menyalakan mesin mobilnya. Perlahan-lahan mobil berbentuk SUV itu menuruni tanjakan dan keluar dari apartemen tersebut.


Saat akan melintasi bundaran Menara Galatta, dari arah kiri terlihat mobil lain yang mengikuti mobil Kenan. Mobil keluaran Eropa dengan tubuh besinya berwarna hitam itu mulai membuntuti perjalanan mereka.


"Itu mobil Ferit!" seru Ivy setelah ia melihat dari kaca belakang mobil.


"Apa dia masih hidup?" tanya Kenan yang membelokkan mobilnya ke kanan. "Padahal aku sudah menghajarnya habis-habisan!"


"Entahlah, aku tidak bisa melihat siapa yang ada di dalam mobil itu." Ivy membalikkan badannya menghadap ke kaca belakang.


"Oh tidak! Itu Hasan! Dia akan menembak ke arah kita!" pekik Ivy yang langsung menundukkan dirinya bersembunyi di balik kursinya.


Kenan mengemudikan mobilnya dengan cara zig-zag untuk mengecoh Hasan membidikkan senjatanya. Bunyi desingan peluru itu terdengar dari luar, lontaran peluru Hasan mengenai sebuah taksi yang sedang parkir di pinggir jalan.


"Ivy, kita bertukar posisi. Pegang kemudinya!" seru Kenan.


Dalam keadaan berjongkok di bawah kursinya, Ivy memegang setir kemudi agar tetap berjalan lurus. Kepalanya terus menatap jalan raya yang ada di depan. Kenan segera melepaskan pedal gasnya. Ivy langsung menjulurkan kakinya menekan pedal gas menggantikan kaki Kenan. Putra Harun itu melangkahkan kedua kakinya berpindah ke tempat duduk Ivy. Dari tempat duduk Ivy, Kenan memegang kemudi mobilnya. Perlahan-lahan Ivy menaikkan tubuhnya untuk duduk di belakang kemudi.


Dari balik kemudinya, Hasan mengeluarkan kepalanya dan membidikkan senjata ke mobil Kenan.


Tepat saat peluru Hasan terbang ke arahnya, mobil SUV itu masuk ke dalam sebuah jalan kecil yang hanya bisa dilalui satu mobil.


"Kita akan kemana ini?" tanya Ivy. Ia menggenggam erat setir kemudinya.


"Ke Jembatan Martir!" seru Kenan. Ivy segera membelokkan mobilnya ke kiri dan mengambil jalur tengah menuju jembatan panjang yang membentang di atas Selat Bosphorus.


Hasan mengikuti mobil Kenan yang masuk ke sebuah jalan kecil kemudian ia berbelok ke kiri. Pria berambut cepak itu menaikkan kecepatan mobil Eropa yang di tumpanginya, membuatnya bisa menyusul mobil yang dikemudikan oleh Ivy.


"Kenan, dia mendekat," ujar Ivy yang melihat mobil hitam itu telah ada di belakangnya.


"Dia tidak menyerah juga." Kenan membuka kaca jendelanya dan mengeluarkan kepalanya. Ia membidikkan senjatanya ke kaca mobil hitam tersebut.


Satu kali tembakan Kenan mampu melubangi kaca depan mobil Eropa tersebut. Kali ini giliran Hasan yang membidikkan senjatanya. Konsentrasi pria berambut cepak itu sedikit terbelah, antara mengemudikan mobilnya dan menembak mobil Kenan. Tak ada cara lain, Hasan menembak mobil SUV itu dengan frontal tanpa bidikan.


Peluru Hasan itu menembus tubuh besi kendaraan Kenan. Kaca jendela belakang mobil berwarna silver itu pecah berkeping-keping. Kenan membalas tembakan Hasan. Di dalam kelamnya cahaya rembulan, suara desingan peluru itu saling bersahut-sahutan.


"Kenan, di depan!" teriak Ivy yang melihat ada sebuah truk tangki bahan bakar yang berhenti menghalangi jalannya. Posisi truk itu melintang di tengah jalan raya. Sementara di belakang, Hasan terus mengejarnya.

__ADS_1


"Tetap fokus. Lihat jalan yang ada di depanmu," ucap Kenan yang disertai dengan anggukan Ivy.


Pria itu segera mendekati Ivy dan mengambil sabuk pengaman yang ada di samping jendela. Bukan fokus Ivy yang hilang, tetapi fokus Kenan yang hilang. Aroma tubuh Ivy benar-benar mengusik naluri kelakiannya. Putra Harun itu seakan lupa bahwa ia harus memasang sabuk pengaman Ivy ke tempatnya.


"Kenan, apa kau sudah selesai? Kau menghalangiku" ucap Ivy yang mencoba berbagai cara untuk mencari celah melihat ke depan.


Kenan segera tersadar dan segera menarik sabuk itu dan memasukkannya ke tempatnya.  Setelah Kenan mengamankan Ivy, kali ini gilirannya yang memasang sabuk pengamannya.


Hasan yang telah kehabisan peluru, tak kekurangan akal untuk menghabisi Kenan. Ia mendekatkan mobilnya dan menabrak bagian belakang mobil SUV tersebut. Akibat tabrakan itu, kening Ivy hampir membentur setir kemudi.


"Ivy, naikkan persneling  mobilnya!" teriak Kenan ketika mobilnya sudah mendekati truk tangki bahan bakar. "Naikkan kecepatannya!


Ivy menekan pedal gasnya hingga jarum merah itu menyentuh angka 160. Ia merasakan mobil itu sedikit bergetar.


"Ivy! Sekarang!" teriak Kenan.


Putri Victor itu langsung menaikkan kecepatan mobilnya hingga menyentuh batas maksimal, dalam hitungan detik ia membelokkan mobilnya dengan sudut tajam ke arah kanan. Kakinya menginjak rem mobilnya sebentar, menimbulkan bunyi decitan dan percikan api keluar dari bagian bawah mobil. Ivy langsung membanting setir kemudinya dengan cepat dan kakinya langsung berpindah menginjak pedal gas. Mobil SUV itu langsung menghilang di tikungan jalan.


"Wohooo...!" pekik Kenan yang baru saja melihat atraksi Ivy seperti di sebuah arena balap mobil. Mendengar pujian Kenan membuat putri Victor itu mengeluarkan senyum manisnya. Guratan senyum itu membuat hati Kenan meleleh bagaikan sebongkah balok es yang terkena sinar matahari.


Sementara di ujung jalan yang lain, Hasan mengeluarkan umpatannya. Pria bertubuh langsing itu memukul setir kemudinya setelah ia kehilangan Kenan dan Ivy.


* BERSAMBUNG *


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian. Terimakasih.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2