Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Detik-detik sebelum Falea bertemu dengan Kozan


__ADS_3

Melihat raut wajah Kenan yang seakan menyiratkan bahwa pria itu tidak menerima penolakan, akhirnya membuat Ivy menyetujui permintaan kekasihnya. Putri Victor itu mempersiapkan semua hal yang mereka perlukan, kini dirinya bak seorang sekretaris pribadi, kekasih sekaligus seorang desainer Perusahaan Falea.


Ivy mulai memesan tiket penerbangan, mempersiapkan rancangan desainnya dan barang-barang pribadi mereka berdua. Tak lupa wanita muda itu juga memberikan beberapa lembar uang Lira untuk kebutuhan Nur dan Deniz selama dirinya dan Kenan pergi ke Paris untuk beberapa hari.


Tiga hari setelah mereka menerima sebuah email pemberitahuan dari perusahaan fashion di Kota Paris, kini waktunya kedua orang itu untuk berangkat. Ivy memilih jadwal penerbangan paling awal pada hari ini. Jika bukan karena ingin menghemat biaya, lebih baik baginya untuk memilih jadwal penerbangan satu hari sebelumnya agar mereka bisa menikmati keindahan kota Paris.


“Apa kau sudah siap?” tanya Kenan yang menyembulkan kepalanya di depan pintu kamar Ivy yang hanya terbuka setengahnya.


Dari pantulan cermin yang menempel di pintu lemari, putra Harun itu bisa melihat wajah cantik kekasihnya yang mengenakan busana kasual dan sebuah mantel merah membungkus tubuhnya yang ramping. Sebuah pakaian sederhana dan tidak bermerk. Ia teringat akan cerita Nur yang mengatakan bahwa Ivy telah menjual semua barang-barang mewah miliknya seperti pakaian, sepatu dan arloji di pasar dekat rumah mereka.


“Ya, aku sudah siap,” sahut Ivy dari dalam kamar. Putri Victor itu berjalan mendekati Kenan sembari mengingat dan mencocokkan kembali daftar barang-barang yang akan ia bawa.


“Oke, kita berangkat!” seru Ivy sambil membentangkan kedua telapak tangannya di depan kekasihnya. Wajahnya terlihat berbinar-binar tanpa paksaan.


Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Hari masih gelap ketika keempat orang itu keluar dari gedung apartemen. Sepasang kekasih itu berpamitan kepada Nur dan Deniz di halaman depan. Selang lima menit kemudian, sebuah taksi berwarna kuning membawa keduanya pergi meninggalkan apartemen menuju Bandara Ataturk.


Setelah kepergian mereka, Nur menyiram jalan raya yang masih tertutup salju itu dengan seember air yang telah disiapkan sebelumnya.


“Semoga Tuhan menyertai perjalanan mereka,” ucap Nur yang berdiri dengan pandangannya lurus ke depan. Taksi itu bergerak menjauhinya dan semakin menghilang di tikungan jalan. Wanita paruh baya itu kemudian mengajak Deniz untuk masuk ke dalam.


Pukul 07.10 waktu Istanbul , pesawat Turkey Airlines menerbangkan Kenan dan Ivy ke Kota Paris, Prancis. Melalui jendela pesawat yang ada di samping tempat duduk Kenan, mereka dapat melihat indahnya kemilau sang surya yang baru saja menampakkan dirinya. Cahaya kuning nan lembut dengan sebagian tubuhnya yang tertutup oleh gumpalan awan berwarna putih keabu-abuan. Pemandangan indah inilah yang menemani perjalanan mereka selama kurang lebih tiga jam empat puluh lima menit di udara.


 


......................


Kota Paris, Prancis


Di sebuah kamar hotel bintang lima di Kota Paris, seorang pria terlihat membuka kelopak matanya. Bulu mata nan panjang itu tampak berdiri. Biji mata berwarna coklat itu mulai sedikit membesar membiasakan sinar matahari yang masuk melalui sela-sela tirai jendela. Terdengar suaranya yang sedang menguap bagaikan seekor beruang yang baru saja bangun dari tidurnya yang panjang di musim dingin.


Semalam pria itu baru tiba di Paris kemudian ia menghabiskan waktunya di salah satu kelab malam yang paling terkenal di kota tersebut. Aroma alkohol masih tercium pada pakaiannya.


“Jam berapa sekarang?” tanyanya dengan nada suaranya yang berat.

__ADS_1


Ia baru menyadari bahwa semalam dirinya berbaring sendirian di dalam kamar ini. Tidak ada wanita di sampingnya apalagi pelayan rumahnya. Tangannya meraih sebuah ponsel yang tergeletak begitu saja di atas nakas. Matanya masih terasa berat untuk menyalakan alat komunikasi tersebut.


“Masih pukul delapan pagi,” rancaunya yang terdengar seperti sebuah orang yang masih setengah mabuk. Dilemparkannya ponsel tersebut di atas bantal lain yang ada di samping kepalanya.


Selimut putih itu tersibak dengan sekali hentakan tangan. Musim dingin hampir berakhir namun butiran-butiran salju itu masih turun membasahi Kota Paris. Ia merenggangkan otot-otot tubuhnya di atas pembaringan, kemudian menyeret kedua kakinya menuju kamar mandi dengan pintunya yang terbuat dari kaca transparan.


Pria berambut panjang itu mulai membersihkan dirinya. Mencukur kumis dan jenggotnya hingga tersisa sedikit bulu yang menggantung di dagunya. Ia mulai mengeringkan rambutnya yang terlihat basah dan mengucirnya ke belakang. Sebuah kemeja putih lengkap dengan rompinya yang terbuat dari bahan wol berwarna abu-abu membungkus tubuhnya yang kekar.


Setelah menyelesaikan makan paginya di restoran hotel, ia menyalakan sebuah tablet. Perangkat datar berbentu persegi panjang dan memiliki layar sentuh itu memperlihatkan seluruh jadwal meeting- nya hari ini dan beberapa hari ke depan. Pertemuan itu baru akan terjadi pukul satu siang waktu Paris. Waktunya tinggal tiga jam lagi untuk mempersiapkan presentasi bisnisnya.


Tidak ada satu perusahaan pun yang akan menolak berbisnis dengan Perusahaan Kozan.


Hampir setiap pagi, pria berambut coklat itu menghubungi orang kepercayaannya hanya sekedar untuk menanyakan tugas yang sudah dia berikan. Namun tidak untuk hari ini, ia akan fokus ke perusahaannya terlebih dahulu. Setelah urusan bisnisnya selesai, ia akan langsung pulang ke Istanbul.


“Apa saja yang dikerjakan Hasan? Hanya untuk mencari satu orang wanita saja ia menghabiskan waktunya selama ini!” serunya sambil melempar surat kabar milik hotel ke atas meja makannya.


Di langit yang sama di Kota Paris, pesawat Turkey Airlines yang membawa penumpang dari Istanbul menuju Paris mendarat dengan sempurna di Bandara Charles de Gaulle pada pukul 09.50 waktu Paris. Hujan salju yang sempat turun tadi pagi, perlahan-lahan mulai mencair. Sang fajar mulai menunjukkan sinarnya ketika hari sudah mulai siang.


“Aku seperti sedang mengalami de javu, kembali ke bandara ini. Dengan suasana yang sama dan....”


“Orang yang berbeda. Itu bukan de javu,” sambung Kenan yang langsung memotong perkataan Ivy. Sepasang kekasih itu tertawa di sepanjang perjalanan mereka menuju ke Terminal Satu.


“Kau tahu…, setahun yang lalu aku datang ke sini sendiri. Betapa sangat menyedihkan melihat Menara Eiffel seorang diri.” Kenan berkata sambil menggenggam erat tangan Ivy. Deretan toko penjual souvenir Perancis telah mereka lewati bersama.


“Apa waktu itu kau ingin melupakan Hazal?” tebak Ivy.


“Kau sudah tahu jawabannya. Aku tidak ingin membahasnya, di sini hanya ada kita. Oke?” Manik mata abu-abu itu agak melotot menatap Ivy. Nada suaranya terdengar mulai meninggi.


“Aku hanya bertanya," balas Ivy yang masih menjaga nada bicaranya pada batas normal.


“Untuk apa kau bertanya, jika kau sudah tahu jawabannya?” Kenan mendengus dan memalingkan wajahnya menatap sebuah kedai kopi yang ada di belakang Ivy.


“Oke-oke baiklah, aku tidak akan pernah mengatakan nama wanita itu lagi.” Lebih baik bagi Ivy untuk mengalah daripada membuat perdebatan kecil yang seharusnya tidak perlu terjadi.

__ADS_1


“Apa setelah ini kita akan melihat Menara Eiffel?” tanya Ivy dengan kerlingan matanya yang lembut. Tak dapat dipungkiri, hati Kenan kembali luluh dan bergetar melihat tatapan mata Ivy.


“Kau ingin ke sana?” tanya Kenan, setelah mereka memasuki sebuah gedung yang bernama Terminal Satu. Tangan Kenan beralih memeluk pinggang ramping Ivy dan membelai lembut rambut panjangnya yang terurai.


“Aku ingin ke sana bersamamu,” bisik Ivy sambil menyembunyikan wajahnya di balik dada Kenan. Menghirup aroma tubuh pria itu benar-benar membuat Ivy tampak bersemangat. Putra Harun itupun memberikan jawabannya dengan memberikan sebuah ciuman pada puncak kepala Ivy.


Mereka berjalan menyusuri Gedung Terminal Satu. Sebuah gedung dengan arsitektur bangunannya yang menyerupai gurita. Para penumpang dari berbagai negara sudah bersiap untuk melakukan check-in dengan menunjukkan passport dan visa mereka kepada petugas.


Setelah sebuah stempel dengan tulisan check-in mereka dapatkan, sepasang kekasih itu melanjutkan perjalanannya menuju ke lantai lima untuk mengambil bagasi mereka. Terlihat puluhan orang sudah berdiri mengantri untuk menjemput barang bawaannya. Satu per satu tas koper dengan berbagai macam bentuk ukuran dan warna keluar dari mesin eskalator datar yang bergerak memutar.


“Apa kau sudah mengubah waktu di jam tanganmu?” tanya Kenan kepada Ivy setelah pria itu mengambil tas koper milik mereka yang berwarna hitam.


“Ini mau aku lakukan,” jawab Ivy yang langsung mengubah setelan arlojinya menjadi lebih lambat satu jam dibandingkan dengan waktu Istanbul. “Mungkin kita akan sampai Paris sekitar pukul dua belas lebih.”


Setelah keluar dari ruang bagasi, Kenan dan Ivy bergerak turun menuju lantai tiga untuk mencari sebuah alat transportasi yang akan membawa mereka masuk ke kota Paris. Di depan mata mereka hampir semua jenis transportasi umum tersedia. Mulai dari taksi, bus, dan mobil persewaan.


“Kurasa kita harus mencari jalan tercepat untuk bisa sampai ke perusahaan itu. Jadwal meeting-nya jam satu siang’kan?” tanya Kenan yang langsung tersenyum begitu ia melihat Ivy dengan cepat memilih sebuah taksi.


Namun guratan senyum itu mendadak berubah menjadi kerutan di kening Kenan, setelah ia melihat Ivy mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya kepada sopir taksi.


Ternyata sifat iritnya tidak berubah, tapi baguslah….


Ivy membalas tatapan mata Kenan dengan melambaikan kartu by pass-nya di depan wajah pria itu. “Aku sudah tinggal di Paris selama lima tahun sewaktu kuliah. Sayang sekali jika aku tidak membawanya ikut bersama kita.”


“Memangnya berapa banyak Euro yang ada di sana?” tanya Kenan penasaran. Pikirannya berkata mungkin hanya cukup untuk pulang pergi ke bandara.


“Cukup banyak untuk membuat kita mengelilingi kota Paris selama seminggu.” Manik mata hijau itu tampak berbinar menatap kartu yang ada di tangannya dan raut wajah Kenan secara bergantian. Dirinya seakan puas melihat mulut pria itu terkunci rapat.


Kenan hanya membalas perkataan Ivy dengan sebuah dehaman yang tak terkatakan. Entah berapa banyak penilaian yang akan ia berikan kepada kekasihnya itu jika disuruh menilai antara satu sampai sepuluh. Wanita hemat, cerdas, irit, pelit atau apapun itu yang pasti Ivy telah mengisi seluruh kehidupannya.


...****************...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2