
Seorang suster memberikan hasil pemeriksaan medis kepada Kenan. Pria itu melihat nama Ivy Eleanor yang terketik di sampul amplop. Ia menatap manik mata hijau yang tampak membulat di tengah.
"Kenan, cepat buka. Aku ingin tahu hasilnya," pinta Ivy. Suaranya terdengar lebih bersemangat dari sebelumnya.
Kenan memberikan amplop itu kepada Ivy, ia berpikir dirinya tidak berhak membuka amplop itu. Pria itu menegakkan sedikit ranjang Ivy.
Perlahan demi perlahan lidah amplop itu terbuka. Ivy mengambil selembar kertas dari dalam sampul berbentuk persegi panjang itu. Manik matanya bergerak membaca deretan-deratan angka dan kolom-kolom. Hingga bola mata hijau itu tertuju pada kolom bagian bawah yang menuliskan angka empat puluh lima persen.
Kertas berwarna putih itu lepas dari tangan Ivy, meluncur ke bawah dan jatuh di atas lantai. Kenan segera memungutnya dan membacanya.
Kecocokan mereka hanya empat puluh lima persen.
Kenan melipat kertas itu menjadi empat bagian dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Ia mendudukkan dirinya di samping tangan Ivy.
"Kita tunggu penjelasan dari Dokter Husein," ucap Kenan. Ivy hanya bisa menutupi wajahnya dan mengusapnya dengan pelan. Ia tidak yakin dengan hasil tes medisnya.
Setalah kondisi Ivy membaik, ia dan Kenan menemui Dokter Husein. Dokter paruh baya itu membaca hasil pemeriksaan Ivy, kemudian ia melepaskan bingkai kacamata bacanya.
"Ivy," ucap Dokter Husein dengan suaranya yang berat. "Kemungkinan kau menjadi pendonor sangat kecil, ada beberapa bagian dalam tubuhmu yang tidak cocok."
"Maksud Dokter, a...aku tidak bisa men...menjadi pendonor... untuk Deniz?" Suara Ivy hampir hilang tertelan oleh salivanya.
Dokter Husein memejamkan kelopak matanya kemudian ia menghembuskan napasnya dalam-dalam. "Ya, Ivy. Kau tidak bisa mendonorkan sum-sum tulang belakangmu."
Mendengar perkataan pria paruh baya itu, membuat Ivy bangkit berdiri dari kursinya. Ia menggelengkan kepalanya dengan tatapan nanar. " Aku tak percaya, Dokter!"
"Aku adalah kakak kandungnya. Kami sedarah, bagaimana bisa sum-sum ku tidak cocok untuk Deniz?" teriak Ivy yang bangkit berdiri dari kursinya. Ia menangis di depan dokter setengah tua itu.
"Ada sebagian kasus, saudara kandung tidak bisa mendonorkan darahnya. Tapi ada juga pendonor yang berasal dari luar, yang tidak memiliki hubungan darah." Kumis putih itu terangkat ke atas saat ia menjelaskan kepada Ivy dan Kenan.
"Maksud Dokter, hidup Deniz ada di tangan orang lain saat ini?" tanya Ivy dengan tatapannya yang nanar. Kenan menuntunnya untuk kembali ke kursinya.
__ADS_1
"Kita bisa mencari pendonor lain, entah orang terdekatmu atau orang yang tidak kita kenal yang mau mendonorkan sum-sum tulang belakangnya, dan...." Dokter Husein menghentikan ucapannya.
"Kau pasti akan mengatakan... dan semua itu butuh biaya besar, Ivy. Benar'kan, Dokter?" teriak Ivy yang langsung pergi meninggalkan ruangan Dokter Husein. Ia benar-benar ingin meluapkan kemarahannya, kekecewaannya dan kesedihannya saat ini. Tapi kepada siapa? Ia tidak tahu.
Tanpa memperdulikan permintaan maaf dari Dokter Husein, Kenan segera berlari mengejar Ivy. Ia mencari wanita itu di setiap lorong rumah sakit dan kamar Deniz tapi wanita itu tidak ada di sana.
Kemana dia pergi?
Kenan menuruni beberapa anak tangga rumah sakit, ia terus berjalan mencari Ivy. Manik mata abu-abu gelapnya menangkap sosok wanita berbaju biru yang sedang duduk di bawah pohon yang ada di pinggir taman.
Putra Harun itu menyentuh pundak Ivy dengan pelan, tetapi wanita itu tetap pada posisinya. Ivy menenggelamkan wajahnya di atas kedua lututnya yang ia tekuk. Sepasang sandalnya menyentuh rumput gajah yang tertata dengan rapi.
"Aku akan memeriksakan diriku," kata Kenan setelah ia berjongkok di depan Ivy.
Wanita berwajah oval itu mengangkat kepalanya, ia melihat Kenan sudah ada di depannya. "Jangan beri aku harapan. Aku yang saudara kandungnya saja tidak cocok."
"Bukankah tadi dokter mengatakan, orang luar bisa menjadi pendonor, asalkan sumsum mereka cocok dengan milik Deniz," kata Kenan sambil memegang kedua lengan Ivy dan membantunya untuk bangkit berdiri.
"Aku takut, Kenan."
"Semuanya. Aku takut jika ternyata hasil tes mu juga tidak cocok. Aku takut, aku tidak bisa membiayai pengobatan Deniz dan aku akan kehilangan dia untuk selamanya," isak Ivy dengan raut wajahnya yang merah dan basah.
Kenan menempelkan keningnya di kening Ivy. Dua pasang manik mata itu saling beradu dalam kedekatan, seakan angin pun tidak bisa melewatinya.
"Aku juga tidak tahu hasilnya. Tapi... seandainya aku tidak bisa menjadi pendonor, aku akan mencari cara lain untuk menolong Deniz. Kau ingat sewaktu kita berada di Sultanahmet? Kita... kau dan aku akan berjuang bersama untuk kesembuhan Deniz."
Manik mata hijau itu memejamkan matanya setelah ia mendengar perkataan Kenan, cairan bening itu semakin deras mengalir keluar. Ivy hanya bisa diam mematung ketika pria itu memeluk tubuhnya dengan erat.
Kenan... jangan buat aku terlalu mencintaimu dengan tindakanmu ini. Aku takut bahwa ini hanyalah ilusi ku saja....
Mereka berdua kembali berjalan di lorong rumah sakit dan berhenti di depan pintu ruang laboratorium. Ivy memegang salah satu lengan Kenan, ketika pria itu akan masuk ke dalam.
__ADS_1
"Apa kau yakin akan melakukan ini?" tanya Ivy sekali lagi. Ia tidak akan marah, jika Kenan berubah pikiran.
Kenan memegang tangan Ivy yang berada di lengannya dan berkata, "Aku akan melakukannya."
Ivy melepaskan pegangan tangannya dan membiarkan pria itu untuk menjalani tes medisnya.
*****
Sebuah pantulan cahaya matahari mengenai jendela luar gedung perusahaan Kozan. Di salah satu ruangan yang terletak di lantai delapan, seorang pria sedang membaca laporan keuangan perusahaannya. Tangannya bergerak memainkan kursor pada layar laptopnya. Manik mata coklat itu tak berkedip menatap angka demi angka yang semakin naik. Senyuman tipis terlukis di sudut bibirnya.
Pria itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya yang empuk. Ia meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya dan memutar kursi putarnya membentuk lingkaran.
Suara nada dering ponselnya membuat pria itu menghentikan aktivitasnya. Ia meraih benda tipis berwarna hitam yang ada di atas meja, dilihatnya sebuah nama yang baru saja ia kenal tidak lama ini.
"Ada apa?" tanya Ferit yang mendongakkan kepalanya ke atas. Ia mulai memainkan kembali kursi putarnya, namun kali ini ia hanya memutarnya ke kiri dan ke kanan dengan putaran pendek.
"Hari ini Ivy tidak masuk kerja." Terdengar suara wanita dari seberang.
"Kenapa dia tidak masuk? Apa dia sakit?" Ferit menegakkan tubuhnya di atas kursinya yang didominasi warna coklat dan aksen diatasnya yang berwarna abu-abu. Wajahnya mulai terlihat serius mendengar suara wanita yang ada di dalam ponselnya. Pembicaraan itupun terhenti.
Sebuah senyuman mengembang dari sudut bibirnya, kali ini senyuman itu lebih lebar dari yang pertama saat ia melihat omzet penjualannya meningkat tajam beberapa bulan terakhir.
"Hasan!" teriak Ferit dari dalam ruangannya.
Seorang pria yang mengenakan kemeja berwarna merah masuk ke dalam ruangannya. Pria dengan rambutnya yang hitam itu berdiri di depan meja kerja Ferit yang berbentuk persegi panjang dengan kombinasi dua warna.
"Ya, Tuan."
"Cari tahu dimana Deniz Eleanor di rawat!" perintah Ferit. "Aku akan pergi makan siang dengan pemimpin perusahaan Sarte."
"Baik, Tuan Ferit." Pria yang bernama Hasan itu segera keluar bersama dengan Ferit.
__ADS_1
* BERSAMBUNG *
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏