
Ferit membawa Ivy ke halaman depan Rumah Sakit Istanbul. Ia khusus membuka pintu mobilnya hanya untuk seorang Ivy Eleanor.
"Masuklah." Ferit menggerakkan kepalanya ke arah dalam mobil. Suara pria itu terdengar lebih lembut dari sebelumnya.
"Apa mau mu? Kenapa kau bawa aku ke mobilmu?" tanya Ivy setelah Ferit masuk ke dalam mobil, tapi pria itu tidak menjawab pertanyaan Ivy. Pria itu segera mengitari mobil dan duduk di belakang kemudinya.
Ferit hanya menatap wajah Ivy sambil tersenyum tipis. Ia mengunci pintu mobil dan jendelanya, kemudian menjalankan mesin mobilnya. Kendaraan itu melaju beberapa meter menjauhi rumah sakit.
Pria berambut coklat itu membawa Ivy ke rumahnya. Sebuah rumah mewah di kawasan barat kota Istanbul. Rumah dua lantai dengan interiornya bergaya klasik Eropa. Dengan kombinasi dua tirai warna putih dan warna emas di salah satu dinding ruang tamu. Di bawah tirai itu terdapat sebuah pigura besar dengan ukiran bingkainya berwarna emas.
Ivy langsung menutup mulutnya begitu ia melihat foto dirinya yang tergantung di dinding bawah tirai itu. Ia pun melangkahkan kakinya ke ruangan yang lain. Bukan hanya di ruang tamu ia mendapati foto-foto dirinya dengan pose dan senyum yang sama. Di ruang keluarga, ruang tengah, ruang kerja kerja Ferit maupun di dapur rumah itu.
"Kau terkejut?" Suara Ferit membuat tubuh Ivy terhentak.
"Inilah bukti cintaku kepadamu. Setiap wajah dan senyuman mu ada di dalam rumah ini. Tapi tak ada gunanya, jika si pemilik senyuman itu tidak ada di sini," ucap Ferit melanjutkan perkataannya. Ia berdiri di belakang Ivy.
"Kau gila, Ferit! Kau hanya terobsesi kepadaku!" teriak Ivy. Wanita itu mendadak ngeri melihat foto-foto dirinya ada di rumah yang tidak ia kenal.
"Menurut mu aku gila? Ini bukan obsesi, Ivy ku sayang." Pria itu tertawa terbahak-bahak di samping telinga Ivy.
"Kau akan menjadi Nyonya rumah ini, wajar jika aku meletakkan fotomu di setiap ruangan." Ferit menempelkan pipinya di samping pipi Ivy, membuat wanita itu bisa merasakan kengerian akibat suara Ferit dan belaian cambang coklat milik pria itu.
Ferit mengajak Ivy ke suatu ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar di lantai bawah. Sepertinya bukan kamar Ferit. Kamar ini seperti kamar seorang wanita dengan warna ungu di bagian dinding dan ranjangnya. Di sudut kamar ada sebuah meja kecil dengan ukirannya di bagian keempat kakinya. Pria itu membawa Ivy untuk menghadap sebuah cermin besar menempel di tengah pintu lemari. Cermin berbentuk persegi panjang itu dapat memantulkan seluruh tubuhnya.
"Bukankah ini fotomu, sayang?" tanya Ferit yang berdiri di belakang Ivy. Ia menunjukkan sebuah pigura foto seorang wanita kepada putri Victor itu. "Sekarang kau telah kembali ke rumah ini, sayang."
Ivy mengamati foto wanita yang ada di tangan Ferit.
Kenapa wajah kami sangat mirip? Kapan aku pernah berfoto seperti itu?
Ivy menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia yakin wanita di foto itu bukan dirinya.
"Kau gila, Ferit! Wanita itu bukan aku!" teriak Ivy yang mendorong Ferit hingga pria itu jatuh di atas ranjang kemudian ia bergegas lari keluar. Ivy berusaha mencari pintu keluar rumah itu. Manik matanya tertuju kepada pintu abu-abu yang ada di ruang tamu. Dibukanya pintu besar tersebut lalu ia segera lari ke depan.
"Ivy!" teriak Ferit setelah melihat wanitanya kabur.
Pria berkumis coklat itu mengejar Ivy yang sudah berlari mendekati pagar rumah. Tapi naas, pagar itu terkunci. Ivy hanya bisa menyandarkan dirinya di depan pagar hitam itu dan menatap ngeri wajah pria yang makin lama makin mendekat ke arahnya.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" teriak Ivy dengan keras. Tangan kanannya menggenggam jeruji pagar besi dengan kuat, saat tangan Ferit menarik paksa tangan kirinya.
__ADS_1
"Masuk! Aku tidak akan pernah membiarkanmu keluar!" pekik Ferit dengan amarahnya. Ia berusaha melepaskan pegangan tangan Ivy dari pagar.
Ivy menendang tulang kering Ferit, membuat pria itu melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah menjauhi Ivy.
Putri Victor itu segera memanjat jeruji besi berwarna hitam. Kakinya belum mencapai bagian tengah, Ferit telah mengalungkan tangannya ke pinggang Ivy.
Pria itu memanggul Ivy di pundaknya bagaikan mengusung sebuah senapan besar. Ivy berteriak sekeras-kerasnya sambil memukul punggung Ferit. Pria bercambang itu membawa Ivy ke dalam kamarnya yang ada di lantai dua dan menjatuhkan tubuh wanita itu ke atas ranjang.
Ivy menggigil ketakutan tatkala ia melihat Ferit yang melepaskan jas kerjanya dan membuangnya ke lantai. Pria itu melepaskan ikatan dasinya dan membuka kancing kemejanya, membuat Ivy dapat melihat jelas lekukan otot perut di tubuh Ferit. Bulu-bulu halus itu menghiasi dada bidangnya.
"Apa yang kau inginkan, Ferit? Keluarkan aku dari sini!" teriak Ivy dengan amarahnya.
"Kau telah membuatku marah kali ini, Ivy. Pertama, kau meninggalkanku di altar pernikahan membuatku malu di depan banyak tamu."
Ivy terus memundurkan tubuhnya hingga kepalanya menyentuh dipan ranjang berwarna putih, ketika Ferit merangkak ke arahnya.
"Kedua, kau kabur bersama dengan montir sialan itu tepat di hari pernikahan kita."
"Ketiga, beraninya kau berpelukan dengan montir bodoh itu di depan mata ku saat aku akan mengunjungi Deniz di rumah sakit!"
Putri Victor itu hanya bisa menelan salivanya ketika Ferit menindih tubuh Ivy dengan tubuhnya yang kekar. Ia mencoba menjauhkan tubuh Ferit darinya.
"Lepaskan aku, brengsek! Aku akan membunuhmu jika kau berani menyentuhku!" ancam Ivy dengan teriakannya
"Oh ya?" Ferit menaikkan sala satu alisnya.
Ferit menahan kedua tangan Ivy. Pria itu mencoba mencium paksa bibir Ivy berulangkali, akan tetapi wanita memberontak dengan menggerak-gerakkan tubuhnya di bawah tubuh Ferit. Ivy juga menggelengkan kepalanya agar pria itu tidak bisa mencium dirinya.
"Tolong! Kenan... tolong aku!" jerit Ivy dengan keras.
Mendengar Ivy menyebut nama montir itu, membuat Ferit naik pitam. Kedua tangan kekar yang semula menahan tangan Ivy, kali ini ia gunakan untuk menahan wajah Ivy agar tidak bergerak.
"Lepaskan aku!" teriak Ivy. Tubuhnya semakin bergerak menyentuh bagian bawah tubuh Ferit.
"Berteriaklah lebih keras, sayang. Teriakanmu itu semakin membuat ku bergairah. Panggil namaku!"
Dengan cepat Ferit mencium bibir Ivy. Lidahnya menekan bibir Ivy, berusaha menerobos masuk bibir tipis itu. Ivy tak kuasa menahan serangan Ferit, lidah pria itu dengan cepat menjelajahi setiap inci yang ada di dalam rongga merah tersebut.
Ivy terus memberontak, ia tidak membiarkan Ferit mengambil kehormatannya saat ini. Pria itu melepaskan ciuman bibirnya dan menjilati leher Ivy. Perlahan-lahan pria itu mulai menghirup aroma tubuh Ivy dan menciumi kulit leher wanita itu dengan rakus.
__ADS_1
Ivy melihat sebuh benda tajam di sampingnya, tangannya berusaha menggapai anak panah kecil yang ada di atas nakas. Anak panah itu terbuat dari besi dengan ujungnya yang runcing. Saat Ferit tengah menikmati lekukan lehernya, Ivy langsung menancapkan anak panah itu ke lengan kanan Ferit dan melepaskannya.
Pria itu segera melepaskan ciumannya dari leher Ivy. Raut wajahnya menegang kemudian mengerang. Tusukan yang dibuat Ivy itu sangat dalam.
"Beraninya kau!" Ferit segera bangkit berdiri dan memegangi lengannya yang telah mengucurkan darah segar.
"Aku akan membunuhmu, jika kau berani menyentuh ku, Ferit Kosan!" pekik Ivy sambil menodongkan anak panah yang ada di tangannya ke wajah Ferit.
Manik mata coklat itu menyorot tajam ke arah Ivy dengan murkanya yang menyala. Laki-laki itu pergi keluar dan membanting pintunya dengan keras.
Napas Ivy terengah-engah, melihat Ferit yang telah pergi, ia segera berlari ke arah pintu dan menguncinya dari dalam. Di balik pintu berwarna putih itu, ia merosotkan tubuhnya ke lantai. Diusapnya bibir dan lehernya berulangkali sambil menangis sejadi-jadinya.
Kenan... tolong aku... dimana kau?
*****
Kenan mencari Ivy di sekeliling rumah sakit, akan tetapi ia tidak bisa menemukan wanita itu. Akhirnya ia meminta bantuan petugas keamanan rumah sakit untuk melihat kamera CCTV di setiap sudut bangunan tinggi tersebut.
Tampilan beberapa monitor itu memperlihatkan bahwa Ferit menggandeng tangan Ivy untuk masuk ke dalam mobil. Kenan meminta petugas untuk memperbesar gambar tersebut.
Tidak ada paksaan yang terlihat di kamera itu. Ferit membukakan pintu mobil kemudian Ivy masuk ke dalam.
"Sial!" pekik Kenan sambil memegang kepalanya. Ia tidak bisa melihat plat nomor mobil Ferit.
Putra Harun itu mencoba menghubungi Mehmet, ia meminta bantuan Mehmet agar mengirim anak buahnya ke rumah sakit untuk menjaga Deniz dan Nur.
"Memangnya kau akan pergi kemana?" tanya Mehmet dari balik ponselnya.
"Aku akan mencari keparat yang telah membawa pergi Ivy!" seru Kenan sambil menatap tajam sebuah tabung pemadam kebakaran yang tergantung di dinding.
"Dimana si keparat itu? Aku akan menghajarnya!"
"Aku akan melakukannya sendiri. Tolong jaga Deniz dan Nur. Satu lagi, perintahkan seluruh anak buahmu untuk melakukan tes medis. Aku membutuhkan donor sum-sum tulang belakang untuk Deniz," jelas putra Harun yang berjalan mondar-mandir di depan ruang CCTV.
Beberapa menit setelah Kenan menutup ponselnya, datanglah sepuluh anak buah Mehmet ke rumah sakit. Delapan orang melakukan tes medis termasuk Mehmet dan dua orang berjaga-jaga di depan kamar Deniz. Sementara Kenan pergi meninggalkan rumah sakit untuk mencari Ivy.
* BERSAMBUNG *
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1