Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Pengumuman Pemenang Tender Fashion Musim Semi Tahun Ini


__ADS_3

Sepasang sepatu bot berhak tinggi itu melangkah dengan penuh keyakinan. Cahaya lampu koridor itu menyapu wajahnya yang berbentuk oval. Ivy membuka pintu ruang rapat itu dengan sekali hentakan. Meletakkan pakaian milik Perusahaan Kozan begitu saja di samping Ferit. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, wanita itu kembali duduk di kursinya. Ia tidak punya keberanian untuk menatap wajah Kenan atau berbicara pada pria itu.


Setelah giliran perwakilan dari Negara Jepang telah selesai memberikan presentasi desainnya, kini giliran Perusahaan Falea.


“Silahkan, Tuan Fallay untuk maju ke depan mempresentasikan perusahaannya dan desainnya.” Manajer wanita itu memanggil Kenan dan menyiapkan sebuah mikrofon untuk pria itu.


Kenan berdiri dan mengambil mikrofon itu dari tangan sang manajer. Pertama-tama ia menatap wajah Ivy kemudian beralih kepada semua orang yang ada di dalam ruangan. Namun pandangan matanya mulai terusik, ketika ia melihat Ferit yang terus memandangi Ivy. Diusapnya wajahnya dengan kasar, untuk mengembalikan konsentrasinya dan ketenangan hatinya.


“Selamat siang untuk semua yang hadir di ruangan ini. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Perusahaan Mandellion yang telah mengundang Falea untuk hadir di acara seleksi tahap kedua. Sebuah kehormatan bagi Falea, yang merupakan perusahaan baru di Turki.”


“Falea berdiri hanya mengandalkan pengalaman lima tahun yang saya miliki untuk membangun bisnis yang sama di bawah bendera Perusahaan Fallay. Mungkin ada diantara kalian yang pernah mendengar sepak terjang Perusahaan Fallay yang pernah menguasai pasar fashion Eropa?” tanya Kenan.


Ia ingin mengurangi rasa tegangnya saat ini dengan memberikan pertanyaan kepada semua orang.


“Ya…ya…. Aku pernah mendengar nama Fallay. Perusahaan itu sudah lama berdiri,” ucap seorang perwakilan dari Perusahaan Italia. Seorang pria berambut hitam dengan tubuhnya yang sedikit gemuk.


“Oh pantas…. Sejak Anda masuk ke ruangan ini, sepertinya aku pernah melihatmu, Tuan Fallay. Kurasa beberapa tahun yang lalu, kita pernah menjalin kerjasama,” kata perwakilan dari Perusahaan Brazil. Seorang pria berambut blonde dengan aksen latinnya.


Tampak wajah Presdir Mandellion juga tersenyum begitu mendengar perkataan Kenan dan peserta yang lain. Di sudut lain, Ferit hanya tersenyum kecut begitu mendengar kasak kusuk semua orang membicarakan Perusahaan Fallay. Ternyata lawannya itu bukanlah seorang montir biasa.


“Selanjutnya untuk masalah desain, saya serahkan kepada desainer Falea untuk menjelaskan desainnya. Silahkan Nona Eleanor,” panggil Kenan.


Ivy langsung beranjak dari kursinya begitu ia mendengar namanya di panggil. Ia merasakan genggaman tangan Kenan menyentuh telapak tangannya ketika mereka berpapasan. Sentuhan kecil itu membuat hatinya sedikit lega, meskipun itu bukan sebuah senyuman, perkataan atau ciuman yang kerap kali diberikan pria itu kepadanya.


Sebuah tampilan gambar pakaian terpampang di layar proyektor ketika lampu ruangan mulai di padamkan. Mereka melihat hasil rancangan Ivy yang dipilih oleh pihak Mandellion.


Putri Victor itu menjelaskan detail floral yang ia gunakan pada desainnya. Detail tersebut ia padukan dengan bahan denim jeans dan bahan kain polos yang menghasilkan sebuah desain street style. Kenan memberikan contoh kain yang akan perusahaannya gunakan untuk desain rancangan Ivy. Contoh kain itu berputar, mulai dari meja Presdir hingga kembali lagi kepada dirinya.


“Denim jeans tidak akan pernah mati. Trend ini tidak akan habis meskipun musim semi telah berakhir di seluruh dunia!” seru Ivy dengan statement desainnya kepada semua orang.


Semua orang takjub mendengar penjelasan Ivy. Wanita itu adalah sosok desainer muda yang berbakat, hanya saja banyak orang yang tidak mengetahui bakat berliannya. Keberuntungan memang tidak selalu berpihak padanya.


Ivy menutup presentasi desainnya dengan menampilkan video pagelaran busananya ketika ia masih menjadi desainer di Perusahaan Sarte dan video Perusahaan Fallea. Suara tepuk tangan pecah setelah Ivy mengakhiri presentasinya.


“Baik, terimakasih untuk presentasi yang sangat luar biasa dari seluruh perwakilan. Kita akan istirahat sekitar sepuluh menit untuk menunggu hasil keputusan final pemenang tender yang telah diadakan oleh Perusahaan Mandellion,” ujar manajer wanita itu mengambil alih acara.

__ADS_1


Ketiga perwakilan Mandellion keluar dari ruang rapat, mereka berjalan menuju ke lantai tujuh. Tempat ruang kerja sang Presdir. Di sana sudah menunggu lima orang mereka Dewan Komisaris Mandellion yang sejak tadi menyaksikan acara tersebut melalui rekaman CCTV. Sementara di ruang rapat, tak seorang pun di perbolehkan keluar ruangan sebelum hasil pengumuman itu keluar.


Petinggi Mandellion membuka satu persatu amplop yang berisi surat penawaran harga yang telah di buat oleh masing-masing peserta. Berbagai deretan angka dalam Euro tertulis di setiap kertas. Harga penawaran mereka seakan saling mengejar, antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain.


"Kurasa kita sudah menemukan pemenang tender tersebut. Dia memberikan harga yang ekonomis dengan kualitas terbaik," kata salah satu dari kelima Dewan Komisaris tersebut.


"Tidak, menurutku perusahaan yang cocok mengerjakan proyek ini. Meskipun harga yang diberikan sedikit lebih mahal. Rancangan desainnya simpel tapi menarik," ucap sang Presdir yang memberikan masukannya.


Perdebatan pun terjadi di antara para petinggi Mandellion. Hingga akhirnya di pilihlah suara terbanyak untuk menentukan siapa yang keluar sebagai pemenang.


Waktu sepuluh menit pun berlalu. Manajer wanita meminta hasil keputusan para petinggi Mandellion.


"Ini keputusan kami," ujar salah satu Dewan Komisaris wanita yang usianya tidak muda. Ia memberikan sebuah amplop coklat kepada sang manajer.


Wajah semua orang terlihat tegang, tidak satupun dari mereka yang terlihat rileks. Kenan dan Ivy saling terdiam, tak ada satupun dari mereka yang membuka pembicaraan. Begitu juga dengan Ferit, pria itu terlihat sedikit jinak dan tidak mengganggu Ivy. Suasana mengheningkan cipta dengan khidmat terasa di dalam ruangan ini.


Pintu ruangan terbuka. Semua kepala langsung terangkat ke atas. Mereka menyamakan pandangannya mengarah pada perwakilan Mandellion yang baru saja memasuki ruang rapat. Presdir dan manajer pria mengambil kembali tempat duduknya, sementara manajer wanita mengambil alih acara.


“Terimakasih atas kesediaan kalian untuk menunggu hasil pertemuan ini. Kami harap untuk perusahaan yang tidak terpilih tidak berkecil hati. Kita bisa bertemu kembali di kerjasama berikutnya yang akan diselenggarakan oleh Mandellion setiap tahun.”


“Hampir tiga jam kita semua berada di dalam ruangan ini. Kami telah menimbang dan menilai dari lima perusahaan yang menjadi peserta tender hari ini mulai dari desain rancangan, kredibilitas perusahaan dan harga penawaran yang telah kalian berikan. Untuk itu, setiap keputusan yang telah diambil oleh Presdir dan Dewan Komisaris Mandellion tidak bisa di ganggu gugat.”


“Tiba saatnya kita berada di penghujung acara. Saya…. Aurora Nechez, mewakili Perusahaan Mandellion akan mengumumkan nama perusahaan yang berhasil memperoleh nilai tertinggi. Pemenang tender Fashion Musim Semi tahun ini dimenangkan oleh….”


Beberapa orang terlihat menahan napas mereka. Hanya terdengar suara detik jarum jam dinding yang bergerak seirama. Tak ada satupun gerakan tubuh yang mereka buat. Seakan waktu di dalam ruangan itu berhenti untuk beberapa sesaat.


Ferit dan Ivy terlihat menundukkan kepala mereka. Putri Victor itu mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada sambil bibirnya bergerak-gerak seakan ia sedang memanjatkan sebuah doa.


Kenan terlihat menyandarkan kepalanya kembali di sandaran kursi. Putra Harun itu memejamkan matanya menunggu detik-detik kemenangan atau kekalahan dirinya.


“Perusahaan Kozan!” seru manajer tersebut yang langsung membuat Ferit menegakkan kepalanya dan mengepalkan telapak tangannya. Seolah ia mengetakan YES! melalui gestur tubuhnya.


Dua tetes air mata itu langsung mengalir membasahi wajah Ivy begitu nama Kozan di sebut. Ia terlihat syok.


Putra Harun itu langsung membuka kelopak matanya. Ia menghembuskan napasnya dalam-dalam dan berpikir ini sudah selesai.

__ADS_1


Semua orang bangkit berdiri kecuali Kenan dan Ivy yang masih tidak beranjak dari tempat duduk mereka. Orang-orang itu memberikan aplaus kepada Ferit ketika pempimpin Perusahaan Kozan itu berjalan ke depan menghampiri sang Presdir sambil membusungkan dadanya. Ia melihat aura kekalahan di wajah Kenan.


“Selamat untuk Anda, Tuan Kozan,” ucap Presdir Mandellion. Kedua pria itu saling berjabat tangan disaksikan oleh semua orang yang ada di dalam ruangan.


“Anda bisa menandatangani surat kerjasama itu mulai besok, Tuan Kozan,” ujar manajer pria berkacamata yang juga memberikan ucapan selamatnya kepada Ferit.


“Aku akan menunggu hal itu, Tuan.”


Satu persatu peserta tender itu memberikan ucapan selamat kepada Ferit, kemudian pergi meninggalkan ruang rapat tersebut. Meskipun jauh di dalam lubuk hati mereka, terbersit rasa kecewa.


Kini hanya tersisa tiga sosok manusia yang membawa konflik pribadi mereka dari Istanbul ke Paris. Kenan, Ivy dan Ferit.


“Well…well… apa kalian tidak ingin mengucapkan selamat kepadaku? Terima saja kekalahanmu! Selamanya kau tidak akan menang dariku!” cibir Ferit yang melihat Kenan dan Ivy akan meninggalkan kursi mereka.


Hari ini aku telah berhasil merebut bisnis Falea. Aku juga akan merebut kembali Ivy ku!


Putra Harun itu menatap tajam dari tempatnya berdiri. Ia mengatupkan kedua rahangnya yang mengeras. Tanpa menjawab pertanyaan Ferit, ia memilih pergi meninggalkan ruangan itu disusul oleh Ivy yang mengikuti langkahnya.


“Tunggu!” seru Ferit yang membuat Kenan dan Ivy menghentikan langkah mereka yang belum mencapai pintu.


“Ku dengar bahwa Falea adalah perusahaan yang baru berdiri satu bulan. Pasti ini adalah proyek pertama yang sangat kalian harapkan. Aku bisa saja melepaskan proyek ini, karena aku belum menandatangani kontrak perjanjian kerjasama dengan Mandellion,” celoteh Ferit dengan panjang lebar.


“Katakan apa maumu?” Kenan langsung membalikkan badannya menghadap Ferit. Manik mata abu-abu gelap itu sudah terlihat mengkilat. Jarak mereka hanya sekitar sepuluh langkah kaki orang dewasa.


Ferit semakin mempersempit jarak di antara dirinya dan Kenan. Tepat saat jarak itu hanya tersisa satu langkah ia berkata, “Serahkan Ivy kepadaku! Maka aku akan memberikan kontrak kerjasama ini kepada Falea!”


Sebuah pukulan Kenan langsung mendarat di wajah Ferit. Itulah jawaban yang putra Harun berikan. Pria itu yang sejak tadi hanya diam menahan amarahnya kini ia mulai meradang dan melampiaskan segala kemarahannya kepada Ferit.


Ia mencengkeram kerah kemeja Ferit dan menjatuhkan pria bertubuh kekar itu ke lantai. Adegan itu berlangsung sangat cepat, hingga Ivy tidak mampu melerai mereka.


“Jangan mimpi! Selamanya AKU tidak akan pernah menukar Ivy dengan apapun! KAU dengar itu, keparat!” teriak Kenan dengan bahasa Turkinya.


Ia mencengkeram kembali kerah kemeja Ferit kemudian membenturkan kepala pria itu ke lantai.


“Ayo kita pergi dari sini!” serunya kepada Ivy.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa setelah baca bab ini, minta like dan komentar nya dong. Boleh banget kalau ada yang kasih Vote atau Rate bintang lima ke karyaku. Terimakasih


__ADS_2