
Nur datang tergesa-gesa ke Rumah Sakit Istanbul, postur tubuhnya yang gembul membuatnya tidak leluasa untuk bergerak. Ia mencari kesana-kemari kemari tempat ruang Unit Gawat Darurat.
"Oh itu dia!" seru Nur kepada dirinya sendiri setelah ia melihat sebuah papan petunjuk berwarna hijau.
"Dimana Deniz Eleanor?" tanyanya kepada salah satu suster muda yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Anak itu ada di dalam." jawab suster itu yang keluar sambil mendorong meja dorong yang berisi obat-obatan.
Nur membuka tirai berwarna hijau pupus yang ada di depannya, dilihatnya Deniz yang terbaring dengan kelopak matanya yang masih tertutup. Sebuah selang infus menempel di punggung tangannya.
Dimana Ivy? Kenapa aku tidak melihatnya?
Tubuh gembul itu berbalik arah menjauhi tirai yang terbuat dari kain tipis tanpa motif. Ia berjalan menyusuri lorong UGD untuk mencari Ivy, tapi anak majikannya itu tidak nampak batang hidungnya.
Kemana gadis itu? Seharusnya ia berada disini menjaga Deniz.
Wajah Nur sedikit tersenyum ketika dilihatnya Kenan berjalan menuju ke arahnya dengan membawa dua gelas minuman.
"Kau teman Ivy kan?" tebak Nur yang mengagumi ketampanan Kenan. Wanita itu tertawa kecil memperlihatkan deretan giginya.
"Iya. Dimana Ivy?" Kenan balik bertanya. Ia bermaksud membawakan segelas kopi panas untuk Ivy. Tapi wanita itu raib entah kemana.
"Aku baru saja sampai di sini, kulihat tidak ada Ivy. Kukira dia bersamamu." Nur menggenggam erat kedua tangannya.
"Tidak. Dia menyuruhku pergi." Kenan juga tampak kebingungan dengan hilangnya Ivy. "Coba kau hubungi ponselnya!"
Wajah Kenan dan Nur tampak cemas ketika Ivy belum juga mengangkat ponselnya. Nur memberi isyarat dengan menutup bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Ivy, kau dimana? Aku sudah tiba di rumah sakit."
"Deniz ada di ruang UGD. Tolong jaga Deniz dulu, aku akan segera kembali." Terdengar suara kebisingan jalan raya di balik ponsel Nur.
"Kau ada dimana sekarang?" Nur menyalakan pengeras suara pada ponselnya agar Kenan juga mendengar perkataan Ivy.
__ADS_1
"Aku akan menemui Ferit di kantornya," jawab Ivy yang membuat Nur dan Kenan terkejut dan saling berpandangan.
Suara panggilan ponsel itu terputus sebelum Nur menanyakan alamat kantor Ferit. Wanita gembul menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya yang terbuka lebar, ketika pikirannya mengingat pria yang bernama Ferit Kozan itu.
"Ku mohon bantu aku. Jangan biarkan Ivy menemui pria itu! Mungkin saat ini Ivy sedang putus asa," mohon Nur sambil memegang kedua lengan Kenan.
"Ada apa dengan Ferit Kozan? Dia pria yang bersama Ivy di pemakaman ayahnya?" Kenan semakin dalam masuk ke permasalahan hidup Ivy.
"Selama aku bekerja di rumah mewah itu, pria itu selalu menekan Tuan Victor. Dia menginginkan Ivy, sebagai balasannya pria itu akan membantu perusahaan Tuan Victor." Nur menjelaskan semuanya kepada Kenan. Meskipun ia hanya seorang pelayan, tapi ia mengetahui semua yang terjadi di rumah itu.
Tak ada waktu lagi untuk berpikir. Nur memberikan nomor ponsel Ivy kepada Kenan. Pria itu segera memberikan dua gelas minumannya kepada Nur dan bergegas pergi mencari Ivy.
"Dimana alamat perusahaan Ferit Kozan?" tanya Kenan yang berbicara dengan Mehmet di ponselnya.
Mehmet si pria serba bisa yang suka bekerja di balik layar segera mengirimkan lokasi perusahaan Kozan kepada Kenan. Putra Harun itu segera mempercepat laju kendaraannya. Entah apa yang membuat dia menuruti permintaan Nur. Dia juga tidak tahu alasannya.
Langit biru itu menjadi merah kekuningan, ketika senja sudah dimulai. Ivy keluar dari taksi dan menatap gedung tinggi yang ada di seberangnya. Ia berusaha menenangkan hatinya saat ini.
Ivy melangkahkan kakinya menuju halaman perusahaan Kozan. Sesekali dia berhati, hatinya masih ragu-ragu untuk memasuki gedung itu. Ia mengangkat wajahnya menatap lantai paling atas, tempat Ferit berada.
Deretan anak tangga menyambut kedatangannya. Satu persatu trap lantai ia lewati, langkah kakinya berhenti ketika seseorang memegang lengannya dari belakang.
"Jangan menemuinya!" Ivy membalikkan ketika mendengar suara itu. Dilihatnya Kenan sudah berdiri di depannya.
Kenan menarik tangan Ivy untuk turun ke bawah. Ivy berusaha melepaskan tangannya dari tangan Kenan.
"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah aku sudah menyuruhmu pergi?" tanya Ivy sambil memicingkan kedua matanya menatap wajah Kenan.
"Nona Ivy Eleanor, aku bukan pelayan mu yang bisa kau suruh datang dan pergi sesuka hatimu!" seru Kenan dengan nada tingginya tapi manik mata itu menatap lembut wajah Ivy.
"Kau memang bukan pelayan ku! Jadi jangan ikut campur tentang masalahku. Aku sudah tidak punya banyak waktu, aku harus menemuinya sekarang!" seru Ivy yang berjalan meninggalkan Kenan.
Semakin Ivy menolak kehadiran Kenan, semakin membuat pria itu penasaran. Bukan Kenan namanya jika pria itu menyerah setelah berkali-kali Ivy menyuruhnya pergi.
__ADS_1
"Apa kau ingin merendahkan dirimu untuk memohon bantuan laki-laki itu? Laki-laki yang telah menekan ayahmu dengan ancaman-ancamannya?" Kali ini manik mata abu-abu gelap itu menatap tajam wajah Ivy.
Ivy tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia memang berniat meminta bantuan Ferit, meskipun ia tahu Ferit akan mempermalukan harga dirinya. Tapi ia tidak peduli dengan semua itu, semua ini demi adiknya.
"Ikut aku! Kita pergi dari sini!" Tangan Kenan menarik tangan Ivy menuju mobil pria itu.
"Lepaskan aku! Aku tidak punya pilihan lain, semua tabungan dan perhiasan ku sudah aku jual. Hanya Ferit yang bisa membantuku saat ini," ucap Ivy yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kenan.
"Sia-sia usahamu melarikan diri dari pernikahanmu waktu itu," sindir Kenan yang membuat Ivy merasa tertampar.
"Aku kira kau wanita kuat, ternyata...." Kenan menunjukkan jempolnya ke depan wajah Ivy, tetapi ia memutar jempolnya itu ke bawah.
"Kau!" pekik Ivy dengan geramnya. Kenan telah mengatai dirinya bahwa ia adalah wanita bodoh.
"Pergilah! Jika kau ingin terlihat bodoh di hadapan pria itu!" Kenan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menunggu reaksi Ivy yang masih berdiri mematung di tempatnya semula.
Ivy tidak tahu harus berbuat apa. Perkataan Kenan memang benar, Ferit tidak akan pernah melepaskan dirinya setelah ia masuk ke dalam.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Ivy dengan manik matanya yang berkaca-kaca menatap lurus wajah Kenan.
"Jangan pernah menyuruhku pergi!" seru Kenan yang membuat Ivy bingung. "Masuklah ke mobil, ikutlah denganku!"
Bagaikan seekor anak ayam yang mengikuti induknya, Ivy mengikuti langkah Kenan untuk masuk ke dalam mobil berwarna silver yang ada di depan gedung.
Tanpa mereka sadari, Ferit melihat semua kejadian itu dari jendela ruangannya. Pria itu mengepalkan kedua telapak tangannya dan tatapan matanya menyorot tajam mobil SUV yang ada di bawah.
"Jadi pria itu yang membawa kabur Ivy!"
Ferit segera memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu siapa pria yang membawa Ivy.
* Bersambung *
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1