Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Reuni DL dan GMYH - Sidang Kedua dan Hasilnya


__ADS_3

Satu minggu pun berlalu, jadwal sidang kedua pun sudah ada di penghujung mata. Saat ini di dalam ruang sidang, Pengacara Hazal dan Jaksa Onur saling menatap di balik meja masing-masing. Atmosfer ketegangan mulai terasa meskipun para terdakwa belum dipersilakan masuk. Sang Jaksa sedang mengetukkan ujung penanya di atas meja, sedangkan Hazal sedang memainkan penanya di sela-sela buku jarinya. Keduanya sedang menunggu Hakim membuka pertarungan mereka kembali.


“Sidang kedua yang memeriksa perkara pidana nomor 567890 atas nama Kenan Fallay dan Mehmet Dundar dinyatakan dibuka dan tertutup untuk umum. Sidang kali ini berisi tentang tuntutan yang diajukan, pembelaan terdakwa dan pembacaan hasil sidang.” Suara sang Hakim menggema di seluruh ruang sidang seiring dengan bunyi ketukan palu sebanyak tiga kali.


“Terdakwa Kenan Fallay dan terdakwa Mehmet Dundar dipersilakan masuk!” seru seorang petugas protokol.


Seperti sidang pertama sebelumnya, kedua terdakwa itu di kawal oleh beberapa orang petugas polisi untuk masuk ke dalam kursi pesakitan yang telah disediakan. Setelah pagar kayu tersebut di kunci dari luar, Hazal menghampiri kedua kliennya.


“Siapkan pembelaan kalian, jika pembelaan kalian bisa menyentuh hati sang Hakim, mungkin beliau akan mempertimbangkan keputusannya. Ingat pesanku, jangan terpancing dengan perkataan Jaksa. Dia hanya akan membuat penilaian kalian buruk di mata Hakim,” ucap Hazal yang berdiri di tengah-tengah kursi pesakitan tersebut.


“Aku mengerti,” sahut Mehmet, sementara Kenan hanya menganggukkan kepalanya.


Seiring dengan kepergian Hazal yang kembali ke tempat duduknya, Hakim menanyakan kesiapan keduanya untuk mengikuti sidang hari ini. Tanpa keraguan, keduanya menjawab siap. Hakim pun memberikan kesempatan kepada Jaksa Onur untuk membacakan tuntutannya.


“Terimakasih, Yang Mulia atas kesempatan yang telah Anda berikan. Saya akan langsung membacakan tuntutan yang saya ajukan untuk kasus ini.”


Suara parau itu langsung membungkam mulut penghuni ruangan yang hanya berkisar sepuluh orang. Di balik mejanya, Hazal melipat kedua lengannya di depan dada. Kenan dan Mehmet, mereka berdua menundukkan kepala mereka dengan kedua matanya yang terpejam. Sedangkan kedua istri mereka yang duduk di belakang mengatupkan kedua telapak tangan mereka di depan.


Dari sekian banyak orang yang ada di dalam ruangan ini, mungkin hanya Yafet yang tidak merasakan beban itu sama sekali. Sejak sidang pertama hingga sidang kedua, dia hanya menjadi pengamat antara Hazal dan Kenan. Baginya tak ada untungnya antara Kenan ditahan atau dibebaskan, asal istrinya hanya cukup membantu mereka sampai persidangan selesai.


Jaksa Onur pun melanjutkan perkataannya, dengan nada ketegasan yang lebih tinggi dari biasanya. “Berdasarkan keterangan dari para saksi dan beberapa barang bukti yang telah di hadirkan di sidang pertama, maka saya… Jaksa Penuntut Onur, tetap meyakini bahwa tindakan yang diambil oleh terdakwa adalah tindakan main hakim sendiri yang menyebabkan nyawa Ferit Kozan dan beberapa orang lainnya melayang. Meskipun dengan alasan ingin menyelamatkan nyawa istri terdakwa.”


“Tidak ada alasan lain yang bisa membenarkan sikap kedua terdakwa ini, karena seharusnya sebagai warga negara yang baik mereka melaporkan tindakan kriminal yang telah dan yang akan dilakukan oleh korban kepada pihak berwajib. Oleh karena itu, atas nama Hukum dan Pengadilan Negeri Negara Turki, saya sebagai Jaksa Penuntut menuntut hukuman… sepuluh tahun penjara atas terdakwa Kenan Fallay dan sepuluh tahun penjara atas terdakwa Mehmet Dundar. Semoga Yang Mulia menegakkan keadilan di tempat ini.”


Bagaikan disambar petir di siang bolong, begitu Ivy dan Cansu mendengar tuntutan dari Jaksa Onur. Ivy berusaha memegangi perutnya yang terasa kaku saat ini. Cansu langsung bangkit berdiri dari tempat duduknya dengan deraian air mata. Sedangkan dua pasang kelopak mata yang berada di atas kursi pesakitan itu langsung terbuka. Tatapan mata itu langsung berubah menjadi lesu dengan wajah mereka yang pucat.


“Hukuman mati itu telah berlalu, tetapi sepuluh tahun.... Itu bukan waktu yang singkat untuk memisahkan sebuah keluarga,” gumam Hazal sembari ia menarik napasnya dalam-dalam. Manik matanya berkaca-kaca saat menatap Kenan.


Merasa ada yang memandanginya, Kenan memalingkan wajahnya membalas tatapan Hazal. Manik mata abu-abu gelap itu memerah menahan kepedihan yang harus ia pendam berkali-kali lipat.


Lolos dari hukuman mati sudah membuatku bersyukur, ini hanya sepuluh tahun, Hazal. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu, karena aku memang tidak sanggup menyakitimu….


“Silakan para terdakwa membacakan pembelaannya,” kata sang Hakim dari meja singgasananya.

__ADS_1


Tangan Mehmet gemetar saat pria itu mengambil lipatan kertas yang tersembunyi di balik sakunya. Perlahan-lahan suami Cansu itu membuka lipatan kertas yang sudah ia tulis dengan tangannya sendiri di dalam penjara. Butuh beberapa menit untuk pria gundul itu menguasai dirinya sendiri. Suaranya bergetar, sangat jauh berbeda dengan sikap Mehmet sewaktu pria itu hendak menghajar Jaksa Onur.


“Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih kepada Yang Mulia, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk membacakan pembelaan yang telah saya buat dengan segenap hati. Saya akui, memang saya telah menembak Ferit Kozan hingga membuat pria itu meninggal dunia. Namun, tidak tahukah Yang Mulia dan Jaksa Penuntut betapa saya sebagai seorang pria dan seorang suami merasa hancur saat mendengar istri saya telah diperkosa beberapa jam sebelum pernikahan kami.”


Mehmet menghela napasnya perlahan kemudian mengusap sudut matanya yang terlihat basah.


“Betapa saya menjadi pria yang tidak berguna yang tidak bisa memperjuangkan keadilan untuk istri saya sendiri! Baik di mata hukum maupun di mata sosial, karena ternyata setelah kasus ini dibawa ke pengadilan pun, tidak ada satupun yang mempercayai kejadian yang menimpa istri saya! Istri saya hampir bunuh diri, karena merasa hidupnya telah hancur, tetapi tidak satupun dari kalian… para Penegak Hukum yang peduli!”


“Lantas salahkah saya—Mehmet Dundar memberikan keadilan itu dengan cara saya sendiri? Silakan Yang Mulia dan Jaksa Penuntut menjawab pertanyaan saya dengan hati nurani kalian masing-masing, itupun jika kalian memang masih memilikinya! Hukuman penjara sepuluh tahun, itu sama saja dengan menyetujui tindakan biadab yang telah Ferit Kozan lakukan kepada istri saya! Mohon Yang Mulia mempertimbangkan kembali tuntutan yang disampaikan oleh Jaksa Penuntut. Sekian pembelaan yang saya buat dengan kesadaran yang saya miliki,” lanjut Mehmet.


Seluruh penghuni ruangan itu terdiam setelah mendengarkan pembelaan Mehmet. Hanya terlihat dua orang wanita yang duduk di belakang, dengan tubuh mereka yang bergetar menahan luapan air mata mereka. Sementara Hazal menatap permukaan mejanya dengan tatapan matanya yang nanar.


“Silakan terdakwa Kenan Fallay membacakan pembelaannya,” ucap sang Hakim sambil melepas bingkai kacamata bacanya dan meletakkannya di atas meja.


Sama seperti Mehmet, putra Harun itu juga mengambil sesuatu dari dalam saku seragam tahanannya. Ditatapnya deretan-deretan kalimat yang ditulis dengan tangannya sendiri, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke belakang menatap Ivy untuk beberapa detik lamanya. Satu tarikan napas membuat Kenan mulai mengeluarkan suaranya.


“Terimakasih kepada Yang Mulia karena telah memberikan kesempatan kepada saya untuk membacakan pembelaan yang saya buat beberapa hari yang lalu di dalam penjara. Waktu itu, saya hanya mencoba menyingkirkan korban yang hendak menusuk perut istri saya yang sedang mengandung dan telah melecehkan istri saya di muka umum. Karena kekhilafan, saya mendorongnya dengan kuat hingga membuat tubuhnya terlempar mengenai ujung mesin.”


“Saya akui memang ini adalah kesalahan, tetapi jika Yang Mulia dan Jaksa Penuntut berada di posisi saya saat itu, masih bisakah kalian menghubungi pihak polisi dan menunggu kedatangan mereka? Sementara nyawa istri dan anak kalian hanya tinggal menunggu beberapa detik lagi.” Kristal bening itu akhirnya keluar dari sudut mata Kenan. Pria itu benar-benar diambang keputusasaannya untuk yang kedua kalinya.


“Hukuman sepuluh tahun penjara sama saja dengan mengabaikan pengorbanan seorang suami dan pengorbanan seorang ayah menjadi tidak ada harganya di mata hukum! Karena pengadilan tetap saja memisahkan saya dari istri dan anak saya. Sekian pembelaan yang telah saya buat dengan kesadaran saya sepenuhnya.”


Untuk kedua kalinya, suasana sidang itu kembali hening. Lima jari itu tempak tertutup menyembunyikan wajah sang Jaksa. Sedangkan Hazal menghembuskan napasnya ke atas, mencoba menahan agar cairan kristal bening itu tidak jatuh membasahi wajahnya.


“Sidang akan dilanjutkan sepuluh menit lagi, dengan membacakan hasil keputusan sidang terakhir!” seru sang Hakim sambil mengetukkan palunya sebanyak tiga kali.


Setelah kepergian sang Hakim yang keluar dari ruang sidang, beberapa petugas tampak berjaga di dekat kursi pesakitan tersebut. Tiba-tiba Cansu beranjak dari tempat duduknya dan datang menghampiri meja Hazal.


“Katanya kau akan membantu membebaskan mereka, tapi kenapa kau diam saja saat Jaksa itu menuntut hukuman sepuluh tahun penjara?” Hazal terkejut melihat Cansu yang mendatanginya dengan raut wajahnya yang bengkak karena air mata.


Begitu juga dengan Mehmet, Kenan dan semua orang yang masih tersisa di dalam ruang sidang. Mereka  semua tersentak mendengar teriakan Cansu.


“Kenapa kau diam saja? Apa kau dan suamimu itu senang melihat Kenan di penjara?” tuding Cansu yang langsung membuat Hazal bangkit berdiri kemudian menatap Kenan dan Mehmet dengan manik matanya yang memerah.

__ADS_1


“Cansu!” hardik Kenan dengan raut wajahnya yang menegang.


“Cansu, hentikan tuduhan mu dan kembalilah ke kursi mu,” bujuk Mehmet dari tempatnya.


Suara dehaman seseorang membuat pandangan semua orang tertuju pada Yafet. Kali ini pemilik Hotel Aksal itu berjalan menghampiri Cansu yang tengah berdiri di depan meja istrinya.


“Nyonya Dundar atau siapapun namamu. Jika kau berpikir seperti itu, maka saat ini juga aku akan membawa Hazal keluar dari ruangan ini dan silahkan kalian berdua, kau dan kau!” Yafet menunjuk wajah Kenan dan Mehmet, “carilah pengacara lain!”


“Yafet, sudahlah…. Aku tahu dia sedang sedih saat ini,” bisik Hazal yang mendekati suaminya.


Mata elang itu menatap tajam Kenan dan Mehmet dalam satu kali pandangan. “Aku sudah berbaik hati mengijinkan Hazal untuk membantu kalian, tapi jika kalian atau siapapun menyalahkan Hazal, aku tidak akan tinggal diam!”


“Sudahlah, Yafet. Please… jangan buat keadaan menjadi tambah kacau,” ucap Hazal yang memegang tangan suaminya, “aku mohon…. Kau berjanji untuk tidak akan ikut campur’kan?”


“Aku hanya membelamu dihadapan mereka yang tidak tahu berterimakasih!” Yafet mendengus dengan kesal. Pria bertubuh tinggi 185 sentimeter itu langsung ditarik paksa oleh Hazal untuk menjauhi mereka.


“Aku tahu, Sayang. Duduklah di kursi mu, aku akan menyelesaikan semuanya.” Hazal mendudukkan Yafet di kursinya semula dan meminta suaminya itu untuk tetap diam sampai sidang selesai.


“Cansu, ayo kita kembali duduk. Sebentar lagi Hakim akan datang,” bujuk Ivy sembari memegangi tangan saudara tirinya.


“Ivy, aku hanya ingin membelamu. Aku tahu kau sedih melihat mereka saling menatap tanpa mempedulikan mu!” Seruan Cansu itu mampu didengar oleh Hazal yang berpapasan dengan mereka dan Kenan yang berada tidak jauh darinya. Kedua wanita itu pun kembali ke tempat duduk mereka.


Perkataan itu membuat Hazal terus menundukkan wajahnya, meskipun kini dirinya telah kembali ke tempat duduknya. Sesakit apapun hatinya saat ini, ia berusaha untuk menahan cairan bening itu agar tidak tumpah, karena bukan perkara yang mudah untuk bertemu kembali dengan Kenan. Pertemuan mereka kembali bukan hanya mengusik ketenangan Kenan tetapi juga ketenangan dirinya.


Apa sebenarnya di antara kita belum benar-benar berakhir, Kenan?


“Yang Mulia… memasuki ruangan. Harap semua hadirin bangkit berdiri!” teriak salah satu petugas protokol yang menyambut kedatangan sang Hakim, membuat kegamangan di hati Hazal mendadak lenyap.


Semua orang yang ada di dalam ruang sidang pun bangkit berdiri hingga mereka duduk kembali saat Hakim membuka sidang selanjutnya. Hasil keputusan sidang sudah berada di tangan sang Hakim. Kini waktunya sidang ini akan berakhir dengan luapan air mata kesedihan atau dengan luapan air mata kegembiraan.


Pria paruh baya yang duduk di atas singgasananya itu pun bangkit berdiri dan membacakan keputusannya. “Sidang


Pengadilan Negeri Kota Istanbul pada hari ini, memutuskan bahwa terdakwa Kenan Fallay dan terdakwa Mehmet Dundar di….”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2