
“Ivy!” teriak Kenan yang langsung terbangun dari tempat tidurnya.
Butiran-butiran kecil yang berasal dari peluhnya membasahi keningnya saat ini. Ia langsung mengusap wajahnya dengan kasar, setelah ia menyadari bahwa apa yang baru saja terjadi hanyalah mimpi.
Dalam mimpinya ia melihat Ivy mengatakan “Ya” kepada seorang pria yang merupakan perwakilan Kota Istanbul yang bertugas untuk menikahkan kekasihnya itu dengan Ferit. Bukan dengan dirinya.
Napasnya terasa naik turun tak karuan. Manik matanya berputar melihat isi kamar hotelnya. Tirai jendela berwarna coklat susu tampak melambai terkena tiupan angin yang masuk melalui sela-sela jendela.
“Ivy?” panggilnya dengan suaranya yang terdengar parau. Tidak ada jawaban.
“Ivy?” Ia memanggil nama wanita itu dengan suaranya yang lebih keras.
Tidak terdengar suara wanita itu menjawab panggilannya, yang ia dengar saat ini hanyalah suara percikan air hujan.
Putra Harun itu mendudukkan dirinya di atas pembaringan. Ketika ia akan turun dari tempat tidurnya untuk melihat keadaan kamar mandi, tangannya menyentuh sesuatu yang keras yang ada di samping tubuhnya. Pupil matanya menatap sebuah notes kecil berwarna putih dengan beberapa tulisan yang ditulis menggunakan pensil. Ia mengambil notes tersebut dan membacanya.
Kenan…,
Mungkin setelah kau membaca suratku ini, aku telah berada jauh di luar sana. Aku tahu, kau mendiamkan ku karena kau sedang menghukumku. Aku memang telah bersalah padamu, aku telah membuatmu kehilangan proyek pertama untuk Falea. Seharusnya ini kesempatanmu untuk bangkit dan membangun mimpimu, tetapi aku malah menghancurkannya. Aku malah membuat kesalahan berulang kali. Terus menerus membuatmu berada dalam kesulitan. Aku rasa… diriku hanyalah pembawa sial bagimu. Dengan kepergian ku, kau bisa membuka kembali jalan hidupmu. Aku akan selalu mengingatmu dalam hati dan pikiranku. Selalu mencintaimu sampai kapanpun. Ivy….
“Ivy!” teriak Kenan dengan suara raungannya yang keras.
Ia langsung melempar notes kecil itu ke lantai. Hatinya kembali tergores dengan luka yang sama untuk kedua kalinya. Mimpi yang baru saja terjadi mulai menghantuinya saat ini.
“Tidak, Ivy. Jangan lakukan itu!” teriaknya dengan nada suaranya yang bergetar. Ia menarik semua pangkal rambutnya hingga ke belakang. Manik matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku tidak ingin kehilanganmu!” teriak Kenan yang langsung menjatuhkan semua barang-barang di meja.
Terdengar suara pecahan gelas kaca, teko listrik, cangkir keramik milik hotel dan beberapa bungkus kopi instan. Semuanya semburat tak karuan dan menjadi kepingan-kepingan kecil dan butiran halus seperti pasir. Ruang kamar yang baru saja dimasukinya beberapa jam yang lalu, terlihat kacau balau menghadapi kemarahan Kenan.
Dengan rasa kalut yang menyelimuti hati dan pikirannya, Kenan mengambil tas kopernya dan meletakkan benda besar itu ke atas ranjang. Dibukanya tas koper berwarna hitam tersebut dan dikeluarkannya sebagian isinya dengan acak. Ia melihat tiket penerbangan mereka masih ada di sana dan semua pakaian Ivy masih lengkap.
Sejak dari Istanbul, kami menyimpan passport milik kami sendiri-sendiri.
“Kau tidak membawa tiket penerbanganmu. Itu artinya….” Manik matanya sedikit membesar setelah ia mendapatkan sebuah petunjuk.
__ADS_1
“Aku akan mencarimu, Ivy! Meskipun kau tidak ingin bertemu denganku, tapi aku akan menemukanmu!”
Kenan mengambil tiket penerbangan mereka dan menyimpannya di dalam dompet. Ditinggalkannya begitu saja semua pakaian itu di atas ranjang. Ia mengenakan kembali mantel panjangnya yang berwarna hitam dan keluar meninggalkan kamarnya.
“Apa kau lihat wanita ini?” tanya Kenan yang menunjukkan foto Ivy kepada petugas resepsionis hotel dalam bahasa Inggrisnya.
“Ehm… sepertinya satu jam yang lalu, wanita itu keluar dari hotel,” jawab petugas hotel kepada Kenan.
“Kemana dia? Apa dia pergi menggunakan taksi?” tanya Kenan dengan antusias.
Petugas wanita itu tampak sedang berpikir kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Sepertinya tidak, karena hujan turun sangat deras ketika aku melihat wanita itu pergi begitu saja.”
Setelah mengucapkan terima kasihnya, Kenan langsung keluar meninggalkan hotel. Ia berjalan kaki untuk mencari Ivy, firasatnya mengatakan bahwa wanita itu pasti belum pergi jauh dari hotel. Pria itu selalu menunjukkan foto Ivy kepada setiap orang yang dia temui. Jika orang-orang itu tidak mengerti dengan bahasa yang ia gunakan, maka pria itu hanya menunjukkan foto Ivy dan menggunakan bahasa Tarzannya.
Sementara itu di kafe, hujan baru saja reda. Dengan sedikit keraguan, Ivy menurunkan kedua telapak kakinya yang terbungkus dengan sepatu bot ke lantai. Ia menggigit sedikit bibir bawahnya ketika manik matanya melihat Ferit sedang menikmati kopi pesanannya. Pria itu masih belum menyadari kehadirannya.
Ivy menggenggam erat tali tasnya. Satu langkah telah ia jalani untuk mendekati tempat duduk Ferit. Jantungnya semakin dengan berdegup dengan kencang. Wanita muda itu tidak bisa lari untuk ketiga kalinya, jika ia menyerahkan dirinya kepada pria itu dan menukarnya dengan sebuah tender kerjasama.
Dua langkah telah ia jalani. Kini jarak antara dirinya dan Ferit kian dekat. Hatinya mulai bimbang.
Tiga langkah telah Ivy jalani. Dari ekor matanya, Ferit melihat bayangan seseorang yang terus memperhatikannya.
Pria itu menoleh ke samping, tetapi tidak ada siapa-siapa. Ia hanya melihat barista itu sedang mengobrol dengan beberapa pengunjung kafe. Saat Ferit menoleh, spontan Ivy menurunkan badannya dan bersembunyi di belakang sofa panjang yang berada di dekat pria itu.
Dari tempat persembunyiannya, Ivy melihat sepasang suami istri yang baru saja memesan minuman hangat mereka. Usia mereka sekitar tiga puluh tahun ke atas. Sambil berjalan menuju tempat duduknya, sang suami mengusap perut istrinya yang tampak membuncit.
Sepertinya mereka sedang menantikan kelahiran anak mereka. Mereka terlihat sangat bahagia.
Sepasang suami istri berambut blonde itu duduk di sofa yang menjadi tempat persembunyian Ivy. Putri Victor itu mendengar setiap gurauan, ledekan hingga perkataan romantis yang keluar dari pasangan tersebut dalam bahasa Perancis. Membuat hati dan pikirannya mengingat kembali kenangannya bersama Kenan. Kini hatinya merindukan pria itu.
“Aku punya ide, bagaimana kalau kita memberi nama Chalice untuk nama anak kita nanti?” tanya sang suami kepada istrinya. Ivy hanya mendengarkan celotehan mereka.
“Chalice? Nama apa itu?” sang istri balik bertanya.
“Itu gabungan dari nama kita, Sayang. Charles dan Alice,” jelas sang suami dengan nadanya yang bersemangat.
__ADS_1
“Oh, kau pria romantis yang pernah aku kenal, Sayang.” Terdengar suara kecupan diantara pasangan suami istri tersebut.
Sementara itu di tempat persembunyiannya di belakang sofa yang di duduki oleh sang suami, wajah Ivy terasa panas. Kristal bening itu mengalir membasahi wajahnya tatkala ia mendengar arti nama calon bayi mereka. Ivy teringat dengan perkataan Kenan padanya beberapa waktu yang lalu.
Aku akan memberi nama perusahaan kita dengan nama Falea.
Falea? Nama apa itu?
Falea adalah kepanjangan dari Fallay dan Eleanor, yang artinya hanya ada kau dan aku.
Ivy semakin terisak di belakang sofa yang sudah berpenghuni. Kedua pundaknya mulai bergetar ketika ia menahan suara tangisnya agar tidak terdengar. Ia memanggil nama Kenan dengan gerakan bibirnya.
Wanita muda itu mulai menyadari dengan kebodohannya yang hampir saja dia lakukan. Kesalahan fatal yang tidak mungkin bisa diperbaiki, jika dirinya tidak bertemu dengan pasangan suami istri tersebut.
Ia menopang keningnya dengan kesepuluh jarinya yang bertautan. Air matanya semakin deras membanjiri wajah ovalnya. Pikirannya dipenuhi dengan wajah, senyuman dan perkataan putra Harun tersebut.
Tidak ada Ivy, berarti tidak ada Falea…. Tidak ada Falea, maka hidup Kenan akan semakin hancur. Apa itu yang aku mau?
Ivy mengusap air matanya yang terus menerus keluar tanpa henti. Putri Victor itu mengubah keputusan bodohnya untuk pulang kembali ke hotel. Ia mengintip dari balik sofa, untuk melihat apakah Ferit masih duduk di sana atau tidak. Ternyata pria berambut panjang itu masih duduk menikmati makanannya dan sesekali mengecek tabletnya.
Kapan dia akan pergi? Aku tidak bisa sembunyi terus di sini.
Beberapa menit kemudian, Ferit telah beranjak dari tempat duduknya. Pria itu berjalan menuju tempat persembunyian Ivy. Wajah oval wanita itu terlihat pucat pasi ketika mendengar derap langkah kaki Ferit yang semakin lama semakin mendekat. Jika dirinya berdiri, Ferit akan melihatnya. Tidak ada jalan keluar. Napasnya terasa sangat berat untuk dihembuskan. Sembari berpikir apakah ini adalah akhir dari jalan hidupnya?
Ya Tuhan, aku ingin pulang kembali ke hotel. Jangan biarkan dia menemukanku.
Tiga detik… dua detik… satu detik… putri Victor itu menekuk tubuhnya dan memejamkan kedua matanya.
Namun pada detik keempat, kelopak matanya langsung terbuka begitu Ivy mendengar suara bunyi ponsel dan suara Ferit yang berada tepat di belakangnya. Ia memberanikan dirinya untuk melirik, melalui ekor matanya dilihatnya punggung Ferit yang menghadap dirinya.
Tanpa berpikir panjang, Ivy langsung bangkit berdiri dan keluar meninggalkan kafe tersebut. Secepat kilat ia berlari menuju hotelnya. Di dalam kafe, Ferit yang sedang menerima panggilan teleponnya hanya melihat bayangan sosok wanita yang mengenakan mantel merah berlalu begitu saja. Tanpa terlihat jelas siapa wanita itu.
...****************...
Jangan lupa setelah baca bab ini, kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya. Terimakasih
__ADS_1