Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Bertemu Denganmu Lagi


__ADS_3

Hari masih belum terlalu siang untuk pergi ke tempat pemakaman. Setelah memulangkan Nur, kedua kakak beradik Eleanor pergi untuk melihat tempat peristirahatan terakhir orang tua mereka.


Di saat yang bersamaan, Kenan baru saja tiba di tempat pemakaman. Ia ingin mengunjungi makam kedua orang tuanya.Pria itu membawa sebuah karangan bunga untuk ayahnya yang telah dihukum mati oleh pemerintah.


Selama satu tahun ini ia mencoba untuk lari dari kenyataan bahwa dirinya adalah anak seorang pembunuh. Mencoba hidup di tempat baru, dimana orang tidak mengenal siapa dirinya dan siapa ayahnya. Ia harus hidup dalam pelarian dari satu negara ke negara lain, hanya demi mendapatkan ketenangan dan melupakan masa lalunya.


Di sepanjang jalan ke makam ayahnya, suara-suara yang selalu ia benci terdengar kembali di telinganya.


"Kenan Fallay, anak pembunuh! Hukum pembunuh itu!" teriak orang-orang pada waktu itu.


Andai saja Kenan boleh memilih, lebih baik ia pergi dari dunia ini untuk selama-lamanya daripada hidup menjadi seorang pelarian. Takdir berkata lain.


Beberapa gumpalan awan putih menggantung di atas kepalanya, ketika langkah kakinya berhenti di depan pusara orang tuanya. Pusara yang seharusnya ada tiga buah, kini hanya tersisa dua dengan bagian tengahnya yang kosong.


Manik mata abu-abu gelap itu menatap hamparan rumput yang rata dengan tanah yang seharusnya tempat itu adalah tempat peristirahatan terakhirnya. Saat ini manik matanya tampak berkaca-kaca mengingat percakapannya dengan Hazal untuk yang terakhir kalinya. Ia seperti terlempar ke masa satu tahun yang lalu.


******


Setelah Kenan mendorong tubuh Hazal ke samping dan memberikan dirinya untuk menerima lontaran peluru yang keluar dari pistol ayahnya, Harun. Polisi segera menangkap Harun, sesuai dengan rencananya saat itu.


Kenan sudah menyiapkan semuanya, seandainya saja ia meninggal saat itu. Ia sudah menyiapkan surat wasiat untuk Hazal, video perpisahannya dengan istrinya dan bukti untuk menghukum kejahatan ayahnya.


Dia memang tidak mendukung perbuatan ayahnya yang telah membunuh orang tua Hazal. Tapi Kenan juga tidak menyerahkan ayahnya atau membunuh ayahnya dengan tangannya sendiri. Biarlah hukum yang memproses kejahatan ayahnya.


"Ini... ini adalah ja...jalan keluar yang aku pilih un... untukmu dan a... ayahku. Lan...lanjutkan hidupmu, sayang. Hu...hukum a... ayahku," pesan Kenan sambil mengusap air mata istrinya dan menyentuh wajah Hazal.


"Jangan menghukum ku seperti ini. Jangan hukum aku.... Aku tidak bisa.... Bukankah kau berjanji akan mengajakku liburan musim panas ke pulau Bali? Bukankah kau ingin mengajakku bermain ski di Pengunungan Alpen? Kita belum melihat festival bunga tulip musim ini," isak Hazal yang menempelkan kepalanya di lengan Kenan.


"Ma...maafkan a...aku, sayang. Bisakah kau...kau mengabulkan per... permintaan terakhir ku?" tanya Kenan yang hampir tidak terdengar jelas suaranya.


"Katakan," ucap Hazal yang sudah tidak sanggup untuk menegakkan tubuhnya.


"A...aku ingin mendengar per... pernyataan... cin...cintamu sekali...lagi, sayang," mohon Kenan dengan suara berbisik.


"A...aku men... mencintaimu, istriku," bisik Kenan sambil tersenyum manis kepada Hazal.


"Aku mencintaimu, Kenan. Aku mencintaimu, suamiku," jerit Hazal sambil menangis dengan keras.


"Aku mencintaimu, sayang. Aku mencintaimu." Hazal masih meneruskan perkataannya.


Kenan segera memeluk Hazal dan mencium bibir merah istrinya dengan lembut. Hazal membalas pelukan Kenan dan ciuman bibir suaminya itu hingga lengan Kenan terlepas dari tubuh Hazal.


Lengan kekar itu jatuh terkulai dan bibir pucat itu sudah tidak memberikan responnya. Hazal segera melepaskan ciumannya dan melihat kedua mata Kenan yang sudah tertutup. Wajah pucat itu tersenyum penuh bahagia. Setelah kejadian itu ia tidak pernah bertemu dengan Hazal.


Dokter dan suster segera membawa Kenan ke kamar jenazah, sementara Hazal masih duduk tersungkur di lorong sambil meratapi kematian Kenan.

__ADS_1


Di dalam ruang jenazah, suster membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Kenan. Ia hendak memanggil perawat pria agar membantunya. Tetapi wanita itu terkejut ketika ia berjalan melewati Kenan.


"Dokter!" teriak suster ketika ia melihat jari tangan Kenan bergerak. Pelan tapi ada suatu perpindahan.


Dokter mencoba menunggu untuk memastikan bahwa tangan Kenan benar-benar bergerak. Tiga menit kemudian, Dokter memeriksa denyut nadi Kenan dengan stetoskop.


"Siapkan ruang operasi!" seru Dokter setelah ia memastikan bahwa denyut nadi Kenan kembali bekerja. Kedua petugas medis itu mengeluarkan Kenan dari ruang jenazah dengan pintu yang berbeda, tetapi Mehmet memergoki mereka.


"Jadi dia masih hidup?" tanya Mehmet setelah ia mendengar penjelasan dokter. Pria berkulit gelap itu mengusap wajah dan kepalanya.


"Lakukan operasinya sekarang, tapi rahasiakan semua ini dari siapapun. Aku yang akan menandatangani surat pernyataan operasinya," kata Mehmet dengan wajahnya yang cemas, memikirkan apakah ini tindakan kriminal atau bukan.


Mehmet mengambil keputusan seperti itu, karena ia mengetahui semua kisah Kenan dengan Hazal. Sebelum sahabatnya itu menikah, ia mendengar curahan hati Kenan yang langsung keluar dari mulut putra Harun itu.


Hazal masih mencintai Yafet. Aku memaksanya untuk menikah denganku, dengan perjanjian bahwa aku akan membantunya menyerahkan ayahku. Ia tidak benar-benar mencintaiku. Ia hanya berjanji, jika rencana kita berhasil maka ia akan menyerahkan cintanya kepada ku. Tragis bukan? Setelah sekian lama kami bersama.


"Entah aku harus minta maaf kepada siapa, karena telah memisahkan kalian. Jika Hazal benar-benar mencintaimu, wanita itu pasti akan sulit melupakanmu dan tidak akan menikah dengan pria lain dalam waktu dekat," gumam Mehmet yang sedang mempertaruhkan keputusannya. Ia menandatangani surat persetujuan operasi Kenan.


Di hari yang sama ketika dokter mengoperasi Kenan, Mehmet membawa peti mati kosong ke tempat pemakaman. Acara pemakaman pun di mulai. Mehmet menutup mulutnya rapat-rapat, ia tidak ingin seorangpun mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia melihat Hazal dengan tatapan matanya yang kosong ketika melihat peti mati palsu itu masuk ke liang lahat.


Enam hari setelah pemakaman palsu itu, Mehmet memberikan surat wasiat Kenan kepada Hazal sesuai dengan rencana. Seperti yang ia duga, istri sahabatnya itu masih terpukul atas meninggalnya Kenan. Tetapi pria itu masih menunggu, seberapa besar cinta Hazal kepada sahabatnya.


Dua minggu kemudian, Kenan mulai sadar dari komanya pasca operasi. Putra Harun itu membuka kelopak matanya dengan perlahan. Ia melihat Mehmet duduk di sampingnya. Sahabatnya itu menjaga Kenan siang dan malam.


"Dimana aku?" tanya Kenan sambil manik matanya mengelilingi ruangannya saat ini.


"A...aku masih hidup?" Kenan melihat tangan dan kakinya. Ia mencubit tangannya dam merasakan rasa sakit itu.


"Ya, sobat. Kau masih hidup!" seru Mehmet sambil menempelkan genggaman tangannya ke genggaman tangan Kenan. "Aku akan memanggil dokter."


Setelah dokter selesai memeriksa kondisi Kenan, Mehmet menceritakan apa yang terjadi setelah sahabatnya itu dinyatakan meninggal. Ia juga memberitahu keadaan di luar yang ramai membicarakan kasus ayah Kenan dan Hazal.


Kenan hanya terdiam setelah mendengar cerita Mehmet. Ia masih belum memutuskan sesuatu.


Beberapa hari kemudian, Dokter mengijinkan Kenan keluar dari rumah sakit. Untuk sementara waktu, ia tinggal di apartemen Mehmet sampai sidang ayahnya di putuskan. Selama itu pula ia tidak menemui Hazal ataupun ayahnya yang ada di penjara.


Setelah kematian ayahnya, Kenan akhirnya membuat keputusan yang sangat mengejutkan.


"Siapkan surat pembatalan pernikahanku dengan Hazal!" perintah Kenan tiba-tiba.


"Apa?" Mehmet tampak terkejut. "Tapi kau bisa menemui Hazal dan mengatakan bahwa kau masih hidup. Lagipula ayahmu sudah mendapatkan hukumannya."


"Lakukan saja perintahku!" seru Kenan dengan tatapan dinginnya. Mehmet segera mengerti jika pria itu sudah mengatakan kalimat pamungkasnya.


Keesokan harinya, Mehmet datang dengan membawa surat pembatalan pernikahan.

__ADS_1


"Apa kau tak ingin menemui Hazal dan menjelaskan semuanya?" Mehmet mencoba membujuk pria keras kepala itu. Tetapi Kenan sudah selesai membubuhkan tanda tangannya.


"Biarlah dia menganggap Kenan Fallay sudah mati. Berikan surat ini ketika dia sudah menikah lagi," ucap Kenan.


"Aku tidak akan mengganggu kebahagiaannya."


Mehmet diam mematung dengan tangannya yang memegang surat pembatalan pernikahan itu. Ia hanya ingin melihat sahabatnya itu bahagia, dan ia akan selalu berada di belakang Kenan mendukung setiap rencana dan keputusannya.


Seperti yang Kenan inginkan, Hazal telah melanjutkan kehidupannya kembali.


"Aku baik-baik saja," ucap Kenan ketika Mehmet memberikan surat kabar yang memberitakan pernikahan Hazal dan Yafet.


"Apa rencana mu selanjutnya?" tanya Mehmet yang masih mengkhawatirkan keadaan Kenan.


"Besok aku akan pergi ke Eropa. Mungkin aku tidak akan kembali dalam waktu dekat. Kau tidak perlu khawatir, aku akan melanjutkan hidupku." Kenan bangkit berdiri dan memandang keluar jendela. Kehidupan barunya akan segera dimulai.


"Baiklah, aku akan memberikan surat pembatalan pernikahanmu kepada Hazal dan membongkar makam palsu itu," ucap Mehmet sambil mengucapkan selamat tinggal pada sahabatnya sejak kecil.


*****


Di tempat yang sama, Ivy dan Deniz juga berdiri di depan pusara kedua orang tua mereka.


"Jadi benar ayah sudah meninggal?" tanya Deniz sambil mengusap foto ayahnya yang ada di batu nisan.


"Iya. Ayah meninggal karena kebakaran di pabrik." jawab Ivy. Ia mendekati Deniz yang duduk di dekat batu nisan.


"Kata ibu Sophia, ayah meninggal karena mu," ucap Deniz dengan polosnya. Wanita itu bingung bagaimana menjelaskan semuanya kepada anak yang masih berumur sepuluh tahun.


"Katakan yang sebenarnya," mohon Deniz yang bangkit berdiri di depan Ivy.


Melihat wajah polos Deniz, membuat Ivy menceritakan semuanya dari awal. Ia mencoba mengatakan dengan penjelasan sederhana yang bisa di mengerti oleh adiknya.


Belum selesai Ivy menceritakan semuanya, tiba-tiba darah mengalir dari kedua lubang hidung Deniz.


"Deniz!" seru Ivy yang langsung menangkap Deniz ketika tubuh kecil itu akan terjatuh.


"Deniz!" teriak Ivy sambil menepuk-nepuk pipi adiknya. Tetapi kelopak mata itu tertutup.


"Deniz! Tolong...! Tolong aku...!" jerit Ivy di dalam tempat pemakaman itu.


Kenan yang berdiri tidak jauh dari tempat Ivy, mendengar jeritan wanita itu. Putra Harun itu melihat sekelilingnya, ia mencari sumber suara itu berasal.


Dari kejauhan ia melihat seorang wanita sedang menopang tubuh seorang anak kecil. Kenan segera berlari dan menghampiri mereka.


"Ivy? Deniz?" Kenan terkejut melihat kedua anak Victor Eleanor berada di tempat pemakaman dan terlebih lagi melihat kondisi Deniz yang tak sadarkan diri.

__ADS_1


* Bersambung *


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2