
Satu bulan kemudian, Musim Semi di Kota Istanbul sudah memasuki bulan kedua. Taman bunga di tengah kota semakin menunjukkan identitasnya. Kelopak bunga tulip bermekaran penuh warna bagaikan hamparan permadani yang menjadi pemandangan kota. Festival bunga tulip telah dimulai selama satu musim.
Selama kurun waktu satu bulan itu, Polisi terus mencari keberadaan Ferit. Begitu juga dengan Kenan dan Mehmet, keduanya mencari sang pembuat onar itu dengan cara mereka sendiri. Mehmet yakin bahwa pria berambut panjang itu masih ada di Istanbul.
Apartemen Falea kini berubah menjadi sebuah industri rumah tangga. Sejak Kenan menandatangani surat perjanjiannya dengan pihak Mandellion, pria itu mempekerjakan beberapa wanita yang tinggal di daerah rumah Nur yang lama. Perusahaannya membutuhkan tenaga kerja lebih banyak untuk membantunya menyelesaikan pesanan Mandellion. Sudah dua kali ini, Falea berhasil memenuhi pesanan mereka.
Pundi-pundi uang setiap hari masuk ke dalam rekening Falea. Perusahan kecil yang semula hanya ada Kenan dan Ivy, dalam satu bulan telah berkembang menjadi dua puluh orang. Suara dinamo mesin jahit, selalu mengisi keberadaan ruang tersebut mulai dari pagi hingga sore hari. Deniz dan Nur terpaksa harus mengungsi ke Apartemen Mehmet apabila pekerja Falea telah datang, dan mereka berdua kembali di saat langit telah gelap.
Hari ini cuaca di luar sedang baik. Raja siang tak begitu memancarkan sinarnya dengan kuat. Angin juga menahan dirinya untuk berlari dengan cepat. Gumpalan awan putih menggantung menghiasi cakrawala biru yang indah. Tampak beberapa pasangan memenuhi taman bunga tulip di tengah kota.
Kenan yang berdiri membelakangi Ivy, menutup kedua mata istrinya dengan selembar kain hitam. Pria itu sengaja tidak memberitahu Ivy kemana mereka akan pergi. Ia ingin memberi kejutan kepada wanita itu. Namun, hidung mancungnya mulai mencium aroma bunga tulip yang ada di dekatnya.
“Apa kita sedang berada di taman bunga?” tanya Ivy yang mencoba menebak.
“Kau akan segera mengetahuinya,” bisik Kenan di belakang telinga Ivy. Perlahan-lahan dibukanya ikatan kain yang menutupi kelopak mata istrinya.
Sinar cahaya terang itu langsung menyapa manik matanya tatkala kain hitam itu terlepas dari wajahnya. Bibir tipis itu terbuka lebar melihat hamparan ribuan bunga tulip warna-warni. Kelopak mata itu tidak berkedip sama sekali.
“Wow… ini sangat indah.” Ivy memegang kedua pipinya sendiri menatap taman bunga yang ada di depannya.
“Selamat ulang tahun, Sayang,” ucap Kenan dengan satu tangannya memeluk Ivy dari belakang, sementara tangannya yang lain memegang sebuah tali yang digunakan untuk mengikat beberapa balon.
Balon itu terdiri dari dua warna dengan tulisan yang berbeda di setiap tubuhnya. Mulai dari tulisan selamat ulang tahun hingga kata-kata romantis lainnya. Semua tulisan itu mewakili perasaan Kenan kepada Ivy. Setelah sekian lama mereka berkenalan, untuk pertama kalinya Ivy melihat sisi lain dari Kenan.
“Tunggu, masih ada lagi.” Kenan menghentikan ucapan Ivy yang ingin mengucapkan terimakasih kepadanya.
“Ada lagi?” Kedua alis Ivy saling bertautan menoleh ke arah Kenan yang ada di belakangnya.
“Pegang ini.” Kenan memberikan ikatan balon itu kepada Ivy.
Telapak tangan halus itu menerima pemberian suaminya. Ivy sibuk membaca satu persatu kalimat yang tertulis di setiap balon yang bergerak ke kanan dan ke kiri karena tiupan angin. Wanita muda itu tak menyadari bahwa Kenan tengah mengambil sesuatu dari saku celananya.
Sebuah kalung emas tiba-tiba muncul di depan mata Ivy. Manik mata hijau itu menatap sebuah liontin dengan ukiran inisial nama depan mereka, KI. Kalung emas itu perlahan-lahan turun dan mendarat di lekukan lehernya. Ia merasakan bibir coklat itu menyentuh leher belakangnya dengan lembut, bulu-bulu halus itu menggelitik nakal di kulitnya.
“Apa kau tidak menyukainya?” tanya Kenan yang sejak tadi ia memperhatikan Ivy masih menundukkan wajahnya untuk melihat kalung pemberiannya.
Ivy membalikkan badannya menghadap Kenan. Dilihatnya pria itu sedang mengatupkan kedua bibirnya. Kedua sudut bibir tipis itu terangkat ke atas. Polesan lipstik berwarna merah tembaga itu, membuat kulit putih Ivy menjadi lebih berwarna.
Ia mengalungkan kedua lengannya di belakang leher suaminya, begitu juga dengan Kenan yang membalasnya dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ivy. Tiupan angin sepoi-sepoi itu menerbangkan beberapa helai rambut mereka.
“Aku sangat… menyukainya.” Ivy memperpanjang kata ‘sangat’ dengan menutup kedua kelopak matanya, kemudian membukanya kembali. Ekspresi wajah itu membuat hati Kenan berdesir tak karuan.
“Tapi….” Perkataan itu terhenti, ditatapnya manik mata Kenan lekat-lekat.
“Aku rasa inisial namanya kurang satu huruf,” lanjut Ivy sambil memasukkan anak rambutnya yang sejak tadi beterbangan ke belakang telinganya.
“Kurang satu huruf? Apa maksudmu? Apa ada nama lain selain kita berdua?” Kenan langsung memicingkan kedua manik matanya. Tulang rahangnya tanpak mulai menonjol dan mengeras. Bunyi napas itu mulai mendengus.
Dalam hatinya, Ivy tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Kenan. Suaminya itu seperti sedang mencemburui seseorang. “Ada... ada orang ketiga di antara kita.”
“O…orang ketiga? Mak… maksudmu kau… kau mencintai pria lain?” Wajah Kenan sudah mulai merah padam menahan amarahnya. Rasa kecewa itu mulai menjalari hatinya.
Tak tahan menahan rasa tawanya yang ia pendam seorang diri, Ivy mengangkat sedikit tumitnya hingga mencapai batas telinga Kenan. Wanita muda itu mendekatkan bibirnya untuk membisikkan sesuatu kepada Kenan.
“Orang ketiga itu ada di dalam perutku.”
“Kau…. Kau hamil?” Kenan langsung membelalakkan matanya. Pandangannya kini tertuju pada perut Ivy yang rata, secepat itukah dirinya berhasil menghamili istrinya.
__ADS_1
Ivy hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis. Kali ini ia tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi wajah Kenan yang berubah-ubah dalam beberapa detik ini.
“Berarti aku akan jadi ayah?” Manik mata abu-abu gelap itu sedikit berkaca-kaca.
“Ayah yang hebat untuk anak kita.” Ivy mengusap perutnya.
Kenan langsung memeluk Ivy dengan erat dan membuat tubuh ramping itu berputar. Ikatan balon itu pun terlepas dari genggaman tangan Ivy. Sepuluh balon itu terbang tinggi ke angkasa, seiring dengan kejutan yang diberikan wanita itu kepada suaminya.
“Kau tahu, Sayang. Kau telah membuatku memiliki keluarga yang lengkap. Keluarga yang tidak pernah aku rasakan setelah ibuku meninggal dunia. Bukan hanya rumah untuk tempat tinggal, tetapi benar-benar rumah yang berisi kehangatan dan kasih sayang di dalamnya. Aku benar-benar mencintaimu.”
“Kau pikir ada pria lain yang aku cintai?” goda Ivy dengan tawanya yang cekikikan.
Wajah persegi itu bersemu merah menahan rasa malunya. “Kau benar-benar nakal, Sayang. Sudah jangan menggodaku atau….”
“Atau apa?”
“Atau kita akan menyelesaikannya di ranjang,” desah Kenan yang membuat Ivy langsung melayangkan cubitannya ke perutnya yang berotot.
“Auuw…! Kenapa semua wanita selalu mencubit jika dia marah?” protes Kenan sambil mengusap bekas cubitan Ivy pada perutnya.
“Apa katamu? Semua wanita? Berapa banyak wanita yang pernah mencubit perutmu selain aku?” Manik mata hijau melotot menatap Kenan.
Habislah aku jika dia sedang marah…. Dia akan menyuruhku untuk tidur di luar.
Putra Harun itu hanya bisa tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya di depan Ivy. “Sayang, kau salah sangka. Tidak semua wanita. Bukan-bukan. Maksudku hanya kau wanita yang kucintai yang suka mencubit perutku.”
“Apa? Berarti menurutmu aku ini wanita jahat? Kau benar-benar keterlaluan!” Ivy langsung mendorong tubuh Kenan untuk menjauhinya. Sepatu bertumit rendah itu langsung melangkah masuk ke dalam mobil.
Kenan menepuk sendiri keningnya dan merutuki mulutnya yang kembali salah berbicara. “Kenapa beberapa hari ini, dia galak sekali dan sangat sensitif?”
kesukaan Ivy.
“Semoga mereka menjual baklava,” gumamnya ketika ia memasuki bangunan terakhir. Sekitar sepuluh tempat makan sudah ia datangi hanya untuk mencari kudapan manis yang berisi kacang dan madu.
“Terimakasih,” ucap Kenan setelah penjual makanan itu memberikan sekotak baklava ukuran besar kepadanya.
Dikeluarkannya beberapa lembar Lira dari dalam dompetnya. Ia pun melangkah dan tertawa riang di dalam hatinya. Di dalam pikirannya Ivy akan menangis terharu dan mendaratkan ciumannya berulangkali karena melihat pengorbanannya untuk membeli baklava.
Aroma baklava yang masih hangat itu mulai merasuki indera penciuman Ivy, ketika Kenan baru saja masuk ke dalam mobil. Raut wajah Ivy yang terlihat kesal itu mendadak bersinar, ketika Kenan memperlihatkan baklava yang baru saja dibelinya.
“Ini untukmu, makanlah. Kau tahu, bagaimana aku ….”
Perkataan Kenan langsung terhenti, ketika Ivy langsung merebut kotak yang berisi baklava itu dari tangannya. Mulutnya hanya bisa terbuka melihat istrinya melahap potongan-potongan baklava itu. Harapannya untuk melihat wanita itu menangis terharu hilang seketika. Ia hanya bisa menelan salivanya dan mengusap perutnya yang meronta ketika baklava itu habis tak tersisa.
"Apa kau bisa mengantarku ke dokter kandungan?” tanya Ivy setelah ia mengusap mulutnya dengan selembar tisu dan meneguk minumannya.
“Ya… tentu aku bisa mengantarmu,” jawab Kenan yang langsung menjalankan kendaraannya menuju rumah sakit. Melihat istrinya kembali tersenyum, membuat Kenan melupakan rasa laparnya.
“Semoga anakku nanti wajahnya seperti Ivy, tapi dia memiliki sifat sepertiku. Tapi... sifatku juga tidak terlalu bagus, atau begini saja... dia tampan sepertiku dan moody seperti ibunya,” gumam Kenan di balik setir kemudinya. Perkataan itu sempat didengar oleh Ivy.
Ivy hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Kenan yang konyol. Di dalam pikirannya, ia juga membayangkan sosok mungil yang mirip seperti Kenan. Bibir tipis itu tersenyum sambil mencuri pandang melihat wajah samping suaminya.
Seorang suster memanggil nomor antrian Ivy dan meminta mereka untuk segera masuk ke dalam ruangan dokter. Seorang Dokter Kandungan mulai memeriksa perut Ivy melalui alat USG nya. Kenan memperhatikan sebuah titik hitam yang ditunjukkan oleh dokter wanita tersebut.
“Selamat, Tuan Kenan. Istri Anda sedang mengandung dan usia kehamilannya memasuki empat minggu.”
“Apa jenis kelaminnya, Dok? Apa dia laki-laki atau perempuan?” tanya Kenan.
__ADS_1
Pria itu mendekatkan pandangannya ke layar monitor mesin USG. Ia ingin melihat jenis kelamin anaknya dari layar hitam putih tersebut. Ia menggeser, menarik dan mengusap layar tersebut seperti layar ponselnya. Dengan harapan titik hitam itu akan membesar. Kelakuan Kenan itu justru membuat Ivy tertawa terpingkal-pingkal di atas kursinya.
“Jenis kelaminnya belum terlihat, Tuan. Kalian bisa mengetahuinya setelah usia kandungan Nyonya Ivy menginjak usia 24 minggu, itu pun jika posisi janinnya bagus,” jelas sang Dokter yang juga tersenyum melihat ulah Kenan.
“Oh pantas, aku tidak bisa melihatnya. Aku kira mesin milik Dokter yang rusak.” Kenan mendengus dan kembali berdiri di samping Ivy.
“Sudahlah, yang penting dia tumbuh sehat,” hibur Ivy yang masih tidak bisa berhenti tertawa.
......................
Cansu menggenggam erat tasnya yang berisi pakaian milik ibunya dan beberapa buah-buahan. Sepasang kakinya berjalan gontai menyusuri lantai keramik yang sudah terlihat kusam. Melewati beberapa dinding polos yang ada di sekelilingnya. Hanya genggaman tangan Mehmet yang selalu memberikannya kekuatan.
Untuk pertama kalinya, Cansu memberanikan dirinya untuk menjenguk ibunya. Bukan di penjara seperti yang dikatakan Ivy beberapa waktu yang lalu, melainkan di sebuah Rumah Sakit Jiwa yang letaknya jauh dari Kota Istanbul. Rumah sakit itu berada di daerah pegunungan dengan suasananya yang tenang, jauh dari keramaian kota.
Kedua telinganya menangkap bunyi kenop pintu yang diputar. Kepalanya langsung menoleh ke arah daun pintu yang terbuka. Dari dalam, seorang penjaga berbaju coklat memanggil Cansu dan Mehmet. Keduanya pun masuk ke ruangan dan menulis nama mereka pada sebuah buku daftar kunjungan.
Setelah mengurus administrasi, seorang penjaga mengantar mereka pada sebuah ruangan yang di batasi oleh sebuah kaca jendela yang besar. Dari tempat itu, Cansu dan Mehmet dapat melihat Sophia yang sedang bermain bersama dengan pasien lain yang usianya tak jauh berbeda dari ibunya. Wanita paruh baya itu layaknya seorang ratu judi yang suka bermain kartu. Dia tertawa sambil bertepuk tangan, entah apa yang membuatnya bahagia.
“Terkadang Nyonya Sophia masih suka berteriak dan membenturkan kepalanya di dinding,” kata penjaga tersebut menjelaskan kondisi Sophia kepada mereka. Cansu hanya bisa menghela napasnya kemudian menatap ibunya kembali.
“Bagaimana dengan kesehatannya? Apa ibuku makan dengan teratur di sini?” Cansu menanyakan hal itu, karena ia melihat wajah dan perawakan ibunya terlihat lebih kurus daripada sebelumnya.
“Tubuhnya sangat sehat. Tekanan darahnya dan semuanya normal. Dia makan sehari tiga kali. Hanya saja…. Sejak dia tinggal di sini, sudah empat kali kami memergokinya mengambil baklava, menamen, roti isi dan yoghurt. Dia menyimpannya di bawah tempat tidurnya.”
“Lalu? Apa ibuku akan marah jika kalian mengambilnya?” Cansu bertanya tanpa memandang wajah sang penjaga, melainkan manik matanya terus tertuju pada ibunya. Ia mengenali siapa penyuka makanan itu.
“Apa yang Anda katakan itu benar, Nyonya. Dia langsung mengamuk dan menyerang kami atau teman sekamarnya. Pernah suatu hari, dia menjambak teman sekamarnya hanya karena temannya itu mengambil baklava miliknya.”
Setetes cairan bening itu membasahi wajah perseginya. Cansu menempelkan salah satu telapak tangannya pada jendela kaca yang ada di depannya. Seakan ia ingin menyentuh wajah ibunya.
“Kau tahu, Mehmet. Makanan-makanan itu adalah makanan kesukaan kami. Baklava adalah makanan kesukaan Ivy, menamen adalah makanan kesukaan Deniz, roti lapis adalah makanan kesukaan ayah Victor dan… dan yoghurt, itu adalah kesukaanku. Ibuku masih mengingat kami.” Air mata itu semakin deras membasahi wajahnya. Mehmet mencoba menghiburnya dengan mengusap kepala istrinya.
“Nyonya Sophia hanya bisa mengingat benda-benda atau sesuatu yang berkaitan dengannya. Tapi dia tidak ingat orang-orang terdekatnya. Maaf, jika saya mengatakan hal ini kepada Anda. Sebenarnya dia tidak ingat keluarganya, yang dia ingat hanyalah saham-sahamnya.” Penjaga itu hanya bisa menghela napasnya melihat keadaan ibu dan anak itu.
Aku rasa saham Perusahaan Kozan yang emmbuatnya seperti ini. Mehmet berkata dalam hatinya.
Untuk beberapa menit Cansu memperhatikan ibunya. Ia melihat guratan senyum pada bibir pucat tersebut. Namun, tatapan mata itu terlihat kosong. Bagaikan tubuh tanpa jiwa di dalamnya. Hatinya mulai bisa menerima keadaan ibunya, mungkin lebih baik ibunya dirawat di tempat ini.
“Nyonya, ini pakaian milik ibuku dan ini buah-buahan untuknya. Tolong berikan semua ini untuk ibuku,” ucap Cansu sambil memberikan tas kain itu kepada penjaga. “Jika ibuku sakit atau memerlukan sesuatu, kalian bisa menghubungiku.”
“Baik, Nyonya."
......................
“Bos, aku baru saja melihat orang yang kita cari selama ini,” Terdengar suara seorang pria dari ujung ponsel Mehmet.
“Dimana kau melihatnya?” Mehmet berjalan keluar menjauhi kafenya.
“Di sebuah kios kecil di luar kota Istanbul."
“Ikuti orang itu dan cari tahu dimana tempat tinggalnya. Pastikan bahwa dia adalah orang yang kita cari selama ini!”
“Baik, Bos.”
“Sampai sejauh mana kau akan terus bersembunyi, hah? Cepat atau lambat aku pasti akan menemukanmu!” gumam Mehmet yang berbicara sendiri menatap layar ponselnya.
...****************...
__ADS_1