Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Reuni DL dan GMYH - Pertemuan Yafet dan Kenan


__ADS_3

Tidak ada hal yang paling membosankan selain menunggu. Tidak ada hal yang paling membuat jantung berdetak dengan cepat selain menantikan sebuah kabar. Tidak ada hal yang membuat adrenalin naik selain bertemu dengan seseorang yang tidak kau harapkan kehadirannya.


Ruang besuk penjara itu kini di penuhi dengan pengunjung yang ingin membesuk sanak saudara mereka yang menjadi penghuni di sana. Suara obrolan terdengar di dalamnya, mereka semua telah bertemu dengan anggota keluarga mereka. Tetapi tidak untuk Cansu dan Ivy yang masih menunggu suami mereka.


Setiap kali pintu ruangan itu dibuka, kedua wanita itu selalu mengangkat wajahnya untuk melihat sosok yang berada di balik pintu kayu tersebut. Jam besuk sudah lima menit berlalu dan mereka kehilangan waktu mereka dengan percuma. Tepat saat menginjak menit keenam, pintu kayu yang ada di depan mereka pun terbuka.


“Kenan.”


“Mehmet.”


Dua wanita itu segera berhamburan dan memeluk kedua suami mereka. Masing-masing pria itu menggandeng pasangan mereka dan mencari tempat duduk yang nyaman melampiaskan kerinduan mereka. Obrolan mereka pun mulai dari pekerjaan hingga obrolan yang intim, hanya waktu inilah yang masih tersisa sebelum putusan pengadilan merenggut waktu kebersamaan mereka. Hanya pertemuan inilah yang mampu mengobati rasa depresi kedua pria itu. Tampak Kenan mulai senang mengusap perut Ivy yang sudah mulai sedikit terlihat.


“Kenan….” Digenggamnya telapak tangan kasar itu hingga membuat manik mata abu-abu gelap itu menatapnya.


“Ada apa?”


Ivy ingin menceritakan pertemuannya dengan Hazal, tetapi wanita itu sedikit ragu untuk mengatakannya, karena sampai hari ini jaksa wanita itu tidak menghubunginya untuk memberikannya jawaban.


“Ini hasil foto USG ku beberapa hari yang lalu,” ucap Ivy yang mengganti topik pembicaraannya.


Ia memberikan selembar foto hitam putih kepada suaminya. Kini foto itu mulai menampilkan sebuah titik hitam yang lebih besar dari sebelumnya.


“Aku akan menyimpannya sampai dia lahir.” Putra Harun itu tak bisa menahan air matanya, setiap kali ia melihat foto tersebut. Ia kembali mendekap istrinya dengan erat, seakan tak rela waktu jam besuk itu harus memisahkan mereka.


Sepertinya keduanya telah pasrah dan menyerahkan nasib mereka kepada Yang Maha Kuasa. Tidak ada satu orang manusia pun yang sanggup menolong mereka, kecuali sang Pencipta sendiri yang membalikkan hati nurani seseorang.


Suara kedua langkah kaki membuat beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu menoleh kepada dua sosok manusia yang baru saja masuk ke dalam. Orang pertama yang mengenali mereka adalah Mehmet, karena suami Cansu itu duduk di dekat pintu masuk. Pria gundul itu langsung mendongakkan kepalanya dan mulut yang terbuka begitu melihat pengunjung yang tidak pernah ia duga sebelumnya.


“Siapa mereka? Apa kau kenal dengan mereka?” bisik Cansu yang melihat suaminya itu tiba-tiba bangkit berdiri dan menatap dua sosok manusia yang ada di ambang pintu.


“Akhirnya dia datang….” Perkataan itu yang meluncur dari bibir Mehmet ketika dua sosok manusia yang berpakaian formal itu berjalan melewatinya.


“Dia siapa?” Cansu menarik tangan Mehmet agar kembali ke tempat duduknya, karena ia melihat wanita yang dimaksud suaminya itu sangat cantik dan berkelas.

__ADS_1


“Kau akan segera mengetahuinya nanti. Kita lihat saja dari sini, apa yang akan terjadi,” ucap Mehmet. Pria berkulit gelap itu terus memandang wanita yang memakai sebuah blazer berwarna putih. Penutup tubuh bagian luar itu hanya diletakkan begitu saja pada kedua pundaknya dan membiarkan bagian tangan blazer itu kosong.


Wanita muda berambut coklat itu hanya tersenyum tipis kepada Mehmet, tetapi tidak dengan pria yang ada di sampingnya. Pria bertubuh tinggi dengan tekstur rahangnya yang keras itu berjalan lurus tanpa melihat kanan kirinya, karena mata elangnya hanya membidik sebuah punggung tegap yang berada tepat di depannya.


“Hazal…” Ivy langsung melepaskan pelukan suaminya ketika melihat jaksa wanita itu datang dengan seorang pria yang pernah ia lihat di dalam pesawat penerbangan Paris-Istanbul.


“Hazal? Kenapa kau tiba-tiba menyebut namanya?” Kenan bertanya pada Ivy, namun istrinya itu masih menatap seseorang yang berdiri di belakang suaminya.


Dentuman di hati Kenan begitu keras laksana sebuah meriam yang baru saja di jatuhkan di tengah kota, ketika ia membalikkan badannya dan melihat Hazal dan Yafet tengah berdiri di hadapannya. Sepasang bola mata abu-abu gelap yang semula lembut menatap Ivy kini berubah menyorot tajam saat menatap dua sosok manusia yang tidak ia harapkan.


Suara tepuk tangan yang berasal dari sepasang telapak tangan Yafet itu berbunyi tiga kali, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan memusatkan perhatiannya kepada putra Emir Aksal itu.


“Like father like son…. Sebutan apa yang cocok untukmu, Anak Pembunuh? Ups… salah! Ternyata kau juga sama mengikuti jejak ayahmu.” Yafet menggaruk ujung alisnya yang berwarna hitam tebal dengan sedikit tawa kecilnya.


“Yafet Aksal!” geram Kenan.


Suasana hati Kenan yang semula tenang bagaikan anak sungai kini berubah menjadi deburan ombak laut yang besar. Kedua telapak tangannya mengepal seiring dengan bibir coklatnya yang terkatup rapat. Sebutan anak pembunuh itu terdengar sangat sensitif di telinganya.


“Hushh… diamlah!” hardik Mehmet, “jangan ikut campur masalah mereka. Kini saatnya singa betina itu membayar hutang masa lalu pada penyelamatnya.”


“Singa betina? Siapa yang kau maksud dengan singa betina?” Cansu semakin menempelkan dirinya di punggung suaminya.


“Itu julukan yang diberikan Kenan kepada Hazal.” Bibir tebal itu langsung membentuk huruf O bulat, setelah mendengar perkataan suaminya.


Mehmet mengajak Cansu untuk duduk kembali ke kursi mereka, namun pandangan keduanya masih menonton apa yang akan terjadi selanjutnya.


Kenan berjalan mendekati Yafet yang berdiri tidak jauh darinya. Sorotan matanya kini semakin tajam menatap pasangan suami istri yang ada di depannya, sementara Ivy hanya bisa menatap mereka semua dengan kecemasan. Putri Victor itu tak mengira Hazal akan datang dengan membawa suaminya ke tempat ini.


“Kenapa kalian kemari, hah? Kau dan aku sudah tidak ada urusan lagi!” Kenan menatap Yafet dan Hazal secara bergantian.


Yafet membetulkan letak kerah seragam tahanan Kenan dan menempelkan jari telunjuknya ke dada putra Harun. Ia sedikit mendorongnya ke belakang sambil berkata, “Istrimu yang memohon-mohon pada Hazal untuk membebaskan mu.”


“Ivy!” hardik Kenan membuat tubuh wanita hamil itu gemetar ketakutan. “Apa benar yang dikatakannya?”

__ADS_1


“Aku….” Hanya deraian air mata itu yang menjadi jawaban atas pertanyaan suaminya. Ketakutannya akhirnya terjadi juga.


Bukan kemarahan lagi yang ditunjukkan Kenan, tetapi suaminya itu benar-benar murka dan kecewa kepadanya. Tarikan tangan pria itu begitu kuat mencengkeram pergelangan tangannya.


“Tunggu, Kenan!” cegah Hazal yang menghalangi kepergian Kenan yang akan membawa Ivy keluar dari ruangan.


“Jangan mencampuri hidupku! Urus keluarga Aksal mu daripada kau membuang tenaga mu untuk mengurus masalahku!” bentak Kenan kepada Hazal. Namun, Hazal bukanlah Ivy yang cengeng dan lemah.


“Jangan salahkan Ivy. Dia melakukan semua ini demi calon anakmu,” balas Hazal dengan suaranya yang datar. Kenan pun terdiam setelah mendengar perkataan Hazal. Ia melepaskan cengkeraman tangannya dari tangan Ivy, membuat kulit putih itu memerah.


“Sudahlah, Sayang.... Jangan buang-buang waktumu untuk menolong orang yang tidak mau ditolong,” sindir Yafet yang membuat Hazal mengerutkan keningnya.


Putra Emir itu sejak tadi memperhatikan sikap Kenan kepada Ivy dan sikap Kenan kepada Hazal. Perkataan yang tadi ia ucapkan di awal, membuat pria itu mendapatkan jawaban atas keputusan apa yang akan ia ambil.  Dari sudut ekor mata Hazal, wanita itu melihat sebuah senyum tipis terlukis dari garis bibir suaminya.


Aku sudah tahu keputusanmu, Yafet….


“Kau… Kau bersedia… menolong suamiku?” tanya Ivy yang berjalan menghampiri Hazal.


Kini ia berdiri di antara Kenan dan jaksa wanita tersebut. Manik mata hijau itu tampak berkaca-kaca menatap sepasang bola mata coklat yang juga sedang menatapnya.


“Jika suamimu memang bersedia menerima pertolonganku,” ucap Hazal sambil mengulurkan tangan kanannya kepada Kenan.


Putra Harun itu hanya mengatupkan kedua bibirnya dan menatap tangan Hazal yang masih terulur. Ia tidak membalas uluran tangan mantan istrinya.


Mehmet yang melihat dari kejauhan hanya bisa menghela napasnya dalam-dalam dan menggaruk kepalanya yang gundul. Seandainya saja Hazal mengulurkan tangan kepadanya, maka ia akan langsung menerimanya.


“Tiang gantung sudah di depan mata, masih saja sok gengsi tidak mau menerima bantuan,” celoteh Yafet sambil mengetukkan jari tangannya di atas meja.


Telinga Kenan langsung memerah begitu ia mendengar perkataan Yafet yang berdiri tidak jauh darinya. Ingin rasanya ia menyumpal mulut suami Hazal tersebut. Pria itu masih memejamkan kelopak matanya untuk beberapa detik lamanya. Hingga akhirnya Kenan membalas uluran tangan Hazal.


“Aku menerima bantuan mu.”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2