
Sebuah taksi berhenti di sebuah rumah kecil yang jauh dari pusat kota. Dua orang dewasa dan satu anak-anak keluar dari kendaraan umum tersebut. Kedua kakak beradik Eleanor itu memandang rumah bercat putih dan coklat. Meskipun kecil, tapi sedikit terawat dibandingkan rumah sekitarnya.
"Masuklah," ajak Nur kepada dua orang tamunya yang masih berdiri di pinggir jalan. Jalan raya itu satu arah hanya bisa dilalui satu kendaraan saja.
Nur membuka pintu kayu yang kulit pinggirnya penuh dengan goresan. Ivy merangkul pundak Deniz, tetapi anak itu masih tetap tegak berdiri di tempatnya semula.
"Deniz, ayo kita masuk. Ini rumah Nur," jelas Ivy dengan perlahan. Ivy tahu Deniz mungkin saja kecewa, karena dia tidak pulang ke rumahnya sendiri.
Deniz tidak menjawab perkataan Ivy. Ia masih menatap bangunan rumah itu.
"Deniz, bukankah kau ingin tinggal bersamaku? Sekarang aku tinggal di sini. Ayo masuk," ucap Ivy sambil memegang kedua lengan adiknya.
"Kenapa kita tidak tinggal di rumah? Aku ingin pulang ke rumah," kata Deniz sambil menatap penuh harap.
"Di rumah sudah tidak ada orang. Ayah pergi keluar negeri. Ibu Sophia pergi bersama dengan temannya, sementara Cansu... dia sedang bekerja," elak Ivy yang kembali membohongi Deniz.
Setelah mendengar penjelasan dari kakaknya, Deniz melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah Nur.
"Nanti kakak akan memberitahu ayah, bahwa kau sudah keluar dari rumah sakit," ucap Ivy sambil mengusap puncak kepala Deniz. Anak lelaki itu kembali tersenyum.
Di dalam rumah itu, Nur tinggal sendiri. Ia membeli rumah itu setelah ia bekerja di rumah keluarga Eleanor bertahun-tahun. Bangunan itu terdiri dari satu lantai, diisi dengan dua kamar, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu.
"Aku harap kalian betah tinggal di sini. Tidak sebesar rumah keluarga Eleanor," ucap Nur setelah ia memasukkan koper Ivy dan koper Deniz di kamar depan.
"Ini sudah cukup buat kami, Nur. Terimakasih." Ivy memegang kedua tangan Nur. "Seandainya saja kita tidak bertemu, entah aku dan Deniz harus tinggal dimana."
"Ivy, apa tidak berbahaya kau mengeluarkan Deniz dari rumah sakit?" Nur mengambil dua gelas air putih dan memberikannya kepada mereka.
Ivy menarik tangan Nur agar sedikit menjauh dari Deniz. Putri Victor itu menceritakan apa yang terjadi setelah Sophia menendang dirinya keluar dari rumah.
__ADS_1
"Aku tidak punya pilihan lain, Nur. Kuharap setelah keluar, kesehatannya semakin membaik." Mendengar cerita Ivy, raut wajah Nur menjadi geram.
"Bisa aku meminta bantuan mu lagi, Nur? Maaf aku selalu merepotkan mu."
"Apa yang kau katakan, nak. Kalian berdua sudah ku anggap seperti anakku. Katakan ada apa?" tanya Nur sambil membetulkan ikatan rambutnya.
"Aku akan mencari pekerjaan, bisakah kau menjaga Deniz?" Ivy menatap penuh harap ke wajah pelayan sekaligus pengasuhnya. "Aku tidak ingin menumpang di rumahmu dengan gratis. Aku akan membayar uang sewanya."
Nur memukul pelan lengan Ivy. "Apa yang kau katakan? Tentu saja kau boleh tinggal di rumah ku. Aku akan menjaga Deniz."
"Tidak, Nur. Biarkan aku membantumu juga." Ivy sedikit memaksa.
"Terserah kau saja, gadis cantik." Nur tertawa kecil dan memeluk nona kecilnya yang sudah menjadi seorang wanita muda.
"Terimakasih, Nur." Ivy mengusap punggung wanita gembul itu.
Hingga malam hari, Ivy baru pulang ke rumah Nur dengan raut wajahya yang kusut. Ia melihat Deniz masih berkutat dengan kertasnya. Ivy mendekatinya dan dilihatnya adiknya itu sedang menggambar anime.
"Wah, gambar mu semakin bagus," puji Ivy yang berdiri di belakang kursi Deniz. Guratan pensilnya penuh dengan ketegasan. Terakhir kali Ivy melihat adiknya itu menggambar sekitar empat atau lima tahun yang lalu.
"Aku ingin sekolah di Paris seperti dirimu," tengok Deniz kepada kakaknya. Anak lelaki itu menunjukkan buku sketsa kakaknya. Ivy segera mengerti maksud Deniz.
"Bukan ke Paris. Jika kau menyukai gambar anime, kau bisa sekolah ke Jepang," kata Ivy yang di sambut dengan manik mata Deniz yang bersinar. Ivy membalas tatapan mata hijau lumut itu.
Apa aku telah memberinya suatu harapan yang belum tentu aku bisa mewujudkannya?
"Sudah malam. Tidurlah, Deniz." Ivy segera menggiring adiknya itu untuk menaiki ranjang ukuran single.
"Kenapa kakak mencari pekerjaan? Kenapa kakak tidak bekerja di perusahaan ayah?" tanya Deniz ketika Ivy membaringkan kepalanya di atas bantal.
__ADS_1
Ivy tidak segera memberikan jawaban kepada Deniz. Wanita muda itu menatap langit-langit kamar yang polos. "Aku ingin mencoba bekerja diluar dulu."
Setelah mendengar perkataan kakaknya, Deniz tidak melanjutkan pertanyaannya lagi. Ia menarik selimutnya dan tertidur di samping Ivy.
Keesokkan paginya, Deniz melihat Ivy yang masih tidur dengan pulas. Ia bangun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar menuju dapur untuk mengambil air minum. Ia tidak melihat Nur di dalam rumah itu.
Aku ingin pulang.... Kenapa kemarin kami tidak menunggu di rumah? Dan kenapa Nur tidak bekerja di rumah?
Beberapa pertanyaan terlintas di pikiran Deniz. Ia masuk ke dalam kamarnya dan melihat tas Ivy. Tangannya mengambil dompet Ivy dan mengambil beberapa lembar uang yang disimpan kakaknya.
Aku tidak ingin mencuri, kak. Aku hanya ingin pulang ke rumah. Maafkan aku.
Deniz memasang sepatunya dan berjalan keluar. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan bahwa Nur dan kakaknya tidak mengikutinya. Setelah berjalan beberapa meter, akhirnya ia menemukan sebuah taksi yang melintas di depannya.
Manik mata hijau itu mulai terbuka pelan-pelan, ketika sinar mentari sudah bersinar terang memasuki kamarnya. Tangan kanannya mencari seseorang di sampingnya. Ia segera bangun dengan perasaan terkejut.
"Deniz!" Ivy menyibakkan selimutnya ketika ia tidak melihat adiknya berada di sampingnya. Wanita muda itu segera turun dari ranjangnya, dan mencari ke seluruh rumah. Tetapi ia tidak menemukan anak itu.
"Deniz!" teriak Ivy ketika ia berada di depan rumah. Ia bertanya ke tetangga-tetangganya tapi tidak ada yang melihat Deniz. Hati Ivy seakan terlepas begitu adiknya itu tidak bersamanya.
Ivy yang melihat Nur dengan keranjang sayurnya, segera berlari mendekati wanita gembul itu. "Nur, apa kau lihat Deniz?"
"Bukankah anak itu sedang tidur?" Nur tampak gelagapan mendengar pertanyaan Ivy. Sebelum ke pasar, ia masih melihat Deniz tidur di kamar.
"Dia tidak ada, Nur! Ketika aku bangun, Deniz sudah tidak ada di rumah!" seru Ivy dengan cucuran air matanya. Wajah Nur langsung terlihat pucat pasi begitu ia mendengar perkataan Ivy.
* Bersambung *
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1