Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Selama Aku Masih Hidup, Aku Akan Terus Berjuang


__ADS_3

"Selamat Deniz, operasi transplantasimu sudah berhasil. Besok lusa kau bisa keluar dari rumah sakit. Dua minggu lagi aku akan melihat perkembangan sum-sum tulang belakangmu," ucap Dokter Husein setelah ia memeriksa kondisi Deniz.


Manik mata kecil itu membulat setelah mendengar penjelasan dokter yang sudah merawatnya hampir setahun belakangan ini. Bukan hanya Deniz yang merasa senang, Ivy dan yang lainnya tak hentinya mengucapkan rasa syukurnya.


"Apa aku bisa hidup seperti teman-temanku, Dokter?" Tiba-tiba Deniz teringat kepada teman sekolahnya yang bisa melakukan aktivitas mereka dan bepergian kemanapun yang mereka mau.


"Tentu saja, Deniz. Mulai sekarang kau bisa melakukan hal apapun yang kau sukai, tapi untuk dua minggu pertama ini sebaiknya kau beristirahat dulu di rumah," jawab sang dokter. Setelah menjawab pertanyaan Deniz kemudian pria paruh baya itu mohon diri untuk melihat pasiennya yang lain.


Selepas mengurus pembayarannya kepada pendonor Deniz, putra Harun itu berpamitan kepada Ivy untuk pulang kembali ke rumahnya.


"Kenan...." Pria itu membalikkan badannya saat Ivy memanggilnya di lobi rumah sakit.


"Jaga dirimu," ucap Ivy yang menghampiri Kenan dan memegang kedua lengan pria tersebut. Entah kenapa hatinya saat ini terasa tidak tenang, akan tetapi ia tidak tahu apa penyebabnya. Di bawah cahaya lampu, ia melihat wajah Kenan baik-baik saja.


Kenan mengambil kedua tangan Ivy yang melingkar di lengannya, kali ini dirinya menggenggam kedua telapak tangan wanita itu. "Memangnya aku akan pergi kemana?"


Putra Harun itu melebarkan sudut bibirnya dan tertawa kecil dihadapan Ivy. "Satu jam lagi aku akan kembali."


"Baiklah, bawa ponselmu," sahut Ivy yang melepas genggaman tangan Kenan.


Pria itu hanya melambaikan tangannya dan tersenyum mendengar perhatian Ivy. Manik mata hijau itu hanya bisa menatap punggung tegap Kenan yang semakin lama semakin menghilang ditelan gelapnya malam.


Mobil SUV itu keluar dari halaman Rumah Sakit Istanbul menuju daerah tempat tinggal Kenan di daerah Balat. Selama dalam perjalanan, senyuman dan perhatian Ivy terbayang di dalam pikirannya. Ia melihat bahwa wanita itu tidak peduli dengan kekayaan dan kehormatan yang tidak ia miliki saat ini. Wanita itu lebih memilih meninggalkan Ferit yang bisa mencukupi kebutuhannya dibandingkan dirinya.


Kenan membelokkan mobilnya untuk masuk ke kawasan Balat, kawasan penuh warna di daerah Istanbul. Mendadak lamunannya tentang Ivy terhenti ketika sebuah mobil sedan tiba-tiba memotong jalannya. Beberapa orang pria keluar dari mobil tersebut dan berjalan mendekati mobilnya. Ia segera memundurkan kendaraan roda empatnya tetapi beberapa detik kemudian muncul mobil lain yang menghalangi jalannya.


"Apa mau mereka?" gumam Kenan yang langsung membuka pintu mobilnya dan keluar.

__ADS_1


Sekitar sepuluh orang pria berperawakan tinggi besar keluar dari dua mobil itu dan mengepung dirinya.


"Oh, jadi kau beraninya main keroyokan?" sindir Kenan yang melihat Hasan ada di tengah-tengah mereka. "Apa tuanmu sudah mati, hah?"


"Tutup mulutmu, montir busuk! Hajar pria itu!" seru Hasan memberi perintah kepada anak buahnya.


Sepuluh orang itu beramai-ramai menghajar Kenan. Putra Harun itu tidak tinggal diam, ia membalas pukulan dan tendangan orang-orang itu. Namum karena dirinya kalah jumlah, dua orang dari mereka memegangi tangannya. Delapan orang itu beramai-ramai melayangkan pukulannya ke wajah dan perutnya.


"Cukup!" seru Hasan dengan tepukan tangannya. Ia melihat Kenan sudah jatuh tersungkur ke tanah. "Ikat dan bawa dia ke dermaga!"


Beberapa anak buah Hasan mengikat kedua tangan Kenan ke belakang dan membawa pria berambut hitam itu untuk masuk ke dalam mobil sedan. Mereka meninggalkan mobil SUV itu terparkir di tengah jalan, tanpa mereka sadari Kenan telah menjatuhkan sesuatu di dekat ban mobilnya.


Kedua mobil itu meluncur memasuki dermaga Istanbul. Melewati jalan raya yang lurus seperti jalan tol. Jalan itu membawa mereka masuk ke dalam halaman dermaga dengan atapnya yang setengah terbuka dan dindingnya yang menyatu dengan alam. Beberapa pilar beton berbentuk tabung berbaris di tengah ruangan. Hembusan angin laut membuat bendera Turki yang tertancap di menara mercusuar berkibar-kibar.


Kedua mobil itu berhenti tepat di depan sebuah mobil mewah berwarna hitam yang masih menyala lampunya. Dari dalam mobil, Kenan memicingkan kedua matanya saat ia melihat Ferit berdiri tegak di depan salah satu pilar.


"Ayo keluar!" teriak salah satu anak buah Hasan yang duduk di samping Kenan.


Pria itu membawa Kenan menghadap tuan besarnya. Ferit menyeringai melihat Kenan berdiri di hadapannya dalam keadaan kedua tangannya yang terikat. Kedua pasang manik mata yang terlihat garang itu kembali bertemu. "Kau terkejut melihatku masih hidup?"


Kenan menaikkan salah satu alisnya menatap Ferit dengan sorot matanya yang tajam. "Seharusnya aku membunuhmu waktu itu, keparat!"


Ferit tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Kenan. "Itu salahmu, montir bodoh! Kesempatan tidak datang dua kali."


Pria yang menguncir rambutnya itu berjalan mengelilingi Kenan kemudian dengan cepat ia melayangkan pukulannya. Pukulan Ferit membuat Kenan jatuh tersungkur ke lantai beraspal kasar dan penuh dengan kerikil tajam. Dua orang anak buah Hasan menendang tulang kering Kenan, hingga membuatnya berlutut di depan Ferit.


"Aku akan melepaskanmu, jika kau memohon pengampunan kepadaku!" seru Ferit sambil menendang wajah Kenan dengan sepatu botnya. Putra Harun itu kembali jatuh tersungkur. Beberapa ujung kerikil menggores wajahnya.

__ADS_1


Ferit mengangkat wajah penuh luka itu dan menjepitnya dengan dua jarinya. Ia melihat cairan berwarna merah dan rona keunguan sudah menghiasi wajah lawannya. "Jauhi Ivy dan kembalikan uangku!"


"Tidak akan pernah!" teriak Kenan dengan keras.


Perkataan Kenan membuat Ferit semakin meradang. Ia menggunakan ujung sepatu botnya untuk menendang dagu Kenan. Seketika itu juga, putra Harun itu jatuh terjerembab di lantai beraspal. Rasa sakit menjalar di sekitar rahangnya dan lidahnya. Tendangan itu membuat gigi gerahamnya menggigit lidahnya sendiri.


"Selama aku hidup..., aku... aku... akan terus... berjuang!" seru Kenan dengan suaranya yang terbata-bata.


Ia menggerakkan kedua tangannya agar tali yang membelenggu dirinya terlepas. Namun sepertinya usahanya sia-sia. Tenaganya sudah habis terkuras, wajahnya kembali jatuh dan menempel di aspal. Butiran debu dan pasir itu bersatu dengan peluh yang menempel di keningnya.


Pemilik sepatu bot itu menghampiri Kenan dan meletakkan ujung sepatunya tepat menempel di kepala lawannya. Membuatnya seakan-akan Kenan mencium ujung sepatunya. Ferit berjongkok dan menjambak rambut Kenan yang berwarna hitam kemudian berkata, "Selama kau hidup, kau mau berjuang?"


Suara tawa itu terdengar seperti sebuah ejekan di telinga Kenan. "Malam ini aku akan menghentikkan perjuanganmu!"


Ferit membuang wajah Kenan bagaikan ia membuang plastik pembungkus makanannya ke tanah. Ia memberi isyarat kepada Hasan dengan gerakan kepalanya. Pria berambut cepak itu segera mendekati Kenan. Dengan bantuan anak buahnya ia menyeret tubuh yang terikat itu dan memasukkannya ke dalam sebuah kapal yang mereka tambatkan di tepi dermaga.


Setelah mereka masuk ke dalam kapal boat berwarna putih, Hasan dan beberapa anak buahnya mengikat kedua tangan Kenan dengan seutas tali yang ujungnya terikat pada sebuah tiang besi. Bagaikan seekor ikan yang mulutnya terjebak di ujung mata kail seorang nelayan, Kenan menunggu detik-detik terakhirnya. Sekarang dirinya hanyalah seonggok daging yang tak berguna, manik matanya menatap orang-orang bengis itu tanpa harapan.


Salah satu anak buah Hasan menyalakan mesin kapal dan membawa kendaraan laut itu ke tengah perairan. Setelah ia berlayar beberapa mil jauhnya kemudian dimatikannya mesin kapal tersebut.


"Lemparkan dia!" teriak Hasan kepada beberapa anak buahnya.


Suara deburan air laut itu memecah keheningan malam Selat Bosphorus. Dengan cepat, tali panjang itu terulur seiring dengan jatuhnya Kenan ke dalam air. Hasan memotong ujung tali tersebut dan meninggalkan Kenan tenggelam sendirian di dasar laut menjadi mangsa ikan besar.


"Ayo kita pergi dari sini!" perintahnya kepada anak buahnya yang duduk di belakang kemudi kapal. Kapal boat itu segera kembali ke dermaga.


* BERSAMBUNG*

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya. Terimakasih.


__ADS_2