
Dua orang wanita muda itu hanya terdiam sambil memandang kumpulan kupu-kupu beraneka warna yang mengelilingi sekuntum bunga yang sedang mekar. Hanya bangku panjang yang terbuat dari kayu yang saat ini mampu memberikan sandaran untuk mereka. Keduanya telah berusaha berbicara dengan dua orang pengacara yang mereka kenal baik, namun tak satu pun dari pengacara itu yang mau membantu mereka.
“Bagaimana?” tanya Cansu setelah melihat Ivy menutup ponselnya. Istri Kenan itu baru saja menghubungi pengacara lain.
Ivy hanya menggelengkan kepalanya. Ia mencoba untuk tidak menangis demi janin yang ada di dalam kandungannya. “Dia menolak dengan alasan yang sama. Bagaimana denganmu?”
“Pengacara itu juga menolak, meskipun aku sudah menawarinya dengan sejumlah uang. Dia tidak ingin reputasinya hancur karena kalah di persidangan,” jelas Cansu dengan raut wajahnya setengah putus asa.
Mereka sudah menghubungi banyak pengacara, mulai dari pengacara senior hingga pengacara junior yang baru saja muncul ke permukaan.
“Sudah satu bulan mereka di tahan dan kita masih belum berhasil menemukan cara untuk membebaskan mereka.” Ivy menghela napasnya dengan panjang dan langsung menutup mulutnya begitu rasa mual muncul dari dalam perutnya.
Ivy mengusap cairan bening yang telah mengintip di pelupuk matanya. Ia berusaha menjadi wanita yang tegar di depan Kenan, ia berusaha tersenyum dan membawakan makanan kesukaan suaminya setiap kali dirinya datang ke kantor polisi. Namun, sejujurnya ia sangat merindukan pria itu. Setiap malam ia hanya menatap kosong bantal yang ada di sampingnya dan setiap siang ia hanya mendapati meja kerja di sampingnya tanpa penghuni.
Ya Tuhan, sampai kapan masalah ini akan selesai?
Cansu memeluk pundak Ivy dan saling menempelkan pelipis mereka. “Kau jangan khawatir, tidak baik untuk kandungan mu. Aku akan mengantarmu ke Dokter Kandungan. Pukul berapa jadwal mu?”
“Aku akan pergi sendiri. Bukankah siang ini jadwal mu menjenguk Mehmet?” tanya Ivy setelah ia menegakkan tubuhnya dan menatap wajah persegi yang ada di sampingnya.
“Aku bisa menjenguknya besok.”
“Tidak, Cansu. Pergilah ke kantor polisi. Kalian juga pasti saling merindukan. Aku bisa pergi sendiri, kau jangan khawatir.” Ivy menatap saudara tirinya itu dengan kerlingan matanya. Tak seorang pun yang bisa menolak tatapan mata hijau itu.
Cansu bangkit berdiri dan mengajak Ivy untuk mencari sebuah taksi di daerah itu. Tak perlu menunggu lama, sekitar lima menit kemudian sebuah taksi berwarna kuning meluncur dan berhenti di depan mereka.
“Kabari aku, jika kau sudah sampai rumah sakit,” ucap Cansu yang dibalas anggukan dan lambaian tangan oleh Ivy.
......................
Siang tak ubahnya malam… begitu juga dengan malam tak jauh berbeda dengan siang. Tak ada matahari dan tak ada bulan. Mereka terkurung di dalam ruangan tertutup dengan batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Mungkin lebih baik, jika kasus mereka telah dipindahkan ke kejaksaan. Dengan begitu mereka bisa pindah ke ruang tahanan yang mempunyai tempat terbuka.
Seorang petugas memukulkan tongkat besinya pada salah satu jeruji besi. Suara dentingan itu hanya berbunyi satu kali. Penghuni di tempat ini sudah paham, bahwa suara itu menandakan pukul berapa saat ini. Setiap kali tongkat besi itu berbunyi, mereka tinggal menghitung berapa kali pukulan itu diketukkan
“Baru jam satu,” ucap Mehmet yang merebahkan dirinya di atas kasur lipat.
Pria gundul itu sudah merasakan kebosanan, tanpa kebebasan, tanpa alat komunikasi dan tanpa istrinya. Dilihatnya sahabatnya itu yang setiap hari hanya memandang cincin pernikahannya, foto Ivy dan foto hasil USG calon anak mereka yang masih berupa titik hitam. Terkadang pria berambut hitam itu mencium ketiga benda itu karena terlalu menahan rindunya di dalam penjara.
__ADS_1
“Dia memang sangat melankolis,” gumam Mehmet dengan suaranya yang nyaris berbisik.
Di saat Kenan sedang memandangi benda-benda yang mengingatkannya akan dunianya yang di luar, Mehmet sedang memikirkan cara untuk bebas dari penjara. Pria bermanik mata hitam itu mendekati salah satu tahanan yang sudah lama tinggal di tempat ini. Dia pun bertanya kepada pria itu, “Apa ada jalan untuk kabur dari sini?”
Tahanan itu tertawa dan berseru kepada teman-temannya, “Hei kawan! Pria gundul ini ingin melarikan diri!”
Seluruh tahanan itu tertawa terbahak-bahak mendengar seruan sang senior, kecuali Kenan yang masih larut dalam pikirannya. Dengan menggerakkan jari telunjuknya, tahanan senior itu memanggil Mehmet agar mendekat.
“Kau ingin kabur dari sini?” bisik tahanan itu ketika Mehmet telah berada di sampingnya.
“Ya, apa ada jalan rahasia atau jalan keluar dari tempat ini?” Mehmet memasang raut wajahnya yang serius dan dengan seksama ia memperhatikan gerak-gerik lawan bicaranya.
“Seandainya saja aku tahu… aku sudah kabur dari dulu,” bisik tahanan itu tepat di telinga Mehmet, kemudian pria itu tertawa terbahak-bahak. “Menyingkirlah dariku, Pria gundul!”
Dengan raut wajahnya yang kesal, Mehmet memilih untuk kembali ke kasurnya. Belum sempat pantatnya menempel di kasur tipis itu, seorang petugas berteriak memanggil salah satu nomor tahanan di sana.
“140984.”
Mehmet melihat nomor tahanan miliknya yang menempel di saku bajunya. 140984. Pria itu langsung berseru, “Iya, itu aku!”
“Cansu?”
“Aku tidak tahu!” Petugas itu membuka sel jeruji besinya dan membawa Mehmet keluar dari ruang tahanan.
Sebuah pintu berwarna hitam itu dibuka oleh petugas lain. Pandangan Mehmet langsung tertuju pada seorang wanita dengan tinggi badannya 175 sentimeter. Wanita dengan rambut panjangnya berwarna coklat.
“Cansu?”
“Mehmet….” Sepasang suami istri berpelukan dengan erat. Sama seperti Ivy, suaminya itu juga meninggalkan seluruh pekerjaan kafenya kepada dirinya. Dua hari sekali dirinya mengunjungi Mehmet.
“Apa kau dan Ivy sudah berhasil menemukan pengacara?” tanya Mehmet setelah mereka duduk di pojok ruangan.
Kumpulan awan mendung itu menggantung di pelupuk mata biru itu, pria berkulit gelap itu sudah paham arti dari semua itu. Ia hanya menundukkan wajahnya menghadap meja kayu yang ada di antara dirinya dan Cansu.
“Maafkan, aku. Aku ingin kau segera bebas, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Jika kau ingin aku menemui seseorang yang bisa membantumu atau menggantinya dengan kebebasan mu, aku akan melakukannya,” ucap Cansu sambil memegang lengan suaminya.
Seseorang… ya seharusnya ada seseorang yang bisa membantunya….
__ADS_1
Perkataan itu yang terbersit di dalam pikiran Mehmet setelah Cansu mengatakan tentang seseorang. Ia merogoh saku celananya, seakan ia masih menyimpan ponsel miliknya.
“Shit!”
Cansu langsung mendongakkan kepalanya begitu ia mendengar umpatan suaminya. “Ada apa? Apa aku salah bicara?”
“Bukan. Aku tadi sedang mencari ponselku, tapi sepertinya polisi telah menyitanya.”
“Polisi sudah mengembalikannya setelah mereka mengambil data-data yang mereka perlukan untuk penyelidikan.”
“Ponsel ku ada bersamamu?”
“Ya, aku simpan di apartemen.”
Sepasang manik mata hitam itu membulat seiring dengan guratan senyum yang terlukis di wajahnya yang bulat. Ia menggenggam tangan Cansu dan menatap mata biru itu dengan penuh harapan.
“Cansu, setelah kau pulang nanti. Carilah nama seseorang yang ada di ponselku. Hanya orang itu yang bisa membantu kita dan semoga dia sudi melakukannya.”
Hati Cansu langsung bergemuruh begitu ia mendengar perkataan suaminya. “Nama siapa yang harus aku cari?"
“Hazal Aksal. Dia seorang jaksa, semoga wanita itu masih menggunakan nomornya yang lama.”
"Seorang jaksa?" Bibir tebal berwarna merah itu membulat begitu mendengar perkataan Mehmet, ia pikir yang bisa membantu suaminya dan Kenan adalah seorang pengacara. "Ba... bagaimana mungkin seorang jaksa bisa membantu kita? Apa nanti mereka akan menuntut mu dengan hukuman yang lebih tinggi karena telah menyuap seorang jaksa?"
"Aku tidak memintamu untuk menyuap jaksa wanita itu. Hubungi saja wanita itu, entah bagaimana caranya dia akan membantu, aku juga tidak tahu," jelas Mehmet sambil mengusap kepalanya yang gundul.
“Baiklah, aku akan menghubunginya setelah aku pulang dari sini.” Manik mata biru itu membulat dan sedikit bersinar.
Mehmet menggelengkan kepalanya dan menempelkan telunjuknya di bibirnya sendiri. “Bukan kau yang menghubunginya, Sayang. Tapi Ivy, minta dia menghubungi jaksa wanita itu.”
“Tapi kenapa harus Ivy? Aku bisa melakukannya.” Tampak sebuah kerutan di dahi Cansu, menurutnya itu tugas yang sangat mudah.
“Aku tahu ini sangat mudah. Tapi jaksa wanita itu tidak mengenal mu dan Ivy, sangat sulit untuk mendekati seorang jaksa. Katakan pada Ivy untuk menyebut nama Kenan Fallay saat ia menghubungi wanita itu. Berdoalah agar wanita itu sudi membantu kita. Hanya dia harapanku saat ini,” jelas Mehmet.
“Aku mengerti. Aku akan meminta Ivy untuk melakukannya.”
...****************...
__ADS_1