
Saat sang fajar mulai menurunkan kepalanya, burung besi di angkasa itu tampak berwarna kehitam-hitaman. Cahaya nan kecil berbaris rapi memenuhi hamparan luas tanah lapang di Bandara Ataturk, Istanbul, Turki. Burung besi itu mendarat dengan sempurna setelah ia membentangkan sayapnya selama dua belas jam. Seorang pria berperawakan tinggi besar dengan rambut blondenya berjalan menuju ruang kedatangan. Ini untuk kedua kalinya ia
datang ke Istanbul, Turki.
Pria yang berasal dari Texas, Amerika Serikat itu mencari seseorang yang akan datang menjemputnya. Melalui sudut matanya ia menangkap seorang wanita yang membawa sebuah kertas bertuliskan namanya, Adam Scott.
Ia pun segera menghampiri wanita tersebut.
"Apa Anda yang bernama Adam Scott?" tanya wanita itu dalam bahasa Inggris. Wanita itu juga mencocokkan
wajah pria yang ada di depannya dengan wajah seseorang yang ada di selembar foto di tangannya.
"Ya. Kau?" tanya Adam Scott kepada wanita berhidung mancung keturunan Turki.
"Namaku Hayat, dari Yayasan Kanker Anak Turki. Bagaimana perjalananmu?" Mereka mengobrol sambil berjalan menuju pintu keluar bandara.
"Sangat melelahkan, duduk selama dua belas jam. Apa kita akan langsung menuju rumah sakit?" tanya
Adam sambil meletakkan tas ransel hitam di punggungnya yang tegap.
"Tidak. Anda bisa beristirahat dulu di apartemen yang telah disiapkan. Besok pagi, Anda harus menjalani
serangkaian tes medis. Setelah itu dokter akan memutuskan kapan tanggal operasi akan di tentukan," jelas Hayat.
Setelah mengantar Adam memasuki apartemennya, Hayat menelepon Dokter Husein. Wanita itu memberitahu dokter itu bahwa pendonor Deniz sudah tiba di Istanbul.
"Pendonor Deniz sudah tiba di Istanbul. Pria Texas itu sekarang sedang beristirahat di apartemen yang
kau sewa untuknya," kata Dokter Husein kepada Kenan. Putra Harun itu menyewa sebuah kamar di apartemen Mehmet. Tanpa diketahui oleh pria Texas itu, Mehmet telah memerintahkan anak buahnya untuk menjaga pria itu diam-diam.
"Kapan operasinya akan dilaksanakan?" tanya Kenan yang sedang duduk di ruangan sang dokter.
"Tergantung kesehatan Deniz dan pria itu. Jika semuanya baik, besok aku akan melakukan transplantasinya," jawab sang dokter.
Kenan hanya bisa menatap kalender duduk yang ada di atas meja, kemudian menghembuskan napasnya dalam-dalam. Pikirannya tertuju pada hari esok. Besok adalah pertandingannya dengan Ferit. Pria berikat rambut itu berjanji akan membawa uang taruhannya serta Ivy.
Putra Harun itu segera keluar dari ruangan Dokter Husein. Ia berjalan di lorong rumah sakit sambil mengusap
wajahnya dengan kasar berulangkali. Langkah kakinya berhenti ketika ia sudah masuk ke dalam
kamar Deniz. Seperti biasanya, bocah itu langsung memejamkan matanya begitu melihat kedatangan Kenan.
__ADS_1
"Deniz, aku tahu kau mendengar suaraku. Aku tahu kau marah padaku, karena aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu," ucap Kenan yang duduk di samping ranjang putih itu. Deniz berbaring dengan posisi memunggunginya. Meskipun bocah laki-laki itu memejamkan matanya, ia masih mendengarkan perkataan Kenan.
Sekilas pandangan Kenan beralih menatap langit-langit kamar, kemudian dia mulai berbicara kembali. "Besok aku akan bertemu dengan Ivy, jika aku bisa membawanya pulang. Maukah kau berjanji untuk sembuh?"
Mendengar perkataan Kenan, membuat Deniz langsung membalikkan badannya menghadap pria itu. Manik mata kecil itu membulat, warna matanya tampak bersinar. "Benarkah? Ivy akan pulang besok?"
"Aku akan berusaha untuk membawa pulang kakakmu." Sebuah senyuman mengembang di bawah kumis tipis berwarna hitam itu. Ia telah berjanji pada seorang anak kecil dan pada dirinya sendiri.
"Aku janji... aku akan sembuh dan makan yang banyak. Aku tidak akan mendiamkanmu lagi." Telapak tangan kecil itu mengusap rambut Kenan bak sebuah kekuatan mengalir ke dalam tubuh kekar pria itu. Kekuatan yang hanya berasal dari telapak tangan dan senyum dari seorang bocah.
Malam ini setelah meninggalkan Deniz bersama Nur di rumah sakit, Kenan pergi ke tempat latihan tinju. Di sana sudah menunggu Serkan dan Mehmet. Samsak tinju dan sarung tinju itu seakan sedang merindukan pukulan tangan Kenan. Putra Harun itu segera melakukan pemanasannya dengan melakukan push up dan memukul samsak yang menggantung di sudut ruangan.
Kali ini Serkan memberikan dirinya untuk menjadi sparing partner bagi Kenan. Mereka saling memukul dan saling menendang. Hingga peluh itu membasahi kepala dan tubuh mereka. Mereka berlatih kurang lebih dua jam lamanya.
"Istirahatlah!" seru Serkan yang menghentikan latihannya. "Besok aku akan menonton pertandinganmu."
Setelah pelatih tinju itu keluar dari ruangan, kali ini giliran Mehmet yang bicara. Pria berkulit gelap itu sejak tadi hanya diam dan mengamati latihan Kenan.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu? Kita bisa membebaskan Ivy tanpa harus bertanding melawan Ferit Kozan." Mehmet berdiri menghadap Kenan yang baru saja mengeringkan tubuhnya.
"Apa kau takut melawan keparat itu, hah? Keparat yang telah membuat Ivy kehilangan semuanya!" seru Kenan sambil menunjuk dada Mehmet dengan jari telunjuknya.
"Aku bukan takut," ucap Mehmet sambil menggaruk kepala plontosnya. "Tapi keparat itu menginginkan nyawamu, bagaimana jika besok dia tidak membawa Ivy? Atau dia tidak membawa uangnya?" Mehmet menepis jari telunjuk Kenan dari dadanya.
*****
Sementara itu di rumah Ferit, Ivy masih duduk di dalam kamar seorang diri. Sejak pagi, Ivy belum melihat pria itu. Hari sudah mulai gelap, akan tetapi Ferit belum pulang. Ivy mendongakkan wajahnya saat pintu kamar itu terbuka. Seorang pelayan masuk ke dalam kamar sambil membawa sebuah nampan yang berisi makan malam untuknya.
"Apa Ferit belum pulang?" tanya Ivy kepada pelayan wanita yang diberi perintah untuk melayani kebutuhannya.
"Tuan belum pulang, Nona," jawab pelayan itu sambil meletakkan nampan coklat tersebut di atas meja. Ivy melihat ada sesuatu yang menonjol di dalam saku wanita itu.
"Apa kau tak bosan menyuapiku? Lepaskan borgolku ini dan biarkan aku makan sendiri." Ivy tersenyum manis kepada pelayan dengan rambutnya yang tergelung.
"Tapi aku tidak punya kuncinya, Nona." Pelayan itu memasukkan suapan pertamanya ke dalam mulut Ivy. Putri Victor itu mengunyah makanannya sambil berpikir bagaimana caranya ia bisa membujuk pelayan itu agar mau membantunya.
"Apa kau punya ponsel?" Manik mata Ivy menatap saku pelayan itu. Ia yakin pelayan tersebut menyimpan ponselnya di dalam saku.
"Ya. Aku punya dan selalu ku bawa," ucap pelayan itu menunjukkan ponsel berlayar kecil kepada Ivy.
Manik mata Ivy membulat melihat ponsel milik pelayan itu. "Boleh aku pinjam ponselmu sebentar? Saat ini keluargaku sedang mencariku."
__ADS_1
Pelayan itu belum menjawab pertanyaan Ivy. Pekerja wanita itu menoleh ke arah pintu kamar, memastikan majikannya itu tidak masuk ke dalam kamar. "Ini."
"Kau bisa berjaga-jaga di dekat tangga, jika kau lihat Ferit datang, segeralah masuk ke dalam kamar," ucap Ivy sambil menerima ponsel milik pelayan itu.
Pelayan wanita itu mengikuti perkataan Ivy. Ia keluar meninggalkan calon istri tuannya dan berdiri di atas balkon. Dari lantai itu, ia dapat melihat siapa yang masuk dari pintu rumah.
Di dalam kamar, Ivy meletakkan ponsel hitam itu di atas pahanya. Dengan menggunakan tangan kanannya, ia menekan beberapa angka pada tombol yang tersedia. Jari tangannya menekan tombol pengeras suara membuat nada sambung itu terdengar di dalam kamar.
"Halo." Suara Kenan terdengar sedikit jauh dari telinga Ivy.
"Kenan, ini aku," ucap Ivy yang membungkukkan badannya agar suaranya bisa sampai di ponsel tersebut.
"Ivy! Kau dimana?" Kenan segera menghentikan langkahnya ketika ia kana keluar dari tempat latihan tinju.
"Ferit menyekapku di dalam kamarnya. Bagaimana keadaan Deniz?" tanya Ivy dengan matanhya yang menghadap ke arah pintu.
"Kemungkinan besok dia akan menjalani transplantasi sum-sum nya. Dimana rumah Ferit?"
"Ada di jalan XXX, tapi aku tidak tahu tepatnya. Rumah besar tingkat dua. Pagarnya berwarna hitam. Tunggu sebentar, darimana kau mendapatkan uang untuk membayar biaya operasi Deniz?"
Tidak ada suara dari seberang. Kenan tidak mengatakan sepatah katapun.
"Kenan, jawab aku! Darimana kau mendapatkan uangnya?"
Belum sempat Ivy mendengar jawaban Kenan, pelayan rumah itu masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa. "Nona, Tuan Ferit dan Tuan Hasan sudah datang. Mereka ada di bawah."
Pelayan itu segera mengambil ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku. Raut wajah Ivy mendadak pucat memikirkan jawaban Kenan yang belum sempat ia dengar. Sementara di tempat Kenan, pria itu mendengar perkataan pelayan wanita itu.
"Ada apa?" tanya Mehmet yang tiba-tiba muncul dari arah belakang. Ia melihat Kenan sedang berdiri mematung sambil memegang erat ponselnya.
"Ivy tadi menghubungiku. Dia memberitahuku alamat rumah Ferit," jawab Kenan dengan raut wajahnya yang tegang.
"Bagus itu, ayo kita selesaikan malam ini!" cetus mehmet sambil menepuk pundak Kenan.
"Tidak! Aku tidak akan membebaskan Ivy malam ini!" seru Kenan dengan tegas. Manik mata abu-abu gelap itu menatap tajam pintu gedung latihan tinju tersebut.
"Apa kau gila?" Perkataan Kenan membuat manik matanya terbelalak. Baginya ini adalah kesempatan emas untuk membebaskan Ivy.
"Ya, aku gila! Aku gila karena aku harus mempertaruhkan nyawaku untuk wanita yang aku cintai dan untuk uang! Aku akan membebaskan Ivy besok, kali ini aku akan mengambil semua milikku!" teriak Kenan dengan manik matanya yang menyala. Putra Harun itu segera berjalan menuju mobilnya.
Mehmet hanya tersenyum menanggapi perkataan Kenan. "Untuk wanita yang aku cintai. Akhirnya kau mengakui perasaanmu juga," gumamnya sambil tertawa. "Seharusnya kau katakan itu kepada Ivy, bukan kepadaku!"
__ADS_1
* BERSAMBUNG *
Jangan lupa kasij like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya. Terimakasih.