
"Ivy...," panggil Cansu yang ada di seberang jalan. Putri Sophia itu sedang berada di depan sebuah toko roti. Ia melihat wanita yang baru saja keluar dari gedung perkantoran, wanita itu mirip sekali dengan saudara tirinya.
"Cansu...," sahut Ivy setelah ia mengarahkan pandangannya ke arah seberang jalan. Ia melambaikan tangannya ke arah wanita berbaju biru.
Kedua saudara tiri itu melangkahkan kaki mereka menuju jembatan penyeberangan. Mereka menapaki satu per satu tangga dari sisi yang berbeda. Hingga akhirnya mereka bertemu di tengah-tengah jembatan tersebut.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Cansu yang melihat Ivy dengan pakaian formalnya berupa sebuah dalaman putih dan setelan blazer dan rok selutut berwarna coklat muda.
"Aku baru saja mendapatkan panggilan kerja. Bagaimana denganmu?" tanya Ivy yang menggandeng tangan Cansu kembali ke arah saudara tirinya itu tadi naik.
"Aku bekerja di perusahaan makanan. Oh iya ini ada roti untuk Deniz." Cansu memberikan bungkusan kantong plastik dengan sebuah cap merk terkenal.
Manik mata hijau itu menatap wajah Cansu, ia tampak ragu menerima pemberian putri ibu tirinya.
"Ayolah, Ivy. Jangan karena kita sudah tidak tinggal serumah lagi, kau bersikap dingin padaku." Cansu mengambil tangan kanan Ivy dan meletakkan bungkusan kantong plastik ke atas telapak tangan Ivy.
"Baiklah." Ivy mengembangkan senyumannya dari kedua sudut bibirnya. Putri Victor itu mengeluarkan sebuah amplop putih kecil dari dalam tas. Amplop beserta isinya itu sudah sejak lama Ivy siapkan, jika ia sewaktu-waktu bertemu dengan Cansu.
Giliran Ivy yang menarik tangan Cansu dan memberikan amplop kecil berisi uang itu kepadanya. "Kumohon jangan tolak ini."
"Ivy!" seru Cansu, tetapi kakak Deniz itu menutup jemari tangan Cansu agar menerima pemberiannya.
"Kau tak seharusnya melakukan itu! Kau tinggal dimana sekarang?" Kedua wanita itu berjalan beriringan di atas trotoar melewati pohon-pohon rindang yang berbaris rapi di setiap jalan.
"Aku dan Deniz tinggal di rumah Nur, di daerah Fener," ucap Ivy yang langsung mengarahkan jempolnya untuk menyetop sebuah bus kota yang akan melewatinya.
Bus kota berwarna putih itu berhenti di dekat Ivy dan Cansu. Keduanya pun berpisah. Ivy menempelkan Istanbulkart (mirip seperti kartu token yang bisa diisi ulang) ke lampu sensor yang ada di pintu masuk bus. Setelah mesin sensor itu berbunyi, Ivy mencari tempat duduk kosong yang ada di baris ke tiga dari depan.
__ADS_1
Sekitar lima belas menit, bus yang di tumpangi Ivy berhenti di ujung jalan rumah Nur. Wanita itupun turun dan berjalan menuju rumah yang sekarang menjadi tempat tinggalnya.
"Aku pulang!" seru Ivy yang baru saja membuka pintu rumah.
Ia melihat bunga lili putih pemberian Ferit yang masih berada di atas meja. Kedua kakinya melangkah menuju tempat sampah dan membuang bunga itu. Meskipun ia sangat menyukai bunga lili putih, tapi bukan Ferit yang ia harapkan untuk memberikan bunga kesukaannya.
"Bagaimana panggilan kerjamu? Apa mereka menerimamu?" tanya Nur yang keluar dari kamarnya. Ia mengikat tirai berwarna biru tua itu dengan seutas tali berbahan sama dengan tirai itu. Tirai itu menjadi pembatas ruang tamu dan ruang dalam rumah tersebut.
"Mereka menerimaku, Nur!" teriak Ivy dengan gembira. Ia menghamburkan dirinya untuk memeluk pengasuhnya sejak kecil.
"Wah itu berita yang sangat bagus, sayang. Kau membeli roti untuk merayakan hal ini?" Nur melihat bungkusan roti yang ada di atas meja ruang tamu.
"Tidak. Itu dari Cansu. Tadi di depan kantor, aku bertemu dengannya. Aku juga telah mengembalikan uangnya dari hasil aku jualan baju di pasar," jelas Ivy dengan raut wajahnya yang ceria.
Nur menatap anak majikanya itu dengan tatapan lembut seperti seorang ibu. Ia merasa Ivy saat ini sudah terbiasa dengan kehidupan barunya. Tanpa rumah mewah, tanpa mobil, dan fasilitas mewah lainnya. Di satu sisi Nur juga sangat sedih melihat nasib Ivy, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong wanita itu. Ia hanya bisa menyediakan tempat tinggal untuk kedua anak majikannya.
"Aku tidak tahu, aku tidak sempat menanyakan hal itu. Dia sekarang bekerja di perusahaan makanan," jawab Ivy sambil membuka kotak roti berbentuk segiempat dan memberikan satu bungkus roti untuk Nur, dan satu bungkus untuk Deniz.
Hari sudah gelap, setelah Ivy membereskan meja makan dan mencuci piring kotor. Wanita itu segera masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Deniz yang sedang berkutat di meja kecil dan duduk di atas lantai.
"Apa yang kau kerjakan?" tanya Ivy yang duduk di samping bocah kecil itu.
"Kata Nur, orang yang membayar kemoterapi ku itu bernama Kenan." Tangan Deniz masih sibuk menorehkan pensilnya ke kertas gambarnya. Ia tidak mengarahkan pandangannya ke wajah Ivy.
Ivy berdeham menanggapi perkataan adiknya. Manik matanya masih sibuk memperhatikan gambar apa yang akan di buat oleh Deniz.
"Aku pernah bertemu dengannya sekali di rumah sakit. Katanya dia adalah temanmu. Tapi aku mengacuhkannya," kata Deniz dengan mulut kecilnya. Tangan kanannya tidak berhenti bergerak. Gambarnya semakin kelihatan jelas, tapi Ivy tidak bisa menebak gambar tersebut.
__ADS_1
"Kenapa kau mengacuhkannya? Apa kau takut bertemu dengannya?" Ivy mengusap puncak rambut adiknya yang halus.
"Aku tidak takut. Hanya saja, aku tidak mengenalnya. Dia tiba-tiba duduk di sampingku. Sok akrab dan sok mengenalku. Tapi sepertinya dia pria yang baik," celoteh Deniz yang memuji Kenan di depan kakaknya.
"Kau benar, Deniz. Kenan memang pria yang baik," jawab Ivy yang menatap kotak pensil milik Deniz dengan tatapan sendu.
"Tara...!" seru Deniz yang mengagetkan Ivy, karena wanita itu sedang melamun mengingat kejadian bersama Kenan di taman Sultanahmet Square beberapa hari yang lalu.
Bocah kecil itu menunjukkan hasil gambarnya, "Apakah ini mirip dengannya?"
Mulut Ivy terbuka lebar setelah melihat hasil karya Deniz. Adiknya itu menunjukkan sketsa wajah Kenan, sangat detail untuk seorang anak kecil seperti Deniz.
"Ini sungguh mirip! Gambarmu seperti fotonya!" seru Ivy dengan raut wajah takjubnya. Adiknya itu benar-benar berbakat.
"Bisakah malam ini kau berikan gambar ini untuknya?" tanya Deniz dengan wajahnya yang sedikit memohon. "Aku ingin mengucapkan terimakasih padanya dengan caraku sendiri."
Manik mata hijau itu menatap wajah kecil Deniz, darimana anak ini belajar berterimakasih kepada orang lain. Pikirannya lebih dewasa dibandingkan umurnya saat ini.
"Ba... baiklah, aku akan memberikannya malam ini." Ivy segera memasukkan gambar itu ke dalam tasnya dan mengambil mantelnya yang tergantung di belakang pintu.
"Jika kau mengantuk, kau bisa langsung tidur. Aku akan segera pulang," ucap Ivy. Ia mengambil kunci rumah dan berpamitan kepada Nur.
Wanita itu segera keluar menuju tempat tinggal Kenan. Ia tidak tahu bahwa malam ini adalah malam pertandingan tinju Kenan. Selama perjalanan Ivy terus menghubungi ponsel pria itu, tapi tidak ada jawaban.
Dengan gambling, Ivy mencoba mendatangi flat Kenan. Ia memilih naik trem untuk sampai di daerah Balat, tempat tinggal pria itu.
* BERSAMBUNG *
__ADS_1
Ternyata chapter ini belum aku keluarkan permainan tinju Kenan. Hayo pada penasaran gak? Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏