Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Reunian DL dan GMYH - Hutang Masa Lalu


__ADS_3

Tiupan angin semilir menerbangkan beberapa helai anak rambut Ivy. Ia mengangkat wajahnya dan melihat sebuah coffee shop yang terletak di dekat Selat Bosphorus, Istanbul. Kedai kopi dengan bangunannya yang mewah terdiri dari dua lantai dan beberapa tanaman menjalar mengelilingi pagar balkon yang ada di atas kepalanya. Ia memilih menemui Hazal seorang diri dan menolak bantuan Cansu yang ingin menemaninya.


“Aku hanya ingin mengetahui wajah mantan istri Kenan.” Sepenggal perkataan Cansu sewaktu mereka masih berada di apartemen. Sontak Ivy langsung memelototi wajah saudara tirinya itu. Wanita hamil itu berjanji kepada Cansu untuk menceritakan hasil pertemuannya dengan Hazal.


Ivy sengaja datang lebih awal dari jadwal yang telah ia buat, hanya karena wanita itu  ingin menyiapkan hatinya untuk bertemu dengan Hazal. Sebuah sofa berwarna merah yang ada di sudut sebelah kiri menjadi incarannya. Dari tempat duduknya itu, ia dapat melihat siapa saja yang masuk ke dalam ruang kafe.


Manik matanya mengelilingi daftar menu yang ada di sebuah buku panjang yang diberikan oleh seorang pelayan kafe kepadanya. Ia mencari minuman yang dapat meredakan rasa mualnya, ternyata yang ada hanyalah menu makanan Eropa dan aneka makanan laut. Mencium bau amis ikan saja sudah membuat perut Ivy terasa diaduk-aduk.


“Berikan aku segelas orange juice,” ucap Ivy kepada pelayan tersebut.


Tepat jam satu siang, setelah pelayan kafe meletakkan pesanan Ivy di atas meja. Seorang wanita muda dengan tubuhnya yang ramping dan rambut panjangnya yang berwarna coklat muda berjalan memasuki ruangan. Setelah ia memesan minuman favoritnya, ia menebarkan pandangannya mencari seorang wanita yang memakai baju warna hitam.


Sepertinya wanita itu ada di sana….


Wanita itu berjalan menuju sebuah sofa berwarna merah yang letaknya ada di sudut kiri ruangan. Dilihatnya wanita muda yang mungkin usianya lebih muda sedikit darinya sedang menikmati segelas minumannya. Ia pun mendeham, membuat wanita bermata hijau yang duduk di atas sofa itu mengangkat wajahnya.


“Apa kau yang menghubungiku kemarin?” tanya wanita muda yang berdiri di atas sepatunya yang bertumit tinggi.


Ivy terdiam untuk beberapa detik lamanya, perasaannya mengatakan bahwa wanita yang sedang berdiri di hadapannya adalah Hazal.


Seorang wanita cantik berwajah tirus dengan rambutnya yang tergerai indah dan sepasang anting-anting besar berbentuk lingkaran menghiasi kedua daun telinganya. Balutan pakaian formal di atas lutut berwarna merah marun membungkus tubuhnya yang tinggi semampai dan lilitan ikat pinggang bermerk memperlihatkan lekukan tubuhnya.


Pikirannya hendak merangkai sebuah pertanyaan apakah wanita secantik ini seorang jaksa? Dia lebih mirip seperti seorang artis, model atau mungkin seorang putri pengusaha.

__ADS_1


Apalah diriku jika dibandingkan dengannya yang kelihatan begitu sempurna. Tak salah jika dulu Kenan sangat mencintainya dan sulit untuk melupakannya. Apa yang ada dalam pikiranku ini? Sekarang yang menjadi istrinya itu aku… bukan dia.


“Oh… ya. Kemarin aku yang menghubungimu. Namaku Ivy Eleanor,” ucap Ivy bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya kepada wanita yang ada di depannya. Ia sengaja tidak mengatakan nama Fallay di belakang namanya, sebelum ia mengetahui reaksi jaksa wanita itu.


Wanita itu membalas uluran tangan Ivy dan memperkenalkan dirinya. “Aku Hazal Aksal. Senang bertemu denganmu.”


Manik mata Hazal langsung tertuju pada untaian kalung Ivy yang tiba-tiba menjulur keluar saat wanita yang ada di


depannya itu akan mendudukkan dirinya. Sebuah kalung dengan liontin yang bertuliskan inisial KI, membuat Hazal berpikir lebih jauh tentang wanita itu.


KI… apa itu inisial nama Kenan dan Ivy? Siapa wanita ini?Ada hubungan apa dia dengan Kenan?


“Kemarin kau mengatakan ingin bicara denganku tentang Kenan Fallay. Apa hubunganmu dengannya?” Hazal bertanya sambil terus memperhatikan raut wajah Ivy—seorang wanita cantik dengan riasan wajahnya yang natural dan rambut coklat gelapnya yang dibiarkan tergerai.


Satu perkataan itu membuat Hazal menelan salivanya, ia cukup terkejut melihat wanita yang duduk di hadapannya ini adalah istri mantan suaminya. Pria yang telah memberinya beban penyesalan itu, sekarang sudah membangun kehidupannya yang baru.


“Dan… aku juga tahu tentang kisah hidupmu dengan suamiku,” lanjut Ivy.


“Kau jangan salah paham. Aku dan Kenan telah…,” Hazal mencoba menjelaskan namun seorang pelayan tiba-tiba menghampirinya dan meletakkan secangkir Kopi Turki di depannya.


Ivy hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. “Aku mengajakmu bertemu bukan untuk membicarakan hubungan masa lalu kalian. Aku tahu hubungan kalian sudah berakhir, kau pun juga sudah menikah dengan Yafet Aksal. Aku menemui mu karena… karena aku ingin minta bantuan mu.”


“Bantuan?” Tampak sebuah kerutan muncul pada kening Hazal.

__ADS_1


Putri Victor itu menghela napasnya kemudian ditatapnya barisan lampu sorot yang padam karena hari masih terang. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang ia lakukan ini adalah benar, semua ini demi anak yang ada di dalam kandungannya agar bisa bertemu dengan ayahnya.


“Sekarang Kenan dan Mehmet ada di dalam penjara, mereka di tangkap polisi karena tuduhan melakukan pembunuhan di gudang tua.”


Bagaikan sebuah ember yang berisi air es menyiram wajah Hazal. Wajah tirus itu mendadak kaku dan terasa sangat dingin. Hampir dua tahun, ia tidak pernah mendengar kabar tentang Kenan, sekali ia mendapat kabar bahwa pria itu tengah tersandung masalah yang sangat berat.


Sekelebat pikiran wanita itu mulai berputar memikirkan surat kabar beberapa hari lalu yang ia baca di tempat ini bersama Yafet. Sebuah pembunuhan yang menewaskan dua belas orang di gudang tua, dengan tersangka berinisial KF dan MD.


Jadi… berita itu tentang Kenan. Apa kini dia telah menjadi seperti ayahnya?


Tiba-tiba sebuah telapak tangan itu menggenggam erat tangan Hazal. Ia melihat sebuah genangan air mulai membasahi manik mata hijau di depannya. Kedua bola mata hijau itu menatapnya dengan penuh harapan.


“Aku mohon… bebaskan Kenan, dia tidak bersalah. Dia hanya menyelamatkan ku dari pria terkutuk itu. Suamiku telah mengorbankan perusahaan dan nyawanya untukmu di masa lalu, kali ini saja… aku hanya memohon padamu untuk kali ini… tolong aku….”


Bibir merah milik Hazal itu terkatup rapat. Ia tidak tahu harus menjawab apa, baginya ini juga sebuah dilema. Berdiri di antara banyak persimpangan jalan, dimana ia harus memilih salah satu jalan yang ada di depannya. Keluarga, suami, pekerjaan dan hutang masa lalunya yang tiba-tiba datang.


“Aku  tidak bisa memberikanmu jawaban, Nyonya Fallay.” Hazal memundurkan kursinya dan hendak pergi meninggalkan Ivy.


Kalimat itu membuat Ivy terkejut. Ia berusaha mengejar langkah Hazal yang hampir mendekati pintu kafe. Gerakan tangannya berhasil menjangkau tangan Hazal.


“Hazal, aku mohon… Beri kesempatan anak yang ada di dalam kandunganku ini berkumpul kembali dengan ayahnya.” Anak sungai itu menyeruak keluar menembus batas pertahanan Ivy.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2