Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Reuni DL dan GMYH - Keturunan Fallay


__ADS_3

“Ada apa? Apa yang dikatakan Cansu?” desak Mehmet yang melihat putra Harun itu berjalan mondar-mandir tak karuan mengelilingi ruangan.


“Sepertinya malaikat kecil itu akan datang.” Kenan tidak bisa menghentikan langkahnya saat ini. Ia benar-benar gusar dan panik, ingin rasanya dirinya berada di samping Ivy untuk melihat kelahiran anaknya. Namun, ia tidak tahu bagaimana caranya keluar dari sini.


Apa aku harus menunggu tiga bulan lagi untuk melihat anakku? Ya Tuhan….


“Arggghh!” teriak Kenan setengah frustrasi.


“Hei, kau! Jangan teriak-teriak! Memangnya ini kamarmu, hah?” Salah seorang sipir penjara itu menodongkan tongkat besinya kepada Kenan.


Manik mata abu-abu tua itu melotot menatap sang sipir yang berada tidak jauh darinya. Dengan tangannya yang mengepal, Kenan langsung melangkah ingin menghajar pria itu tetapi tangannya segera dicegah oleh Mehmet.


“Stop, Kenan! Kau akan menambah masalah!” bisik Mehmet dengan suaranya yang penuh penekanan.


“Lepaskan aku!” geram Kenan.


“Aku tidak akan melepaskan tanganmu, sampai kau bisa menahan emosimu!” Mehmet malah semakin mengeratkan genggaman tangannya. Pria gundul itu seakan tak peduli, kalau hari ini Kenan akan menghajarnya lagi seperti beberapa waktu yang lalu.


Putra Harun itu memejamkan kedua kelopak matanya dan menghembuskan napasnya dalam-dalam untuk meredakan gejolak yang ada di dalam hatinya. Akhirnya Mehmet pun melepaskan genggaman tangannya. Beberapa detik kemudian, sipir penjara yang tadi menodongkan tongkatnya tiba-tiba menghampiri mereka.


“Ada apa ini? Apa yang kalian ributkan? Jika tidak ada yang membesuk kalian lagi, cepatlah kembali ke sel kalian!” Sipir itu mengerutkan dahinya sambil mengayunkan tongkatnya ke arah dalam.


“Biar aku yang bicara,” ucap Mehmet yang menahan tangan Kenan kembali dan mendorong sedikit sahabatnya itu agar menjauh dari dirinya.


Suami Cansu itu mengalungkan salah satu lengannya kepada sipir penjara tersebut dan mengajaknya untuk berjalan ke sudut ruangan. Di tempat itulah Mehmet bertanya padanya, “Istri temanku itu akan melahirkan hari ini. Apa kau tahu bagaimana caranya keluar dari sini? Hanya untuk beberapa jam.”


Sipir penjara itu melepaskan topi baretnya kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Selepas menggaruk kepalanya kini ia menggaruk keningnya, membuat Mehmet tak sabar untuk menunggu jawaban pria itu.


“Aku tak tahu.” Kedua pundak sipir itu terangkat ke atas dengan senyum tawanya yang mengejek.


Wajah Mehmet langsung berubah dan langsung menarik kerah seragam sang sipir. Membuat wajah pria itu sedekat mungkin dengan wajahnya. “Dari tadi aku menunggu jawabanmu!”


“Oke… oke… aku jawab. Pergilah ke kantor Kepala Penjara. Kau bisa bertanya padanya.” Seketika lepaslah cengkeraman tangan Mehmet dari baju seragamnya.


Kedua narapidana itu kini keluar dari ruang kaca tersebut dan mencari ruang Kepala Penjara. Mereka berjalan kembali melewati lorong panjang yang dihiasi dengan lantai keramik yang kusam dan dinding yang retak di sana-sini. Bertemu kembali dengan ruangan sel mereka, namun langkah kaki mereka berjalan lurus kemudian berbelok ke kiri. Sampailah mereka berada di depan pintu kayu yang bertuliskan Ruang Kepala. Kenan pun mengetuk pintu yang tertutup itu.


“Masuk!” Terdengar suara seorang pria yang berasal dari dalam ruangan.


Daun pintu itu pun terbuka, dilihatnya seorang pria dengan kertutan di wajahnya dan rambutnya yang setengah putih dan setengahnya lagi hitam. Sebuah kacamata dengan bingkainya yang tebal tergantung di tulang hidungnya. Sebuah garis patahan melintang tergambar jelas di pangkal hidungnya—diantara kedua matanya. Mungkin semasa mudanya, pria itu pernah mengalami patah tulang pada hidungnya.


“Ada apa?” Pria itu membetulkan letak kacamatanya yang hampir melorot ke bawah. Ia melihat dua orang pria yang mengenakan seragam tahanan tengah berdiri di ambang pintu.


Kenan melangkahkan kakinya untuk mendekati sebuah meja berwarna coklat tua yang memisahkan dirinya dengan Kepala Penjara. Mehmet mengikuti langkahnya dan kini pria gundul itu berdiri di belakangnya.


“Tuan, bisakah aku keluar dari tempat ini beberapa jam saja?” tanya Kenan yang memulai pembicaraannya dengan kepala penjara itu.


Kepala Penjara itu melepas kacamatanya dan meletakkan alat bantunya itu di meja. Dengan meletakkan kedua tangannya ke belakang, ia menghampiri Kenan.


“Apa aku tidak salah dengar? Kau pikir tempat ini hotel, hah? Kembalilah ke selmu!” Suaranya terdengar keras sangat jauh berbeda dengan penampilannya yang sudah setengah abad.


“Tunggu, Tuan. Tolong dengarkan aku, istriku sedang melahirkan. Aku ingin melihat dan menemaninya… beberapa jam saja, aku janji… sebelum gelap aku akan kembali ke tempat ini,” ucap Kenan dengan sedikit memohon.

__ADS_1


Kepala Penjara itu mendengus mendengar perkataan Kenan. “Seharusnya kau pikirkan sejak dulu, sebelum kau melakukan kejahatan! Cepat hubungi pengacaramu untuk mengurus administrasinya!”


“Pe… pengacara?” Mata Kenan terbelalak menatap mata setengah tua tersebut. “Apa Tuan tidak bisa mengeluarkanku sekarang tanpa pengacara?”


Pria paruh baya itu mengelengkan kepalanya dan mendorong sedikit tubuh Kenan ke belakang. “Kau ini keras kepala sekali! Minta pengacaramu untuk datang menemuiku! Tanpa pengacara, aku tidak bisa mengeluarkanmu dari sini, mengerti?”


Mehmet menarik tangan Kenan untuk keluar dari ruangan itu dan memintanya untuk menuruti keinginan Kepala Penjara. Namun, Kenan bergeming di depan pintu kayu tersebut. Rahangya terkatup rapat dengan pandangannya yang melompat jauh ke depan.


“Apa yang kau tunggu? Hubungi Hazal sekarang!” Suara Mehmet cukup membuat Kenan tersentak.


Hubungi aku, jika kau perlu sesuatu di penjara.


Suara Hazal itu terdengar jelas di dalam pikirannya. Perkataan yang diucapkan oleh mantan istrinya satu hari setelah persidangan berakhir. Pengacara wanita itu memberikan nomor ponselnya kepada Kenan ketika mereka masih bertemu untuk yang terakhir kalinya di ruang besuk penjara yang lama.


Keesokan harinya, dia dan Mehmet dipindahkan ke penjara yang baru. Penjara yang letaknya sangat jauh dari kota. Hari pertama Kenan tiba di penjara baru, sipir penjara langsung memberikannya tugas untuk membantu pembangunan pagar tembok di tempat itu. Tanpa sengaja ia menenukan sepotong kayu yang tergeletak di sekitar ilalang.


Dengan menggunakan alat pertukangan seadanya, Kenan membuat potongan kayu itu menjadi sebuah bandul dengan panjang sekitar lima sentimeter berbentuk tabung. Pada tubuh bandul kayu itu, ia mengukir deretan-deretan angka nomor ponsel Hazal di sana. Ia pun mengambil beberapa helai benang berwarna merah yang ada di dalam gudang penjara.


Kenan menautkan setiap ujung benang merah itu dan membentuknya menjadi sebuah kalung dengan bandul kayu sebagai hiasannya. Bandul kayu yang berisi ukiran nomor ponsel Hazal itu terus tersimpan dan tergantung di lehernya sepanjang hari.


Kini pandangannya tertuju pada bandul kayu dan pesawat telepon yang ada di ruangan Kepala Penjara. Perlu beberapa helaan napas, untuk pria itu menekan beberapa angka seperti yang terukir pada benda kayu yang ada di tangannya. Nada sambung itu berbunyi beberapa kali, hingga terdengarlah suara merdu dari ujung sana.


“Halo.”


“Hazal.... Ini aku,” ucap Kenan tanpa menyebutkan namanya.


“Kenan?” Terdengar suara celotehan bayi Aslan dari seberang.


“Aku akan datang.” Panggilan itu pun langsung terputus.


Detik itu juga, Kenan menatap gagang pesawat telepon yang ada di genggaman tangannya. Ia tak menyangka Hazal tidak menolak permintaannya atau menanyakan kebutuhan apa yang dirinya perlukan saat ini.


“Apa katanya?” tanya Mehmet yang langsung mengambil gagang pesawat telepon itu dari tangan Kenan dan mengembalikannya ke tempatnya.


“Dia akan datang.”


Kenan dan Mehmet masih berada di ruangan Kepala Penjara hampir satu jam lamanya. Sebuah ketukan dari luar membuat dua orang pria itu mengerutkan dahinya dan beranjak dari tempat duduk mereka. Dilihatnya Hazal sudah berdiri  di ambang pintu.


“Ada apa?” tanya Hazal yang langsung menghampiri Kenan, tanpa mengucapkan salam kepada sang pemilik ruangan.


Belum sempat Kenan menjawab pertanyaan Hazal, Kepala Penjara itu langsung bertanya kepada Hazal, “Apa kau pengacaranya?”


“Ya. Aku pengacara mereka berdua.” Hazal kini melangkah mendekati meja yang ada di depanya.


“Klienmu ini ingin keluar dari penjara untuk beberapa jam, karena istrinya melahirkan. Kau sebagai pengacara pasti sudah paham, tidak semudah itu mengijinkan seorang narapidana keluar dari tempat ini.” Pria paruh baya itu memainkan kursi putarnya di hadapan Kenan dan Hazal.


Hazal menayakan kebenaran itu kepada Kenan dan pria itu menganggukkan kepalanya dengan tatapan penuh harap. Sebuah senyum tipis dan sentuhan tangan pada lengan pria itu yang Hazal berikan sebagai jawaban. Pengacara cantik itu pun menjaminkan dirinya menggantikan posisi Kenan, jika mantan suaminya itu berusaha melarikan diri ataupun tidak kembali ke dalam selnya sebelum malam.


Setelah mengurus berbagai administrasi, Hazal mengikuti mobil tahanan yang membawa Kenan menuju ke rumah sakit tempat Ivy melahirkan. Dalam keadaan kedua tangannya terborgol di depandan di dampingi oleh beberapa anggota polisi, Kenan tiba di rumah sakit saat sore hari.


“Berapa lama wanita akan melahirkan?” tanya Kenan yang bertanya pada Hazal saat mereka berdua berjalan berdampingan di sebuah lorong menuju bagian persalinan.

__ADS_1


“Tergantung. Bisa cepat tetapi bisa juga lambat. Bisa juga besok bayi itu akan lahir.”


Jawaban Hazal membuat Kenan semakin tidak tenang. Bagaimana jika sampai batas waktunya habis, tetapi Ivy belum juga melahirkan. Raut wajahnnya kini diliputi dengan rasa cemas dan ketegangan ketika mereka telah sampai di bagian persalinan.


Di ruang persalinan itu, Ivy sedang berjuang mengeluarkan bayinya. Rasa sakit itu menjalar di sekujur tubuhnya. Peluhnya bercucuran di mana-mana. Dokter memintanya untuk tidak berteriak, untuk menghemat kekuatannya. Ivy berusaha mengambil napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya seiring dengan penekanan pada perutnya agar membantu sang bayi keluar.


“Cansu, dimana Ivy? Apa anakku sudah lahir?” tanya Kenan ketika dilihatnya istri Mehmet itu sedang berjalan mondar-mandir di depan ruang bersalin.


“Kenan? Bagaimana kau bisa keluar?” Cansu terkejut melihat kedatangan pria itu, “dia ada di dalam, tapi dokter melarang siapapun untuk masuk ke dalam,” sahut Cansu yang memegang lengan Kenan. Namun pandangannya langsung tertuju pada Hazal.


“Dia yang membantuku keluar dari penjara untuk sementara waktu,” terang Kenan.


Tak peduli dengan larangan Cansu, Kenan langsung masuk ke dalam ruang bersalin tersebut dan melihat Ivy sedang berbaring di atas ranjang dengan kedua kakinya tertekuk. Erangan demi erangan terus terdengar.


“Ivy….”


Putri Victor itu langsung menghentikan erangannya begitu ia mendengar suara suaminya. “Kenan? Kau… kau datang?”


“Aku datang sekarang. Aku akan bersamamu,” ucap Kenan kemudian mengecup kening Ivy.


Dokter meminta Ivy untuk mengejan kembali dengan sekuat tenaganya. Kenan memberikan tangannya untuk istrinya itu bisa menyalurkan rasa sakitnya pada tangannya tersebut. Setelah memberi kode untuk mulai, Ivy pun mulai mengejan.


“Ayo sedikit lagi,” ujar sang Dokter yang memberikan Ivy semangat.


“Ayo, Sayang. Kau pasti bisa….”


“Ehmm….” Ivy berusaha sekuat tenaganya, namun rasa sakit semakin terasa.


“Kepalanya sudah terlihat. Ayo sedikit lagi, Nyonya.”


“Kau bisa, Sayang. Kau pasti bisa…. Anak kita akan segera lahir.” Dengan kedua tangannya yang terborgol Kenan menggenggam erat tangan Ivy dan mencium kening wanita itu berulang-ulang.


Napas Ivy sudah mulai naik turun tak karaun. Matanya sudah terlihat sembab karena air mata. Namun, setelah melihat Kenan, seakan tenaganya yang semula terkuras habis itu kembali terisi. Kali ini Ivy mencengkeram tangan Kenan dengan sangat kuat dan berteriak dengan kencang memanggil nama pria itu. “Kenan…!”


Beberapa detik kemudian, terdengarlah suara tangisan bayi yang memecah seisi ruangan. Cansu dan Hazal yang menunggu di luar, langsung mengusap wajah mereka setelah mendengar tangisan melengking sang bayi.


“Selamat, Tuan dan Nyonya Fallay. Bayi kalian laki-laki. Bayinya sangat sehat.” Dokter memberikan bayi mungil yang telah dibersihkan dan telah dibungkus selimut itu kepada Ivy.


“Kau luar biasa, Sayang. Lihatlah, kau memberikan mata hijau mu kepadanya,” ujar Kenan yang duduk di samping Ivy dan mengucapkan doa’nya di telinga sang bayi.


Ivy hanya tersenyum manis dan memberikan ciumannya di kening suaminya. “Siapa namanya?”


“Bagaimana kalau namanya Filan Fallay?”


Manik mata Ivy langsung membulat setelah mendengar nama itu. “Filan Fallay, nama yang sangat bagus. Kelak suatu hari nanti, dia akan emneruskan bisnis Falea kita."


“Filan Fallay.” Kenan mencium kening putranya itu dengan perasaan haru dan manik matanya yang berkaca-kaca.


Dari balik pintu yang sedikit terbuka, Hazal melihat kebersamaan keluarga kecil yang tengah berbahagia itu. Ia menahan dirinya untuk masuk ke dalam. Hanya tetesan air mata yang keluar membasahi pipinya saat ini.


Selamat untukmu Kenan. Kini kau telah menjadi seorang ayah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2