Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Reuni DL dan GMYH - Bonus Chapter 1


__ADS_3

Setinggi apapun kepandaian yang kita miliki, sebanyak apapun kita menguasai berbagai macam bahasa, tetapi tak satu pun pria yang bisa mengartikan tangisan seorang wanita. Apakah wanita itu bahagia? Apakah wanita itu marah? Apakah wanita itu kecewa?


Bagi Kenan, lebih baik jika dirinya harus menghadapi sepuluh orang lawan yang akan memukulnya atau menghadapi sepuluh perusahaan yang menjadi saingan bisnisnya daripada menghadapi satu orang wanita yang membuat hatinya porak poranda.


Cairan bening yang menghiasi wajah Ivy tak dapat diartikan olehnya, ketika ia pulang ke apartemen sambil membawa beberapa berkas pemberian Hazal dan menceritakan semua yang terjadi di restoran.


“Apa kau tak senang?” tanya Kenan yang mengernyitkan dahinya sedangkan ujung jarinya berusaha untuk meredakan air mata yang terus mengalir membasahi wajah Ivy.


Manik mata hijau itu menatap wajah Kenan dengan lembut. “Aku—“


“Aku apa?” goda Kenan dengan menaikkan salah satu alisnya dan kedua sudut bibirnya. Sementara kedua tangannya kini berpindah memegang kedua lengan Ivy yang ditutupi dengan pakaian tidur yang semi transparan.


“Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku pikir…, kau akan pergi bersama Hazal meninggalkan ku dan Filan di sini.” Kali ini Ivy tak berani menatap wajah suaminya, ia benar-benar merasa bersalah telah menuduh Hazal yang tidak-tidak.


Bibir coklat itu melukiskan sebuah senyuman yang langsung membuat Ivy ikut tersenyum. Kenan menarik tubuh ramping istrinya untuk berada dalam dekapannya. Melempar berkas yang ada di tangan Ivy ke meja, agar tidak menghalangi sentuhannya. Dibelainya rambut coklat gelap milik istrinya berulangkali, mencium aroma shampo yang menempel di sana dan meletakkan dagunya di samping kepala Ivy.


“Seharusnya aku yang minta maaf padamu.” Bola mata Kenan tampak memerah ketika perkataan maaf itu meluncur dari bibir mulutnya. Diciumnya puncak kepala istrinya yang akan melihat wajahnya.


“Aku… aku bersalah padamu, karena telah membuatmu terus menerus mengeluarkan air mata. Seharusnya aku sadar, bahwa kebahagiaanku adalah memilikimu dan Filan. Terimakasih, Sayang… kau masih menyambutku pulang meskipun… meskipun aku telah menyakitimu,” bisik Kenan dengan linangan air matanya, “Kau dan Filan adalah dua orang yang sangat berarti bagiku.”


Dalam hatinya, ia juga berterimakasih kepada Hazal, karena mantan istrinya itu telah mengingatkannya bagaimana dulu ia berjuang untuk melindungi dan mendapatkan Ivy.


“Kenan..., aku yang seharusnya minta maaf padamu, karena aku terlalu cemburu dan terlalu takut kehilanganmu,” balas Ivy yang mengeratkan pelukannya ke tubuh berotot itu, membuat dadanya yang tersembul itu menekan dan menyentuh tubuh Kenan.


Dimana kalung itu?


Pertanyaan itu yang terlintas dalam benak Ivy, saat tangannya menyentuh dada bidang suaminya. Sebelum Kenan berangkat menemui Hazal, ia masih melihat kalung itu melingkar di lehernya.


“Kau mencari kalung benang itu?” Kenan berusaha mengartikan bahasa tubuh yang ditunjukkan Ivy, “aku tidak ingin membuatmu menangis lagi, apa yang ingin kau dengar, kejujuranku atau kebohonganku?”


Entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu. Seharusnya ia tidak membahas kalungnya di depan Ivy, tetapi baginya lebih baik berkata jujur meskipun itu sangat menyakitkan daripada ia harus memberikan seribu alasan kebohongan yang menyegarkan telinga istrinya.


Manik mata hijau itu bergerak-gerak tatkala menatap Kenan, karena ia tidak tahu apa yang harus dipilihnya. Bagi Ivy dua pilihan itu sama-sama tidak mengenakkan hatinya. Bibir tipis itu memilih diam membisu.


Kenan menangkap wajah oval yang ada di depannya dan menatap bola mata hijau itu dengan sangat dalam. “Hazal telah membuangnya.”


Deg!


Seakan ada sesuatu yang mengetuk jantung Ivy ketika ia mendengar tiga kata yang terucap dari bibir suaminya. Diusapnya perlahan leher dan dada milik Kenan, kemudian berkata, “Apa… apa kalung itu… ada hubungannya dengan… Hazal?”


Sebuah anggukan yang Kenan tunjukkan membuat Ivy mengepalkan telapak tangannya.


“Maafkan aku. Aku tahu ini salah, karena aku membuat kalung itu untuk mengingat nomor ponsel Hazal. Aku tidak akan memberikan alasan apa-apa lagi… karena ini memang salahku,” ujar Kenan dengan sejuta penyesalannya.


“Kenan….”

__ADS_1


Kedua lengan ramping itu langsung memeluk tubuh Kenan. Linangan air mata itu terus membasahi wajah keduanya. Tak ada yang sempurna dalam sebuah hubungan. Tak ada gading yang tak retak.


Kerikil tajam dan batu besar seringkali menghampat perjalanan kesempurnaan itu, tetapi semuanya kembali kepada setiap individu yang mau menerima dan memaafkan dengan tangan yang terbuka. Gesekan demi gesekan akan semakin menguji kemurnian cinta yang telah mereka bangun selama ini.


“Jadi, kau mendukungku untuk menerima tawaran Hazal?” Kenan melepaskan sedikit pelukannya agar ia dapat melihat wajah Ivy.


“Aku akan selalu mendukungmu, Sayang. Kemanapun kau melangkah, aku akan selalu berada di sampingmu,” balas Ivy yang menaikkan tumitnya untuk bisa mencium pipi Kenan.


Pria itu tak ingin hanya sekedar mendapatkan ciuman pipi, tetapi ia ingin meminta lebih. Ia pun membalas menyentuh seluruh wajah Ivy dan lekukan leher wanita itu dengan bibirnya. Dengan sedikit desahan, ia berbisik di telinga istrinya, “Apa kau tak ingin memberikan adik untuk Filan?”


Manik mata hijau yang semula tertutup karena hasratnya yang merasakan sentuhan bibir Kenan kini mendadak terbuka lebar. “Apa?”


“Ayolah, aku sangat menginginkannya…. Sudah satu tahun, juniorku ini jadi pengangguran.” Kenan


langsung mengangkat tubuh Ivy ke atas ranjang, tak peduli wanita itu memprotesnya dengan berbagai macam bahasa.


Pria itu langsung membungkam mulut istrinya dengan ciumannya berulang kali hingga bibir tipis itu terlihat bengkak.


Pergulatan ranjang itu pun terjadi mulai dari dini hari hingga menjelang subuh. Penyatuan demi penyatuan terjadi di antara mereka. Seakan hari ini adalah keberuntungan Kenan, setelah dirinya mencapai tingkat kepuasannya disaat itulah bayi Filan pun terbangun dan menangis. Alhasil Ivy harus kehilangan waktu tidur malamnya,


setelah melayani bayi raksasanya kini ia mengurus bayi mungilnya.


......................


Sinar sang mentari telah membumbung ke angkasa. Menerangi setiap jutaan dan milyaran manusia yang memulai aktivitas dan lembaran barunya hari ini. Cahaya pagi itu membilas gedung tinggi milik Puzulla dan gedung-gedung tinggi yang berada di sekitarnya. Dua pasang langkah kaki itu menderap di atas hamparan lantai granit yang bercorak floral yang membentang di lantai tujuh.


“Selamat datang, Kenan… Ivy….” Hazal menyambut tamu undangannya dan meminta mereka untuk duduk.


Kenan menarik sebuah kursi yang ada di sebelah kiri meja dan memberikannya kepada Ivy, kemudian ia memilih untuk duduk di samping istrinya. Dilihatnya beberapa orang yang pernah ia kenal, beberapa pemegang saham ketika perusahaan ini masih bernama Perusahaan Fallay. Ia juga melihat Yafet yang duduk berseberangan dengannya. Suami Hazal itu terlihat mengacuhkannya.


“Selamat pagi, Tuan dan Nyonya sekalian. Hari ini saya mengadakan rapat umum pemegang saham untuk yang kedua kalinya di tahun ini,” kata Hazal yang membuka acaranya.


“Saya akan langsung memulai agenda rapat hari ini. Saya—Hazal Aksal, pemilik sekaligus pemegang saham terbesar di perusahaan ini akan menunjuk CEO Puzulla yang baru untuk menggantikan Erhan. Dia adalah Kenan Fallay.” Hazal mempersilahkan Kenan untuk maju ke depan. Suara tepukan tangan pun terdengar mengisi ruangan tersebut.


“Mulai hari ini saya akan mengundurkan diri dan menyerahkan seluruh saham yang saya miliki kepada Tuan Kenan Fallay,” lanjut Hazal yang memberikan sebuah dokumen untuk di tandatangani oleh Kenan.


Setelah Kenan selesai menandatangani dokumen tersebut dengan disaksikan oleh seluruh pemegang saham yang lain, berikutnya Hazal memberikan kunci mobil dan kunci apartemen Kenan yang lama.


“Mobilmu ada di bawah, kau bisa langsung menggunakannya. Selama beberapa tahun ini, aku selalu mengisi tabunganmu dengan sepuluh persen keuntungan yang didapat oleh Puzulla.  Ini ambillah.” Hazal memberikan buku tabungan atas nama Kenan.


“Hazal….”


“Aku tidak ingin mendengar penolakanmu, Kenan. Kemarin kau sudah berjanji padaku untuk menerima semua tawaranku.”


“Bukan maksudku menolak tawaranmu. Tapi… apa kau tak ingin tetap berada di Puzulla?”

__ADS_1


Sebuah gurat senyum itu terlukis dari bibir merah Hazal. “Aku tidak menyukai dunia bisnis. Pimpinlah perusahan ini bersama dengan Ivy. Aku percaya kalian lebih mampu dariku.”


“Baiklah, jika itu maumu. Aku bisa apa,” sahut Kenan dengan menaikkan salah satu alisnya.


Keduanya pun saling berjabat tangan di saksikan oleh semua orang yang ada di dalam ruang rapat tersebut. Satu persatu pemegang saham itu juga turut memberikan ucapan selamat kepada Kenan dan Ivy. Begitu juga dengan Erhan yang langsung memberikan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Kenan.


“Selamat untukmu,” ucap Yafet, orang terakhir yang mengucapkan selamat kepada Kenan. Putra Emir Aksal itu menghampiri tempat duduk Kenan, setelah kepergian Erhan.


Kenan membiarkan telapak tangan Yafet yang terulur itu untuk beberapa detik. Membuat hati Ivy dan Hazal yang menyaksikan adegan itu, lambat-lambat berada dalam titik kecemasan. Lima detik… enam detik…dan tujuh detik berlalu, terdengar suara kursi yang didorong oleh Kenan.


Putra Harun itu akhirnya membalas uluran tangan Yafet dengan menjabat tangan mantan rivalnya itu dengan erat. Melihat kedua pria itu saling berjabat tangan dan saling menepuk pundak mereka, membuat Hazal dan Ivy tersenyum bahagia. Kedua pria itu tampak kaku saat mereka saling berpelukan dan mengucapkan selamat.


Yafet mengeluarkan sebuah kertas tebal dari saku jasnya dan memberikan kepada Kenan. Kertas itu bergambar gedung Hotel Aksal dan pemandangan yang di sekitarnya. “Ini untukmu dan istrimu. Voucher gratis menginap di hotelku. Aku telah menyiapkan kamar terbaik untuk kalian menginap selama seminggu.”


“Anggap saja ini ucapan terimakasihku, karena kemarin kau tidak berhasil membawa kabur istriku,” bisik Yafet di telinga Kenan.


Membuat wajah Kenan langsung berubah pucat, beberapa detik kemudian putra Harun itu baru menyadari bahwa Yafet menertawakan perubahan wajahnya.


“Yafet Aksal!”


“Eits… kita sudah impas, kawan.”


“Kawan? Sejak kapan kita menjadi kawan?” dengus Kenan dengan kesal.


Yafet tertawa melihat kegeraman yang muncul di wajah Kenan, pria itu pun kembali berbisik. “Sebaiknya kau periksa tekanan darah tinggimu, aku takut… kalau-kalau kau akan menjadi penghuni pemakaman lagi.”


“Justru kau yang seharusnya pergi ke dokter, dokter jiwa maksudku,” balas Kenan dengan raut wajahnya yang mengejek.


Kedua pria itu pun tertawa terbahak-bahak, membuat kedua istri mereka menjadi penasaran dan ikut bergabung bersama dengan mereka. Ketegangan yang sudah lama terjadi itu kini telah mencair seiring dengan berdamainya dua pejantan yang saling berselisih sejak lama. Sifat mereka yang bertolak belakang, membuat keduanya bagaikan dua orang anak kecil yang baru saja saling mengenal dan sedang bermain bersama di lapangan bola.


Ketika kedua pria itu saling mengobrol, Hazal menghampiri Ivy yang terlihat menyendiri di ruangan itu. Istri Yafet itu menyapa dan memilih untuk duduk menemani Ivy.


“Hazal, sebenarnya aku malu mengatakan hal ini padamu….” Ivy trerlihat menggigit bibir bawahnya untuk menutupi segala kegamangan yang ada di dalam hatinya.


Hazal memiringkan posisi tubuhnya agar ia bisa melihat wajah Ivy saat berbicara. “Soal apa? Kenan?”


“Ya, Hazal. Maaf… aku telah salah menilaimu.”


“Kau tak perlu minta maaf. Jika aku di posisimu, aku juga pasti akan berpikiran seperti mu. Aku menyadari bahwa kau wanita yang pantas dan cocok untuk mendampingi Kenan, bukan aku. Kami telah sepakat untuk saling melupakan. Sudahlah… aku tidak ingin membahasnya lagi,” ucap Hazal yang meletakkan tangannya di punggung tangan Ivy.


“Kau benar-benar wanita yang baik.”


“Sementara kau wanita yang hebat, Ivy. Kau bisa membuat Kenan bangkit kembali. Oh iya, jika kau ada waktu mainlah ke rumah ku. Ajak Filan juga untuk bermain bersama Aslan.” Sebuah senyuman tulus terpancar dari wajah Hazal.


“Kau juga, jika kau bosan di rumah, mainlah ke apartemen ku atau kita bisa pergi bersama dengan anak-anak,” balas Ivy yang juga melemparkan senyumannya.

__ADS_1


"Oke," jawab Hazal sambil membentuk huruf O pada kedua jarinya, "biarkan para suami kita yang bekerja, aku akan mengajakmu bersenang-senang."


...****************...


__ADS_2