Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Reunian DL dan GMYH - Ajak Aku Menemuinya


__ADS_3

Gelapnya langit malam dan sinar sang rembulan menaungi salah satu bangunan tinggi nan mewah milik keluarga Aksal. Rumah dengan pintu gerbangnya yang tinggi masih sama seperti yang dulu. Sepasang mata masih terjaga di dalam kelamnya malam. Pemilik raga itu menarik sedikit selimutnya dan menegakkan tubuhnya pada sandaran bantal.


Suamiku telah mengorbankan perusahaan dan nyawanya untukmu di masa lalu, kali ini saja… aku hanya memohon padamu untuk kali ini… tolong aku….


Perkataan Ivy masih terngiang-ngiang di dalam pikirannya saat ini. Dilihatnya sebuah wajah berkumis tipis yang ada di sampingnya yang sudah tertidur lelap, sampai dengan malam ini ia belum memberitahu Yafet tentang masalah yang dihadapi Kenan. Hatinya kembali bergemuruh setelah beberapa waktu lamanya ia hidup dalam ketenangan. Menjalankan hidupnya sebagai istri, ibu dan seorang jaksa.


Kenan… aku tahu ini bukanlah permohonan mu. Aku sangat mengenalmu, kau lebih memilih menderita daripada menerima bantuan dari orang lain apalagi dariku. Jika kau masih mengingatku, seharusnya kau bisa mengatakannya langsung kepadaku. Kau bahkan tak memberitahuku bahwa sebenarnya kau masih hidup. Jika bukan karena Mehmet yang membawa surat pembatalan pernikahan kita, selamanya aku akan membawa rasa penyesalan ini.


Suara tangisan bayi membuyarkan segala lamunan Hazal. Bayi mungil itu menggerakkan tangannya ingin menggapai sesuatu yang tidak bisa ia raih. Seperti bayi pada umumnya yang selalu merasa kelaparan di tengah malam. Sebuah gendongan dan dekapan ibunya membuat bayi mungil itu diam dan menikmati air susu ibunya.


“Kau benar-benar kelaparan, Aslan,” gumam Hazal yang berbicara dengan bayi mungil itu. Tangan kecil itu menggenggam jari tangan Hazal dengan erat. Bola mata kecil itu mengarah melihat wajah ibunya, seolah-olah dirinya mengerti apa yang ibunya katakan.


“Ibu sangat merindukanmu, Aslan. Apa kau juga merindukan, Ibu?” Bibir mungil itu hanya membentuk huruf O dan kelopak matanya yang berkedip di tengah cahaya yang temaram.


Setelah selesai memberikan ASI nya, Hazal meletakkan kembali bayi Aslan ke dalam boks bayi yang ada di dekat ranjangnya. Namun, bayi kecil itu kembali menangis.


“Sayang, Ibu di sini,” bisik Hazal yang kemudian menggendong kembali bayi mungilnya.


Bayi itu tidak ingin jauh-jauh dari ibunya, karena sepanjang hari ibunya itu selalu bekerja. Ibunya baru mengurusnya setelah pulang dari Kantor Kejaksaan. Sudah tiga bulan ini, Hazal kembali ke rutinitasnya sebagai seorang jaksa. Setelah enam bulan yang lalu, ia mengambil cuti untuk melahirkan putra pertamanya—Aslan Aksal. Setiap hari hanya neneknya—Meral Aksal dan seorang pengasuh yang menjaganya. Tentu saja, ia ingin mendapatkan perhatian ibunya pada malam hari.


Dipandanginya malaikat kecil yang ada di dalam dekapannya. Wajah mungil itu mirip seperti ayahnya, hanya bibir dan warna matanya yang mengambil miliknya. Senyum malaikat kecilnya itu mengingatkan Hazal pada perkataan Ivy.


Hazal, aku mohon… Beri kesempatan anak yang ada di dalam kandunganku ini berkumpul kembali dengan ayahnya.

__ADS_1


Siang itu di coffee shop, setelah Ivy memberitahu kehamilannya, dirinya tetap meninggalkan istri Kenan itu tanpa memberikan sebuah jawaban.


Namun, setelah melihat wajah bayi Aslan yang tertidur pulas di pangkuannya, jaksa wanita itu sudah mendapatkan jawaban atas kegalauan hatinya saat ini.


......................


Malam pun telah lewat, sang fajar mulai mengintip di balik birunya cakrawala. Terdengar teriakan dan tawa riang yang keluar dari mulut bayi Aslan. Percikan air itu mengguyur tubuh mungilnya seketika kedua tangan itu seakan hendak mengatakan kepada ayahnya lagi dan lagi. Kini kedua kaki mungil itu mencipratkan air ke arah Yafet.


Pria itu tertawa terbahak-bahak mendapati rambut dan tubuh polosnya basah kuyup terkena serangan Yafet junior. Bayi itu semakin keras menendang air di sekitarnya kemudian mengikuti tawa ayahnya. Suara itulah yang kerap kali membuat Hazal selalu ingin membuka pintu kamar mandi dan bergabung bersama mereka.


“Mommy, come here.”  Yafet mengayun salah satu tangan bayi Aslan ke arah Hazal yang berdiri di ambang pintu.


“I’m coming, dear.” Hazal menanggalkan pakaiannya dan ikut menceburkan dirinya di dalam bak mandi besar. Yafet langsung menyambutnya dengan ciuman paginya dan memeluk tubuh polos istrinya.


“Yafet, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ucap Hazal ketika mereka telah selesai berendam bersama dan kini Hazal sedang membungkus bayi Aslan dengan setelan baju mungil berwarna biru dengan gambar bajak laut.


“Katakan saja… kapan aku tidak mendengarkan mu, Sayang?” Yafet melepas handuk yang membungkus tubuh bawahnya dan menggantinya dengan setelan kemeja dan celana panjangnya.


Tubuh pria itu semakin berotot setelah menikah dan memilik anak. Ia cukup berenang seminggu tiga kali di rumahnya sendiri untuk membentuk massa ototnya.


Setelah menaruh bayi Aslan di boks bayi, Hazal memeluk tubuh suaminya dari belakang. Dibenamkannya wajahnya di belakang punggung Yafet yang sudah terbungkus dengan kemeja berwarna abu-abu, aroma maskulin itu menyeruak masuk ke dalam lubang hidungnya. Pria itu pun tersenyum di balik wajahnya.


“Ini tentang Kenan….”

__ADS_1


Begitu mendengar nama Kenan—nama yang sudah lama tidak pernah disebutkan sejak mereka menikah, membuat Yafet menegakkan tubuhnya dan melepas tangan Hazal dari tubuhnya.


“Kenapa kau tiba-tiba membicarakannya? Apa dia ada di Turki? Apa kau pernah bertemu dengannya?” Mata elang itu menatap Hazal dengan penuh tanda tanya.


“Kami tidak bertemu, tapi istrinya yang menemuiku. Saat ini Kenan ada di penjara.”


Perkataan Hazal itu terdengar menggelikan di telinga Yafet, hampir saja sebuah tawa keluar dari mulutnya. “Di penjara? Apa yang telah dia lakukan hingga polisi menangkapnya?”


“Kau ingat berita di surat kabar beberapa hari yang lalu, tentang pembunuhan di gudang tua? Tersangkanya adalah Kenan dan Mehmet,” jawab Hazal.


Kali ini Yafet tak bisa menyembunyikan tawanya. “Aku sudah pernah mengatakannya kepadamu, keturunan pembunuh tetaplah pembunuh. Darah Harun Fallay ada di dalam tubuhnya. Dia sama dengan ayahnya! Lalu apa hubungannya denganmu?”


Hazal menceritakan tentang pertemuannya dengan Ivy kepada Yafet. “Apa kau mengijinkan aku untuk membantunya?”


“Membantu orang yang jelas-jelas bersalah?” Yafet meninggikan nada suaranya. Ia tidak habis pikir, istrinya itu seorang jaksa yang seharusnya menuntut para penjahat dengan hukuman bukan malah membantu seorang pembunuh. “Kenapa hatimu selalu lemah jika menyangkut anak pembunuh itu?”


“Please, Yafet. Kejadian itu sudah lama berlalu. Kita sudah menikah, begitu juga dengan Kenan. Kini istrinya sedang mengandung, bagaimana wanita itu menangis memohon kepadaku untuk membantu membebaskan suaminya. Aku juga seorang ibu, aku membayangkan diriku ada di posisinya, melahirkan Aslan tanpa suami dan


membesarkan Aslan tanpa ayahnya. Aku juga ingin membayar hutang masa laluku kepada Kenan. Hutang yang tidak bisa aku bayar dengan uang.”


Sebuah pukulan mendarat di dinding kamar mereka. Telapak tangan itu mengepal dengan erat. Mata elang itu menatap tajam dinding warna putih yang ada di hadapannya. Selalu saja ada benang merah yang tidak terlihat yang menghubungkan Hazal dengan Kenan.


“Ajak aku untuk menemuinya. Setelah aku bicara dengannya aku akan memutuskan mengijinkanmu atau tidak!” seru Yafet yang langsung keluar dari kamarnya meninggalkan Hazal.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2